Kompetensi Wirausaha: Pengusaha vs Konsumen

Tinggalkan Komentar

Setelah menulis tentang Mr.Budgets, saja jadi kepikiran juga tentang materi yang sudah saya dapat di mata kuliah yang seru abiz, Manajemen Inovasi (Maninov). Pak dosennya mengajar dengan diksi yang oke, pembawaan mantap (sombong-sombong gimana gitu, tapi konkret), dengan materi yang luar biasa. Tiap masuk kuliah ini di hari Senin pasti banyak inspirasi dah..

Nah, salah satu inspirasi yang saya dapat beberapa waktu yang lalu adalah kompetensi wirausaha. Entrepreneurship emang baru jadi bahasan yang sangat menarik untuk anak muda nih. Hampir di setiap seminar atau kajian yang membahas tentang ekonomi bangsa, mau yang menyampaikan Menteri Koordinator Ekonomi, dosen atau sekedar pemerhati sekalipun, ujung-ujungnya muncul harapan kalau negeri kita Indonesia tercinta ini butuh disokong lebih banyak wirausaha lagi. Konon paling engga butuh 2% dari warga negara yang mesti jadi entrepreneur untuk mengangkat ekonomi ke level yang lebih tinggi. Saat ini, di Indonesia mungkin baru 0,5-1% jumlahnya, tentu saja jumlah itu sangat sedikit.

Then, Pak Joko Siswanto selaku dosen Manajemen Inovasi memberi ilmu yang menarik mengenai skill wirausaha. Salah satu yang mesti dimiliki untuk memupuk kemampuan wirausaha adalah mampu membuat laporan raba rugi dan neracanya. Untuk skala mahasiswa, laba di sini mungkin berarti pemasukan (dari ortu, beasiswa, hasil mengajar, start-up business,dll) sedangkan rugi mengacu pada pengeluaran (makan, jajan, fotokopi,dll). Kalau neraca isinya tentang aset/ kekayaan dan liabilitas/beban.

Selama mulai mengisi hari kita dengan belajar mendokumentasikan budget dengan baik (kalau perlu dengan bantuan Mr.Budgets.. hehe), yuk kita mengkaji dikit mengenai prinsip usaha. Prinsip usaha simply sama dengan prinsip ekonomi yang sudah kita dengar sejak SMP, dan berlaku umum di kehidupan sehari-hari. Yang namanya usaha (U) itu ya pengen mendapat profit (P) sebesar-besarnya dan mengurangi biaya (B) sampai seminimal mungkin. Formula: U = P – B Baca Selengkapnya

The Power of Giving: Sedekah

Tinggalkan Komentar

Frasa dalam bahasa Inggris seperti tertulis di judul tentu bukan hal asing bagi kita. Saya yakin kita sama-sama sudah membaca atau mendengar tentang dahsyatnya “kekuatan memberi”. Teorinya, dengan banyak memberi, apa yang bakal kita terima  justru bisa beberapa kali lebih besar. Secara langsung maupun (seringnya) secara tidak langsung.

Memberi bisa dalam banyak bentuk. Mulai dari senyuman, pengetahuan, cinta ataupun materi. Di postingan ini, saya mau sedikit bahas yang berkaitan dengan materi deh, konteksnya yakni infaq/sedekah. Baru dapat pengalaman yang menggugah nih hari Jum’at kemarin :)

Hari Jum’at, terutama bagi umat muslim, merupakan hari yang sangat mulia. Kalau kemuliaan itu cukup identik dengan ibadah sholat Jum’at, yah kita sama-sama sudah tahu. Tapi ada fakta menggelitik ni yang jadi salah satu alasan kenapa hari Jum’at itu mulia: inilah (kemungkinan besar) satu-satunya hari dalam seminggu di mana kita ingat untuk sedekah. Setuju dengan saya, atau mau membantah? Hmm.. saya akan senang kalau teman-teman membantah, dalam hal ini karena Anda senantiasa ingat sedekah dan melaksanakannya saban hari. Yuph, setiap hari. Well, entah mengapa sepertinya banyak pembaca yang senyum-senyum sepakat dengan saya kalau ingat sedekah (materi) hanya di hari Jum’at. Itu pun belum tentu konkret kan? Haha.. Baca Selengkapnya

Senandung Sebelum Subuh

6 Komentar

Ketika akan mencari kosan, syarat pertama yang selalu diwanti-wanti oleh orang tua saya adalah dekat dengan masjid. Rumah saya (rumah ortu saya maksudnya) sendiri juga sangat dekat dengan masjid. Rumah kakek nenek saya di Klaten juga sangat dekat dengan masjid, rumah kakek nenek saya di Gunungkidul juga begitu. Praktis, dalam keluarga besar, sepertinya tidak ada yang jarak rumah dengan masjid lebih dari 100 meter (ini jarak yang dengan jalan kaki pun sangat tidak melelahkan). Alhamdulillah, saya dapat kosan pertama di Bandung berjarak hanya 2 meter dari masjid (hanya terpisah selebar gang tikus), sedang kos kedua –yang saya tempati sampai sekarang– berjarak 10 meter (terpisah 2 rumah).

Kenapa harus dekat masjid? Masjid adalah rumah Allah SWT. Masjid adalah tempat jamaah hamba Allah berbondong-bondong beribadah. Masjid yang makmur akan memancarkan energi positif yang besar ke lingkungannya sehingga insan-insan yang terkena lingkupnya bakal cenderung bertingkah laku positif. Insya Allah seperti itu. Dan salah satu manfaat yang paling terasa dari punya kosan/rumah dekat masjid jelas saat berada di masa sebelum cahaya. Masa sebelum cahaya, apakah itu? Baca Selengkapnya

Hey Edelweis

9 Komentar

Hey edelweis, seindah apakah engkau?

Orang-orang membicarakan segala kelebihanmu. Kata mereka, engkau bunga cantik nan abadi. Aku sendiri jarang mendengarkan kata-kata orang. Tapi entah mengapa kali ini hati kecilnya justru menggumamkan bahwa engkau lebih indah dari yang mereka bicarakan. Aneh.

Hey edelweis, apakah engkau di puncak sana?

Ah, megahnya gunung ini.. Rasa lelah sudah melandaku bahkan saat ini aku baru sampai lerengnya. Ingin rasanya aku berhenti saja mendakinya.. Ya, aku akan berhenti kalau saja pertanyaan tentangmu hey edelweis, dan juga bayangan indah matahari di puncak sana tak merasuki lagi pikiranku. Baca Selengkapnya

Megahnya Gunung itu

1 Komentar

Ketika saya menulis judul postingan seperti di atas, apa yang teman-teman harapkan untuk baca? Cerita petualangan lagi seperti seri backpacker Lombok? Atau deskripsi superlatif mengenai keindahan alam? Atau apa? Hmm.. Percaya atau tidak, sebenarnya judul postingan di atas mau saya pakai untuk baris pertama puisi atau mungkin juga prosa, mengenai CINTA. Saya sedang jatuh cinta? Entahlah. Nyatanya, cinta memang sulit dideskripsikan. Tulisan yang niatnya saya tujukan tentang itu pun jadi berjalan ngalor ngidul dan terpaksa tertunda. Berganti dengan bahasan lain, yang akan segera teman-teman baca :-)

Jika teman-teman pernah membaca sedikit deskripsi diri saya pada Page “About This Blogger“, pasti tahu kalo saya lahir di sebuah desa di Klaten, desa yang damai, dikelilingi sawah yang mengizinkan saya menghirup segarnya udara dan indahnya alam. Bukan hanya hijaunya sawah dan dedaunan yang memberikan keindahan, karena hampir di 4 penjuru utama mata angin saya juga bisa menikmati indahnya gunung. Baca Selengkapnya

Hal-Hal Penting dalam Menyusun Resolusi Tahun Baru

Tinggalkan Komentar

Tahun 2012 baru saja datang. Sudah menjadi hal lumrah, kali ini positif, banyak orang menyusun resolusi, hal atau komitmen yang ingin diwujudkan di tahun ini. Bagaimana dengan Anda, kawan? Sudahkah menyusun resolusi juga?

Kalau Anda berpendapat bahwa resolusi adalah komitmen yang harus direncanakan dan dijalani setiap harinya, tidak harus menunggu momen tahun baru, that’s good! Tinggal bagaimana Anda memenuhi targetan resolusi tersebut. Tapi bagi yang tidak biasa bikin dan sampai hari ini belum punya bayangan bagaimana menghadapi waktu setahun yang akan datang, ada baiknya mengambil hikmah dari momen tahun baru. Lagi

Tulisan Inspiratif Pak Rhenald Kasali- Paspor

Tinggalkan Komentar

Setelah beberapa waktu, Pak Rhenald Kasali ternyata sangat-sangat berhasil menginspirasi saya lagi dengan tulisan dan pandangannya yang luar biasa. Kali ini mengenai PASPOR.. (dua tulisan sebelumnya dari dan tentang Pak Rhenald dapat dibaca di sini dan sini). Tulisan ini sebenarnya sudah cukup lama, terbit di harian favorit saya Jawa Pos tertanggal 8 Agustus 2011. Semenjak itu saya jadi tergerak untuk bikin paspor, tapi karena sempatnya baru minggu ini.. maka saya akan share pengalaman saya dalam mengurus paspor. Sebagai pengantarnya, mari flashback sejenak ke tulisan inspiratif PASPOR dari Pak Rhenald Kasali berikut:

**

Jawapos, 8 Agustus 2011.

PASSPORT – By Rhenald Kasali

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali

Batu

2 Komentar

Terkadang orang-orang terlalu merendahkan hikmah dari sebuah batu

Mereka menginjaknya.. menendangnya.. melemparnya..

Tapi Kawan, dengarlah sejenak..

Terkadang aku ingin menjadi seperti BATU..

Bukan batu biasa…

Tapi batu yang siap menyanggamu saat Engkau ingin menapak sedikit lebih tinggi.. untuk mendapat pandang yang lebih luas

Batu yang siap menopangmu saat Engkau ingin melompat lebih tinggi.. untuk meraih apa yang ingin Engkau gapai

Termasuk juga jadi batu yang siap Engkau tendang dan lemparkan saat Engkau ingin melepaskan peluh dan kesal..

Dan dengan badan setangguh batu, aku akan punya keteguhan untuk memahami..

karena Engkau kawanku dan akan selalu jadi kawanku

Kalaupun aku tak bisa setangguh itu, cukuplah aku tak jadi batu sandung yang menghambat langkahmu..

karena Engkau kawanku dan akan selalu jadi kawanku

 

**

Dan di hari yang damai membiru, di puncak gunung yang telah kita daki bahu-membahu

kita duduk bersama dalam suasana yang mungkin hening seakan membatu

lalu saat tatap mata kita bertemu, semakin mengembang senyumku dan semakin membuncah tanyaku

Engkaulah batu pijakku, Kawanku.. Begitu jugakah aku bagimu?

 

Makna 100 Years.. Sebuah Ironi..

2 Komentar

Dalam salah satu buku favorit saya, “7 Habits for Highly Effective Teens” karya Sean Covey, ada yang namanya langkah-langkah bayi. Yakni langkah-langkah kecil untuk membentuk suatu kebiasaan. Sebuah panduan yang sangat bagus untuk menjadi pribadi yang efektif. Oke, saya masih belum jadi pribadi efektif, masih terus berusaha ke arah sana,, tapi tak ada salahnya untuk share bukan? Biar kita sama-sama bisa jadi pribadi yang lebih baik.

Nah, yang ingin saya share kali ini adalah langkah bayi untuk Langkah 0-Paradigma dan Prinsip, langkah kedelapan: dengar lirik musik yang Anda senangi dan maknai terhadap prinsip-prinsip hidup.

Hmm.. dan apa musik yang paling saya senangi? Apa yah.. Oya, tak lain tak bukan… Desir angin, gemerisik daun, gemericik air, nyanyian flora fauna yang berdzikir membentuk “simfoni alam” nan menyejukkan hati. Tapi lirik apa yang bisa saya share di situ kalau yang mendeskripsikan hanyalah hati?

Kalau sudah begitu, lirik yang bisa dikenali sama2 mungkin lirik yang sudah terkenal di dunia ini. Tak sedikit lagu yang liriknya sangat saya sukai, di antaranya “100 years” dari Five for Fighting, “Over the Rain”nya Flumpool (OST Bloody Monday) dan OST Shoot. Kali ini yang disebut pertama dulu ya.. Memaknai lirik 100 years… Sebuah lagu hits jadul tapi punya makna sangat dalam yang tak lekang oleh waktu, karena maknanya emang berhubungan dengan waktu itu sendiri sih..

Lagunya bisa didengar di sini atau didownload dari sini

Oke daripada berlama-lama yuk langsung ke penggalan liriknya:

I’m 15 for a moment   Caught in between 10 and 20
And I’m just dreaming   Counting the ways to where you are
Di sini, si someone (yang untuk mewakili “manusia berumur 100 tahun” yang jadi tokoh utama di lirik lagu) sedang berusia 15 tahun. Di umur segitu, yah sedang labil-labilnya lah ya.. makanya disebut “terperangkap antara umur 10 dan 20″.. 10 untuk mewakili unsur kekanakan, 20 untuk usia dewasa. Intinya, masih mencari jati diri dah.
I’m 22 for a moment  She feels better than ever
And we’re on fire   Making our way back from Mars
Si someone udah berusia 22 nih. Nah, ini sedikit di atas umur saya saat ini lah ya.. Udah mulai dewasa, mulai galau untuk cari pasangan hidup, diwakili dengan kata kias she. Plus sedang semangat-semangatnya (on fire) merancang masa depan.
15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live
**Nah, sudah masuk Reff untuk pertama kali,, dan karena ini inti pesannya.. jadi di loncat dulu lah ya.. kita bahas di akhir :-) **
I’m 33 for a moment   Still the man, but you see I’m a they
A kid on the way   A family on my mind
Si someone udah masuk kepala 3 nih. Masih seorang yang maskulin berjiwa matang dengan istilah man, tapi dengan tanggung jawab keluarga. Makanya disebut you see I’m a they. “They” kan kata untuk jamak tuh, maksudnya diliat sebagai seorang pemikul keluarga.. Sudah mulai mengurus anak dan pikiran mulai terfokus untuk kepentingan family.
I’m 45 for a moment    The sea is high
And I’m heading into a crisis   Chasing the years of my life
Then, si someone sudah berusia 45. Cobaan hidup mulai meninggi, terutama pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan (the sea is high), mulai menghadapi yang namanya krisis. Anak sudah beranjak dewasa, perlu biaya pendidikan dan uang saku yang tinggi. Sehingga setiap saat seperti dikejar waktu untuk menghadapi memuncaknya kebutuhan itu. Kalau dianalogikan, ya di sekitar umur seginilah orang tua saya sekarang. Dan ketika saya mendengar lirik ini dengan sedikit mengubah sudut pandang dari sisi orang tua saya, wah.. tak terasa menitikkan air mata. Ibu dan Bapak memang sepertinya (dan mungkin normal untuk insan berusia kepala 4) sedang menghadapi kompleksitas masalah. Walaupun dari dulu saya tidak pernah meminta uang saku, tapi tetap saja orang tua akan selalu terpikir untuk memberi (tentu untuk memenuhi kebutuhan yang semakin besar). Pengen segera mandiri deh..
Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We’re moving on…
Nah, si someone udah melewati setengah usianya. Tiba-tiba sudah jadi orang bijak yang sudah mengecap banyak asam garam kehidupan. Usia mulai beranjak, penglihatan (baik secara definitif kemampuan mata atau secara konotatif terhadap kehidupan) udah sedikit kabur. 67, jelas itu sudah masa pensiun. Si someone merasa pelita hidupnya (anak, cucu, keluarga lah) udah mulai meninggi, sudah menghadapi kompleksitas mereka sehingga terkadang merasa mereka sangat jauh (kesepian). Tapi waktu masih terus berjalan..
I’m 99 for a moment  Dying for just another moment
And I’m just dreaming  Counting the ways to where you are
Si someone sudah 99 tahun. Artinya? yah, tinggal 1 tahun lagi sisa hidupnya. Tinggal menanti datangnya ajal. Dan di saat seperti inilah, ingin rasanya mengulang lagi apa yang sudah diberikan oleh waktu,, menghitung jalan untuk bisa muda lagi, bisa menikmati hidup lebih baik lagi. Sudah hampir 100 tahun, tapi rasanya itu tak cukup. Ingin dan ingin rasanya hidup lagi.
Sedih banget ya kalau dalam kondisi seperti ini?
Dan, kita bahas Reff dari lirik lagu yang jadi pesan utama tentang prinsip pemanfaatan waktu…
15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live
Saat kita sedang terperangkap antara sifat kekanakan dan kedewasaan (digambarkan dengan umur 15), sebenarnya di situlah waktu krusial. Waktu di mana kita bisa memahami, mencoba dan memaksimalkan apa sih yang jadi potensi kita, then waktunya untuk memilih jalan hidup yang kita mesti jalani dengan penuh tanggung jawab. Agar tidak menyesal di kemudian hari, terlebih di hari tua. Bahkan ketika kita diberi umur 100 tahun sekalipun, kita akan sadar bahwa nikmat umur dan waktu sangatlah berharga… berapapun umur dan waktu yang diberikan Allah SWT…
Kita tak tahu apakah umur kita 100 tahun, 63 tahun, 22 tahun atau bahkan hanya 15 tahun. Semuanya akan sama saja jika kita tidak memanfaatkan umur kita, ya kita akan “terjebak oleh kebutuhan” atau “terjebak oleh waktu” seperti deskripsi di atas, kala begitu maka di akhir-akhir kita bakal menyesal. Akan menjadi suatu ironi tentunya.
Detik ini adalah waktu terbaik… Hari ini adalah hari terbaik untuk memanfaatkan waktu… Prinsip yang semestinya kita pegang.
Bismillah.. Semoga kita bisa jadi insan yang senantiasa menghargai dan memanfaatkan waktu

Mengaji Ba’da Maghrib

1 Komentar

Memiliki kebiasaan baik itu sangat menyenangkan. Walau terkadang kebiasaan yang baik dalam aktivitas harian justru kalah kuantitasnya dengan kebiasaan buruk. Nah, sambil koreksi kebiasaan masing-masing, saya mau menceritakan satu kebiasaan baik yang mungkin bisa sama-sama dibudayakan.

Kebiasaan itu tak lain membaca Al-Qur’an (mengaji) ba’da maghrib

Membaca Al-Qu’ran tentu saja memiliki banyak sekali keutamaan mengingat Al-Qur’an adalah petunjuk hidup manusia di dunia nan fana ini. Mengenai waktu membacanya, kapanpun takkan mengurangi keutamaan. Nah, kalau saya menyebutkan kebiasaan ba’da Maghrib, itu karena di waktu itulah saya selalu dibiasakan oleh Ibu saya. Kebiasaan yang sudah dimulai sejak kecil, atau mungkin juga sejak dalam kandungan Ibu.

Berikut ayat yang mengandung salah satu keutamaan mambaca Al-Qur’an (mengaji) :

Nah, tertulis jelas di situ bahwa Al-Qur’an sebagai PENJELAS, PETUNJUK, RAHMAT dan KABAR GEMBIRA sekaligus. Menarik sekali bukan?

Berhubungan dengan waktu Maghrib, waktu ini merupakan transisi dari waktu ada dan tidaknya matahari. Waktu ini menjadi krusial karena selepas Maghrib sampai kita terlelap tidur merupakan waktu yang sangat potensial untuk melakukan hal produktif (utamanya belajar). Mengaji di saat ini bakal merefresh pikiran dan keletihan, plus tambahan luar biasa tadi: Penjelas, Petunjuk, Rahmat, Kabar Gembira, sehingga kita bisa menikmati belajar kita. Tentunya dengan bismillah, atas nama Allah.. :-)

So, ba’da Maghrib adalah waktu yang sangat recommended untuk kebiasaan baik membaca Al-Qur’an. Then, why not? yuk sama-sama dibiasakan..

 

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.