Keluarga Widya Kelana


Sebagai anak rantau dari Solo di kota Bandung, saya punya “keluarga besar” di sini. Namanya Widya Kelana. Biasa disingkat dengan Wika. Paguyuban ini sudah dirintis sejak lama dan terus eksis dengan semangat paguyuban kekeluargaan.

Kalo ditelusuri dari nama, Widya=Ilmu/belajar, Kelana=berkelana/merantau. Yuph, berkelana untuk mencari ilmu. Filosofi yang bagus kan? Tapi entah kenapa baru ditelusuri saat kepengurusan tahun ini, mengenai sejarah dan pembentukan paguyuban Wika. Konon, sudah sejak 1976 lho.. wow.. tapi itu juga baru konon, saat kopi darat yang akan diadakan sebentar lagi di kota Bandung ini mungkin akan ditemui jawaban pastinya. Sekarang, seperti tercantum di jaket identitas, Widya Kelana dimaknai sebagai “Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB”.

Banyak sekali kegiatan dan kemanfaatan dari paguyuban Widya Kelana. Baik sebagai keluarga bagi internal anggotanya, juga bagi adik-adik SMA yang ingin tahu banyak informasi mengenai universitas (khususnya ITB). Apa saja itu?

Hmm.. kalau diceritakan bakal panjang banget ntar. Nah, biar ga kecampur dengan materi blog ini, tapi saya masih bisa menyampaikan inspirasi dari Widyakelana, monggo teman-teman semua menyempatkan untuk mengunjungi situs resmi Widya Kelana:

www.widyakelana-itb.org

Karena saat ini saya masih diamanahi jadi kadiv kekeluargaan Widya Kelana, report acara dan motivasi agar paguyuban ini makin guyub di situs itu saya yang nulis. Bisa dibaca dari gayanya yang catchy (auwah..)

Selamat berkunjung ya! Semoga tulisan saya di sana juga bisa memberi inspirasi dan motivasi, sebagaimana yang saya harapkan lewat blog saya ini…!

Terima kasih

Mudik Bareng Widyakelana 2010


Alhamdulillah libur Lebaran telah tiba.. Momen mudik pun menjadi momen yang sangat dinanti dan dinikmati. Tak terkecuali pada libur Lebaran tahun ini, tak kalah menyenangkan. Saya mudik bersama rombongan Widyakelana (Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB) naek bus langsung di hari terakhir kuliah (Jumat 3 September 2010), tentu saja bukan paginya, tapi malam sehabis tarawih.

Seperti biasa, dari tahun ke tahun, kalau mudik lebaran Widyakelana menyewa bus. Yang berbeda, untuk kali ini ada 2 bus yang disewa karena banyaknya angkatan 2010 (angkatan terbanyak sepanjang sejarah Wika) yang ikut. Busnya kalo ga salah City Trans menggunakan jasa Smart17Tour. Harga tiket 160ribu (sudah termasuk makan sahur). Agak mahal karena harga Lebaran, tapi sebanding lah. Busnya bagus, baru dan sangat nyaman.

Kami (widyakelana) berkumpul di gerbang depan kampus di jalan Ganesha selepas sholat tarawih. Saat saya sampai di sana diantar mas Bro EP’07, sudah banyak anggota rombongan yang datang. Saya pun segera menaekkan barang ke bus, memilih kursi yang masih tersedia. Dan saya dapat kursi ketiga dari depan, di bus 2. Alhamdulillah masih dapat kursi di barisan depan, walau idealnya kursi bus (menurut saya) kalau ga yang paling depan ya paling belakang. Well, saya kan tidak mabukan lagi sejak SMP, jadi kursi manapun okelah.

Setelah semua anggota telah berada di dalam bus, diabsen ulang dan siap berangkat, bus pun mulai bergerak. Itu sekitar jam 21.20 WIB. Yuhuy, perjalanan mudik pun dimulai.

Bus melaju lancar melewati Jalan Layang Pasopati, dan tanpa terhambat macet yang berarti sudah tiba di gerbang tol Pasteur. Masuk tol, kami mengelilingi batas kota Bandung untuk menuju ke Bandung Timur, dan setelah keluar tol mulai lanjut ke Nagreg. Selama awal perjalanan ini, suasana ramai terjadi karena cas-cis-cusnya Mbak Ratih Farmasi’07, di-counter dengan respon silih berganti anggota Wika yang laen. Seru lah. Mulai masalah jurusan sampai pacar, mulai bagian kapal yang lancip sampai kemampuan berbahasa Sunda (nah lho, ukur sendiri seberapa jauh melencengnya). Jalur Nagreg yang berliku pun dilalui dengan riang, walau semua sadar habis ini pasti pada mulai tertidur satu per satu. Alhamdulillah Nagreg lancar, tidak macet dan saya pun tertidur pulas. Hehe..

Bangun dari tidur pulas, bus sudah berhenti. Ternyata waktunya makan sahur. Wah, lama juga ya saya tertidur. Bahkan saya tidak menyadari busnya tadi sempat berhenti 1 jam untuk pak sopirnya istirahat. Ah, yang penting tidak tertidur waktu jatah makan sahur. Saya segera turun dari bus bersama anggota Wika yang laen. Hmm.. Jatilawang Resto, sama seperti waktu mudik tahun lalu berarti. Well, di sini cukup lengkap sih. Selain resto ada juga Pom bensin dan mushola dengan ukuran cukup besar.

Makan sahur di Jatilawang Resto cukup nikmat, ada daging rendang, sayur, krupuk dan minumnya Frestea dingin. Alhamdulillah kenyang dan siap untuk shaum maksimal. Selesai sahur, masih jam 04.05 WIB jadi masih harus menunggu sekitar 20 menit untuk sholat Subuh. Sambil menunggu sempat melihat highlight kualifikasi Euro 2012 di mana Inggris menggasak Belarusia 4-0. Oya, waktu menjelang subuh ini saya gunakan juga untuk menghabiskan minuman dan snack di kursi bus saya. Ntar ga sadar malah minum pas melanjutkan perjalanan. Bisa berabe kan..

Singkat cerita, sudah sholat subuh dan perjalanan pun berlanjut. Menyusuri jalanan lurus Jawa Tengah dengan sawah nan hijau di kiri kanan, sebentar saja sang surya sudah terbit dengan warna oranyenya yang memberi nuansa indahnya pagi. Praktis dalam perjalanan lanjutan ini saya 90% melek. Suasana ramai lagi karena radio yang disetel menyiarkan lagu Jawatimuran aneh berjudul “tikus” (kocak parah liriknya).

Purworejo, Jogja, Klaten.. satu per satu terlalui. Dan selepas Tegalgondo, mulai ada anggota yang turun dari bus. Yang pertama adalah Singgih TM’08, rekan yang dari awal duduk di samping saya pas. Di situ saja sudah turun, berarti yang dapat disimpulkan adalah, rumah Singgih sangat jauh dari kota. Berada hampir di batas pojok 3 kabupaten: Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten.

Sebentar saja sudah sampai di Kartasura, salah satu kecamatan paling modern dan strategis di Indonesia (klaim dari saya sih karena kecamatan ini ada di KTP saya.. hehe). Sadis (nama orang, bukan lagunya Afgan!) turun. Di perempatan Kartasura, belok ke kiri ke arah Colomadu. Jalur berbeda dengan biasanya, tidak dilewatkan di depan Patung Batik Kleco (gerbang utama Solo dari barat), karena gantian mengakomodir teman-teman yang rumahnya di Colomadu. Saya sendiri yang biasanya turun di dekat Patung Batik Kleco, kali ini turun di depan PDAM Jajar. Tak apa, tidak begitu jauh. Toh saya dijemput adik saya yang memang mulai hari Sabtu 4 September 2010 sudah libur.

Setelah menunggu sebentar selama 5 menit (harusnya tidak menunggu, tapi adik saya ternyata lupa jalan tembus dari Kleco ke PDAM jajar.. ya sudahlah), adik saya datang menjemput. Nice. Saya pun bisa merasakan lagi udara kota Solo ini. Jam 11 tepat, saya sampai di rumah. Alhamdulillah…

Petualangan Jalan Kaki nan Mantap..!! (Part 1)


Sabtu, hari terakhir Juli 2010

Lama tidak olahraga. Ingin berolahraga yang bisa mengganti, yang cukup ekstrim, tapi tetap menyenangkan. Hari sebelumnya terpikir untuk jogging ke daerah Dago atas (THR Ir.Juanda) bersama sahabat saya Arif Prasetiya. Selain cukup menantang (jalanan menanjak dan cukup jauh), viewnya sangat bagus, udara segar, dan bisa selesai dalam maksimal setengah hari. Plan awal, selain bareng Arif, juga bersama anggota baru Widyakelana 2010 yang sekiranya agenda kosong (yang jelas bukan yang lolos via SNMPTN karena mereka dijadwalkan mengerjakan psikotes). Tapi, Arif ternyata ga bisa karena mendadak ada jarkom urusan Ospek jurusan, finally saya berangkat bersama 5 orang adek2 Widyakelana saya.

Jam 6.45 saya berangkat naek motor dari kosan di Kebonkembang ke Asrama Sangkuriang. Memang tempat kumpul awalnya di situ. 5 orang sudah siap, dan 1 lagi ketemu di depan Pusdiklat Geologi Cisitu. Jadi, anggap saja titik awal adalah Pusdiklat Geologi Cisitu. Kami pun bersiap memulai petualangan jalan kaki yang mungkin akan jadi salah satu yang paling mengesankan. (Oya, yang tahu tempat tujuan petualangan ini hanya saya.. adek2 Wika 2010 tidak ada yang tahu satupun, mereka hanya ngikut aja. Freak. Haha). Ikuti petualangan kami!!

***

Dari depan Pusdiklat Geologi, kami berjalan menuju jalan Dago dengan menyusuri perumahan elite Dago Asri. Jalan-jalan santai saja sambil ngobrol ini itu. Tak terasa sudah sampai di jalan Dago, dan mulai menyusuri jalan ke utara, ke arah Dago Atas. Di sepanjang perjalanan, kami melihat rombongan biker. Sepedaan? Hmm.. nice idea,, kapan2 perlu mencoba, tapi tentunya kalau ada sepedanya.. haha.. Sesekali kami tersenyum melihat ibu-ibu yang berusaha mengayuh sepeda sekuat-kuatnya di tanjakan tapi gagal (sepertinya salah gear), juga bapak-bapak yang harus berhenti karena rantainya lepas. Hmm.. dua hal yang hampir sama: bicycle (English, arti:sepeda) dan by sikil (Javanese, arti: jalan kaki). Dan ternyata produk langsung dari Allah SWT (kaki) jauh lebih unggul, terbukti kami bisa melewati tanjakan tanpa harus berusaha keras maupun onderdil lepas (wah, seram banget kalau sampai, misal lutut, lepas).

Masih belum merasa lelah, eh sudah sampai depan Terminal Dago. Perjalanan berlanjut lagi naek ke atas menuju Taman Hutan Raya Ir.Juanda, dan kondisi masih tetap sama, hanya saya yang tahu tempat tujuan). Jalan Dago sudah lewat, kami belok ke kiri mengikuti papan penunjuk arah. Menurut papan itu, taman Ir Juanda belok kiri 600 meter. Oya, sudah berapa kilo ya kami berjalan? Yah, mungkin sekitar 2-3 kilo lah..

Enam ratus meter kemudian, yuhui, sudah sampai gerbang masuk THR (Taman Hutan Raya) untuk pejalan kaki. Tapi ada yang mengganjal, harga tiket masuknya sekarang kq Rp 8000,00 ya.. mahal… Usaha penawaran pun dilakukan hingga akhirnya jadi Rp 5000,00/orang. Lumayan lah ga begitu mahal (dan ini untuk kesekian kalinya masuk objek wisata Bandung dengan menawar harga tiket). Petualangan di THR pun dimulai.

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Museum yang isinya daun, serangga dan unggas yang dikeringkan, foto-foto Ir Juanda, serta maket hutan raya dan jembatan curug omas Maribaya. Setelah itu, istirahat sebentar menikmati udara segar dan kicauan merdu burung jalak. Cukup istirahat, mulai jalan kaki lagi menuju Gua Jepang dan Gua Belanda.

Menjelang sampai di Gua Jepang, langsung disodorin banyak banget senter. Karena kami tidak ada yang membawa senter, jadi niatnya menyewa 2 senter (cukup lah buat berenam). Saat sudah masuk dan deal sewa senter, eh masih ada penjaja yang menawarkan senternya sampai dalam gua. Dengan sedikit memaksa mereka bilang “sudah ini senternya pegang dulu” walaupun tidak ada yang mau memegang (karena sudah pasti dianggap menyewa). Menyusuri lorong gua, masih saja bapak-bapak penjaja senter itu mengikuti, sok jadi tour guide. Jadi ga nyaman banget dah. Dan setelah keluar gua, bapak-bapak “tour guide” yang senternya tidak laku disewa itu meminta uang “sewa tour guide”. Yaela.. Tentu saja tidak kami beri, karena memang tidak menyewa senter dan tour guidenya maksa, toh tanpa guide pun bisa menyusuri gua Jepang itu sendiri. Well, meninggalkan gua Jepang dengan sedikit bad mood. Lain kali kalau ke sana harus bawa senter sendiri dari kosan.

Dari gua Jepang, berjalan menyusuri rimbunnya hutan menuju Gua Belanda. Pohon pinus, damar, meranti berdiri tegak menjulang. Sesekali terlihat sekawanan monyet, terdengar indahnya kicauan burung dan derasnya air sungai. Di perjalanan, ada pipa air yang sedikit bocor sehingga airnya memancar. Woho, langsung buat cuci muka. Air pegunungan.. Segarnya…

Tidak terlalu lama, sampailah di Gua Belanda. Gua ini kami masuki dan lewati lebih sebagai jalan tembus, karena dalamnya toh hampir sama dengan Gua Jepang: gelap banget, tanpa keindahan artistik (stalagtit stalagmit). Sudah berjalan sampai Gua Jepang dan Gua Belanda, niat awal sih langsung pulang. Tapi nanggung banget kalau tidak sekalian ke Air Terjun Maribaya. Kan jarang-jarang ke sana, ini aja bisa dibilang dua tahun sekali.

Yuph, akhirnya diputuskan melanjutkan jalan kaki menyusuri hutan ke Maribaya. Before that, karena lapar belum sarapan, kami mampir dulu makan di warung. Wisata kuliner sederhana. Dan.. heumm.. Rasa lapar belum sarapan ditambah suasana segar pegunungan… Teh manis panas dan gorengan di sana pun terasa nikmat sekali… Alhamdulillah. Energi tercharge lagi dan siap menuju Maribaya… (bersambung)