Posted in jalan-jalan

Niat ke Lake Como, Nyasar di Bergamo


Nyasar di tempat yang baru pertama kali dikunjungi adalah hal yang wajar. Berkesan bahkan. Hanya saja alasan di balik nyasarnya ini yang seringkali bikin kesel. Agenda yang udah direncanain bisa geser gara-gara tingkah konyol yang berujung pada ketersesatan. Di cerita ini, saya bakal cerita pengalaman unik nyasar di negeri orang. Lebih tepatnya waktu jalan-jalan di Italia. Gimana tuh nyasarnya?

**

Milano Centrale, 14.00 waktu setempat

Touchdown juga di stasiun utama kota Milan, selepas puas dari stadion San Siro, markas besar klub bola kebanggaan saya, AC Milan. Saking asyiknya menjelajahi stadion impian yang perjuangan ke sananya butuh seperempat abad usaha itu (wkwk lebaaay.. cem begitu lahir ceprot udah jadi Milanisti aja), saya sampai lupa kalau melewatkan jam makan siang dan jadwal ke Lake Como.

Jalan-jalan sendiri bikin jadwal jelas lebih fleksibel sih, tapi kondisi winter (matahari sebelum jam 5 sore udah tenggelam) membuat saya harusnya cukup strict dengan agenda. Biasaa banci foto hasil jepretan kamera bakal menurun drastis kalau udah temaram ga ada matahari. Lake Como sendiri saya agendakan karena tempting dengan taglinenya sebagai danau terindah di Italia, tempat refreshingnya pesohor cem George Clooney, Madonna, Ronaldinho dan Richard Branson, serta penampakannya di google yang seperti ini (gambar dicomot dari findyouritaly.com):

lake como

Menarik sekali bukan?

Liat sejenak jadwal keberangkatan kereta ke Lake Como. Di board terpampang: 14.10.

Beuh 10 menit lagi. Di saat bersamaan kriuk kriuk, perut meronta minta diisi karena dari pagi belum makan. Duh gimana nii.. Kalau makan dulu dan mesti nunggu jadwal kereta selanjutnya, bisa-bisa sampai Lake Como udah gelap ntar. Tapi kalau engga makan dulu, laper. Hmmmm..

Menit 1-2. Berkutat dengan hmmm

Menit 3-6. Ah lama! Impulsif langsung beli tiket dari vending machine. Saking buru-burunya bahkan tanpa mengubah bahasa dari Itali ke Inggris. Emang bisa? Yah, balada orang kepepet tiba-tiba jadi bisaa.. wkwk..

Menit 7-8. Lari menuju gerbang masuk peron, cek tiket sama petugas gerbang

Menit 9. Eh! keretanya di peron mana tadi? Liat di tiket. Aih, kereta regional ga ada tulisan peron. Inget tadi di board jam 14.10, ga pake lama langsung lari ke nomer peron yang terjadwal 14.10. Kalau bentuk keretanya bukan streamline khas kereta cepat antarkota, berarti udah bener.

Menit 10. Masuk kereta tepat sebelum jalan! Yeay! Hahaha *tawa penuh kemenangan*

Jukijakijukijakijuk.. Kereta berangkat…

**

Di dalam sebuah kereta regional. 14.45 waktu setempat

Tiga menit lagi sebelum sampai di Como San Giovanni, stasiun tujuan untuk ke Lake Como. Tapi ada yang aneh di sini. Hmm.. kok dari tadi belum ada tanda-tanda ada danau ya? Waduk Gajahmungkur di Wonogiri aja dari jauh udah keliatan, masa ini danau terbesar ketiga di Itali ga keliatan dari jauh?

Refleks segera aktifkan GPS untuk cek lokasi. Belum sempat berpikir lebih jauh, kereta sudah mulai menurunkan lajunya. GPS udah berhasil mendeteksi lokasi, papan stasiun sudah terlihat, dan jam menunjuk on time 14.48 saat saya menyadari bahwa posisi saya saat itu ternyata di..

BERGAMO!

For those who wonder:

milano bergamo

Jadi hampir satu jam lamanya saya sudah berada di kereta yang salah! Salah arah ga kira-kira. Warbyasa -__-

**

Bergamo, 15.00

bergamo

Apa yang teman-teman lakukan kalau sedang seorang diri nyasar di tempat antah berantah?

Common sense pertama adalah jangan panik. Stay cool. Yang kedua, ya udah sih ditinggal makan aja, ga usah dipikirin. Lha wong emang lapaar. Ingatlah kata orang bijak: Kalau lapar, makan! Perut dibiarin kosong jadi nyasar kaan.. hehe. Ketiga, rada bunglon. Sok cool sama orang sekitar (jangan keliatan seperti orang bingung dan panik, diincer pencopet ntar), tapi berlagak naif kalau sama petugas (misal tadi sampai dicek kondektur kereta, bilang aja waah salah kereta ya pak, baru tau, mohon maklum dong saya turis *pasang muka melas biar ga didenda*). Wkwk..

Setelah perut terisi, fisik sudah pulang. Saatnya untuk pulang lagi ke Milan. Di sinilah sisi impulsif saya kembali mengusik. Ga kapok udah nyasar, belum sampai Milan saya impulsif lagi turun dari kereta di stasiun Monza. Masi kepikiran Lake Comooo..¬† Hmm tanpa tahu sebelumnya ada engga kereta dari stasiun ini ke Lake Como dari MonzaūüėÄ

**

Lake Como, 17.10

lake como

DSCN4097

Ternyata kalau udah punya tujuan, saya akan tetap ke sana. Walau harus dengan nyasar dulu. Hehe. Salaaam dari Lake Como dalam temaramūüôā

 

Posted in jalan-jalan

Jalan jalan San Marino


Bercerita jalan-jalan lagiii.. Hidup udah sepaneng (kaku/bosan dalam bahasa Jawa -red) nih berkutat sama tesis mulu. So, kita lanjutkan saja ya cerita jalan-jalan solo travelling tiga negara yang sempat tertunda.

Negara yang saya kunjungi kali ini adalah San Marino, sebuah negara mungil yang luas wilayah dan jumlah penduduknya ga lebih banyak dari kecamatan di kota Bandung (dengan luas hanya 61 km2 dan penduduk 30ribuan, negara ini termini ketiga di Eropa dan kelima di dunia). Saking mininya, konon jumlah kendaraan di sini lebih banyak dibanding populasi manusianya. Hehe..

Untuk mencapai San Marino, kita mesti menuju kota Rimini (baru denger kota kecil di pinggiran Italia ini? toss samaa!) secara negara ini ga punya bandara dan stasiun. Jalur jalan raya menjadi opsi satu-satunya, antara ditempuh dengan mobil (buat yang punya, atau yang mampu sewa), vespa (aih kendaraan khas Itali satu ini! kembali buat yang mampu sewa), atau duduk anteng di dalam bus (jelas opsi yang diambil oleh mahasiswa gemar menabung kantong cekak cem saya.. wkwk).

Bus Rimini-San Marino

Halte bus menuju San Marino terletak pas di sebarang stasiun kereta Rimini. Haltenya ga catchy sama sekali, cuma papan doang yang ga keliatan dari jauh. Yang bisa jadi patokan: kalau kita keluar lewat pintu utama stasiun Rimini dan menjumpai Burger King di seberang, berarti udah di arah yang benar. Tinggal tunggu saja menjelang jam berangkat karena selain halte yang gitu doang, kota Rimini yang supersepi (sesepi hatiku yang jalan2 seorang diri #gubrak), tiket juga bisa dibelinya langsung ke pak sopir bus. Lima euro untuk one way. Pastikan tidak ketinggalan bus, karena frekuensi transport yang cukup jarang di sini (1 jam sekali – cek jadwal di sini). Bisa mati gaya ntaar kalo ketinggalan transport..

san marino bus

Perjalanan Rimini ke San Marino ditempuh dalam 30 menit saja. Oya, negara kecil San Marino ini terletak di atas gunung (Mount Titano) jadi pemandangan selalu perjalanan lumayaan, apalagi saat dari jauh mulai tampak tower-tower  San Marino yang diselimuti kabut. Misty mountain feel!

Porta San Francesco – Palazzo Publico

Turun dari pemberhentian bus, kita bisa naik lift atau tangga menuju gerbang kota tua San Marino, Porta San Francesco. Sebenarnya ada juga pilihan mengakses sini dengan kereta gantung (funivia), tapi males mesti turun bus di tengah perjalanan dan nunggu giliran naik udaah bilang aja males ngeluarin duit lagi. Selepas Porta San Francesco, mulailah kita naik-naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali… Hehe, lokasi objek wisata San Marino yang berada di atas bukit memang mengharuskan kita menyusuri jalanan menanjak. Tapi no worries, emang pada dasarnya saya lumayan suka trekking. Buat yang agak males dengan tanjakan, ya ga perlu buru-buru karena di sini kiri kanan sepanjang jalan berjejer toko yang tax free (yang hobi shopping), toko pizza yang menggoda selera (yang doyan kuliner), atau ya dikit-dikit ambil foto yang instagrammable (yang demen foto). Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Palazzo Publico, plaza utama tempat orang San Marino kumpul untuk upacara kenegaraan.

porta san francesco

palazzo publico

Ini nampilin fotonya kok berasa sok-sokan ke sana pakai mobil mewah yaa.. wkwk

The Three Towers 

Nah objek wisata utama yang juga jadi simbol di bendera San Marino adalah tiga tower utama: Guaita (tower tertua dan paling dikenal), Cesta de la Fratta (tower tertinggi) dan Montale (tower terkecil)

Untuk masuk tower Guaita, sang tower utama, kita perlu bayar 4.5 euro. Harga yang sama untuk tower kedua (atau ada paket combo ya? lupa deh, ga masuk tower kedua soalnya). Dari atas tower kita bisa melihat pemandangan¬† negara San Marino dari ketinggian. Walau ga keliatan jelas karena kabut di mana-mana. Kayaknya dua kata: “tower” dan “kabut” itu merangkum banget deh tentang negara ini. Walau untuk kata yang kedua agak debatable sih karena saya ke sana waktu winter. Musim panas mungkin bakal terang benderang dan foto tower yang didapat pun lebih caem *foto tower berkabut suasana misty mountain juga bagus ding (menghibur dirii)ūüėÄ

Guaita Fortress

Guaita

Cesta de la Fratta

della frata

Montale

montale

Asik lho, teman-teman, menyusuri jalanan antar tiga tower itu. Guaita dan de la Fratta dapat disusuri dalam jalan berundak dengan jurang menganga di sebelah kiri, sambil menikmati dinginnya kabut. Sedangkan antara de la Fratta dan Montale jalan setapaknya berasa di dalam hutan. Ga banyak yang jalan ke Montale karena memang tower ketiga ini satu-satunya yang ga dibuka untuk publik. Untung saja saya tidak melewatkan trekking ke Montale karena suasana sejuk jalanannya yang mendamaikan hati (auwah) plus hadiah kecil ujung jalan, kebetulan sekali tower mungil itu kena sorot matahari, dapet juga foto yang backgroundnya langit biru. Hehe…

Perjalanan berikutnya dihabiskan dengan turun anak tangga menuju tempat mangkal bus. Berasa cukup singkat kunjungan kali ini mengingat bus hanya ada sampai sore dan saya mesti melanjutkan perjalanan ke kota air Venezia. Cerita di kota nan cantik itu sudah saya tulis di postingan sebelumnya. Monggo kalau mau baca..

Sampai jumpa di cerita selanjutnyaa…ūüôā

 

 

 

Posted in periodic diary

Dua Puluh Enam


Alhamdulillah. Hari ini saya secara tidak langsung diingatkan bahwa sudah diberi kesempatan hidup di dunia selama dua puluh enam tahun lamanya.

Astaghfirullah. Begitu pun saya sadar bahwa hari ini berarti waktu hidup saya di dunia sudah berkurang lagi.

Akan selama apa saya ada di dunia? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Tapi saya sangat bersyukur sudah menginjak umur dua puluh enam. Bukan waktu yang pendek, terlebih dengan segala lika-liku kehidupan ini ahaha..

Berkutat dengan tesis melulu, pucing pala berbi.. Tapi alhamdulillah selalu ada Allah, selalu ada orang tua, keluarga.. pun teman-teman yang di tengah kesibukannya masing-masing masih sempat mengucapkan selamat ulang tahun pada saya.. Terima kasih banyaaak..

Lalu apa rencana besar di umur 26 ntar? Hmm.. apa yaa.. Yang jelas saya mengamini banget ucapan ultah kawan-kawan sejurusan ET¬† ITB’08 berikut:

Selamat ulang taun Mas Mus!! Semoga segera rampung kuliahnya dan segera dipertemukan dengan wanita terbaik dan lsg segera melaksanakan Sunnah Rasul. Barakallah

Amiiiin3 ya robbal ‘alamiiin…

Hehehe…

Yah, saat bapak di sekitar umur 26 dulu beliau kan juga dipertemukan dengan Bunda, sudah dapat pekerjaan, dan berada di awal perjalanan untuk menjadi ayah terbaik di dunia. Jadi, kenapa saya tidak? Tentu saja dengan izin Allah..

Sedikit catatan kecil agak curhat, untuk pertama kalinya Bunda dan Bapak lupa sama sekali tentang hari ulang tahun saya. Tapi tak mengapa, toh bukan bocah lagi. Emang iya Feel weird karena kebiasaan mendengarkan ucapan selamat dan doa dari ortu di hari jadi itu udah berlangsung sekian lama. Malah diingatkan juga kalau mungkin orang tua pun sudah bertambah umur pula, sebagai anak yang udah makin dewasa harus bisa lebih care, sejauh apapun jarak dan kondisi memisahkan.

Bismillah semoga selalu bisa berbakti dan banyak kebarokahan di sisa usia.

26

WELCOME 26!!ūüôā

 

Leiden, 15 Juni 2016

AMH

Posted in periodic diary

Dua Movie yang Baru Ngehits


Rehat dari dunia pertesisan. Biasanya kalau lagi jemet dan pengen rehat, saya sukanya nonton movie. Alhamdulillah di Belanda inetnya kenceng buat download dan bisa norrent bebas. Tinggal tunggu versi HD muncul, unduh via torrent, tonton, dan hapus lagi biar ga menuh-menuhin harddisk. Bahkan streaming juga oke. Nggaya ya.. padahal di Indonesia, harddisk eksternal sampai penuh movie karena sungguh penuh perjuangan ngedapetinnya, baik dikarenakan kecepatan koneksi, bayar kuota ataupun mesti menemui teman yang punya reputasi sebagai bandar film. Haha.

Anyway, saya udah cukup lama nih ga nonton movie nih. Udah dua bulan lebih kayaknya, sampai lupa terakhir nonton film apa. Kayaknya Revenant, karena pengen tau gimana Leo di Caprio akhirnya dapat Oscar (akting doi oke, tapi storyline filmnya boring abis.. lebih tepatnya, not my cup of tea). Jadi movie yang baru hits apa nih?

Kalau melihat di linimasa socmed, sepertinya “Captain America: Civil War” dan “Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2” ya? Wih¬†diliat dari genrenya, dua-duanya supermenarik. Jelas both are my cup of tea (genre kesukaan saya). Karena dua film itu rilis di bioskop hampir bersamaan, banyak teman saya yang posting preferensinya pilih nonton yang mana duluan. Teman-teman pada nonton yang mana dulu ni?

Eh ini jadi inget juga kalau saya luamaaa sekali ga ke bioskop. Saya belum pernah nonton bioskop di Belanda (mahal! males, mending norrent). Waktu mudik summer kemarin saya juga ga ke bioskop. Jadi bisa dikatakan terakhir nonton tahun 2014, yang sudah lupa pula nonton apaan. So, di antara dua trending movie itu, seandainya saat ini juga saya mudik ke Indonesia, bakal pilih nonton mana duluan yaa?

Hmmm.. Ga perlu pikir panjang untuk pilih AADC2!! Obvious reason: Diandra Paramita Sastrowardoyo is the most beautiful actress of all time! Oke bukan itu sih, tapi dasarnya emang penasaran setelah 14 tahun (wew, really? 14 tahun itu suwiiii..), salah satu film terbaik Indonesia ini gimana kelanjutannya, makin bikin baper kaga (ngeliat trailernya udah baper sih.. hahaha). Tapi, sebagai fanboy Marvel superhero, ga mungkin saya melewatkan film yang di dalamnya ada tiga superhero favorit: Spiderman, Iron Man, dan Captain America. Ini movie pasti epic parah. Pasti. Pun seperti kecantikan Dian Sastro, adegan action di Captain America:Civil War ga akan bosan diliat. Khusus film action, emang lebih yahud nonton di bioskop. Jadi kalau ditanya pilih yang mana duluan, saya bakal bilang: nonton AADC2 dulu, setelah itu nonton CACW dua kali.

Ngaco. Berapa duit itu nonton 3x. Yah, namanya juga seandainya. Ahaha.

Terus waktu postingan ini ditulis, tiba-tiba ada whatsapp dari babe

aadc bunda babe

Whaaat.. Bunda dan babe nonton AADC2…!! Demi apah.

Unyu sih. Hihihi.

 

Posted in belanda story, kampus, periodic diary

Zwarte Pad


Jalan kaki 5 km itu “ngga banget” di negara yang anginnya naudzubillah seperti Belanda. Berhubung keterpaksaan oleh kondisi apes (Baca: Sakura di Belanda), saya mesti mencari tau info jalan tembus terdekat biar ga terlalu ngos-ngosan jalan. Oya¬†bagi yang langsung ngeh bahwa¬†¬†Google Maps adalah solusi tersimpel untuk masalah kayak gini, sayang sekali hape saya unexpectedly lagi error. Fufufu…

Oke, kita review effortnya ya..

Effort 1 

Berhubung saya baru saja dari Cherry Blossom (Sakura) Festival, tanya jalan ya ke orang yang berkaitan dengan festival. Tujuan mereka udah pasti ke gerbang depan, dan siapa tau bisa nebeng. Hehe.. #ngarepbener

Sayang sekali, saya ga bisa nebeng tapi dapat petunjuk bagus kalau ga mesti ke gerbang depan untuk mendapati halte bus. Ada halte yang lebih dekat, kata beliau hanya 15 menit jalan. Tinggal ikuti papan petunjuk exit menuju “Camping”.

Lima menit jalan kaki, untuk pertama kali terlihatlah papan petunjuk menuju¬†“Camping”. Jaraknya? 2.5 km. Uh oh.¬†Laah.. katanya ¬†15 menit doang?

At this moment saya baru nyadar betapa berbedanya jangkauan kaki saya dengan si meneer Belanda. Tapi langkah tetap mesti dilanjutkan.

Effort 2

Saat kaki mulai gempor (udah jalan hampir 2 km ni, kayaknya), bertemulah dengan sebuah persimpangan yang mana kalau tengok kiri keliatan ada jalan besar di sana. Wah, di sanakah halte busnya? Tapi kok kalau ngikut meneer ke arah “Camping” arahnya mesti lurus dan masih 1 km! Kalau ketemu persimpangan yang meragukan gini, teman-teman kira-kira pilih mana? Ngikut petunjuk 1 no matter what, atau instingtif belok kiri dengan harapan menemui halte bus di sana?

Kebetulan saat ragu tersebut, ada noni Belanda yang lewat dan langsung aja tanya. Ternyata beliau bukan orang situ (Amstelveen), tapi willing to help dengan Google Maps-nya. Someone with Google Maps! Yeay!

Dari petunjuk sang noni, belok kiri jadi pilihan. Kata beliau, begitu kita mendapati jalan besar, deket situ ada  halte Schinkeldijke, yang mana ada bus 199 menuju Schiphol Airport, tujuan saya sebelum balik lagi ke Leiden tercinta. Nice info.

Ga butuh waktu lama untuk mencapai jalan besar. Pun halte bus yang langsung keliatan. Akhirnya ga perlu jalan kaki lagi. Tapi sesampai di halte, ternyata nama haltenya…

ZWARTE PAD.

Ga ada bus 199 lewat sini. OH MY.

Effort 3

Jeng jeng, masa bisa salah ngasi info sih noni Belanda tadi. Hmm.. Di halte Zwarte Pad, rute busnya ga ada yang mengarah ke Schiphol. Apa yang salah di sini ga perlu banyak dipikirkan karena di halte seberang (Zwarte Pad, tapi menuju tujuan akhir sebaliknya) ada rombongan turis muka-muka Asia. Ada kemungkinan besar bahwa mereka menuju Schiphol (bandara utama Belanda) juga kan?

Well, setelah tanya ternyata tujuan mereka adalah centrum Amsterdam. Beda arah. Tapi mereka bilang (dan make sense) kalau saya mau ke Schiphol, kan dari pusat kota Amsterdam banyak pilihan transport.

Ada pilihan di sini: mau coba nyari halte Schinkeldijke info dari noni belanda tadi (siapa tau sebenarnya emang ga terlalu jauh dari Zwarte Pad), atau cari aman menuju pusat Amsterdam dulu (pasti ada transport, tapi lebih ribet mesti pindah-pindah bus/metro/kereta).

Berdasar insting, pilihan pertama lah yang saya pilih. Semoga halte berikutnya emang ga jauh, dan bener namanya Schinkeldijke. Semoga.

Baru setengah perjalanan menuju next halte, bus yang ke arah centrum Amsterdam datang. Mengingat frekuensi bus di jam itu mulai jarang (30 menit sekali), kok sepertinya ini jadi lebih menarik.

Putar balik, kejaar busnyaaa…

…..

…..

Dan.. selamat.. karena busnya..

GA KEKEJAR.

Selamat berkeluh kesah di Zwarte Pad. Damn.

**

Kawan, pernah ga sih kalian menyusahkan diri sendiri karena pilihan yang berubah-ubah? Belum pernah, pernah, atau sering?

Kadang saat kondisi awal kita kurang tau tentang sesuatu, kita bertanya pada orang yang menurut kita expert. Beliau memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat kita yakini membantu dalam melangkah. Lalu di tengah jalan, kita lelah dan menemui persimpangan. Ada orang lain menunjukkan opsi lain yang terlihat lebih efektif karena ia menunjukkan dengan data yang terlihat valid. Saat sudah berbelok, ada lagi orang lain dengan pendapat yang make sense, walau sebenarnya kurang tepat jadi rujukan karena tujuan akhirnya beda. Sampai akhirnya, ngikut aja ke opportunity yang terlihat di depan mata.

Huff.

Beginilah, kalau mau ngeblog tapi campur dengan balada ngerjain tesis. Jelas paragraf geje barusan itu curhat tesis. Hahaha..

zwarte pad

Olah TKP: Yang dilingkari kuning adalah halte “Camping” (dilewati bus 199 arah Schiphol). Dilingkari biru adalah halte “Schinkeldijke” (dilewati bus 199 arah Schiphol, beneran next halte dari Zwarte Pad, noni belanda ngasi petunjuknya ternyata valid tapi ga di-zoom in jadi berasa¬†rancu). Dan yang ditandai merah adalah halte Zwarte Pad, tempat saya termangu¬†walau akhirnya sampai Schiphol juga sih dengan sekali oper.

Poin yang didapat dari kejadian Zwarte Pad dengan tesis:

  • Kalau tanya dengan expert atau first supervisor, di mana penjelasan beliau terlihat simple dan doable, expect for many¬†more efforts!¬†Kita jelas berangkat dari¬†background ilmu yang lebih dangkal sehingga perlu effort lebih banyak, ga sesimpel itu.
  • Kalau ada teman diskusi lain yang bisa membantu (misal: akses jurnal via link khusus yang tidak terjangkau oleh kita), apresiasi bantuannya tapi perlu juga bagi kita untuk menggali lebih detail. Kalau terima mentah saja, dijamin data yang didapat malah bikin lebih pusing.
  • Setiap mahasiswa tesis¬†punya background dan tujuan sendiri-sendiri, yang sangat mungkin beda jauh dengan kita. Saling bantu, tapi jangan banding-bandingkan¬†progress. Fokus pada progress riset sendiri. Kalau merasa tertinggal jauh, ingat bahwa kita tak pernah tau detail usaha belajar masing-masing orang. Gampangnya, bisa jadi orang lain berangkat dari poin 50 (hasil experience bekerja), dan progres poin sekarang 80. Sedangkan kita baru di poin 60, tapi kita berangkat dari poin 10 (ilmu minim karena masih newbie). Secara progres umum tertinggal, tapi dari peningkatan poin, lebih banyak bukan? Well, sekali lagi fokus pada progress ilmu yang didapat, don’t compareūüôā
  • Semangaaat… Memang banyak bingung. Memang banyak lari kejar-kejaran dengan deadline. Kadang tertinggal juga. Banyak¬†capek. Kadang benar-benar tak berprogress. Tapi semangat!!
  • Yang paling penting adalah punya tujuan. Jalan yang ditempuh bisa jadi berubah dari petunjuk awal, bisa jadi melalui jalan yang lebih jauh. Tapi fokus pada tujuan, berusaha maka kita akan sampai. Satu tambahan penting buat penyemangat, betapa melelahkannya jalan, jadi tak masalah kalau akhirnya berujung¬†ke hatimu #laaah

Demikian curhatnya.

Terima kasih sudah membacaūüôā

Posted in belanda story

Sakura di Belanda


Weekend kemarin, saya baru saja mengunjungi festival bunga sakura (cherry blossom) di Amsterdamse Bos, sebuah taman luas di pinggiran ibukota Belanda. Sakura di Belanda? Hehe.. Unik ya, karena saking identiknya bunga musim semi ini dengan Jepang, banyak dari kita yang mengira bunga ini tidak tumbuh di Eropa. Well, Sakura ada di sini.. di Amsterdam, di Paris, dan belahan eropa lainnya.. walau emang jumlahnya ga mungkin semeriah di Negeri Sakura. Tapi cukup oke kok untuk foto-foto. Seperti apa penampakannya?

DSC_3214

DSC_3224

DSC_3217

DSC_3216

Lumayan oke kaanūüôā

Nah, saking asyiknya aksi foto ndeso saya, keapesan pun menimpa. Busbos (mobil hop on-hop off dari pintu masuk ke area taman sakura) jadwal terakhir sudah berlalu. Waduh!

Mau nebeng sepeda orang, kasian ban sepedanya ketambahan beban seorang nan buncit kayak saya. Mau nebeng mobil orang, sungkan. Mau nebeng mobil box catering, ya kali udah penuh perkakas catering. Wis jaan..

Siapa suruh foto lama-lama, wahai anak Indonesia…¬†Padahal tadi udah diwanti-wanti sama bu petugasnya kalau sampai ketinggalan, jarak ke lokasi awal itu 5 km atau setidaknya 45 menit jalan kaki!!

Duh! Selamat menikmati dah :D

Posted in jalan-jalan

Jalan-Jalan Sehari di Roma


Banyak jalan menuju Roma.

Banyak pula cara untuk menikmati keindahan ibukota Italia ini. Ada yang datang tersebab agama (buat teman-teman yang beragama Katolik, di sinilah pusatnya -Vatican), keajaiban dunia (gladiator arena, Colosseum), klub bola (antek-anteknya pakde Francesco Totti), movie mania (film pemenang Oscar 2000, Gladiator, bersetting di sini), novel penuh tanda tanya (maksudnya Angels & Demons, best seller novel-nya Dan Brown nan sarat twist), manga (turnamen Dressrosa di One Piece) dan beragam alasan lainnya. Well, pada dasarnya emang Roma kota yang teramat kaya akan sejarah, budaya dan cerita sebagaimana julukannya: La Citta Eterna (kota abadi)ūüôā

Nah, bagaimana dengan saya? Atas alasan apa datang ke Roma?

Ga ada alasan spesifik kok, pengen jalan-jalan aja.. (bohong banget!). Ahaha, simpulkan sendiri deh, yuk ikutan jalan-jalan seharian keliling Roma..

rute roma

Mengingat agendanya jalan-jalan, in fact saya emang beneran lebih banyak jalan kaki. Untungnya objek menarik di Roma lumayan reachable dengan jalan kaki (di penghujung agenda, tetep berasa sih gempornya.. hahaha). Pertama banget, mesti naik metro A dulu dari Termini (sebisa mungkin kalo di Roma cari akomodasi yang dekat dengan stasiun Termini, kawan, karena ini hub utama yang berada tepat di jantung kota) jurusan Battistini, turun di “Ottaviano S.Pietro – Musei Vaticani”. Setelahnya, serahkan pada kaki dan petaūüėÄ

  1. St. Peter’s Square, Vatican

vatican 1

Dari metro Ottaviano, jalan dikit maka kita akan melihat tembok tinggi besar yang menjadi pembatas negara independen terkecil di dunia, Vatican. Pilih antara belok kanan untuk menuju Museum Vatican (16 euro tiket masuknya) atau lurus terus untuk ke St. Peter Square.

St. Peter Square, atau Piazza San Pietro dalam bahasa lokal, merupakan tempat umat Katolik berkumpul untuk mendengar khutbah dari Pope. Lapangan luas ini mencakup keberadaan St. Peter Basilica, obelisk di tengahtengah, dan colonnade, pilar-pilar megah di sisi kanan dan kiri piazza hasil karya seniman dan arsitek kenamaan abad 17, Gianlorenzo Bernini.

vatican 2

Nah kalau udah bicara Bernini, para fans Dan Brown novel pasti cukup ngeh karena hasil karyanya jadi clue intrik, kontroversi, misteri dan thriller intens di novel (dan film) “Angels and Demons”. Di antara empat altar of science, St.Peter’s Square¬† melambangkan salah satu elemen utama: AIR.

2. Castel Sant Angelo

castel sant angelo

Satu garis lurus dengan St. Peter’s Square, ada Castel Sant Angelo, disebut sebagai sarangnya Illuminati di novel barusan. Antara dua tempat itu, ada Il Passeto, jalan rahasia ke Vatican tempat kejar-kejaran Professor Langdon (protagonis utama di novel, diperankan Tom Hanks di film) dengan sang pembunuh makin breathtaking.

Di depan Castel, ada Ponte Sant Angelo (bridge of angels). Sayangnya waktu saya lewat baru direnovasi, tetep bisa dilewatin pejalan kaki tapi jadi kurang caem buat foto-fotoūüėÄ

3. Piazza Navona

Another square, kali ini point of interestnya air mancur Fountain of Four Rivers yang melambangkan empat sungai besar di masing-masing benua: Danube (Eropa), Gangga (Asia), Nil (Afrika) dan Rio della Plata (Amerika). Sebagai altar of science, elemen yang terwakili tentu saja, WATER.

piazza navona

4. Pantheon

Terakhir dari napak tilas Angels and Demons, Pantheon merupakan tempat awal yang salah diidentifikasi Professor Langdon sebagai wakil elemen EARTH. Tapi di sinilah ia bertemu dengan sang partner yang nantinya bakal bahu-membahu mengungkap misteri  sampai akhir cerita.

pantheon

5. Fontana di Trevi

Yuhu.. beralih kita dari tema per-Dan Brown-an. Berikutnya adalah air mancur paling masyhur se Roma, atau bisa jadi se Italia. Fontana di Trevi..!

fontana di trevi 2

Kalau teman-teman pernah dengar cerita mitos jika melempar koin ke kolam maka suatu saat kita bakal kembali ke Roma lagi, nah di kolam air mancur inilah tempatnya. Beneran deh banyak banget yang percaya dan melakukan ritual lempar koin tersebut.

Kalau saya? Ya samaa… Hahaha…

Engga ding, saya lempar koin juga. Tapi ke penjual gelato di sebelah. Gelato berbeda dengan ice cream biasa karena lebih soft dan lebih lama melelehnya. Rasanya? Jangan tanya. Gelato cafe Itali di Jakarta aja enak pol, apalagi di negeri asalnya. Uhh…

fontana di trevi 1

Menikmati gelato pistachio di depan Fontana di Trevi, sambil mikir gimana caranya ambil koin-koin euro di dalam kolam… buat beli gelato lagi. Ahaha. Ga peduli winter, everyday is a great day to eat gelatoūüėÄ

6. Spanish Steps

Tempat berikutnya dari agenda jalan-jalan Roma. Anak tangga yang diklaim sebagai “anak tangga terlebar di Eropa” bernama Spanish Steps. Di dekat kompleks ini (Via Condotti), terdapat banyak toko brand-brand mewah cem LV, Prada, Gucci, dan lainnya yang tentu saja ga terjangkau sama saya.

Again, kenapa sih point of interest-nya baru direnovasii.. Mestinya kan bisa terlihat lebih elegan. Tapi berhubung saya habis makan gelato, mood jadi oke, maka renovasi ini dimaafkeun lah yaūüėÄ

spanish step

7. Colosseum

Objek wisata terakhir dari agenda Roma, udah ga jalan kaki lagi. Sudah gempor saudara-saudaraa…

Lho, katanya baru fresh lagi habis makan gelato?

Iya sih, tapi jarak Spanish Steps ke Colosseum nampaknya emang perlu bantuan metro¬† huhu. Metro A dari Spagna ke arah Anagnina transit/turun di Termini, lalu oper ke Metro B ke arah Laurentina, dua stasiun berikutnya sudah “Colosseo”

colosseum 1

Sepertinya ga perlu banyak cerita tentang keajaiban dunia nan masyhur ini ya. Cuma satu saran penting ga penting, sebelum ke Roma download dulu soundtrack Gladiator, lalu pas jalan ke arah Colosseum dengerin itu lagu. Kerasa Roma banget!!ūüôā

It is not death that a man should fear, but he should fear never beginning to live

**

Ini jalan saya ke Roma. Bagaimana jalan kamu?

Happy traveling!ūüėČ