Posted in embun

Cerita Masa Kecil Pengaruhi Mental Bangsa?


Masih dari apa yang kudapat di LKO HME, kali ini mengenai dongeng alias cerita masa kecil. Bahasan ini bermula ketika sesi diskusi, “Sebenarnya apa yang salah dengan bangsa kita?”. Beberapa pendapat disampaikan, di antaranya celetukan unik dari temanku Kalam (cukup populer pernyataan ini), “Indonesia sial sih dijajah Belanda, coba dijajah Inggris pasti maju.” Terlepas dari ironi bahwa negara yang dijajah Inggris memang lebih maju, masalah penjajahan ga pernah bisa jadi alasan ilmiah. Kalau gitu aku bisa bilang gini “Tantangi aja Inggris, kalau kita diserang, kalah dan dijajah lagi nantinya bakal jadi negara maju, sedang kalau menang kita langsung jadi superpower”. Hahaha.

Di antara beberapa jawaban unik, jawabanku temanku Sandy menjadi yang paling unik, “… karena Indonesia namanya ibu pertiwi yang bersedih dan bersusah hati, tidak seperti misalnya Amerika negeri Paman Sam yang terlihat gagah”. Hoho, mantap gan. Jawaban unik ini ditanggap kang Jaka, yang mengatakan bahwa pernyataan seperti itu mungkin.. ilmiah.

Mengapa ilmiah? Beberapa waktu yang lalu, kang Jaka bertemu orang asli Indonesia yang telah puluhan tahun tinggal di Amerika, punya keluarga orang sana, pekerjaan dan penghasilan memadai, tapi memilih meninggalkannya dan kembali ke tanah air karena risetnya mengenai kajian linguistik dunia membuatnya sangat tertarik. Nama bapak itu kalau tidak salah Pak Woko. Dari apa yang beliau dapatkan (dan itu menarik) bahwa ada perbedaan cerita masa kecil/dongeng antara ‘negara maju’ dan ‘negara belum maju’.

Di Singapura, anak-anak kecil dongengnya mengenai Sun-Tzu, ahli strategi perang China kuno yang kehebatan strateginya terus dikaji sampai sekarang. Kalau dari kecil sudah kenal prinsip “Kenali dirimu, kenali medanmu, kenali lawanmu” bahkan “rampok rumah yang terbakar”, sudah tentu itu berpengaruh. Melompat ke Jepang. Era komik/manga di Jepang bermula setelah Perang Dunia II. Jepang yang porak poranda saat itu, anak-anak kecilnya dibangkitkan optimismenya dengan komik mengenai impian-impian. Hampir semua komik Jepang bercerita mengenai impian. Salah satu yang paling kita kenal tentu DORAEMON. Masih ingat ‘aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali..’. Ya, Doraemon juga bercerita tentang impian. Dan tahu ga endingnya? Ternyata Nobita yang kita kenal bodoh dan ceroboh itu, ia sendirilah yang menciptakan Doraemon dengan segala usaha gigihnya. Di era sekarang, yang paling populer adalah One Piece dan Naruto. Bukankah kedua komik itu juga benar-benar bercerita mengenai usaha mencapai impian? Kondisi yang tidak jauh beda untuk cerita masa kecil di Eropa dan Amerika.

Nah sekarang, bagaimanakah Indonesia? Yohohoho.. mulai saja dengan ‘Kancil Mencuri Timun’.  Sudah tahu semua lah ya bagaimana ceritanya. Apa yang terjadi sekarang? Banyak sekali maling/koruptor dengan berbagai cara yang cerdik tapi licik, benar-benar seperti kancil. Lalu cerita rakyat ‘Tangkuban Perahu’. Dayang Sumbinya menikah dengan anjing, untung anaknya masih manusia. Sang anak, Sangkuriang, jadi anak durhaka, membunuh bapaknya (si anjing), lalu setelah beberapa tahun balik dan malah jatuh cinta pada ibu sendiri. Haduduh. Coba ingat juga cerita ‘Loro Jonggrang-Bandung Bondowoso’. Dalam semalam sudah susah-susah berkarya sebanyak 999 candi, kurang satu lagi eh ditipu, dan semua karyanya jadi sia-sia. Bukankah juga banyak karya-karya luar biasa anak bangsa kurang dihargai, seakan sia-sia karena kepentingan politik, dan alasan tak perlu lainnya?

Entah seberapa berpengaruh cerita masa kecil ini dengan apa yang terjadi di masa depannya. Yang jelas fenomena ini membuat pak Woko rela meninggalkan kehidupannya yang mapan di Amerika dan berniat turut membangun bangsa dengan mengganti kandungan cerita dongeng negeri kita.

Mungkin kandungan dongeng masa kecil kita memang buruk. Tapi tergantung bagaimana kita mengambil pelajarannya. Untuk cerita kancil, kita tiru dari sisi cerdiknya dan tinggalkan liciknya. Atau dari cerita ‘Timun Mas’ di mana punya berbagai bekal untuk menghadapi raksasa. Juga cerita ‘Banyuwangi’, jika kita menjaga kepercayaan dan kesetiaan, air pun bisa berubah menjadi harum baunya. Dengan begitu mental yang kita punyai tentu saja mental yang baik. Cayo!!

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s