Diposkan pada embun

Belajar dari Sebuah Film di Pelosok Celebes


Masih dengan suasana LKO HME yang berlangsung Jumat 26 Feb 2010. Dalam sesinya, kang Jaka memutarkan sebuah film (lebih tepatnya slide berjalan) tentang kehidupan anak-anak di pelosok Celebes. Tau kan Celebes? Yuph, nama lain Sulawesi. Dalam film ini ditampilkan semangat hidup pelosok Sulawesi Selatan untuk bersekolah.

Terkisah (wah, emang dongeng).. Kalau begitu tersebutlah, sebuah desa yang hanya berpenduduk sekitar 30 keluarga. Jarak sekolah terdekat, jika ditarik garis lurus, sekitar 5 km. Sayangnya, tidak ada akses jalan lurus ke sekolah itu, melainkan harus mengitari gunung dulu. Jadi jarak totalnya mungkin hampir 10 km. Jarak sejauh itu hanya bisa dilalui dengan jalan kaki!

Hebatnya, dan ini yang membuat terharu, anak-anak di desa pelosok itu berjalan dengan penuh keceriaan menuju sekolah, kerja bakti membuat pagar sekolah juga dengan penuh canda tawa, seakan semua hambatan untuk mereka sekolah terabaikan. Hampir mirip dengan suasana novel best seller ‘Laskar Pelangi’. Tapi kalau Andrea Hirata bercerita beberapa puluh tahun lalu, ini adalah cerita di era modern, tahun 2000-an. Dan di pelosok nusantara yang lain, mungkin masih banyak kondisi seperti itu.

Dan inilah yang membuat miris, setelah menyelesaikan masa bahagianya di SD, mereka menjadi petani atas kemauan sendiri untuk mencari penghidupan. Ada yang meneruskan ke SMP, tapi setelah lulus jadi petani juga. Begitu pun yang lulus SMA. Seakan tiada bedanya antar jenjang pendidikan itu. Apakah itu sebuah keterpaksaan akan minimnya harapan akan masa depan yang lebih baik?

Ada beberapa hal yang membuatku tersentil dari film ini. Pertama, mengenai perjuangan untuk bersekolah. Jangankan jarak 5 km, jarak 700 meter yang kutempuh dari rumah ke SD dulu saja aku sering mengeluh. Pun saat sekarang kuliah yang hanya berjarak 200 meter dari kosan, aku sering menunda dulu. Padahal anak-anak desa itu dengan riangnya menikmati jarak berkilometer jauhnya. Mungkin asap-asap kota telah mengaburkanku bahwa sebenarnya aku telah ada dalam kenikmatan yang amat sangat.

Kedua, mengenai harapan masa depan yang lebih baik. Kenikmatan besar pula kita berada pada lingkungan yang membuat kita lebih bisa memandang akan masa depan. Bayangkan jika kita berada dalam desa terpencil yang impiannya terkalahkan oleh kebutuhan untuk hidup. Seperti cerita desa di pelosok Sulawesi ini dan juga kisah Lintang di Laskar Pelangi. Harusnya kita lebih semangat untuk belajar menggapai masa depan lebih baik. Dan suatu saat nanti kita mencoba turun langsung ke pelosok untuk mengatakan pada mereka akan impian, memberi harapan pada mereka untuk meraih cita mereka. Karena dari semangat untuk belajarna mungkin mereka seharusnya sudah ada di MIT, Sorbonne, atau Oxford. Lalu menyumbangkan ide-ide besar pada bangsa. Seperti mutiara paling cemerlang yang ditemukan di kerang yang paling hitam.

Sedang kita, dengan segala kenikmatan ini, harusnya terus menempa diri dan semangat belajar. Ya, semangat belajar.

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Satu tanggapan untuk “Belajar dari Sebuah Film di Pelosok Celebes

  1. wa, yang ini bagus banget! paling bagus bagian “dan suatu saat nanti kita mencoba langsung turun ke pelosok untuk mengatakan pada mereka akan impian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s