10 Besar Kutipan Konyol Sepanjang Masa

Ini salah satu yang kudapat dari buku favorit saya, 7 HABIT. Ternyata ada juga hal-hal konyol yang diutarakan para ahli di bidangnya. Sewaktu diutarakan, kedengarannya keren. Lama-lama, terlihat sangat konyol. Berikut kutipan2 konyol itu.

10. “Tidak ada alasan bagi siapapun untuk punya komputer di rumahnya” (Kenneth Olsen, presiden dan pendiri digital equipment corporation, pada tahun 1977) — perlu ditanggapi bagaimana sekarang? Hahaha…

9. “Pesawat terbang sih memang mainan menarik, tetapi tidak ada nilainya secara militer” (Marsekal Ferdinand Foch, ahli strategi militer Prancis) — dan akhirnya perang-perang modern sangat didominasi pesawat

8. “Terlepas dari segala kemajuan ilmiah di masa depan, manusia takkan pernah sampai ke bulan” (Dr Lee Forest, penemu tabung audion, pada 1967)— hanya 2 tahun setelahnya, Neil Armstrong menginjakkan kaki di bulan, walau debatable juga sih..

7. “Televisi takkan mempertahankan pasar setelah 6 bulan pertama. Orang akan segera bosan memandangi kotak jati setiap malamnya” (Daryl Zanuck, Pemimpin 20th Century Fox, pada tahun 1946) — sekarang orang menonton TV tanpa bosan, karena sudah ga pake kotak jatikah? hoho..

6.”Kami tidak suka musik mereka. Kelompok gitaris sih sudah ketinggalan zaman.” (Decca Records, saat menolak The Beatles di tahun 1962)— dan akhirnya semua tahu betapa legendarisnya The Beatles

5. “Bagi kebanyakan orang, penggunaan tembakau itu berefek menguntungkan” (Dr Ian McDonald, ahli bedah dari Los Angeles pada Nov 1969) — sudah dicabut kata-katanya, pak dokter?

4. “Telepon itu terlalu banyak lemahnya untuk dipertimbangkan serius sebagai sarana komunikasi. Pada dasarnya, alat ini tidak berharga” (Memo Internal serikat buruh barat pada 1876)— mari kita bayangkan telepon tak berharga sebagai sarana komunikasi. bisa?

3. “Bumi adalah pusat alam semesta” (Ptolomy, astronom besar di abad ke2) — setuju?

2. “Tak ada kejadian penting hari ini” (Raja George III dari Inggris pada 4 Juli 1776) — See: kemerdekaan AS tidaklah penting.. haha..

1.”Segala sesuatu yang dapat diciptakan, telah diciptakan” (Charles Duell, Komisaris Hak Paten AS pada 1899) — kontradiktif sekali. maksudnya, Charles?

Kutipan di atas punya satu kesamaan, sama-sama dipercaya dan dianggap keren pada masanya. Tapi setelahnya, bagaimanakah nyatanya?

So, apa yang bisa kita ambil dari kutipan di atas? Paradigma atau persepsi atau pola pikir acap menciptakan keterbatasan. Ketika batasan oleh paradigma didobrak dengan paradigma yang lebih lengkap dan positif, nyatanya hasilnya pun luar biasa. Membalikkan kutipan di atas jadi terlihat konyol. Satu hal, perbaikan paradigma. Just do the best, and God will do the rest

Balada Mang Ahsan-1: Korupsi

Mang Ahsan, begitu ia biasa dipanggil. Ia seorang pegawai swasta di kota B. Berpenampilan sederhana, kalem dan bersahaja. Tidak ada hal yang neko-neko dalam diri Mang Ahsan. Setiap hari ia bekerja dengan giat dan setelahnya ia menyisihkan waktu untuk menambah wawasan dari berita dan beropini mengenai kondisi negeri Indonesia yang sangat ia cintai. Walaupun ia hanya seorang pegawai biasa, ia selalu update berita kondisi tanah air.

Mang Ahsan berteman akrab dengan Kang Wawan. Mereka berdua sering ngobrol tentang berita yang sedang hangat. Beragam berita mulai dari politik, ekonomi, olahraga, budaya bisa jadi topik obrolan mereka asalkan itu menyangkut kondisi bangsa yang sangat dicintainyai itu.

Kali ini terlihat lagi mereka ngobrol di Warteg Somad, warung tegal pinggir jalan yang kebetulan mereka ke sana setelah pulang dari tugas kantor ke luar kota. Di warung sederhana itu ada televisi kecil sehingga sembari makan mereka masih bisa mengikuti berita, terutama berita dari channel TV berlogo merah dan berlogo biru yang terkenal sebagai news channel tanah air.  Nah, berita yang hangat adalah kasus Gayus Tambunan.

“Aih, benar-benar bobrok moral tuh orang. Segitunya ya ngambil duit rakyat,” omel kang Wawan. Baru dengar saja sudah mengomel. Dari raut mukanya juga terlihat ia sangat gemas.

“Tega nian..” kata Mang Ahsan datar.

“Eh, eh, ya Gusti.. lihat itu San, rekeningnya sekali bertambah bisa tiga milyar. Uang dari mana itu,” nada bicara Kang Wawan meninggi.

“Biarin aja lah Wan. Jadi pelajaran. Kita kerja keras hasil sedikit gapapa asal jujur dan ikhlas,” kata Mang Ahsan.

“Biarin gimana kamu ini, San. Ga adil itu namanya. Keterlaluan. Mana wajahnya kelihatan tanpa dosa gitu!!”

“Emang kita bisa apa?” tanya Mang Ahsan.

“Yah, kamu ini gimana. Kita itu rakyat. Duit kita diambil. Rakyat harus bergerak menuntut hukuman sebesar-sebasarnya. Ya minimal kita bikin aksi demo. Koruptor, sekecil apapun harus diberantas!!” kata Kang Wawan berapi-api lagaknya sudah seperti seorang orator.

Mang Ahsan hanya diam. Ia tahu benar karakter temannya yang meledak-ledak itu. Daripada ditanggapi mending dilanjutkan makan. Dalam hati, tentu ia juga risih dengan ulah para koruptor. Tapi bisa apa, lebih baik berbuat sebaik mungkin dengan jujur dan berdoa semoga orang-orang yang curang disadarkan oleh Gusti Allah.

Karena sohibnya tidak lagi menanggapi, Kang Wawan pun ikut diam. Selesailah mereka makan, dan bergegaslah mereka pulang. Tentu saja setelah membayar. Oya, mereka pulang berboncengan naek sepeda motor, Mang Ahsan diboncengkan kang Wawan.

Selama perjalanan pulang yang berjarak 6 km dari warteg, mungkin karena terbawa suasana akhir di warteg tadi mereka saling diam. Barulah saat hampir sampai di rumah, kang Wawan membuka lagi pembicaraan, “San, di warteg tadi murah banget perasaan. Tapi kurang tasty. Lain kali ga usah ke sana deh.” “Iya juga ya, aku makan nasi ayam telur tempe, kamu nasi rendang bakwan, eh cuma 12000. Apa salah hitung ya?” Mang Ahsan dan kang Wawan mencoba mengingat lagi.

“Eh, lupa. Aku tadi juga ambil tempe satu. Belum dibayar. Duh, gimana ni.. udah jauh gini..” kata Kang Wawan

“Waduh, balik.. balik.. kita bayar dulu tempenya,” jawab Mang Ahsan

“Yah, udah mau sampai nih. Udahlah, satu tempe aja.. 500 perak yang jual juga ga bakal rugi..”

“Heh, Balik!.. kamu tadi bilang apa.. KORUPTOR, SEKECIL APAPUN HARUS DIBERANTAS..”

“I..iya,ya..”

Kedua sohib itupun akhirnya kembali ke warteg Somad walaupun harus menempuh jarak lumayan jauh untuk 500 perak. Bukan karena nilainya yang hanya 500 perak.  Untuk hal berbau korupsi, nilai 500 perak bukan sekedar “hanya”…Karena mengabaikan hal sepele, bisa membuka jalan untuk mengabaikan hal yang lebih besar..

Begitulah yang dijalankan Mang Ahsan dan kang Wawan.. paling tidak mereka memperbaiki dari diri mereka sendiri, dari hal yang kecil.. bagaimana dengan kita?

Bus ekonomi antarkota.. nikmatnya..

Sewaktu kecil (balita) aku sering sekali naek bus ekonomi antarkota, klo ga dari Kleco-Penggung dilanjutkan Penggung-Cawas ke rumah eyang di Klaten, ya Cawas-Semanu ke rumah eyang di GunungKidul. Mungkin karena belum tahu apa-apa, it’s okay aja waktu itu. Setelah lepas dari masa balita, aku mulai sangat tidak suka dengan bus antarkota. Kenapa? Pengap. Bentar-bentar berhenti. Pokoknya kondisi yang membuatku mual.

Lebih jauh lagi, saat mulai sekolah. Aku lebih tidak suka lagi naek bus, terutama bus ekonomi dan antarkota. Selain faktor membuat mual, juga kondisi jika kita berada di luar bus. Klo naek sepeda or sepeda motor lewat di dekat (paling buruk di belakang knalpot), pasti tuh merasakan ga enaknya asap hitam dari knalpot bus. Benar-benar bikin kesal. Entah aturan dari Dinas Perhubungan yang kurang ketat, atau emang pengusaha bus ekonomi yang nakal, hampir semua gas buang bus hitam pekat dan lebih parah lagi, kuantitasnya sangat banyak. Entah apa yang digunakan kok bisa separah itu. Klo bus Patas AC sih, masih mending gas buangnya. Dan dalam pikiranku pun mulai tertanam, klo aku naek bus ekonomi, dan karena penumpang harus bayar tarif, berarti aku turut menyumbang ‘usaha’ pengotoran lingkungan dan menyebabkan ketidaknyamanan yang maksimal terhadap pengguna jalan lain. Singkat kata, saya benci naek bus ekonomi, lebih lagi antarkota.

Setelah balita, frekuensi aku naek bus ekonomi antarkota sangatlah sedikit. Bisa dihitung dengan jari karena kurang dari sepuluh kali. Dan hampir semuanya karena terpaksa. Terakhir (sebelum 2 hari yang lalu) adalah waktu kelas 3 SMA naek bus Solo-Jogja untuk iseng ujian STIS. Itu terpaksa, karena letak UII yang buat ujian lebih dekat dari Janti (yang dilewati semua bus Solo-Jogja) dibanding stasiun Lempuyangan klo naek ikon transportasi Solo-Jogja, KA Prambanan Express. Dan akhirnya dua hari yang lalu, aku kembali naek bus ekonomi, kali ini Bandung-Bekasi.

Tidak seperti kondisi di rumah yang dekat dengan Kleco, titik batas kota yang dilewati semua bus (jadi tidak usah ke terminal), di Bandung aku harus ke Terminal Leuwipanjang untuk mendapati bus menuju Bekasi/Jakarta.  Bisa dibilang terminalnya jauh dari kos. Kelemahan yang laen, harus menunggu penumpang dirasa ‘penuh’ sehingga bus mulai berangkat. Bisa menunggu lebih dari 1jam klo tidak penuh-penuh. Untuk kejadian dua hari lalu, aku menunggu sekitar 40 menit sampai bus akhirnya berangkat. Itupun dengan prinsip, pokoknya bus Bandung-Bekasi pertama yang keluar dari terminal, aku akan naek itu, entah eksekutif, bisnis atau ekonomi. Dan ternyata yang pertama ‘cabut’ adalah bus Primajasa ekonomi non-AC. Dimulailah perjalananku merasakan naek bus ekonomi (lagi)…

Bus meluncur dengan penumpang setengah dari kapasitas kursi yang tersedia. Aku bersyukur pak sopir tidak menunggu hingga benar-benar penuh. Aku duduk di bagian tengah, samping cendela. Walaupun busnya tertulis non-AC, tapi sebenarnya ga juga, masih ada AC koq, Angin Cendela maksudnya.. hehe..

Bus mulai masuk tol Cipularang lewat gerbang tol Pasirkoja. Aku bersyukur lagi karena dengan lewat tol, bus jadi ga terlalu sering berhenti, seperti yang selama inikubenci dari bus ekonomi. Kukira bus ekonomi ga lewat tol, tapi ternyata..yah cukup disyukuri saja. Pemandangan di jalan tol standar, klo ga sawah, gunung ya rawa-rawa. Aku pun tidur saja, sampai akhirnya bangun sudah sampai di Purwakarta. Di Purwakarta, bus ekonomi ini kembali ke ‘hobinya’, yakni sedikit-sedikit berhenti. Toh sekali lagi aku bersyukur frekuensinya tidak sampai membuatku mual. Setelah tiba di Cikampek, bus kembali masuk tol, Cikampek-Jakarta. Perjalanan cukup lancar, hanya ada sedikit kemacetan karena perbaikan jalan dan antri di gerbang keluar tol. Walaupun secara overall memakan waktu cukup lama, aku (sekali lagi) bersyukur terhindar dari kemungkinan yang lebih buruk lagi, yakni macet panjang atau ban bus bocor. Keluar di gerbang Bekasi timur, lalu sebentar saja sudah sampai terminal Bekasi. Fyuh..perjalanan yang cukup melelahkan walau di jalan hanya duduk. Gerah euy. Waktu perjalanan 3 jam, sehingga total dengan waktu menunggu, 3 jam 40 menit, lebih detail lagi klo dari perjalanan kos-terminal, 4 jam.

Oya, berapa harga tarifnya? Bandung-Bekasi dengan Primajasa ekonomi itu, cukup 18000 rupiah. Dan itu yang paling membuatku merasa perjalanan ini fine2 aja. Bayangkan, kurang dari setengah harga eksekutif (Primajasa Bandung-Harapan Indah 40000). Hmm.. secara keseluruhan, aku (mungkin untuk yang pertama kali) cukup menikmati perjalanan dengan bus ekonomi ini. Satu yang disayangkan, Engkau tak duduk di sampingku kawan (weleh, itu mah liriknya Ebiet G Ade.. :-)). Bus ekonomi antarkota.. nikmatnya.. sekali seumur hidup, hehe, ga juga dink. Cuma berharap klo misal ntar naek bus ekonomi antarkota lagi bisa menikmati perjalanan lagi, just like 2 days ago. Sekian.

Flashback: Adventure of Turkije

Ini tulisan yang sudah saya buat bertahun-tahun lalu di blog FS (beuh.. waktu masih jaman friendster gan), tapi karena kontennya sepertinya tidak lekang oleh waktu (auwah..), saya copas deh ke blog ini dengan sedikit perubahan.

Apa yang akan diceritakan? Mengenai petualangan tentunya, selain itu mengenal khazanah lain dari beragam keindahan di Indonesia tercinta ini. Karena mungkin tidak banyak tulisan tentang daerah yang akan saya ceritakan ini. Kalaupun ada (berita) kebanyakan mengenai yang negatif saja. So, mari mengenal salah satu daerah indah di bumi ini (yoi..). Dan alasan mengapa ”TURKIJE”.

***

Malam yang dingin. Akhirnya sampai juga. Perjalanan yang benar-benar gila. Sepi sekali jalanan tadi, udah gelap banget lagi. Entah berapa kali jurang di kanan kiri bersiap menerima. Mungkin kendaraan yang lewat jalanan malam ini tak lebih dari sepuluh, padahal jarak yang saya tempuh tadi tidak kurang dari 20 km. Atau, hanya satu kendaraan per 2 km! Jangan bayangkan mandi cahaya jalanan. Lampu yang ada di pinggir jalan jumlahnya mungkin juga hampir sama dengan rata-rata jumlah kendaraan tiap kilometer tadi. Ditambah hujan yang mengguyur walaupun tidak deras. Bukankah gambaran itu sudah cukup untuk mendapat gelar Gila.

Tapi segila-gilanya, saya tetap menganggap perjalanan ini menyenangkan. Menyenangkan sekali bahkan. Memang sangat memuaskan bisa mengatasi suatu permasalahan. Mulai dari masalah sepele, terlebih masalah yang besar akan memberi kelegaan yang indah saat kita menyelesaikannya, bukankah begitu? Saya jadi teringat hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa), juga Pradana waktu SMA. Selalu saja menggerutu ”Apaan ni…”,”Asem…”,dll. Tapi setelah semua selesai, kenangannya terasa rruarr biasa. Bahkan setelah hampir 5 tahun, saat mengenang masa itu bersama teman-teman seperjuangan, masih saja gayeng (mantap gan). Allah sungguh Maha Besar. Allah memberi kita masalah memang bukan untuk disesali, bukan untuk menggerutu, tetapi untuk dipecahkan sehingga kita dapat menjadi hamba yang lebih baik dari kemarin. Tentu bersamanya ada rasa puas, bahagia, kesan, ilmu yang indah sekali.

Rasa lega memberi energi lebih. Tetapi yang namanya menahan capek memang ada batasnya. So, lebih baik kurebahkan badan dahulu. Istirahat.

Pagi yang Cerah. Bukan untuk jiwa yang sepi tentu (hahaha…). Sebaliknya, untuk jiwa yang ramai (sedang bersemangat maksudnya. Jayus?). Wah, akhirnya bisa jalan pagi di sini lagi. Cukup lama juga saya tidak melakukannya. Seratus meter berjalan ke arah utara, terlihatlah sebuah sungai. Sungai itu, ya itu, namanya saya lupa. Haha. Yang jelas, saya ingat kalau waktu kecil dulu pernah mandi di situ. Airnya sampai sekarang masih jernih. Jarang-jarang ada sungai yang airnya masih terjaga jernihnya. Oya, di daerah ini juga ada sungai yang ada jeramnya. Bisa arung jeram body rafting gitu. Seingat saya namanya Kali Suci. Medannya ga main-main lho. Deras, berkelok, masuk gua, keluar lagi, dan… nabrak. Kalau diterusin nanti tembusnya di Pantai Parangtritis (kalau ga salah, sotoy nih). Selain sungai di sini banyak mata air yang digunakan untuk PAM. Salah kalau daerah ini miskin air. Memang ada sih yang masih sulit air. But it just a little. Almost can get the water easily. Believe it. Salah satu alasan kesulitan air di daerah ini mulai teratasi adalah dibuatnya sumur artesis dari air bawah tanah Gua Bribin. Gak tanggung-tanggung, teknologi Jerman menyokong proyek yang bisa mencukupi kebutuhan air beberapa kecamatan ini. Yang meresmikan pun (gak tanggung-tanggung) Presiden SBY!! (Halah, kelihatan jarang didatangi presiden).

Oh ya, Gua Bribin tu gua yang indah banget lho. Lukisan Allah yang gak kalah eksotis dari Gua Gong, gua paling populer di tanah air. Hanya, untuk masuk harus membawa petromaks sendiri (jarang lampu yang ada di gua bisa nyala). Eits,, jangan bilang menyusahkan dulu. Justru itulah yang asyik. Saya yakin Medina Kamil dan kru Jejak Petualang pasti juga akan kagum jika mengunjungi gua ini. Setelah melewati lorong gua yang berkelok, penuh stalaktit dan stalagmite yang berkilau indah, dan dibumbui kejedug (terbentur dalam bahasa Jerman) beberapa kali karena cuma bawa petromaks, sampailah pada sebuah sungai bawah tanah yang jernih, bersih, dingin. Segar sekali bisa cuci muka dengan air sungai itu. Hmm…itulah Gua Bribin dengan segala plus minusnya.

Terus tempat lain yang menarik, yang mungkin namanya lebih populer dari nama daerahnya. Seperti kasus Bali dan Indonesia. Ya, tempat itu tak lain jajaran pantai ’bersambung’ di selatan. Pantai Baron, Kukup, Krakal, Ndrini, Sundak, dkk. yang antarpantai hanya dibatasi tebing sempit. Pantai-pantai itu ramai banget dikunjungi wisatawan. Cukup satu tiket untuk beberapa pantai.

Bosan dengan suasana biru dan panasnya pantai? Oke. Ada kok suasana lain. Suasana hijau nan sejuk. Itu ada di kompleks hutan Wanagama. Hutan milik Kraton Jogja yang dikelola oleh Kehutanan UGM. Letaknya di jalan raya menuju Jogja. Di dalamnya bisa didapati burung-burung cantik, pohon nan rindang dan beragam, serta air terjun!

Bayangan saya sudah kemana-mana. Alam nan hijau, aman, tentram.

Orang-orang kebanyakan cuma mengenal daerah ini sebagai daerah tandus, kurang air, busung lapar, makannya tiwul, terbelakang, dll. Padahal banyak sekali potensi daerah ini. Toh internet juga sudah masuk. Jaringan televisi jangan ditanya, bening, dan jangan heran jika ada gangguan, antena suruh arahkan ke daerah ini. Tapi toh setiap orang bebas menilai. Faktanya, banyak juga dijumpai saat Idul Fitri, orang mudik membawa mobil bagus padahal rumah orang tuanya cuma kecil, di tengah hutan pula. Positive thinking. Orang yang mau berusaha pasti akan menuai hasilnya. Tak peduli latar belakangnya seperti apa. Toh, mutiara yang paling mengkilap kebanyakan ditemukan di kerang yang paling hitam.

Hmm,mengenai penduduknya.. ada satu logat (atau apa namanya) yang khas. Di Indonesia yang ini, memang banyak sekali variasi bahasa yang bisa dikatakan natural. Logat Batak, Padang, Sunda, Jawa, Madura, Ambon tentu sangat berbeda. Orang Jawa sendiri saja juga bervariasi. Orang Magelang, Jogja, Solo, Semarang, Tegal dan kota lain yang penduduknya ,walaupun pada dasarnya sama-sama memakai bahasa Jawa, tapi ada aksen tertentu yang beda. Karena tinggal di daerah Solo, jadi mungkin saya bisa bilang aksenku adalah ’versi Solo’. Selain Solo, yang saya tahu baru Magelang. Orang Magelang dengan akhiran to. Sedangkan untuk daerah ini adalah akhiran je. ”Sesuk ra sido rana je”, ”Ki rada lali je”. Sampai saat ini saya tak tahu arti je itu. Mungkin orang DIY asli yang tahu..Begitulah

Dan daerah ini tak lain adalah….Gunung Kidul

***

Itulah salah satu khazanah lain yang coba saya tulis dari sedikit yang saya tahu. Sebagai Turkije.. 😀

Turkije : TURunan gunungKIdul, JE..

Sepakbola Gila

Aku tidak pernah tidak mengakui sebagai seorang gibol (gila bola). Sejak pertama mengenal sepakbola di tahun 1998, aku punya ketertarikan yang begitu tinggi. Bukan karena menonton siaran langsung yang ditunggu jutaan orang di dunia, atau karena aku lahir tepat waktu putaran final Piala Dunia 1990 (apa hubungannya coba), melainkan karena aku memulainya dengan bermain riang gembira, berebut bola dan mencetak gol di sebuah lapangan kecil yang penuh kenangan.

Setelah semakin lama semakin tahu dunia bola, dan memilih AC Milan dan FC Barcelona sebagai tim jagoan, tentu saat bermain sepakbola pengen mencetak gol dengan sundulan ala Bierhoff, tendangan ala Shevchenko, gebrakan dahsyat Kaka, sampai liukan maut Lionel Messi. Dan sebenarnya ada beberapa momen yang (walau dalam lingkup amatir) hampir menyamai superstar-superstar bola tadi. Entah ini terlalu lebay, atau.. Sepakbola memang Gila. These are my best moments when playing football. Check it out!

1. Waktu SD

Momen tak terlupakan waktu SD adalah saat tim kelas 5 (klo ga salah) melawan SSB Adidas. Di pertandingan itu aku pertama kali bermain di lapangan Makamhaji yang legendaris itu (legendaris dari mana?), dan pertama kali memakai sepatu bola. Nah, best momen terjadi di menit-menit awal pertandingan di mana aku berlari kencang, melewati hadangan bek lawan dan melepaskan tendangan mendatar yang tak kuasa dibendung kiper lawan. Solo Run Goal ala Kaka!! Wow!! Tapi berbeda dengan Kaka, itu hanya bisa sekali kulakukan, hanya di pertandingan amatir, dan sehabis melakukannya aku tidak kuat berlari lagi. Untuk jalan pun capek banget (lemah!). Juga lecet di kaki kiri karena sepatu bola kekecilan (yang sampai saat ini masih ada bekasnya). Alhasil, sang ‘superstar 20 detik’ pun tak bisa menyelamatkan timnya dari kekalahan 1-2. Satu momen indah lain adalah saat mencetak gol dengan tendangan bebas melengkung kaki kiri. Dilakukan saat latihan SD di lapangan sekolah, dengan bola plastik tentunya (yah..). Hampir sama dengan yang dilakukan Lionel Messi ke gawang Dinamo Kiev di ECL musim ini. Bedanya? FIFA tak mencatat gol indahku ini (yaeyalah, di tingkat terendah dunia, amatir, latihan SD di Indonesia), sedangkan Messi di tingkat tertinggi (ECL). Dan karena aku sangat jarang menendang dengan kaki kiri, dapat disimpulkan itu 100% luck 0% skill, kebalikan dari Messi yang 100% skill. Hahaha

2. Waktu SMP

Waktu SMP kenangan sepakbola kurang berkesan. Aku dulu malah masuk ekskul basket bukan sepakbola. Dari sedikit kesan, gol yang kukenang adalah cannonball di Manahan. Tentu bukan di lapangan dalam stadion terbaik di Jateng itu, tapi di lapangan luar dekat parkiran, lapangan kecil. Tendangan geledek dari tengah lapangan (lapangannya kecil sih) yang alhamdulillah bisa membuat bek dan kipernya menyingkir. Bersaing lah dengan gol Steven Gerrard. Hehehe

3. Waktu SMA

Satu gol yang kukenang adalah satu-satunya gol yang kucetak di Smansa Cup. Bertempat di lapangan lupa namanya (di pinggir jalan AdiSucipto pokoknya, selain Paulan). Momen cornerkick dituntaskan dengan tendangan kaki kanan yang menembus gawang lawan. Sebuah gol ala Filippo Inzaghi (haha, ketahuan jeleknya). Walaupun torehan gol jauh banget dari para topskor SmansaCup seperti sahabatku Ichal dan eks ketua Wika mas Gondre, tapi tak apalah, yang penting pernah mencetak gol. Sebenarnya ada satu momen tendangan melengkung kaki kanan yang kulakukan dengan sepatu gresnya Eki, tapi entah bagaimana kiper lawan bisa menepisnya. Timku pun tersingkir karena hanya bisa bermain imbang di laga itu.

4. Waktu Kuliah

Belum pernah maen bola lapangan gede euy. Era futsal soalnya. Di timnas Telkom, torehan golku (futsal) di pertandingan resmi baru satu (waktu Telkom menang 10-0 atas Metalurgi). Yah, kapan-kapan harus maen bola lapangan gede lagi. Dan menciptakan momen terbaik dengan gol ala Messi atau Kaka. Hoho..

Sepakbola memang gila

Workshop AMP Netconnect

Selasa beberapa minggu yang lalu, jam 13-15, kebetulan kuliah kosong karena materi matematika teknik sudah habis. Hari Seninnya, Pak Tutun (dosen jaringan telekomunikasi) mengumumkan akan ada workshop. Jadi deh anak2 telkom mayoritas ikut workshop ini. Workshopnya tak lain mengenai AMP Netconnect.

Hmm.. apa itu AMP Netconnect? Itu adalah perusahaan yang memproduksi kabel2 elektronik seperti kabel USB (biasa digunakan untuk memindah memori dari HP atau HD eksternal), kabel jack (untuk rangkaian elektrik), kabel UTP (untuk sambungan internet macam speedy), dan beragam kabel lainnya. Perusahaan ini ada di bawah Tyco Electronics, perusahaan elektrik terkemuka, yang baru saja membangun laboratorium cabling dan optic fibre (serat optik) satu-satunya di Indonesia, tepatnya di gedung telematika prodi telekomunikasi ITB.

Workshop dimulai tepat waktu, bertempat di auditorium Ipteks Campus Centre Timur, yang setting ruangannya semi bioskop (termasuk kursi dan ACnya.. segar..). Peserta memenuhi auditorium dan terlihat sangat antusias. Selain karena ingin menambah ilmu, fasilitas snack enak, buku panduan, lab tour, tempat nyaman, doorprize HP Blackberry bagi yang beruntung (wow..) bisa didapat secara Gratis.. hehehe..

Workshop dibuka dengan opening singkat oleh Prof Dr Andriyan Bayu Suksmono. Lalu dilanjutkan dengan introductionary speech dari direktur Tyco Electronics dari Singapore (lupa namanya). Hmm.. bisa sekalian belajar listening. Dan pronounciation dari Bapaknya gampang banget ditangkap dan dicerna, ga kaya klo listening mendengarkan radio waktu ujian/les. Atau karena dari negera tetangga ya.. ga tau.. intinya Beliau memperkenalkan produk2 Tyco yang sudah digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Workshop dilanjutkan dengan panduan dari pak Suhadi Kho dalam teknis pemasangan kabel (crimping) dan itu bisa dilakukan pada tour lab nantinya.

Waktu tak terasa sudah berjalan 1,5 jam. Dan tiba waktu yang seharusnya untuk tour lab. Tapi oleh Pak Tutun sebagai kepala lab, karena keterbatasan kuota, hanya tamu undangan yang diperkenankan mengikuti tour lab. Mahasiswa di hari lain saja ntar dipandu sendiri oleh Pak Tutun. Yah, ga jadi workshop beneran donk, tapi ga pa2 minimal sudah menambah pengetahuan baru. Toh, jam 15 semuanya juga ada kuliah.

Sebelum sesi di auditorium ipteks diakhiri, undian superdoorprize Blackberry dilakukan. Semua mahasiswa yang ada di ruangan dag-dig-dug, berharap dapat rejeki di siang bolong sebuah HP di atas 6juta-an. Kertas putih sudah terambil. Dibacakan oleh MC, huruf depannya A. Wah semua yang namanya berawalan A langsung harap-harap cemas (termasuk aku tentunya..). Belakangnya…(ayo, belakangnya I, come on.. come on..). Belakangnya.. R. Yahh…

Yang dapat superdoorprize itu ternyata bapak AMIR, dosen tambang. Yah, kenapa yang dapat dosen? dari prodi non-telkom lagi.. Tapi ga papa, justru adil. Mahasiswa memang harus berusaha dulu, ga boleh berharap rezeki siang bolong.

Lanjut doorprize kedua, HP CDMA. Saat kertas putih diambil, MC membacakan huruf depannya.

A lagi!!! (yuhui, berdag-dig-dug ria lagi)

Dan belakangnya… S

Tuh kan, mahasiswa emang ga boleh terlalu berharap pada rezeki siang bolong.

Overall, ini workshop yang menyenangkan dan memberi ilmu baru.

Masih selalu dan emang harus berusaha. Oke champ.

The Hexapod

Sekarang bercerita sedikit mengenai apa yang didapat dari HME sebelum masa UAS,,

Malam itu penutupan EE Games dan Petir Pijar. Apa itu? EE Games tak lain adalah turnamen olahraga internal anggota HME. Pada turnamen ini tiap angkatan di masing2 jurusan (Elektro, Telkom, Power) bertanding futsal, voli, basket, bridge,dan pingpong. Sedangkan Petir Pijar adalah perlombaan akademik dan keprofesian, juga internal anggota HME.

Untuk klasemen akhir EE Games, Telkom’08 ada di peringkat nomor 2 dari bawah, tanpa medali (yah..), bijimana lagi, pada turnamen angkatan, Telkom jadi angkatan yang paling lama bertahan (Power dan Elektro sudah tersingkir), jadi ga fokus di EE Games, cuma buat ajang senang2 saja. Akupun cuma maen di turnamen angkatan, karena pas jadwal EE Games berbarengan dengan jadwal les LIA, Ibu dan De’Fia datang, sampai jadwal cuci motor dan ngepel kamar kos.. hehe… Sebagai ganti tidak mendapat apa2 di EE Games, Telkom’08 cukup dominan di turnamen angkatan ITB, dapat 3 medali (emas estafet, perak basket, perunggu futsal).

Nah, mengenai Petir Pijar, ni salah satu agenda dari Kementrian Pendidikan, ‘divisi’ yang kutempati di HME. Lombanya seru dan menarik. Ada menyolder ceria, academic olympiad, fun challenge dan photo contest. Sayang sekali karena panitia sepakat (agar fair) tidak boleh ikut lomba, jadi aku pun tidak bisa ikut. Mungkin bisa ikut semua tahun depan.

Singkat cerita, closing dimulai. Massa HME yang datang cukup banyak dan antusias. Agenda acara meliputi presentasi peraih penghargaan keprofesian HME (TA of The Month), final academic olympiad, final fun challenge, dan penyerahan hadiah EE Games. Langsung ke acara pertama, presentasi (lebih tepatnya sharing sih) oleh kang Syawaluddin Rahmatullah (EL’06) yang karya TA-nya mendapat apresiasi dari HME. Aplaus meriah buat kang Syawal bahkan sebelum ia mulai bicara. Kenapa? Why? Wonten napa?

Tenang.. ayo dilanjutkan lagi…

Massa jadi ramai (antusias) karena kang Syawal membawa 2 robotnya, yakni robot Hexapod (berkaki enam, mirip laba2). Konon (waduh, kaya cerita legenda aja pakai kata ‘konon’), karena robot Hexapod ini kang Syawal diliput masuk TVOne dan meraih kesempatan ke AS! Wow..

Kang Syawal memulai sharingnya, menceritakan awal pembuatan dan proses lombanya. Robot ini dibuat tentu saja tidak mudah dan perlu biaya banyak (saat kutanyakan, totalnya 10juta! Wezz…). Biaya mayoritas untuk mendatangkan chip dari AS yang dapat menyokong kerja si robot. Nah, seperti semua kesuksesan hidup, awalnya tidak dilalui dengan mudah. Bikin Stres bahkan. Kenapa? Chip yang didatangkan dari AS ternyata support maksimalnya untuk robot 6 kaki dengan 12 engsel, bukan 18engsel seperti yang dirancang tim kang Syawal. Maka dari itu, walaupun sudah dapat jalan, geraknya masih kaku dan sering selip. Di lomba tingkat regional, tim kang Syawal hanya dapat juara 2. Untung yang diambil untuk kejuaraan nasional bukan hanya juara 1, jadi perjuangan masih bisa dilanjutkan.

Dari kesulitan yang didapat, kang Syawal mulai berpikir bagaimana menggerakkan robotnya dengan efektif, dengan memakai algoritma dan perhitungan fisika (elektris dan mekanis), yang akhirnya juga menjadi topik TA-nya. Titik terang muncul dan setelah sekian waktu pengembangan, gerak robot sudah bagus. Di kejuaraan nasional, juara 1 pun diraih. Inilah yang menerbangkan kang Syawal ke AS, untuk turnamen internasionalnya, April kemarin.

selain sharing, tak lupa kang Syawal memperagakan gerak robot buatannya. Robot itu dikontrol dengan joystick (stick buat maen playstation) tapi joysticknya itu dimodif sendiri dibuat wireless (jadi ga usah pake kabel).. wow, dari joysticknya aja sudah keren..

Tombol start di joystick ditekan, dan robot pun menyala. Lalu saat analog digerakkan, robot pun mulai jalan sesuai arah yang diinginkan. Robot itu bergerak ke sana-kemari seperti laba-laba sungguhan! robot itu bisa berputar 180 derajat. Bahkan kaki depannya bisa diangkat saat kaki yang lain diam (pose kalajengking..)! Luar biasa…

Selesai memperagakan, kang Syawal mempersilakan bagi yang ingin mencoba ‘bermain’ robot Hexapod itu. Wah, asyik juga ternyata. Dan hati kecilku pun berkata, kapan aku bisa membuat yang seperti ini?

Manusia

Manusia. Suatu makhluk yang seharusnya kumengerti benar. Tetapi terkadang kondisi tertentu membuatku benar-benar tak mengerti. Banyak hal yang membuatku selalu terpikir untuk megucapkan “Qul a’uudzu birabbi nnaas” (Aku berlindung kepada Tuhan manusia). “Maliki nnaas” (raja manusia). “Ilaahi nnaas” (Sesembahan manusia). Ya, sedikit banyak aku mengerti kenapa Allah berfirman tidak langsung menyebut nama-Nya, melainkan dengan kata ganti Tuhan manusia, Raja manusia dan Sesembahan manusia. Itulah bentuk penegasan Allah bahwa di dunia ini, dalam hubungan sesama manusia banyak sekali hal yang mungkin tidak mengenakkan, dan kita mesti meminta perlindungan langsung kepada Sang Raja Manusia.

Dalam hubungan dengan teman, bahkan dengan sahabat akrab pun, mungkin aku pernah berkelahi walau itu bisa dihitung dengan jari dan dalam waktu relatif singkat, tapi tetap saja semua penyakit hati keluar. Dan pada dasarnya kita hanya bisa berlindung pada Tuhan manusia, soalnya teman dan diri kita sendiri sama-sama manusia.

Jangan jauh-jauh dulu, dengan keluarga. Saat bertengkar dengan adik atau kakak, saat dimarahi Ibu dan Bapak banyak penyakit hati muncul juga, dan terlepas kita saat itu dalam argumen yang benar atau salah, yang tahu hanya raja manusia.

Kemudian saat sampai di Bandung dan kulihat harta materi yang diamanahkan kepadaku hilang (laptop, HP, tas), aku berpikir sebegitu burukkah manusia (yang mencuri). Aku sungguh tak mengerti. Tapi Allah menjelaskan bahwa perlindungan itu ditujukan “Min syarrilwas waassil khonnas” (dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi) “Alladzi yuwaswisufii shuduuri nnaas” (yang membisikkan keburukan ke dada manusia”. Manusia secara fitrah suci, tapi sangat mungkin muncul kejahatan dari setan yang bersembunyi dan membisikkan keburukan. Banyak kasus yang mengharuskan untuk banyak beristighfar dari diri sendiri , hubungan dengan teman, atau hubungan dengan keluarga.

“Minal jinnati wannas” (Dari jin dan manusia). Ya, kejahatan bisikan setan bisa muncul kapanpun lewat media itu. Jadi sudah seharusnya kita mendekatkan diri dan berlindung pada Allah, Tuhan manusia. Karena sikap tingkah masing-masing manusia tak selamanya bisa dimengerti.