Posted in islami

Manusia


Manusia. Suatu makhluk yang seharusnya kumengerti benar. Tetapi terkadang kondisi tertentu membuatku benar-benar tak mengerti. Banyak hal yang membuatku selalu terpikir untuk megucapkan “Qul a’uudzu birabbi nnaas” (Aku berlindung kepada Tuhan manusia). “Maliki nnaas” (raja manusia). “Ilaahi nnaas” (Sesembahan manusia). Ya, sedikit banyak aku mengerti kenapa Allah berfirman tidak langsung menyebut nama-Nya, melainkan dengan kata ganti Tuhan manusia, Raja manusia dan Sesembahan manusia. Itulah bentuk penegasan Allah bahwa di dunia ini, dalam hubungan sesama manusia banyak sekali hal yang mungkin tidak mengenakkan, dan kita mesti meminta perlindungan langsung kepada Sang Raja Manusia.

Dalam hubungan dengan teman, bahkan dengan sahabat akrab pun, mungkin aku pernah berkelahi walau itu bisa dihitung dengan jari dan dalam waktu relatif singkat, tapi tetap saja semua penyakit hati keluar. Dan pada dasarnya kita hanya bisa berlindung pada Tuhan manusia, soalnya teman dan diri kita sendiri sama-sama manusia.

Jangan jauh-jauh dulu, dengan keluarga. Saat bertengkar dengan adik atau kakak, saat dimarahi Ibu dan Bapak banyak penyakit hati muncul juga, dan terlepas kita saat itu dalam argumen yang benar atau salah, yang tahu hanya raja manusia.

Kemudian saat sampai di Bandung dan kulihat harta materi yang diamanahkan kepadaku hilang (laptop, HP, tas), aku berpikir sebegitu burukkah manusia (yang mencuri). Aku sungguh tak mengerti. Tapi Allah menjelaskan bahwa perlindungan itu ditujukan “Min syarrilwas waassil khonnas” (dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi) “Alladzi yuwaswisufii shuduuri nnaas” (yang membisikkan keburukan ke dada manusia”. Manusia secara fitrah suci, tapi sangat mungkin muncul kejahatan dari setan yang bersembunyi dan membisikkan keburukan. Banyak kasus yang mengharuskan untuk banyak beristighfar dari diri sendiri , hubungan dengan teman, atau hubungan dengan keluarga.

“Minal jinnati wannas” (Dari jin dan manusia). Ya, kejahatan bisikan setan bisa muncul kapanpun lewat media itu. Jadi sudah seharusnya kita mendekatkan diri dan berlindung pada Allah, Tuhan manusia. Karena sikap tingkah masing-masing manusia tak selamanya bisa dimengerti.

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s