Diposkan pada jalan-jalan

Flashback: Adventure of Turkije


Ini tulisan yang sudah saya buat bertahun-tahun lalu di blog FS (beuh.. waktu masih jaman friendster gan), tapi karena kontennya sepertinya tidak lekang oleh waktu (auwah..), saya copas deh ke blog ini dengan sedikit perubahan.

Apa yang akan diceritakan? Mengenai petualangan tentunya, selain itu mengenal khazanah lain dari beragam keindahan di Indonesia tercinta ini. Karena mungkin tidak banyak tulisan tentang daerah yang akan saya ceritakan ini. Kalaupun ada (berita) kebanyakan mengenai yang negatif saja. So, mari mengenal salah satu daerah indah di bumi ini (yoi..). Dan alasan mengapa ”TURKIJE”.

***

Malam yang dingin. Akhirnya sampai juga. Perjalanan yang benar-benar gila. Sepi sekali jalanan tadi, udah gelap banget lagi. Entah berapa kali jurang di kanan kiri bersiap menerima. Mungkin kendaraan yang lewat jalanan malam ini tak lebih dari sepuluh, padahal jarak yang saya tempuh tadi tidak kurang dari 20 km. Atau, hanya satu kendaraan per 2 km! Jangan bayangkan mandi cahaya jalanan. Lampu yang ada di pinggir jalan jumlahnya mungkin juga hampir sama dengan rata-rata jumlah kendaraan tiap kilometer tadi. Ditambah hujan yang mengguyur walaupun tidak deras. Bukankah gambaran itu sudah cukup untuk mendapat gelar Gila.

Tapi segila-gilanya, saya tetap menganggap perjalanan ini menyenangkan. Menyenangkan sekali bahkan. Memang sangat memuaskan bisa mengatasi suatu permasalahan. Mulai dari masalah sepele, terlebih masalah yang besar akan memberi kelegaan yang indah saat kita menyelesaikannya, bukankah begitu? Saya jadi teringat hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa), juga Pradana waktu SMA. Selalu saja menggerutu ”Apaan ni…”,”Asem…”,dll. Tapi setelah semua selesai, kenangannya terasa rruarr biasa. Bahkan setelah hampir 5 tahun, saat mengenang masa itu bersama teman-teman seperjuangan, masih saja gayeng (mantap gan). Allah sungguh Maha Besar. Allah memberi kita masalah memang bukan untuk disesali, bukan untuk menggerutu, tetapi untuk dipecahkan sehingga kita dapat menjadi hamba yang lebih baik dari kemarin. Tentu bersamanya ada rasa puas, bahagia, kesan, ilmu yang indah sekali.

Rasa lega memberi energi lebih. Tetapi yang namanya menahan capek memang ada batasnya. So, lebih baik kurebahkan badan dahulu. Istirahat.

Pagi yang Cerah. Bukan untuk jiwa yang sepi tentu (hahaha…). Sebaliknya, untuk jiwa yang ramai (sedang bersemangat maksudnya. Jayus?). Wah, akhirnya bisa jalan pagi di sini lagi. Cukup lama juga saya tidak melakukannya. Seratus meter berjalan ke arah utara, terlihatlah sebuah sungai. Sungai itu, ya itu, namanya saya lupa. Haha. Yang jelas, saya ingat kalau waktu kecil dulu pernah mandi di situ. Airnya sampai sekarang masih jernih. Jarang-jarang ada sungai yang airnya masih terjaga jernihnya. Oya, di daerah ini juga ada sungai yang ada jeramnya. Bisa arung jeram body rafting gitu. Seingat saya namanya Kali Suci. Medannya ga main-main lho. Deras, berkelok, masuk gua, keluar lagi, dan… nabrak. Kalau diterusin nanti tembusnya di Pantai Parangtritis (kalau ga salah, sotoy nih). Selain sungai di sini banyak mata air yang digunakan untuk PAM. Salah kalau daerah ini miskin air. Memang ada sih yang masih sulit air. But it just a little. Almost can get the water easily. Believe it. Salah satu alasan kesulitan air di daerah ini mulai teratasi adalah dibuatnya sumur artesis dari air bawah tanah Gua Bribin. Gak tanggung-tanggung, teknologi Jerman menyokong proyek yang bisa mencukupi kebutuhan air beberapa kecamatan ini. Yang meresmikan pun (gak tanggung-tanggung) Presiden SBY!! (Halah, kelihatan jarang didatangi presiden).

Oh ya, Gua Bribin tu gua yang indah banget lho. Lukisan Allah yang gak kalah eksotis dari Gua Gong, gua paling populer di tanah air. Hanya, untuk masuk harus membawa petromaks sendiri (jarang lampu yang ada di gua bisa nyala). Eits,, jangan bilang menyusahkan dulu. Justru itulah yang asyik. Saya yakin Medina Kamil dan kru Jejak Petualang pasti juga akan kagum jika mengunjungi gua ini. Setelah melewati lorong gua yang berkelok, penuh stalaktit dan stalagmite yang berkilau indah, dan dibumbui kejedug (terbentur dalam bahasa Jerman) beberapa kali karena cuma bawa petromaks, sampailah pada sebuah sungai bawah tanah yang jernih, bersih, dingin. Segar sekali bisa cuci muka dengan air sungai itu. Hmm…itulah Gua Bribin dengan segala plus minusnya.

Terus tempat lain yang menarik, yang mungkin namanya lebih populer dari nama daerahnya. Seperti kasus Bali dan Indonesia. Ya, tempat itu tak lain jajaran pantai ’bersambung’ di selatan. Pantai Baron, Kukup, Krakal, Ndrini, Sundak, dkk. yang antarpantai hanya dibatasi tebing sempit. Pantai-pantai itu ramai banget dikunjungi wisatawan. Cukup satu tiket untuk beberapa pantai.

Bosan dengan suasana biru dan panasnya pantai? Oke. Ada kok suasana lain. Suasana hijau nan sejuk. Itu ada di kompleks hutan Wanagama. Hutan milik Kraton Jogja yang dikelola oleh Kehutanan UGM. Letaknya di jalan raya menuju Jogja. Di dalamnya bisa didapati burung-burung cantik, pohon nan rindang dan beragam, serta air terjun!

Bayangan saya sudah kemana-mana. Alam nan hijau, aman, tentram.

Orang-orang kebanyakan cuma mengenal daerah ini sebagai daerah tandus, kurang air, busung lapar, makannya tiwul, terbelakang, dll. Padahal banyak sekali potensi daerah ini. Toh internet juga sudah masuk. Jaringan televisi jangan ditanya, bening, dan jangan heran jika ada gangguan, antena suruh arahkan ke daerah ini. Tapi toh setiap orang bebas menilai. Faktanya, banyak juga dijumpai saat Idul Fitri, orang mudik membawa mobil bagus padahal rumah orang tuanya cuma kecil, di tengah hutan pula. Positive thinking. Orang yang mau berusaha pasti akan menuai hasilnya. Tak peduli latar belakangnya seperti apa. Toh, mutiara yang paling mengkilap kebanyakan ditemukan di kerang yang paling hitam.

Hmm,mengenai penduduknya.. ada satu logat (atau apa namanya) yang khas. Di Indonesia yang ini, memang banyak sekali variasi bahasa yang bisa dikatakan natural. Logat Batak, Padang, Sunda, Jawa, Madura, Ambon tentu sangat berbeda. Orang Jawa sendiri saja juga bervariasi. Orang Magelang, Jogja, Solo, Semarang, Tegal dan kota lain yang penduduknya ,walaupun pada dasarnya sama-sama memakai bahasa Jawa, tapi ada aksen tertentu yang beda. Karena tinggal di daerah Solo, jadi mungkin saya bisa bilang aksenku adalah ’versi Solo’. Selain Solo, yang saya tahu baru Magelang. Orang Magelang dengan akhiran to. Sedangkan untuk daerah ini adalah akhiran je. ”Sesuk ra sido rana je”, ”Ki rada lali je”. Sampai saat ini saya tak tahu arti je itu. Mungkin orang DIY asli yang tahu..Begitulah

Dan daerah ini tak lain adalah….Gunung Kidul

***

Itulah salah satu khazanah lain yang coba saya tulis dari sedikit yang saya tahu. Sebagai Turkije.. 😀

Turkije : TURunan gunungKIdul, JE..

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Satu tanggapan untuk “Flashback: Adventure of Turkije

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s