Balada Mang Ahsan-1: Korupsi

Mang Ahsan, begitu ia biasa dipanggil. Ia seorang pegawai swasta di kota B. Berpenampilan sederhana, kalem dan bersahaja. Tidak ada hal yang neko-neko dalam diri Mang Ahsan. Setiap hari ia bekerja dengan giat dan setelahnya ia menyisihkan waktu untuk menambah wawasan dari berita dan beropini mengenai kondisi negeri Indonesia yang sangat ia cintai. Walaupun ia hanya seorang pegawai biasa, ia selalu update berita kondisi tanah air.

Mang Ahsan berteman akrab dengan Kang Wawan. Mereka berdua sering ngobrol tentang berita yang sedang hangat. Beragam berita mulai dari politik, ekonomi, olahraga, budaya bisa jadi topik obrolan mereka asalkan itu menyangkut kondisi bangsa yang sangat dicintainyai itu.

Kali ini terlihat lagi mereka ngobrol di Warteg Somad, warung tegal pinggir jalan yang kebetulan mereka ke sana setelah pulang dari tugas kantor ke luar kota. Di warung sederhana itu ada televisi kecil sehingga sembari makan mereka masih bisa mengikuti berita, terutama berita dari channel TV berlogo merah dan berlogo biru yang terkenal sebagai news channel tanah air.  Nah, berita yang hangat adalah kasus Gayus Tambunan.

“Aih, benar-benar bobrok moral tuh orang. Segitunya ya ngambil duit rakyat,” omel kang Wawan. Baru dengar saja sudah mengomel. Dari raut mukanya juga terlihat ia sangat gemas.

“Tega nian..” kata Mang Ahsan datar.

“Eh, eh, ya Gusti.. lihat itu San, rekeningnya sekali bertambah bisa tiga milyar. Uang dari mana itu,” nada bicara Kang Wawan meninggi.

“Biarin aja lah Wan. Jadi pelajaran. Kita kerja keras hasil sedikit gapapa asal jujur dan ikhlas,” kata Mang Ahsan.

“Biarin gimana kamu ini, San. Ga adil itu namanya. Keterlaluan. Mana wajahnya kelihatan tanpa dosa gitu!!”

“Emang kita bisa apa?” tanya Mang Ahsan.

“Yah, kamu ini gimana. Kita itu rakyat. Duit kita diambil. Rakyat harus bergerak menuntut hukuman sebesar-sebasarnya. Ya minimal kita bikin aksi demo. Koruptor, sekecil apapun harus diberantas!!” kata Kang Wawan berapi-api lagaknya sudah seperti seorang orator.

Mang Ahsan hanya diam. Ia tahu benar karakter temannya yang meledak-ledak itu. Daripada ditanggapi mending dilanjutkan makan. Dalam hati, tentu ia juga risih dengan ulah para koruptor. Tapi bisa apa, lebih baik berbuat sebaik mungkin dengan jujur dan berdoa semoga orang-orang yang curang disadarkan oleh Gusti Allah.

Karena sohibnya tidak lagi menanggapi, Kang Wawan pun ikut diam. Selesailah mereka makan, dan bergegaslah mereka pulang. Tentu saja setelah membayar. Oya, mereka pulang berboncengan naek sepeda motor, Mang Ahsan diboncengkan kang Wawan.

Selama perjalanan pulang yang berjarak 6 km dari warteg, mungkin karena terbawa suasana akhir di warteg tadi mereka saling diam. Barulah saat hampir sampai di rumah, kang Wawan membuka lagi pembicaraan, “San, di warteg tadi murah banget perasaan. Tapi kurang tasty. Lain kali ga usah ke sana deh.” “Iya juga ya, aku makan nasi ayam telur tempe, kamu nasi rendang bakwan, eh cuma 12000. Apa salah hitung ya?” Mang Ahsan dan kang Wawan mencoba mengingat lagi.

“Eh, lupa. Aku tadi juga ambil tempe satu. Belum dibayar. Duh, gimana ni.. udah jauh gini..” kata Kang Wawan

“Waduh, balik.. balik.. kita bayar dulu tempenya,” jawab Mang Ahsan

“Yah, udah mau sampai nih. Udahlah, satu tempe aja.. 500 perak yang jual juga ga bakal rugi..”

“Heh, Balik!.. kamu tadi bilang apa.. KORUPTOR, SEKECIL APAPUN HARUS DIBERANTAS..”

“I..iya,ya..”

Kedua sohib itupun akhirnya kembali ke warteg Somad walaupun harus menempuh jarak lumayan jauh untuk 500 perak. Bukan karena nilainya yang hanya 500 perak.  Untuk hal berbau korupsi, nilai 500 perak bukan sekedar “hanya”…Karena mengabaikan hal sepele, bisa membuka jalan untuk mengabaikan hal yang lebih besar..

Begitulah yang dijalankan Mang Ahsan dan kang Wawan.. paling tidak mereka memperbaiki dari diri mereka sendiri, dari hal yang kecil.. bagaimana dengan kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s