Diposkan pada jalan-jalan

Gudeg Cakar Bu Kasno


Solo, Ahad dinihari 01.15 WIB. Sampai di Stasiun Solobalapan, sambil menunggu jemputan, aku dan teman seperjalanan tadi, Lorenz, minum ronde dulu. What do you know about ronde? Itu lho, wedang yang ada kolang-kaling, kacang, dan si ‘ronde’ sendiri (ronde deskripsinya apa ya.. confuse). Ini deh kasih gambarnya aja..

Ronde merupakan wedangan yang khas di sini. Nikmat sekali diminum di malam hari, lumayan untuk menghangatkan tubuh juga. Saat menikmati ronde ini, aku jadi terpikir kenapa rondenya hampir selalu tiga ya? Hmm.. sudah tradisi kali yah..

Setelah selesai minum ronde dan jemputan sudah datang, perut laparku ternyata ga bisa ditolerir. Makan terakhir siang sih, ba’da dhuhur. Di kereta tadi cuma bawa bekal m*zone, jadi rasa lapar ga tertahan juga. Dinihari gini, makan di mana ya?

Waktu dinihari yang paling khas di Solo sebenarnya adalah jajan di HIK. HIK biasa dikenal sebagai ‘angkringan’ atau ‘kucingan’ di daerah lain. Menunya nasi kucing (nasi sekepal dengan potongan kecil ikan bandeng), sate usus, sate keong, aneka gorengan dan wedangan. Yang terpikir pertama saat itu juga jajan di HIK, tapi karena ini di Stasiun Solobalapan, jadi dekat dengan warung dinihari paling spesial di Solo. Di malam hari (lebih tepatnya mulai dini hari) warung dekat SMAN 1 Solo tercinta ini selalu penuh dan sangat penuh (lebay.. tapi emang superlaris sih). Berjejer-jejer mobil, terutama plat luar kota, di sekitar warung itu. Tak ketinggalan deretan motor plat lokal di dekat warung superlaris itu. Warung apakah itu? Tak lain tak bukan, GUDEG CAKAR BU KASNO.

Walaupun di Solo, dan cukup populer bagi orang luar Solo, aku sendiri malah belum pernah ke sana. Cerita mengenai laris dan enaknya gudeg cakar itu kudapat dari teman SMA yang kos di dekat situ. Bukanya mulai dinihari sih.

Nah, karena ini tiba di Solo dinihari dan Solobalapan dengan warung spesial itu, waktunya untuk mencoba! Bergegas ke TKP..

Sampai di jalan Monginsidi, depan TKP, wah berderet panjang mobil-mobil dan terlihat banyak sekali orang yang antri. Melihat itu, aku pun jadi ragu dan balik arah. Rame banget, ke HIK aja lah. Tapi baru 50 meter balik arah, terpikir lagi, yah mumpun sampai di sini kenapa ga nyoba aja sekalian. Lapar bisa ditahan sebentar. Yawda, putar balik lagi. Decided, bagaimanapun harus mencoba gudeg cakar Bu Kasno sekarang.

Wahaha, antrian ternyata panjang juga. Hmm.. sabar,, semakin lapar makanan akan terasa makin nikmat. Setelah selesai antri, akupun memesan gudeg dan paha ayam (ga pake cakar, lebih suka paha sih..). Nasi gudeg paha ayam pun tersaji. Saatnya makan. Itadakimasu. Dan.. bagaimanakah rasanya.. hmm.. MAKNYUSS…

Alhamdulillah terisi juga perut ini. Dengan makanan lezat pula. Walaupun porsinya kecil dan harganya cukup mahal (untuk ukuran Solo, untuk ukuran Bandung sih murah), tetapi maknyuss banget lah. Yuhui, wisata kuliner dinihari pun disudahi. Saatnya pulang ke rumah..

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

2 tanggapan untuk “Gudeg Cakar Bu Kasno

  1. whew, emang naik kreta apaan Mus, kok nyampenya dini hari?!

    hadoooh, seumur2 aku malah jarang je wisata kuliner di Solo, jarang di rumah sih ahahayy.. kapan2 jajakke tho Mus, hohohoo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s