Posted in islami

Pengalaman Sholat di Masjid Bandung-1


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Setelah sekian judul membahas Piala Dunia yang sedang rame-ramenya itu, refresh dulu dengan yang lebih segar. Saya mau share pengalaman sholat atau bisa dikatakan “wisata rohani” di masjid-masjid di kota Bandung. Yuph, sudah dua tahun ini saya di kota kembang. Sudah banyak masjid tempat saya sholat. Semuanya indah dan punya cerita sendiri-sendiri. Insya Allah menarik.

Untuk menceritakannya, saya bagi dua part aja deh. Part pertama ini mengenai masjid-masjid yang ada di lingkungan kosan dulu, sedangkan part kedua nantinya bakal menceritakan masjid-masjid dengan lingkup yang lebih akbar. Tertarik membaca lebih lanjut? terima kasih. Yuk, langsung saja kita ke TKP..

1. Masjid Al-Ikhlas, gang Abah Winata

Ini masjid yang paling dekat dengan kos pertama saya di Bandung. Jaraknya sangat dekat, bahkan diukur dengan penggaris juga ga lelah. Kurang lebih 3 meter (deket banget kan? lha wong cuma dibatasi jalan gang). Karena saya hampir dua tahun berada di Kosan Romlah Abah Winata, jadi ya selama dua tahun di masjid ini saya paling sering sholat. Sebelum masuk cerita sholat, ada hal unik nan positif dari keberadaan masjid ini. Yakni tiap sekitar setengah jam sebelum sholat Subuh,ada pemberitahuan “alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur.. Waktos jam (sekian–maksudnya jam tepat saat itu)…waktos sholat subuh jam (sekian)..”. Singkatnya, dibangunkan setengah jam sebelum sholat subuh. Karena letak kos yang sangat dekat dengan masjid, saya 99% terbangun, dan alhamdulillah bisa sholat lail plus sholat subuh tepat waktu.

Lanjut ke masalah pra-sholat. Ada bapak-bapak sepuh (tua) yang menjadi imam utama, pokoknya kalau bapak ini belum datang, lama banget dah nunggu iqomahnya. Well, bapak itu memang hafalan dan bacaannya oke punya. Oya, untuk iqomah di masjid ini ga pake mikrofon. Mungkin sebuah pembudayaan juga agar jamaah berangkat segera setelah mendengar adzan, bukannya menunggu iqomah. Nice.

Kalau ada yang sangat mengganjal dalam sholat, jarak antar jamaah sangat renggang! Sebagai catatan, mayoritas jamaah di sini adalah orang sepuh (veteran), minoritasnya para anak kos. Dan orang sepuh itu tidak bisa membentuk shof rapat. Kalau kaki didekatkan dengan kaki beliau agar saling merapatkan shof, eh malah menyingkir atau mengatup.  Kalau ditegur secara halus, eh mboten mireng (tidak dengar dan tidak menggubris, entah beneran tidak dengar atau pura-pura). Ya Allah. Akan sangat bersyukur jika dua orang yang mengapit di shof adalah anak muda, utamanya sesama ITB. Pasti rapat dan kekhusyukan sholat lebih terjaga.

Untuk pasca-sholat, saya suka kondisi di masjid ini. Semuanya default langsung dzikir. Ga langsung salam-salaman. Setelah selesai dzikir dan sholat rowatib ba’diyah, baru bersalam-salaman sambil menebar senyum. Nah, kali ini nice lagi.

2. Masjid DarudDa’wah, jalan Pelesiran

Ini masjid terdekat kedua dari kosan lama setelah masjid Al-Ikhlas tadi. Jaraknya sekitar 50 meter (dekat juga kan?). Kalau di masjid Al-Ikhlas mayoritasnya orang sepuh, nah di sini mayoritasnya mahasiswa. Saya biasa sholat di masjid ini saat Magrib, Isya, atau sholat Jum’at.

Bicara soal interior dan kenyamanan, masjid ini oke punya. Tempat wudhu bersih. Lantai kayu bagus. Terdiri dari 2 lantai (ikhwan di bawah, akhwat di atas). Interior mantap. Dan jaburan Ramadhannya enak-enak (weleh). Untuk masjid-masjid di sekitar kosan kampus, inilah masjid favorit saya.

Masalah pra-sholat. Di masjid ini adzan dan iqomah pake mikrofon, dengan jeda yang normal untuk sholat rowatib qobliyah. Imam lebih ‘bebas’, terserah mahasiswa yang mau maju jadi imam. Kemudian sholatnya, alhamdulillah wa syukurillah, karena banyak mahasiswa jadi kerapatan shof terjaga. Jadi lebih khusyuk deh. Bacaan sholatnya juga lumayan indah. Budaya pasca sholat? Langsung dzikir juga, bedanya di sini mayoritas hanya bersalam-salaman dengan jamaah yang sudah dikenal saat sama-sama meninggalkan masjid. Kalah dari Al-Ikhlas.

Oya, mengenai khutbah yang ada di masjid ini. Khotibnya pasti oke-oke. Di antara yang oke itu, ada dua yang paling menonjol. Pertama, sang khotib ( lupa namanya) yang khutbahnya sangat semangat, kadang-kadang diselipi bahasa Sunda yang membuat jamaah tertawa (saya ikut tertawa walau ga tahu artinya..haha), dan ini satu-satunya khotib sholat Jum’at yang bisa membuat seluruh jamaah mendengar dengan antusias. Biasanya sih, ada aja minimal satu orang yang tertidur atau terkantuk-kantuk. Ya, itu membuktikan betapa hebat pembawaannya. Kedua, ada khotib yang rumahnya tepat di sebelah masjid, Bapak Suwarno. Pak dosen medan elektromagnet ini selalu membuat jamaah termotivasi karena isi khutbahnya menceritakan pengalaman beliau di luar negeri. Kata pembuka setelah salam, “Kemarin saya baru saja ke (Jepang, Afsel, dll– tergantung yang baru beliau kunjungi)..”. Wow.. mahasiswa tentu sangat antusias. Sebagai sesama orang asli eks-karesidenan Surakarta, saya juga ingin seperti Anda, Pak Warno! Menjadi dai dan engineer yang sukses…

Oya, masjid ini dekat dengan warung-warung makan. Jadi setelah sholat Dhuhur atau Magrib, jamaah bisa sekalian mampir warung untuk makan siang dan makan malam. Good.

3. Dua masjid di dekat kosan sahabat saya, Cigadung

Wah, saya lupa nama masjidnya.. salah satunya Al-Burhan kalau ga salah. Yah, saya hanya sempat sholat di masjid itu saat sholat Subuh, sehabis malamnya belajar bareng menjelang UTS atau UAS. Ada persamaan di masjid itu, yakni jamaahnya berbasis salah satu organisasi Islam terbesar di tanah air.

Untuk pra-sholat. Adzan dikumandangkan dengan merdu, tapi tanpa iqomah. Satu masjid punya jeda antara adzan-iqomah yang terlalu pendek (berangkat ke masjid setelah adzan saja ga dapet kesempatan sholat rowatib..), satunya jedanya terlalu panjang (agak bingung seberapa lama.. ya, pokoknya lama lah).

Untuk sholat dan kerapatan jamaah, it’s okay. Bacaan lumayan bagus. Yang menjadi permasalahan yang sangat mengganjal adalah pasca sholatnya. Dzikirnya itu, Ya Allah, disuarakan dengan keras dan bacaannya diseret. Tentu saja sangat menganggu. Bukankah dzikir lebih afdhol jika dilantunkan dengan halus, dirasakan benar hablum minallah-nya, dihayati dengan tidak terburu-buru. Kalau diseret, 33x dalam sekian detik, memang esensinya bakal terasa? Ataukah memang setiap orang punya style sendiri-sendiri dalam dzikir? Wallahu a’lam bishowab. Astaghfirullahal’adziim.

4. Masjid Al-Hidayah, gang Pancasila Kebonkembang

Nah klo yang ini masjid terdekat dengan kosan baru saya. Ya, sejak April kemarin saya memang pindah kos. Ngontrak rumah bareng sedulur-sedulur Widyakelana. Masjid terbaru ini juga sangat dekat dengan kosan (yuph, salah satu faktor penting dalam memilih kos adalah dekat dengan masjid). Jarak dari kosan sekitar 10 meter. Dekat kan?

Masalah pra-sholat. Masjid ini selalu mengumandangkan adzan dengan merdu dengan mikrofon, sedangkan iqomahnya kadang pake mikrofon, kadang tidak. Tergantung selera muadzin kali ya. Jeda adzan-iqomah normal, cukup untuk sholat rowatib qobliyah.

Untuk sholat, lantunan oleh pak imam yang biasa terbilang indah. Apalagi imam waktu sholat Magrib dan sholat gerhana kemarin (26 Juni 2010), wow, benar-benar menyejukkan. Untuk masalah kerapatan shof, seperti masjid Al-Ikhlas, tergantung dekat dengan anak muda atau bapak-bapak sepuh. Rekanku dulu bahkan pernah ditegur dan dimarahi waktu merapatkan kaki demi kerapatan shof. Kata si bapak, “Menganggu kekhusyukan saja!”. Yaela, kebalik atuh, Pak. Oya, ada satu imam bapak sepuh yang menurut saya cukup unik. Ketika takbir ganti gerakan, takbirnya luamaaa.. banget. Ga tau tuh jadi berapa harokat panjang takbirnya, sekitar 15-20 harokat kayaknya. Jadi harus ditunggu dulu sampai penggalan kata “Ak” atau “Bar” pada kalimat “Allahu Akbar”. Kalau sudah mengikuti semenjak beliau mulai “Allah..” kondisi yang mungkin ada dua: Anda mendahului imam, atau Anda mengangkat tangan (misal dari berdiri ke ruku’) sangat lama. Hoho..

Nah, pasca-sholat, ada sedikit masalah nih. Bapak bapak sepuh biasanya langsung bersalam-salaman, bahkan kalau mungkin satu shof disalami semua. Kalau ada yang mau khusyuk dzikir dulu, ya dijawil-jawil tangannya. Hmm.. bagaimanapun, saya lebih nyaman bisa dzikir dengan tenang dulu, baru salam-salamannya ntar. Oh, satu catatan lain. Sholat di masjid ini terkadang sangat terganggu karena ada serombongan anak kecil yang ruamenya…hiih.. (Bapak-bapak, ibu-ibu yang punya putra, alangkah baiknya jika ikut program membiasakan sholat dengan baik pada anak mulai dini di Salman.. walaupun keramaian anak-anak dimaklumi, akan jauh lebih baik tidak ke masjid daripada ke masjid hanya untuk membuat keramaian). Terkadang saat sudah selesai dari masjid dan memikirkan hal itu (anak ramai), saya jadi berpikir.. apa saya dulu juga begitu ya? Hmm.. Insya Allah engga lah. Untuk umur segitu (TK/SD), saya pasti sudah jadi anak yang anteng dan penurut karena luar biasanya Ibu saya. Hehe… Luv u, mom

itulah cerita pengalaman sholat saya di masjid sekitar kosan kampus mahasiswa ITB. Tunggu cerita selanjutnya ya… Trims

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

5 thoughts on “Pengalaman Sholat di Masjid Bandung-1

  1. Ya3. Yg ini mmg beda. Tidak berbau piala dunia. Wah, aku gak nyambung kl topiknya PD terus. Oke, slmt berkarya n berjuang. Sukses ya. Insya Allah

  2. keren juga mus blogmu, hayuu udah sholat di masjid alun2 bandung? sholat di masjid Unpad? ITB? PUSDAI? masjid UPI, masjid UI?? masjid adalah bangunan baling menyenangkan di bumi…yuk sering2 kesana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s