Diposkan pada jalan-jalan

Petualangan Jalan Kaki nan Mantap..!! (Part 1)


Sabtu, hari terakhir Juli 2010

Lama tidak olahraga. Ingin berolahraga yang bisa mengganti, yang cukup ekstrim, tapi tetap menyenangkan. Hari sebelumnya terpikir untuk jogging ke daerah Dago atas (THR Ir.Juanda) bersama sahabat saya Arif Prasetiya. Selain cukup menantang (jalanan menanjak dan cukup jauh), viewnya sangat bagus, udara segar, dan bisa selesai dalam maksimal setengah hari. Plan awal, selain bareng Arif, juga bersama anggota baru Widyakelana 2010 yang sekiranya agenda kosong (yang jelas bukan yang lolos via SNMPTN karena mereka dijadwalkan mengerjakan psikotes). Tapi, Arif ternyata ga bisa karena mendadak ada jarkom urusan Ospek jurusan, finally saya berangkat bersama 5 orang adek2 Widyakelana saya.

Jam 6.45 saya berangkat naek motor dari kosan di Kebonkembang ke Asrama Sangkuriang. Memang tempat kumpul awalnya di situ. 5 orang sudah siap, dan 1 lagi ketemu di depan Pusdiklat Geologi Cisitu. Jadi, anggap saja titik awal adalah Pusdiklat Geologi Cisitu. Kami pun bersiap memulai petualangan jalan kaki yang mungkin akan jadi salah satu yang paling mengesankan. (Oya, yang tahu tempat tujuan petualangan ini hanya saya.. adek2 Wika 2010 tidak ada yang tahu satupun, mereka hanya ngikut aja. Freak. Haha). Ikuti petualangan kami!!

***

Dari depan Pusdiklat Geologi, kami berjalan menuju jalan Dago dengan menyusuri perumahan elite Dago Asri. Jalan-jalan santai saja sambil ngobrol ini itu. Tak terasa sudah sampai di jalan Dago, dan mulai menyusuri jalan ke utara, ke arah Dago Atas. Di sepanjang perjalanan, kami melihat rombongan biker. Sepedaan? Hmm.. nice idea,, kapan2 perlu mencoba, tapi tentunya kalau ada sepedanya.. haha.. Sesekali kami tersenyum melihat ibu-ibu yang berusaha mengayuh sepeda sekuat-kuatnya di tanjakan tapi gagal (sepertinya salah gear), juga bapak-bapak yang harus berhenti karena rantainya lepas. Hmm.. dua hal yang hampir sama: bicycle (English, arti:sepeda) dan by sikil (Javanese, arti: jalan kaki). Dan ternyata produk langsung dari Allah SWT (kaki) jauh lebih unggul, terbukti kami bisa melewati tanjakan tanpa harus berusaha keras maupun onderdil lepas (wah, seram banget kalau sampai, misal lutut, lepas).

Masih belum merasa lelah, eh sudah sampai depan Terminal Dago. Perjalanan berlanjut lagi naek ke atas menuju Taman Hutan Raya Ir.Juanda, dan kondisi masih tetap sama, hanya saya yang tahu tempat tujuan). Jalan Dago sudah lewat, kami belok ke kiri mengikuti papan penunjuk arah. Menurut papan itu, taman Ir Juanda belok kiri 600 meter. Oya, sudah berapa kilo ya kami berjalan? Yah, mungkin sekitar 2-3 kilo lah..

Enam ratus meter kemudian, yuhui, sudah sampai gerbang masuk THR (Taman Hutan Raya) untuk pejalan kaki. Tapi ada yang mengganjal, harga tiket masuknya sekarang kq Rp 8000,00 ya.. mahal… Usaha penawaran pun dilakukan hingga akhirnya jadi Rp 5000,00/orang. Lumayan lah ga begitu mahal (dan ini untuk kesekian kalinya masuk objek wisata Bandung dengan menawar harga tiket). Petualangan di THR pun dimulai.

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Museum yang isinya daun, serangga dan unggas yang dikeringkan, foto-foto Ir Juanda, serta maket hutan raya dan jembatan curug omas Maribaya. Setelah itu, istirahat sebentar menikmati udara segar dan kicauan merdu burung jalak. Cukup istirahat, mulai jalan kaki lagi menuju Gua Jepang dan Gua Belanda.

Menjelang sampai di Gua Jepang, langsung disodorin banyak banget senter. Karena kami tidak ada yang membawa senter, jadi niatnya menyewa 2 senter (cukup lah buat berenam). Saat sudah masuk dan deal sewa senter, eh masih ada penjaja yang menawarkan senternya sampai dalam gua. Dengan sedikit memaksa mereka bilang “sudah ini senternya pegang dulu” walaupun tidak ada yang mau memegang (karena sudah pasti dianggap menyewa). Menyusuri lorong gua, masih saja bapak-bapak penjaja senter itu mengikuti, sok jadi tour guide. Jadi ga nyaman banget dah. Dan setelah keluar gua, bapak-bapak “tour guide” yang senternya tidak laku disewa itu meminta uang “sewa tour guide”. Yaela.. Tentu saja tidak kami beri, karena memang tidak menyewa senter dan tour guidenya maksa, toh tanpa guide pun bisa menyusuri gua Jepang itu sendiri. Well, meninggalkan gua Jepang dengan sedikit bad mood. Lain kali kalau ke sana harus bawa senter sendiri dari kosan.

Dari gua Jepang, berjalan menyusuri rimbunnya hutan menuju Gua Belanda. Pohon pinus, damar, meranti berdiri tegak menjulang. Sesekali terlihat sekawanan monyet, terdengar indahnya kicauan burung dan derasnya air sungai. Di perjalanan, ada pipa air yang sedikit bocor sehingga airnya memancar. Woho, langsung buat cuci muka. Air pegunungan.. Segarnya…

Tidak terlalu lama, sampailah di Gua Belanda. Gua ini kami masuki dan lewati lebih sebagai jalan tembus, karena dalamnya toh hampir sama dengan Gua Jepang: gelap banget, tanpa keindahan artistik (stalagtit stalagmit). Sudah berjalan sampai Gua Jepang dan Gua Belanda, niat awal sih langsung pulang. Tapi nanggung banget kalau tidak sekalian ke Air Terjun Maribaya. Kan jarang-jarang ke sana, ini aja bisa dibilang dua tahun sekali.

Yuph, akhirnya diputuskan melanjutkan jalan kaki menyusuri hutan ke Maribaya. Before that, karena lapar belum sarapan, kami mampir dulu makan di warung. Wisata kuliner sederhana. Dan.. heumm.. Rasa lapar belum sarapan ditambah suasana segar pegunungan… Teh manis panas dan gorengan di sana pun terasa nikmat sekali… Alhamdulillah. Energi tercharge lagi dan siap menuju Maribaya… (bersambung)

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Satu tanggapan untuk “Petualangan Jalan Kaki nan Mantap..!! (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s