Petualangan Jalan Kaki nan Mantap!! (part 2)

(sambungan dari part 1)

Perjalanan ke Maribaya berlanjut. Jalanan mulai sedikit mendaki walau tidak terjal, toh jalan yang ada sudah ditata bagus. Kalau dikira-dikira, mungkin ini sudah masuk kilometer ke-6 perjalanan kami. Rasa lelah sudah mulai menghampiri lagi walau baru saja berhenti untuk istirahat. Saat sedang duduk-duduk sejenak, ada bapak-bapak lewat dan memberitahu kalau Maribaya masih 1 km lagi. Hmm.. 1 km, cukup dekat.. Mari lanjutkan jalan kakinya..

Yuhui, sudah hampir sampai. Sekitar 100 meter dari Maribaya, biasanya ada yang narik tiket lagi. Dua tahun lalu, saat saya pertama ke sana, bayarnya kalau ga salah Rp 3000,00. Entah sekarang harganya naek atau tidak. Kenyataannya? Aha, tidak ada yang menarik tiket! Asyikk.. Sudah tadi masuk gerbang utama pake nawar harga, sekarang tidak ditarik lagi. Benar-benar murah meriah..

Sampailah kami di air terjun curug omas Maribaya. Ehm, ada hal yang baru. Dulu jembatan untuk melihat air terjun berada sekitar 50 meter dari air terjunnya, tapi sekarang sudah berganti. Jembatan lama sudah ditutup. Gnatinya, sebuah jembatan baru berwarna merah terang sudah dibangun tepat di depan air terjun..hanya berjarak sekitar 2 meter! Berada sangat dekat dengan air terjun, sensasinya luar biasa. Luar biasa menakutkan. Engga dink, jembatannya cukup kokoh koq, tidak perlu khawatir tragedi jembatan patah seperti di Baturaden. Tepatnya, luar biasa mengesankan. Air sungai yang jatuh dengan sangat deras karena patahan tebing, dilihat dari jarak 2 meter. Mumpung lagi di sini (mungkin maksimal ke tempat ini 2 tahun sekali deh), bernarsis ria dulu. Tempatnya asyik untuk foto-foto sih..

Setelah asyik bernarsis ria lalu istirahat, kami dihadapkan 2 pilihan. Keluar lewat gerbang Maribaya, terus pulang naek angkot (mahal tapi jadi ga capek), atau jalan kaki lagi menyusuri jalan hutan tadi (murah meriah, tapi sangat menguji kaki). Mungkin karena terbawa suasana gemuruh air terjun, gemuruh semangat menuntun untuk memilih opsi kedua. Jalan kaki lagi. (walau sebenarnya lebih terpengaruh faktor isi dompet sih.. haha)

Perjalanan balik segera dimulai. Di papan petunjuk tertulis, Gua Belanda 5 km, Gua Jepang 5,5 km. Sial, jauh juga.. Tapi cuek aja.. Yang penting sehat. Oya, di jalanan hutan raya ini ada ojek motor, tapi jalan kaki tetap lebih menyenangkan. sekali lagi, yang penting sehat.

Jalan kaki menyusuri hutan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Sempat bercanda pula, bagaimana kalau menyusuri sungai yang membelah hutan ini, kalau tidak salah itu sungai Cikapundung, kalau diturut bakal sampai dekat Sabuga, belakang kampus atau bahkan Asrama Sangkuriang tempat saya memarkir motor. Tapi ye gile aje menyusuri sungai deras nan kotor itu.

Di tengah-tengah perjalanan, rombongan motor datang. Ternyata rombongan abang-abang ojek tadi, sepertinya ada rombongan wisatawan yang ke sini tapi malas jalan kaki, lebih memilih naek ojek. Rombongan itu sebagian berwajah Arab dan sebagian pribumi. Mereka terlihat senang sekali dibonceng ojek menyusuri hutan. Bapak-bapak berwajah Arab itu melambaikan tangan dan berteriak mengucap salam kepada “rombongan pejalan kaki”, siapa lagi kalau bukan kami. Wa’alaykumsalam. Hoho..meriah sekali mereka..

Singkat cerita, kami sudah sampai dekat pintu keluar dari Gua Belanda. Di sana kami bertemu para Kasmadji 2006.. Mas Ndok, Mas Gondre, Mas Hamka, Mbak Fawzia, dll.. Waha, tau gitu tadi berangkat bareng. Mereka berangkat siang sih. Jarum jam saja sudah menunjuk pukul 11.30 WIB. Emang sih, suasana di hutan tetap nikmat walaupun di tengah hari karena kesejukannya. Yawda, kami berjalan pulang, mas-mase baru mau memulai perjalanan ke Maribaya.

Keluar dari area hutan raya lewat gerbang menuju Gua Belanda (bukan gerbang utama yang dilalui saat masuk). Baru berjalan sebentar, eh gerbang utamanya sudah kelihatan. Padahal kalau dari gerbang utama menuju Gua Belanda lewat jalan hutan, bisa 1 km lebih tuh.. Well, karena sudah capek pilihan kami keluar lewat gerbang ini bisa dibilang tepat. Kami pun langsung menjumpai rumah warga, berhenti sebentar di warung, jajan es krim.. hehe..

Sebelum melanjutkan perjalanan pulang yang masih 3 km, kami sholat Dhuhur dulu. Sekalian mengistirahatkan kaki, sudah sangat dekat dengan limit. Capek banged. Selesai sholat, langsung turun menyusuri jalan.. Sampai depan terminal Dago, kaki sepertinya tepat berada di limit. Mau naek angkot tanggung juga. toh jalanan menurun, jadi sangat membantu. So, tetap jalan dengan kaki yang sudah mati rasa. Cupz.

Akhir cerita, 2 km terakhir terlalui. Sampai lagi di Asrama Sangkuriang. Huff.. capek bukan main.. 14 km, mungkin lebih.. Tanpa sarapan, hanya sempat minum teh hangat dan makan gorengan..Tapi nyatanya kuat juga, alhamdulillah, subhanallah…

*Mengesampingkan fakta cupu bahwa saya butuh waktu 2 hari untuk memulihkan kondisi kaki, jalan kaki ekstrim ini patut dicoba lagi lain kali. Pokoknya, Mantap!! *

Petualangan Jalan Kaki nan Mantap..!! (Part 1)

Sabtu, hari terakhir Juli 2010

Lama tidak olahraga. Ingin berolahraga yang bisa mengganti, yang cukup ekstrim, tapi tetap menyenangkan. Hari sebelumnya terpikir untuk jogging ke daerah Dago atas (THR Ir.Juanda) bersama sahabat saya Arif Prasetiya. Selain cukup menantang (jalanan menanjak dan cukup jauh), viewnya sangat bagus, udara segar, dan bisa selesai dalam maksimal setengah hari. Plan awal, selain bareng Arif, juga bersama anggota baru Widyakelana 2010 yang sekiranya agenda kosong (yang jelas bukan yang lolos via SNMPTN karena mereka dijadwalkan mengerjakan psikotes). Tapi, Arif ternyata ga bisa karena mendadak ada jarkom urusan Ospek jurusan, finally saya berangkat bersama 5 orang adek2 Widyakelana saya.

Jam 6.45 saya berangkat naek motor dari kosan di Kebonkembang ke Asrama Sangkuriang. Memang tempat kumpul awalnya di situ. 5 orang sudah siap, dan 1 lagi ketemu di depan Pusdiklat Geologi Cisitu. Jadi, anggap saja titik awal adalah Pusdiklat Geologi Cisitu. Kami pun bersiap memulai petualangan jalan kaki yang mungkin akan jadi salah satu yang paling mengesankan. (Oya, yang tahu tempat tujuan petualangan ini hanya saya.. adek2 Wika 2010 tidak ada yang tahu satupun, mereka hanya ngikut aja. Freak. Haha). Ikuti petualangan kami!!

***

Dari depan Pusdiklat Geologi, kami berjalan menuju jalan Dago dengan menyusuri perumahan elite Dago Asri. Jalan-jalan santai saja sambil ngobrol ini itu. Tak terasa sudah sampai di jalan Dago, dan mulai menyusuri jalan ke utara, ke arah Dago Atas. Di sepanjang perjalanan, kami melihat rombongan biker. Sepedaan? Hmm.. nice idea,, kapan2 perlu mencoba, tapi tentunya kalau ada sepedanya.. haha.. Sesekali kami tersenyum melihat ibu-ibu yang berusaha mengayuh sepeda sekuat-kuatnya di tanjakan tapi gagal (sepertinya salah gear), juga bapak-bapak yang harus berhenti karena rantainya lepas. Hmm.. dua hal yang hampir sama: bicycle (English, arti:sepeda) dan by sikil (Javanese, arti: jalan kaki). Dan ternyata produk langsung dari Allah SWT (kaki) jauh lebih unggul, terbukti kami bisa melewati tanjakan tanpa harus berusaha keras maupun onderdil lepas (wah, seram banget kalau sampai, misal lutut, lepas).

Masih belum merasa lelah, eh sudah sampai depan Terminal Dago. Perjalanan berlanjut lagi naek ke atas menuju Taman Hutan Raya Ir.Juanda, dan kondisi masih tetap sama, hanya saya yang tahu tempat tujuan). Jalan Dago sudah lewat, kami belok ke kiri mengikuti papan penunjuk arah. Menurut papan itu, taman Ir Juanda belok kiri 600 meter. Oya, sudah berapa kilo ya kami berjalan? Yah, mungkin sekitar 2-3 kilo lah..

Enam ratus meter kemudian, yuhui, sudah sampai gerbang masuk THR (Taman Hutan Raya) untuk pejalan kaki. Tapi ada yang mengganjal, harga tiket masuknya sekarang kq Rp 8000,00 ya.. mahal… Usaha penawaran pun dilakukan hingga akhirnya jadi Rp 5000,00/orang. Lumayan lah ga begitu mahal (dan ini untuk kesekian kalinya masuk objek wisata Bandung dengan menawar harga tiket). Petualangan di THR pun dimulai.

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Museum yang isinya daun, serangga dan unggas yang dikeringkan, foto-foto Ir Juanda, serta maket hutan raya dan jembatan curug omas Maribaya. Setelah itu, istirahat sebentar menikmati udara segar dan kicauan merdu burung jalak. Cukup istirahat, mulai jalan kaki lagi menuju Gua Jepang dan Gua Belanda.

Menjelang sampai di Gua Jepang, langsung disodorin banyak banget senter. Karena kami tidak ada yang membawa senter, jadi niatnya menyewa 2 senter (cukup lah buat berenam). Saat sudah masuk dan deal sewa senter, eh masih ada penjaja yang menawarkan senternya sampai dalam gua. Dengan sedikit memaksa mereka bilang “sudah ini senternya pegang dulu” walaupun tidak ada yang mau memegang (karena sudah pasti dianggap menyewa). Menyusuri lorong gua, masih saja bapak-bapak penjaja senter itu mengikuti, sok jadi tour guide. Jadi ga nyaman banget dah. Dan setelah keluar gua, bapak-bapak “tour guide” yang senternya tidak laku disewa itu meminta uang “sewa tour guide”. Yaela.. Tentu saja tidak kami beri, karena memang tidak menyewa senter dan tour guidenya maksa, toh tanpa guide pun bisa menyusuri gua Jepang itu sendiri. Well, meninggalkan gua Jepang dengan sedikit bad mood. Lain kali kalau ke sana harus bawa senter sendiri dari kosan.

Dari gua Jepang, berjalan menyusuri rimbunnya hutan menuju Gua Belanda. Pohon pinus, damar, meranti berdiri tegak menjulang. Sesekali terlihat sekawanan monyet, terdengar indahnya kicauan burung dan derasnya air sungai. Di perjalanan, ada pipa air yang sedikit bocor sehingga airnya memancar. Woho, langsung buat cuci muka. Air pegunungan.. Segarnya…

Tidak terlalu lama, sampailah di Gua Belanda. Gua ini kami masuki dan lewati lebih sebagai jalan tembus, karena dalamnya toh hampir sama dengan Gua Jepang: gelap banget, tanpa keindahan artistik (stalagtit stalagmit). Sudah berjalan sampai Gua Jepang dan Gua Belanda, niat awal sih langsung pulang. Tapi nanggung banget kalau tidak sekalian ke Air Terjun Maribaya. Kan jarang-jarang ke sana, ini aja bisa dibilang dua tahun sekali.

Yuph, akhirnya diputuskan melanjutkan jalan kaki menyusuri hutan ke Maribaya. Before that, karena lapar belum sarapan, kami mampir dulu makan di warung. Wisata kuliner sederhana. Dan.. heumm.. Rasa lapar belum sarapan ditambah suasana segar pegunungan… Teh manis panas dan gorengan di sana pun terasa nikmat sekali… Alhamdulillah. Energi tercharge lagi dan siap menuju Maribaya… (bersambung)

Khotbah Jum’at Pak Agung

Yuhui.. nulis blog lagi. Setelah sekian waktu terbengkalai karena mengejar deadline lomba (dasar deadliner!).

Nah, jeda tanpa update blog kemarin dapat sedikit pencerahan, pencerahan hati. Yuph, hari Jum’at 30 Juli 2010 kemarin (setelah sekian lama juga) sholat Jum’at di masjid Salman lagi. Yah, sedang liburan sih jadi sholat Jum’atnya lebih sering di masjid dekat kos, Al-Hidayah. Keadaan berbeda pada hari itu karena jam 9-11 ada tes ELPT (semacam tes TOEFL) di kampus.

Setelah selesai tes ELPT dan makan siang, segera bergegas ke Salman. Masih 40 menit sebelum waktu adzan tapi masjid sudah ramai. Subhanallah. Saya langsung mengambil air wudhu, segarnya wudhu di Salman (pada dasarnya air di Bandung memang segar sepanjang hari, apalagi jika dipakainya untuk wudhu). Lalu ke ruang utama masjid, mencari shof yang kosong (walaupun sudah cukup penuh, tapi ada slot di shof kedua yang kosong.. alhamdulillah dapat shof depan), dan sholat rowatib. Membaca Al-Qur’an selanjutnya, sampai menjelang adzan di mana diumumkan jumlah infaq Jumat sebelumnya (seperti biasa selalu mendekati 2digit juta) dan khotib Jum’at ini. Dan ternyata khotibnya, Pak Agung Harsoyo!

Pak Agung Harsoyo adalah dosen saya di STEI, tepatnya dosen Medan Elektromagnet. Salah satu dosen yang membentuk mimpi saya karena dosen ini membuat saya tertarik melanjutkan studi di Prancis, di institut telekomunikasi yang katanya nomor satu di Eropa. Kebetulan sekali, beliau menjadi khotib Jum’at ini.

Pak Agung naek ke atas mimbar dan mengucapkan salam. Adzan pun berkumandang. Adzan masjid Salman yang selalu terlantun indah. Sangat indah untuk dinikmati. Menyejukkan hati.

Dalam khotbahnya, Pak Agung membahas permasalahan bangsa yang faktor terbesarnya adalah karakter. Bangsa Indonesia sedang dilanda krisis karakter, krisis kepribadian, krisis moral. Karena karakter terbentuk dari kepribadian, berarti banyak yang punya kebiasaan yang salah. Padahal dalam Islam sebenarnya telah diajarkan 3 hal untuk membentuk kepribadian/karakter yang baik: fikir, dzikir, dan amal sholeh.

Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Hendaklah seseorang selalu melakukan kebenaran karena kebenaran membawa pada kebaikan dan kebaikan membawa pada surga. Dan jangan melakukan kebohongan karena kebohongan membawa pada kedurhakaan dan kedurhakaan membawa pada neraka.” (HR Bukhori)

Di dalam OSKM (ospek mahasiswa baru) ITB yang akan diselenggarakan besok, dari pihak ITB mengusung misi “membangun insan Indonesia dengan IPK tinggi”. Eits, IPK? Ternyata singkatan IPK di sini bukanlah Indeks Prestasi Kumulatif yang sering dikhawatirkan mahasiswa, melainkan Integritas, Prestasi dan Komitmen. Jadi, mahasiswa ber-IPK tinggi adalah insan yang punya integritas (kejujuran) tinggi, berprestasi unggul dan terus memiliki komitmen untuk maju. Hal yang memenuhi pesan yang disampaikan Rasulullah (HR Bukhori) seperti dikutip di atas.

Demikianlah bahwa melakukan kebenaran (membangun integritas) dapat membawa pada kebaikan (prestasi) yang pada akhirnya memenuhi (komitmen) tujuan hidup kita, beribadah pada Allah dan akhirnya masuk surga.

Astaghfirullah. Saya merasa tertampar dengan khotbah Jumat ini, sebagaimana belum punya IPK tinggi.

Subhanallah. Saya mendapat inspirasi baru dari khotbah Jumat ini.

Semoga bisa terus menjadi lebih baik…