Buka Puasa di Rumah Lagi..

Kalau momen yang sangat ditunggu dan dinanti sebagai mahasiswa rantau adalah mudik Lebaran, momen umum yang paling ditunggu dan dinanti oleh orang yang shaum adalah saat berbuka puasa. Kenikmatan berbuka benar-benar menyenangkan, terlebih jika dapat makanan dan minuman yang gratis dan enak (benar bukan?)

Kalau selama menjalan Ramadhan 1431 H ini di kampus, saya biasa mencari takjil di masjid dekat kosan, atau di Salman. Karena dua syarat terpenuhi (gratis dan enak), maka sejauh ini saya sudah sangat bersyukur atas kenikmatan itu. Tapi, dari semua takjil atau makanan berbuka di seantero dunia ini (wah, lebay), tidak ada makanan dan minuman yang terasa selezat buatan ibu saya (tentu saja versi lidah saya).

Di hari pertama buka puasa di rumah lagi (Sabtu 4 Desember 2010 atau 25 Ramadhan 1431 H), Ibu saya membuatkan cocktail sepanci penuh. Cocktail yang penuh dengan buah-buahan ( melon, pepaya, nanas)  + janggelan, rumput laut + sirup cocopandan buatan sendiri. Sepanci? Yuph. Porsi jumbo. Memang kalau makan nasi, lauk atau sayur, saya hanya habis sedikit, tapi kalau buah.. wah, jangan ditanya..

Es Shanghai simpang Dago? Wah, lewat.. Es Degan Tamansari? Ga ada apa-apanya.. Es Alpukat Timun Suri Gelap Nyawang? Tidak dapat menyaingi. Pokoknya nikmat banget cocktail saat buka puasa di rumah (lagi) ini. Karena porsinya sepanci, tentu saja saya tidak brutal dalam makannya. Tetap ada jeda untuk sholat maghrib, ngaji, makan nasi, dan sholat tarawih. Dan habis atau tidak sepanci cocktail itu? Tentu saja, habis. Alhamdulillah.. Memang nikmat buka puasa di rumah dengan makanan minuman buatan Ibu..

Mudik Bareng Widyakelana 2010

Alhamdulillah libur Lebaran telah tiba.. Momen mudik pun menjadi momen yang sangat dinanti dan dinikmati. Tak terkecuali pada libur Lebaran tahun ini, tak kalah menyenangkan. Saya mudik bersama rombongan Widyakelana (Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB) naek bus langsung di hari terakhir kuliah (Jumat 3 September 2010), tentu saja bukan paginya, tapi malam sehabis tarawih.

Seperti biasa, dari tahun ke tahun, kalau mudik lebaran Widyakelana menyewa bus. Yang berbeda, untuk kali ini ada 2 bus yang disewa karena banyaknya angkatan 2010 (angkatan terbanyak sepanjang sejarah Wika) yang ikut. Busnya kalo ga salah City Trans menggunakan jasa Smart17Tour. Harga tiket 160ribu (sudah termasuk makan sahur). Agak mahal karena harga Lebaran, tapi sebanding lah. Busnya bagus, baru dan sangat nyaman.

Kami (widyakelana) berkumpul di gerbang depan kampus di jalan Ganesha selepas sholat tarawih. Saat saya sampai di sana diantar mas Bro EP’07, sudah banyak anggota rombongan yang datang. Saya pun segera menaekkan barang ke bus, memilih kursi yang masih tersedia. Dan saya dapat kursi ketiga dari depan, di bus 2. Alhamdulillah masih dapat kursi di barisan depan, walau idealnya kursi bus (menurut saya) kalau ga yang paling depan ya paling belakang. Well, saya kan tidak mabukan lagi sejak SMP, jadi kursi manapun okelah.

Setelah semua anggota telah berada di dalam bus, diabsen ulang dan siap berangkat, bus pun mulai bergerak. Itu sekitar jam 21.20 WIB. Yuhuy, perjalanan mudik pun dimulai.

Bus melaju lancar melewati Jalan Layang Pasopati, dan tanpa terhambat macet yang berarti sudah tiba di gerbang tol Pasteur. Masuk tol, kami mengelilingi batas kota Bandung untuk menuju ke Bandung Timur, dan setelah keluar tol mulai lanjut ke Nagreg. Selama awal perjalanan ini, suasana ramai terjadi karena cas-cis-cusnya Mbak Ratih Farmasi’07, di-counter dengan respon silih berganti anggota Wika yang laen. Seru lah. Mulai masalah jurusan sampai pacar, mulai bagian kapal yang lancip sampai kemampuan berbahasa Sunda (nah lho, ukur sendiri seberapa jauh melencengnya). Jalur Nagreg yang berliku pun dilalui dengan riang, walau semua sadar habis ini pasti pada mulai tertidur satu per satu. Alhamdulillah Nagreg lancar, tidak macet dan saya pun tertidur pulas. Hehe..

Bangun dari tidur pulas, bus sudah berhenti. Ternyata waktunya makan sahur. Wah, lama juga ya saya tertidur. Bahkan saya tidak menyadari busnya tadi sempat berhenti 1 jam untuk pak sopirnya istirahat. Ah, yang penting tidak tertidur waktu jatah makan sahur. Saya segera turun dari bus bersama anggota Wika yang laen. Hmm.. Jatilawang Resto, sama seperti waktu mudik tahun lalu berarti. Well, di sini cukup lengkap sih. Selain resto ada juga Pom bensin dan mushola dengan ukuran cukup besar.

Makan sahur di Jatilawang Resto cukup nikmat, ada daging rendang, sayur, krupuk dan minumnya Frestea dingin. Alhamdulillah kenyang dan siap untuk shaum maksimal. Selesai sahur, masih jam 04.05 WIB jadi masih harus menunggu sekitar 20 menit untuk sholat Subuh. Sambil menunggu sempat melihat highlight kualifikasi Euro 2012 di mana Inggris menggasak Belarusia 4-0. Oya, waktu menjelang subuh ini saya gunakan juga untuk menghabiskan minuman dan snack di kursi bus saya. Ntar ga sadar malah minum pas melanjutkan perjalanan. Bisa berabe kan..

Singkat cerita, sudah sholat subuh dan perjalanan pun berlanjut. Menyusuri jalanan lurus Jawa Tengah dengan sawah nan hijau di kiri kanan, sebentar saja sang surya sudah terbit dengan warna oranyenya yang memberi nuansa indahnya pagi. Praktis dalam perjalanan lanjutan ini saya 90% melek. Suasana ramai lagi karena radio yang disetel menyiarkan lagu Jawatimuran aneh berjudul “tikus” (kocak parah liriknya).

Purworejo, Jogja, Klaten.. satu per satu terlalui. Dan selepas Tegalgondo, mulai ada anggota yang turun dari bus. Yang pertama adalah Singgih TM’08, rekan yang dari awal duduk di samping saya pas. Di situ saja sudah turun, berarti yang dapat disimpulkan adalah, rumah Singgih sangat jauh dari kota. Berada hampir di batas pojok 3 kabupaten: Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten.

Sebentar saja sudah sampai di Kartasura, salah satu kecamatan paling modern dan strategis di Indonesia (klaim dari saya sih karena kecamatan ini ada di KTP saya.. hehe). Sadis (nama orang, bukan lagunya Afgan!) turun. Di perempatan Kartasura, belok ke kiri ke arah Colomadu. Jalur berbeda dengan biasanya, tidak dilewatkan di depan Patung Batik Kleco (gerbang utama Solo dari barat), karena gantian mengakomodir teman-teman yang rumahnya di Colomadu. Saya sendiri yang biasanya turun di dekat Patung Batik Kleco, kali ini turun di depan PDAM Jajar. Tak apa, tidak begitu jauh. Toh saya dijemput adik saya yang memang mulai hari Sabtu 4 September 2010 sudah libur.

Setelah menunggu sebentar selama 5 menit (harusnya tidak menunggu, tapi adik saya ternyata lupa jalan tembus dari Kleco ke PDAM jajar.. ya sudahlah), adik saya datang menjemput. Nice. Saya pun bisa merasakan lagi udara kota Solo ini. Jam 11 tepat, saya sampai di rumah. Alhamdulillah…