Posted in islami, periodic diary

Hari-H Lebaran


Setelah bangun saya segera menegakkan sholat subuh di masjid Baitul Qorib, masjid dekat rumah. Ba’da Subuh, baca Al-Matsurat sejenak, dilanjutkan dengan sarapan. Memang sudah menjadi sunnah untuk sarapan sebelum sholat sunnah Idul Fitri. Tak berselang lama, saya mandi. Badan semakin segar, plus memakai baju baru (alhamdulillah.. dipakai di hari raya), siaplah sudah untuk berangkat ke tempat sholat Ied.

Saya sekeluarga sholat Ied di jalan dekat rumah (Kuyudan, RT sebelah). Semenjak RT sebelah menggelar tempat sholat Ied, keluarga kami prefer sholat di sana, karena dekat cukup dengan jalan kaki sudah sampai. Tetangga-tetangga RT saya pun prefer sholat di sana dengan alasan yang kurang lebih sama.

Sholat dan khutbah Ied berlangsung lancar-lancar saja. Tapi ada satu hal unik yang saya alami tahun ini. Yakni, tempat sholat saya miring sekitar 5º! Wow, terasa banget kemiringannya karena kondisi jalan yang dipakai memang sebagian sudah rusak, dan karena saya harus menutup shof di depan, jadi kurang beruntung mendapat tempat yang miring. Well, sholat insya Allah tetap khusyuk. Dan sholat di tempat dan kondisi apapun seharusnya memang begitu bukan?

Setelah sholat Ied selesai dan pulang ke rumah dengan jalur yang berbeda, ’tradisi’ keluarga pun mulai berjalan. Tradisi pertama tentu saja sungkeman antaranggota keluarga. Ibu memulai dengan sungkem ke Bapak, lalu saya dan De’Fia sungkem ke Bapak dan Ibu. Suasana yang selalu membuat hati gerimis, benar-benar menyenangkan menikmati momen lebaran seperti ini.

Tradisi kedua adalah silaturahim keliling RT. Ya, dimulai dari keluarga-keluarga di gang rumah saya, kemudian keliling ke gang selanjutnya, saling bersalaman dan memaafkan. Pada lebaran kali ini yang belum mudik sebelum hari-H Idul Fitri ternyata cukup banyak sehingga tradisi kedua ini berlangsung ramai dan (tentu saja) menyenangkan juga.

Tradisi ketiga, setelah selesai silaturahim se-RT dan packaging sejenak, bernagkat mudik ke rumah simbah di desa Baran, kecamatan Cawas, Klaten. Sekeluarga naek mobil kijang coklat menyusuri jalan Solo-Jogja yang lengang, dengan penuh antusiasme bertemu dengan keluarga besar (dari Ibu) di Klaten.

Singkat cerita, sampailah di desa Baran yang hijau lestari menentramkan hati itu.  Sebuah desa permai yang terletak di kecamatan yang juga asal dari Kapolda Jawa Barat. Keluarga besar berkumpul lengkap, kecuali kakak sepupu yang sedang menempuh studi S-2 di Wageningen, Belanda. (Wah, pengen juga nih segera studi di Eropa..). Seperti biasa, mbah kakung (kakek) memberikan wejangan kepada putra dan cucunya, dilnajutkan sungkeman. Kalimat kebiasaan saya waktu sungkem, ”Ngaturaken sugeng riyadi, Mbah. Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan. Kaliyan nyuwun pangestu mugi-mugi saged dados anak ingkang sholeh, pinter, bermanfaat kagem kaluwarga, bangsa, agama” (apa artinya hayo?)

Setelah sungkeman selesai, sekeluarga foto bareng dan ber-Skype ria dengan kakak sepupu yang S2 di Wageningen itu. Wah, di sini sudah selesai sungkeman, di Belanda malah baru jam 5. Masih belum sholat Ied. Next, acara yang paling ditunggu, makan bareng sekeluarga besar!! Yuhui.. dan makanan yang selalu menggoyang lidah dan selalu dirindukan, masakan entog mbah setri (nenek), sambel lombok yang penuh cecek, plus tempe yang benar-benar maknyuzz. Jangan berhenti makan sebelum kenyang lah (Upzz..). Hehe..

Setelah makan bareng selesai, lalu sungkeman ke keluarga (kakak/ adik dari simbah) yang masih satu desa. Sungkeman sampai sekitar jam 11.30 WIB, lalu yang laki-laki segera ke masjid untuk sholat Jum’at. Hmm.. jarang-jarang ya Lebaran jatuh pada hari Jum’at. Ramai dibicarakan apakah masih perlu sholat Jum’at atau tidak. Kalau menurut pikiran saya sih, masa karena ibadah sunnah (sholat Ied) lalu menggugurkan ibadah wajib (sholat Jum’at bagi laki-laki). Wallahu a’lam bisshowab.

Selesai sholat Jum’at, agenda apa ya? Yuhu, sungkeman lagi. Kali ini ke keluarga yang beda desa. Dengan diselingi istirahat mandi sore, sungkeman lagi dan selesailah ’acara’ sungkeman keluarga (dari Ibu) tepat menjelang adzan Maghrib. Saat itu, hujan sudah turun dengan derasnya di desaku. Udara pun terasa lebih sejuk. Seperti hati ini yang menjadi lebih sejuk menikmati suasana Lebaran kali ini.

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

2 thoughts on “Hari-H Lebaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s