Perjalanan Malam-2

(lanjutan dari perjalanan malam-1)

Then, sampai juga di perempatan jalan raya utama. Saking baik hatinya bapak tukang ojek, beliau menunggu sampai aku dapat bus jurusan Solo. Dan memang tak butuh lama, bus itu sudah datang. Aku segera membayar ongkos ojek ke bapaknya dan bergegas masuk ke dalam bus.

Tahukah Kawan, bus yang kutumpangi ini adalah bus legenda. Namanya Sumber Kencono. Legenda? Ya, paling engga dikenal oleh masyarakat sepanjang jalan Jogja-Surabaya seperti itu. Legenda karena kecepatannya yang mengagumkan (tetangga saya pernah naek bus ini Solo-Surabaya hanya 3 jam, padahal kalau naek mobil normalnya 5jam!). Tapi, saking senengnya ngebut, tak terhitung lagi berapa bencana yang ditimbulkannya. Mungkin kalau dikalkulasi, bus ini yang paling sering menimbulkan kecelakaan. Jadi, banyak orang mempelesetkan namanya dengan “Sumber Bencono”.

Sejak masuk di dalam bus, aku langsung excited. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya berada di bus ekonomi supercepat. Bus legenda ini. Benar saja, saat lampu merah padam berganti lampu hijau dan bus ini mulai melaju, percepatannya luar biasa. Percepatan itu dikombinasi dengan kenekatan. Bedakan berani dengan nekat. Nekat itu lebih brutal. Tikungan ke kiri, tikungan ke kanan, menyalip truk, menyalip mobil. Caranya, sensasional! Kalau dalam 100 perjalanan berturut-turut bisa seperti itu tanpa kecelakaan, bolehlah sopir bus ini bersanding dengan Sebastian Vettel di ajang F1. Tapi semua pasti pesimis. Hmm.. enaknya jadi penumpang bus ini, keamanan cukup terjamin. Nah, orang-orang yang di luar sana lah yang harus menanggung dag-dig-dugnya. Tak adil memang kalau sudah berkendara hati-hati tapi tetap tertebas bus ini. Yah, cara aman di jalanan menghadapi bus ini memang hanya dua: perbanyak doa kepada Allah SWT, atau sekalian saja naik bus legenda ini. Dua langkah itu pun kulakukan sekaligus, aku sholat lail di dalam bus (dengan duduk, sholat lail berkecepatan 100 km/jam tu). Alhamdulillah, 1 jam sudah sampai bangjo Kleco, tempatku turun dalam keadaan sehat walafiat dan busnya juga tidak kecelakaan.

Saat turun, aku tersenyum. 1jam.. Ngawi-Kleco. Padahal dengan waktu segitu, aku hanya bisa mencapai Sragen. Emang benar-benar deh mengagumkan kecepatannya. Oya, saat aku di dalam bus tadi, aku mengamati kebanyakan penumpangnya naek untuk menuju Solo, berjualan di pasar. Ibu-ibu menggendong banyak bakul, berangkat dari rumah jam 3 dini hari.. Eh, itu jam mulai naek busnya dink. Entah jam berapa ibu itu mulai menyiapkan dagangannya, lalu berjalan ke jalan besar untuk naek bus. Mengagumkan. Pengorbanan orang tua memang mengagumkan. Sejenak kuteringat lirik lagu bang Iwan Fals, “Ibu” Ribuan kilo jalan yang kautempuh.. Lewati rintangan untuk aku anakmu.. Nice…

Perjalanan malam yang menyenangkan. Mengagumkan. Dan untuk mengakhirinya aku berjalan kaki segenap hati menuju rumah. Tak terasa berat walau kebiasaan dijemput kalau pulang dini hari. Keluarga di rumah menyambut. Subuh, dan perjalanan malam pun berakhir.

Perjalanan Malam-1

Asing. Bangunan-bangunan yang kulihat di sebelah kiri ini benar-benar asing. Padahal seharusnya sedikit banyak aku tahu mengenai tempat ini. Mungkinkah ini karena aku baru saja terbangun dari tidur? Mungkin saja. Sejenak aku menghela nafas panjang. Lalu kucoba cermati lagi bangunan yang terlihat dari jendela kiri ini. Sementara roda besi kereta terus berjalan dan mendengungkan suara yang cukup keras di malam yang sunyi ini.

Ah, astaga! Sekejap kepanikan menyelimutiku. Akhirnya kusadari di daerah mana aku sekarang dan itulah yang membuat suasana serba panik. Aku tak seharusnya masih berada di sini. Stasiun tempatku harusnya berhenti sudah lewat!!

Tergopoh-gopoh kukemas barang-barang bawaanku dan menuju pintu keluar kereta. Tidak mungkin keluar, kereta melaju terlalu kencang. Bahkan saat kereta melaju pelan pun aku tak kan seceroboh itu turun dari kereta. Jadi aku hanya bisa berharap kereta ini berhenti di stasiun terdekat yang masih satu kota dengan stasiun tempatku seharusnya turun. Satu menit lagi lewat stasiun terdekat itu. Berhentilah, kumohon!

Harapanku ternyata tinggal harapan. Bukannya melambatkan laju, kereta masih melaju kencang. Stasiun itu terlewati. Untuk beberapa menit aku terdiam membisu. Beberapa saat kemudian aku hanya bisa mengutuki kecerobohan yang tertidur saat hampir sampai tujuan, juga kesialanku karena handphone yang kubawa untuk komunikasi dan alarm habis baterainya.  Kupandang arah luar kereta. Gelap sekali. Dan aku juga belum pernah sampai sini.

Agaknya kedongkolan membuatku malas kembali ke tempat duduk awal, tempat duduk di mana aku tertidur tadi. Aku pun duduk di dekat pintu kereta, menemani seorang bapak setengah baya yang sedang asyik memandang luar sambil menghisap rokok. Setidaknya bersama bapak ini, aku mendapat teman ngobrol di saat kondisi pasca panik yang membuatku tak bisa tidur lagi.

Bapak itu ternyata sudah hafal stasiun-stasiun tempat kereta ini berhenti. Beliau cukup sering naik kereta yang kutumpangi ini, dan tampaknya kebiasaan beliau menikmati pemandangan dari pintu kereta inilah yang membuatnya hafal, tidak seperti aku yang lebih banyak menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur. Bapak itu akan turun di Stasiun Ngawi, dan ternyata itu stasiun tempat berhenti yang paling dekat dengan stasiun Balapan Solo. Aku pun sudah semestinya juga turun di situ. Huff.. tempat berhenti terdekat saja sudah lain provinsi.

Setelah beberapa saat, laju kereta mulai melambat. Perlambatan karena di rem, kereta segera berhenti, dan kutahu berarti ini sudah sampai Stasiun Ngawi. Sesuai petunjuk bapak tadi, untuk menuju ke Solo lagi, aku butuh naik ojek atau bisa juga bus kecil -kalau sudah ada yang lewat- sampai perempatan jalan raya utama, baru lanjut naik bus jurusan Solo. Oke lah, pertemuanku dengan bapak yang baik itu sampai di sini. Beliau segera pulang naek motor. Sedangkan aku naek ojek karena belum ada bus kecil yang lewat.

Saat naek ojek ini sebenarnya saya cukup khawatir. Maklum, dini hari sekitar jam 02.30. Sepi. Hanya saya dan pak ojeknya yang melintasi jalan kecil penghubung stasiun-jalan raya utama. Tak ada lampu di pinggir jalan. Suara tonggeret bersahutan. Di langit hanya sedikit bintang yang tampak, tapi entah mengapa ada juga semburat cerah entah berasal dari mana.

Saat jalanan sedikit menikung, dari dekat pohon randu muncul sesosok bayangan, bayangan hitam! (yaeyalah, mana ada bayangan pink.. ngaksi bener bayangannya..). Bayangan itu muncul di malam yang tanpa lampu jalan dan minim bintang! Nah lho.. Mencekam ga tuh…  Engga lah! Bayangan itu nyata-nyata adalah bayangan randu disebabkan si randunya terkena sorot lampu sepeda motor. Oww..