Arsip Harian: Maret 20, 2011

The Beauty of Supermoon

Kemarin (Sabtu 19 Maret 2011), ada satu kejadian unik yang mungkin akan dikenang di tahun ini. Kejadian itu adalah Supermoon, fenomena bulan yang berada di titik terdekat dengan bumi, sehingga terlihat lebih besar dari biasanya. Menariknya, fenomena kali ini terjadi dekat dengan waktu bulan purnama sehingga keindahan yang terlihat pun tampak utuh. Dalam istilah resmi ilmiah (astronomi) sebenarnya disebut lunar perigee, sedang istilah Supermoon berasal dari ilmu khayal astrologi. Tapi mungkin karena terdengar lebih keren ya, jadi kebanyakan lebih suka menyebut dengan Supermoon (secara gabungan Superman dan Sailormoon gitu.. haha).

Menurut kalangan astrolog, kejadian supermoon berkaitan dengan bencana alam dan badai, mungkin pula tsunami. Hmm,, jangan percaya karena efeknya sebenarnya sangat kecil, paling cuma efek pasang surut air laut (menurut astronom lho). Dan tak perlu bicara tsunami lagi,, sebaiknya sama-sama menikmati keindahan bulan, mengagumi keagungan Allah SWT, dan berdoa untuk semua yang terkena musibah di berbagai belahan dunia.. Bersama di balik keindahan Supermoon, baik yang bisa menyaksikan secara langsung atau yang hanya bisa menikmati dari foto-fotonya seperti saya ini..

Ini yang (katanya) terlihat di Indonesia (Ambon)

Belajar jadi ahli trafik-2

Setelah ada pengantar mengenai trafik telekomunikasi di tulisan sebelumnya,, kira-kira apa saja ya yang dipelajari di rekayasa trafik?

Nih, ada gambaran dikit, dari soal UTS kemarin beberapa hari kemarin. Bahasa soalnya asyik kok, ga langsung bikin tegang seperti mata kuliah lain,, coba cek seberapa asyik… hoho…

Bantulah suatu operator telekomunikasi (wow, unik kan, prakata soalnya aja pake “bantulah operator telekomunikasi”) yang mempunyai 350.000 pelanggan untuk memperkirakan pendapatan perusahaan dari layanan teleponnya (konkret kan,, seperti sudah menghitung di kehidupan sehari-hari). Tarif rata-rata telepon= Rp 2,5 tiap detik. Calling rate pada 15 menit waktu pengukuran adalah 36.000 call. Maximum busy hour-switching traffic intensity= 2000 erlang.

Gimana hitungnya?

Nah, walaupun ada rumus simple untuk mengerjakan itu, tapi ternyata ga dangkal juga cara ngerjainnya. Harus dicermati dulu antara intensitas dan volume trafik. Kalau hubungannya dengan kapasitas jaringan (jumlah server, buffer, jumlah kanal) maka dipakailah intensitas seperti tercantum dalam soal. Sedangkan bila berhubungan dengan revenue (pendapatan) perusahaan, maka dipakailah volume trafik. Intensitas 2000 erlang dikalikan detik dulu untuk jadi volume trafik. Simple, tapi kalau terkecoh, jawabannya bisa benar-benar berbeda.

Nah, karena yang ditanya dalam soal adalah tentang pendapatan perusahaan, maka yang dibutuhkan adalah volume trafik. Volume trafik pada 1 jam sibuk = 2000 erlang x 60 x 60 detik = 7.200.000 detik. Bisa dicari penghasilan dalam 1 jam sibuk = 7.200.000 detik x Rp 2,5/detik = Rp 18.000.000,00. Wow, 18 juta dalam 1 jam. Nah, berapa penghasilan sebulan atau setahun? Tinggal dikali 30 atau dikali 365-kah? Ternyata tidak. Karena di sini tidak diketahui volume trafik pada jam yang tidak sibuk, jadi tak bisa dihitung total untuk sebulan atau setahun. Perlu data lebih banyak lagi.

Yeah, begitulah sepintas belajar rekayasa trafik telekomunikasi. Terlihat sederhana, tapi bisa mengecoh. Gapapa terkecoh dikit saat belajar, asal ntar waktu kerja udah benar-benar expert. Oya, angka yang dihasilkan juga cukup besar kan… Itu hanya dari telpon dengan sampel waktu dan pelanggan seuprit lho, belum juga dari layanan sms dan internet. Itulah mengapa perusahaan telekomunikasi jaya. And that’s why telecommunication traffic engineering enjoyable.. It’s concrete.. 🙂

Belajar jadi Ahli Trafik yuk..

Semester keenam belajar di kampus Ganesha ini, dapat satu mata kuliah yang asyik dan banyak faedahnya nih.. Oke, sebenarnya banyak mata kuliah yang asyik dan penting sih, tapi mata kuliah ini selalu dinanti oleh para mahasiswa yang mengambilnya. Tak lain tak bukan adalah Rekayasa Trafik Telekomunikasi..

Rekayasa Trafik,, waduh gimana tuh? Hmm.. kesan-kesan awal nan ribet cenderung muncul kalo ada kata “Rekayasa”. Tapi itulah letak kehidupan anak teknik, hal-hal mengenai rekayasa. Dan rekayasa yang dilakukan di sini mengenai trafik, tentu saja bukan trafik lalu lintas (iyalah, emang polisi dan DLLAJ), melainkan trafik telekomunikasi. Walau dalam konteks yang berbeda trafiknya, tapi trafik telekomunikasi (mencakup call dan data) tetap bisa dipahami laiknya trafik lalu lintas. Kalau lancar, berarti kualitasnya bagus, otomatis banyak pengguna yang puas. Sebaliknya jika macet, siap-siap saja dengan gerutu dan komplain. Nah, di rekayasa trafik telekomunikasi, adanya trafik (macet/lancar), gimana kapasitas sistem (gampangnya kalau di lalu lintas, jalannya lebar/sempit, kondisinya bagus/jelek) dan kualitas layanan (oke/bikin bete), dihubungkan dan dibuat gimana caranya biar bisa merencanakan jaringan secara optimal.

Then, mengapa jadi ahli trafik itu penting? Jawabannya, karena ilmu ini dekat/ berhubungan langsung dengan pengguna/pelanggan, dan hubungan itu bukanlah dalam hal teknis tapi dari sisi kepuasan. Nah, tau sendiri kan kalo di era yang sering disebut “globalisasi” (weleh, apaan tuh) ini, makin banyak pengguna telepon seluler dan internet. Makin sibuk tu trafik data dan call. Nah, kalau tidak termanage dengan baik, bisa banyak komplain dari para pelanggan. Ga masalah kalau si pelanggan kalem-kalem aja. Lah kalau pelanggannya galau? Eh, maksudnya kalau pelanggannya kritis? Kalau Anda bekerja di perusahaan telekomunikasi yang kompetisinya sangat ketat, pelanggan tersebut sangat mungkin meninggalkan jasa perusahaan Anda. Profit terancam berkurang kan. Sangat berkurang bahkan kalau pelanggan yang out banyak. Padahal katanya kan 2 orientasi terpenting perusahaan adalah 2 ini: PROFIT UANG dan KEPUASAN PELANGGAN.

Untuk masalah karir, jadi ahli trafik bisa bikin perusahaan Anda cenderung tak memindah-mindah tempat kerja, lho. Misal jago ahli trafik dan daerah analisis Jadebotabek, hampir pasti Anda akan terus menikmati suasana ibukota Jakarta, tidak khawatir pindah tugas ke luar kota, luar provinsi, apalagi luar pulau Jawa. Terlebih emang masih sedikit jumlah ahli trafik di Indonesia. Begitu kata dosen saya.

So, jadi ahli trafik,, kenapa tidak?