Diposkan pada embun

El Pep’s Philosophy…


Yah, kembali menulis tentang sepakbola. Sepakbola memang menyenangkan dan penuh makna. Saya tak kan menulis tentang seseorang berinisial NH (tentu saja) karena mungkin semua sudah jenuh akan “kejahatannya” pada sepakbola nasional. Lebih baik saya menulis mengenai satu sosok sepakbola yang patut untuk dicontoh, sang juara sejati…

Siapakah dia? Yuph, Josep Guardiola. Eks kapten dan sekarang pelatih tim sepakbola terbaik saat ini, FC Barcelona. Biasa dipanggil PEP. Pria kalem nan berkarisma ini sikap dan kata-katanya punya banyak makna atau filosofi indah. Itulah mengapa saya beri judul tulisan ini “El Pep’s Philosophy”.

***

Pertengahan 2008, publik kaget dengan penunjukan Pep sebagai pelatih kepala FC Barcelona. Sekalipun ia pernah jadi kapten tim semasa jadi pemain, tapi pengalaman melatih yang sangat minim membuatnya banyak diragukan bisa sukses, apalagi terhadap tekanan melatih di klub besar. Menghadapi tekanan untuk meraih gelar juara dan anggapan remeh berbagai pihak, Pep dengan tenang berkata, “Saya tidak menjanjikan gelar juara. Tapi saya menjanjikan tim saya akan berjuang keras sampai akhir dan Anda akan bangga terhadap kami.”

Cermati apa yang pertama ia ucapkan, bukan janji-janji manis, tapi komitmen untuk berjuang keras.

Kehidupan baru Pep sebagai pelatih di Barcelona pun dimulai. Ia mencermati beberapa pemain yang berpotensi menganggu internal tim dan memilih untuk melepasnya. Termasuk di dalamnya adalah Ronaldinho dan Deco. Dua bintang besar, tapi punya egoisme tinggi dan cenderung suka pesta pora. Apa yang bisa diambil pelajaran? Sekalipun Anda punya hal besar, tapi Anda tahu itu akan melenakan atau mengganggu (berefek negatif), jangan ragu untuk membuangnya.

Sebagai ganti mereka, diorbitkanlah pemain-pemain yang dibinanya selama 1 tahun di Barcelona B. Plus tetap mempercayakan anak-anak muda La Masia untuk jadi tulang punggung tim. Dalam deretan ini, ada nama Pedro Rodriguez, Sergio Busquets, Jeffren Suarez, Bojan Krkic, Gerard Pique dan tentunya sang megabintang Lionel Messi. Poin untuk percaya dan teruskan apa yang sudah diperjuangkan sangatlah penting.

Selain anak-anak muda nan enerjik dan berbakat, regenerasi tidak melupakan “pemain tua”. Pengalaman pada diri Carles Puyol, Xavi Hernandez, Eric Abidal dan Victor Valdes penting untuk menjaga keseimbangan tim dan menularkan ilmunya, terutama dalam mental bertanding. Jangan melulu percaya bakat, timbalah ilmu dan pengalaman.

Kondisi internal sudah oke. Rasa kekeluargaan mulai muncul. Latihan terus ke tahap optimal. Sekarang menuju pertandingan. Ada hal unik dari cara Pep memberi semangat timnya di ruang ganti sebelum pertandingan. Diputarnya video “Gladiator” yang intinya, mereka harus jadi penguasa permainan. Tidak semestinya mengikuti pola permainan lawan. Be yourself, mainkan peran Anda, kuasai permainan dan Anda akan punya kesempatan jauh lebih besar untuk menang.

Kemudian sikap di dalam lapangan. Setelah menguasai permainan dan bisa mencetak gol, jangan lekas berpuas diri. Pep selalu mengatakan “anggap saja skor masih 0-0” saat timnya sudah unggul, untuk menjaga antusiasme dan konsentrasi mengejar kemenangan. Begitu sebaliknya saat kondisi tim sedang rawan. Bisa tertinggal atau dirugikan keputusan wasit. Jangan lekas mengeluh, menyalahkan apalagi putus asa. Pernah Barcelona sedang dalam posisi tertinggal, waktu pertandingan tinggal sedikit plus 1 pemain terkena kartu merah kontroversial. Pep menenangkan skuadnya. Everyone has mistakes. Tak perlu buang energi untuk protes keras, stay calm, dan berikan yang terbaik di waktu tersisa. Dan benarlah, dengan gol dramatis Barcelona bisa membalikkan keadaan dan menggenggam tiket final.

Ketika memenangkan pertandingan, Pep buru-buru menjaga timnya agar tidak jumawa. Berapapun skor yang dibuat, evaluasi tetap dilakukan. Dan ketika media menyambut, Pep selalu mengatakan kemenangan tak semudah yang terlihat di papan skor, kami menang susah payah. Yah, memang penting untuk tidak jumawa saat menang.

Sebaliknya, saat mengalami kekalahan, Pep meminta skuadnya untuk tidak mencari kambing hitam. Jangan pernah salahkan cedera pemain, kesalahan wasit, kondisi lapangan,dll. Kita kalah, ya kalah. Tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari alasan pembelaan saat kalah. Mari berusaha lagi, berlatih lagi dan kita raih kemenangan esok hari.

Dengan bekal-bekal usaha dan sikap positif di atas, El Pep’s Team berhasil menyapu bersih gelar juara di tahun pertama! EXTRAORDINARY STARTER!! AWESOME PLAY!! SUPER CHAMPIONS!!

Hampir tiga tahun kepemimpinan Pep di Barcelona. Total sudah delapan trofi digenggam, dan masih ada peluang mendapat 6 trofi lagi tahun ini. Toh, tim Pep masih sering disebut punya permainan sepakbola terbaik.

***

Beberapa minggu yang lalu, seorang wartawan mewawancarai Pep

“Hai Pep,sikap Anda sepertinya dikagumi banyak orang dan jarang mendapat kritikan. Apa tanggapan Anda?”

Pep pun menjawab sambil tersenyum, “Hmm.. mungkin karena saat ini kami menang. Kita lihat saja apa reaksi orang ketika kami kalah.”

Hmm.. yuhu.. seperti tersindir juga. Kebanyakan turut mengagumi saat orang lain menang, tapi turut memaki juga saat  kalah. Well, baiknya apa yang membuat kekalahan disikapi untuk evaluasi, apa yang membuat kemenangan bisa ditiru untuk perkembangan diri. Siip lah…

#danmasihterusbelajar

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

4 tanggapan untuk “El Pep’s Philosophy…

  1. Nah..aku idem mas Rizki..ojo mikir bal2an ae..ujian mid semestermu bagaimana>? Plan Krja Prakteknya dah seperti apa? dah semseter 6 kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s