Posted in jalan-jalan

Tour de Subang


Cerita jalan-jalan lagi.. Touring yang saya jalani 2 minggu lalu, Sabtu 19 Maret 2011. Backgroundnya ni sama teman-teman mau ngadem dulu sebelum bersiap menjalani minggu ke-2 UTS. Refresh sejenak..

**

Sabtu pagi kami sudah berkumpul di depan gedung perpustakaan kampus, gedung yang dulu pernah berbentuk sepeti toilet tapi sekarang sudah megah selepas renovasi, jadi biasa disebut “toilet futuristic” (Haha..). Sudah ada lima orang elektroteknik 2008 yang datang, saya, Andry, Zaldy, Lorenz dan Enrico. Masih menunggu satu orang lagi, si juru kamera Bagus yang tak kunjung datang. Sambil menunggu, kami sarapan dulu bubur ayam di belakang kampus.  Selesai makan, eh Bagus tak kunjung datang (ternyata masih ketiduran.. wah..), so berangkat jadinya berlima saja.

Rute yang akan kami lewati menuju Subang tidak lewat rute normal (Setiabudi- Lembang- Ciater- Jalan Cagak- Subang), melainkan mau lewat jalan yang membelah gunung dan perbukitan. Biar lebih seru dan lebih ngadem.. hehe..  Well then, dari kampus langsung menyusuri Ciumbeleuit dan naek ke daerah Punclut. Punclut nih kalau malam hari pemandangannya bagus banget, semacam bukit bintang lah.. tapi karena ini pagi hari,, ya.. terasa biasa saja tanpa kedip cahaya lampu kota Bandung. Dari Punclut naek lagi, dan sensasi kesejukan khas perbukitan dan perkebunan mulai terasa. Segaar…

Di pertengahan jalan antara Punclut- Panorama Lembang tersebut, mulai mendapati kesulitan tanjakan, di mana kami berhenti untuk pertama kali. Pemandangan dari tempat berhenti tersebut seharusnya sangat indah, saying kabut menutupi sehingga tidak begitu jelas. Yawda, lanjut saja perjalanannya. Sesaat kemudian, terlihatlah teropong masyhur Boscha di seberang bukit. Wow, exciting

Jalan aspal nan mulus sejenak kami tinggalkan. Kami memlilih menyusuri jalan tipe adventure untuk menikmati keindahan “The Rocks” di situ. Apa itu “The Rocks”? Yah, ini nama yang saya sebut sendiri, ga tau sebenarnya nama bukitnya apa, tapi tebing yang terbuat begitu mengagumkan. Kami berhenti dan menaiki bukit tersebut. Dan tentu di tempat bagus gini, hal yang kepikiran adalah: foto-foto (haha.. narsis). Dan kamera, siap.. bergaya.. Ah, lupa. Bagus ga ikut kan berarti pula ga ada kamera SLR dan juru foto handal. Yah… Dari “The Rocks”, kami menjumpai jalan aspal lagi. Jalan mulus menuju Maribaya, jalan yang nantinya akan sangat kami rindukan sampai beberapa jam lamanya.

Selepas Maribaya ini kami merasakan bagaimana kami harus mengeluarkan effort demi keindahan pemandangan. Oke, hamparan perkebunan, udara sejuk pegunungan, kicau damai burung-burung, semilir lembut sang angin, berpadu bersama birunya sang langit menciptakan ketentraman nan selalu didamba hati. Tapi percayalah, hanya badan bagai atas (dari mata sampai hati) yang merasakan tanda keagungan Allah SWT tersebut. Sementara bagian bawah, astaghfirullah, jalanan berbatu yang cocoknya ditempuh dengan berjalan kaki, kami lalui dengan ajeb-ajeb di atas sepeda motor. Guncangan-guncangan tiada henti yang mengingatkan kalau jenis motor kami adalah “motor bebek” dan “motor matic”, yang jelas bukan jenis motor offroad. Di tengah perjalanan, kami bertemu warga dan niscaya beliau telah menghidupkan music rock itu dengan berkata, “Dari jalan aspal, masih 3 jam lagi kalau naek sepeda motor.” Weww!! Unbelievable!! Let’s rock!!

Melewati gunung, melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman, bertualang..

Petikan lagu Ninja Hattori tadi sepertinya telah menggambarkan arena adventure kami. Jalanan menanjak, turunan tajam, melewati jalanan becek seperti sungai, berpetualang. Offroad ria.

Oya, di sana kami sempat melewati 1 desa, yang masya Allah apa yang bisa dikatakan selain terpencil. Masa sih jarak desa tersebut 18 km dari jalan aspal terdekat (padahal jalan aspalnya juga bukan jalan raya utama). Hanya sekali truk pp untuk mengantar pasokan barang atau makanan. Wew.. Padahal desa ini bisa dibilang cukup subur dan indah. Padi yang menguning, air yang begitu jernih..  Dan untungnya sudah ada sekolah dan listrik di desa itu,,, terpencil tapi tak begitu jauh dari peradaban, toh sinyal juga sudah sampai situ..

Nuansa asri dari desa tersebut membuat kami lebih bersemangat menjalani adventure yang cruel but exciting ini. Tentu sebelum tersadar kalau jarak 18 km itu ternyata sangat jauh untuk ukuran jalan berbatu gini (kalau jalan aspal mah terasa ga begitu jauh). Beberapa kali kami berhenti. Mereduksi capek dulu sambil menikmati suasana pegunungan.

Huff… Aspal, meskipun engkau hitam legam dan selalu dilindas, tapi percayalah engkau sedang dirindukan… Damn..

Perjalanan dilanjutkan lagi. Ajeb-ajeb lagi. Dan pencarian jalan aspal itu masih sekitar satu jam lagi, sampai di ambang putus asa. But, the show must go on! This is the sense of adventure..

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s