Arsip Bulanan: April 2011

Kembali ke Rutinitas Praktikum

Praktikum telah menjadi “teman” kuliah sejak masa TPB (tahap persiapan bersama). Tapi saat itu masih santai, toh di hari praktikum, hanya itu saja, tak ada kuliah lain. Tugas pendahuluan, test awal, test akhir dan laporan pun relatif tidak ribet. Memasuki tahun kedua, setelah masuk area elektroteknik, intensitas meningkat. Tingkat disiplin dan keribetan pengerjaan tugas mulai terasa, apalagi jadwal praktikum dan deadline laporannya beriringan dengan jadwal kuliah pada hari itu. Mesti pintar-pintar membagi waktu, walau probabilitas mahasiswa “terpaksa” atau “memang mencari” pengalaman bolos satu kuliah untuk mengerjakan laporan praktikum lumayan juga.

Nah, di tahun ketiga, masuk nih yang namanya Praktikum Teknik Telekomunikasi (PTT 1). Praktikum yang bakal benar-benar mengasah skill sebagai telecommunication engineer. Tentulah dituntut meraih hasil semaksimal mungkin agar bisa menguasai teori dan praktik dari apa yang paling kami (mahasiswa jurusan telekomunikasi) cari di ITB. Untuk semester kemarin sih (PTT 1) berjalan cukup lancar. Tapi kondisi yang cukup membuat ribet terjadi di semester 6 ini, untuk PTT 2.

Entah karena alasan apa, jadwal PTT 2 ini baru dirilis setelah UTS 1, alias hanya punya waktu selang sedikit terhadap UAS. Imbasnya, 1 minggu bisa berkali-kali praktikum. Termasuk kelompok saya yang punya jadwal default paling freak (seminggu 4x dan berturut-turut, Senin sampai Kamis). Rutinitas praktikum pun dimulai lagi. Di balik rutinitas itu, ada hal-hal unik yang tercatat, hal yang menjadi umum ketika rutinitas itu melanda. Apakah itu? check this out!

1. Memakai kemeja ke kampus

Sudah bukan rahasia lagi kalau ITB dengan asyiknya memperbolehkan mahasiswa memakai kaos saat kuliah. Tapi untuk praktikum, memakai kemeja adalah suatu keharusan. So, yang biasa terlihat santai jadi terlihat rapi hari itu. Ya disyukuri saja untuk yang cakep, jadi cakep dan rapi saat itu (emang siapa yang cakep?)

2. Tukar jadwal praktikum

Karena jadwal praktikum yang rilis telat sehingga banyak yang bertabrakan dengan jadwal kuliah tertentu, maka banyak yang ingin tukar jadwal. Interaksi antarmahasiswa pun meningkat. Yah, harus berharap banyak pada kesediaan teman yang mau menggantikan, karena terkadang ada yang menolak tukar jadwal dengan alasan ini lah itu lah… Tapi pada dasarnya, tukar jadwal ga sebegitu ribet sih.

3. Lembur melapor

Laporan praktikum normalnya harus sudah terkumpul sehari selepas praktikum. Karena kemampuan analisis dan kelihaian menyampaika report adalah hal terpenting dari seorang engineer, maka mahasiswa pun sebisa mungkin membuat laporan terbaik. Imbasnya, sampai harus lembur karena analisis ya ga semudah membalik telapak tangan. Yah, nikmati saja karena lembur dan melapor memang bukan milik hansip semata.

4. Keluhan 1 SKS

Ya, inilah ketidakadilan yang sedikit banyak terasa dari nilai SKS praktikum di elektroteknik. Dengan urgensi, manfaat dan penggunaan waktu, tidaklah adil dan pas jika praktikum hanya berbobot 1 SKS!! Sederhananya begini, 1 SKS berarti 1 jam kuliah, 1 jam responsi dan 1 jam belajar mandiri. Anggap jam kuliah dan responsi sudah terwakili dalam 2 jam waktu praktik, sedangkan 1 jam belajar mandiri telah tuntas saat mengerjakan tugas pendahuluan dan mempelajari modul. Karena setelah itu masih harus ribet ria dengan laporan, ditempatkan di mana waktu pengerjaan laporan tsb? Yah, ada yang berpendapat seharusnya SKS ditambah, ada yang berpikiran berarti laporan praktikum sudah ga urgent lagi karena sudah di luar 1 SKS. Well, konon inilah ketidakadilan 1 SKS. Keluhan 1 SKS.

5. Surat-surat bertebaran

Oh, jangan dahulu membayangkan ini surat dengan amplop dan perangko yang tercecer bertebaran. Surat yang dimaksud di sini adalah surat elektronik (email) yang bertebaran di dunia maya, baik PM masing-masing mahasiswa atau di grup jejaring sosial. Apa yang diharapkan? Tentu saja jawaban tugas pendahuluan yang bejibun banyaknya dan (kalau bisa) master analisis praktikum. Hehe. Inilah yang memunculkan istilah “bursa transfer telekomunikasi”. Dan semua kan bersorak saat sudah ada post, “cek kulkas gan!”.

6. The Ashr Runner

Pelari di waktu Ashar, karena deadline laporan adalah jam 4 sore. Jadi, kalau ada yang buru-buru menuju lab telematika dan lab radar di jam-jam Ashar, yah kemungkinan besar mereka. Mengejar deadline! Yeah!

Apa lagi ya keunikan-keunikan dalam rutinitas praktikum telekom? Hmm… mungkin masih banyak. Yang jelas rutinitas ini harus dinikmati, dibuat seasyik mungkin.. untuk target semaksimal mungkin…

Come On!

#danmasihterusbelajar

Serat Optik-2 (di Indonesia)

Setelah menulis sedikit tentang sejarah dan kegunaan serat optik di tulisan satu, di topik asyik serat optik berikutnya kita akan membahas mengenai serat optik di Indonesia. Bagaimanakah perkembangan serat optik di Indonesia! Ok, check this out!

Tersebutlah pada suatu masa, mahapatih kenamaan Gajah Mada menyatakan sumpah, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Pulau Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.”

Sumpah itu masyhur. Namanya Sumpah Palapa. Dan tekad untuk menyatukan nusantara itu terus diusung sampai sekarang, di kala teknologi telah menjadi nama era ini. Satelit dan jaringan serat optik, yang bisa “menyatukan” nusantara diberi nama serupa, Palapa.

Oke, karena tulisan ini tentang serat optik, maka cukup kita bahas mengenai PALAPA RING, proyek pembangunan jaringan serat optik yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, sedangkan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer. Jika pembangunan wilayah timur yang sudah dimulai sejak 2009 selesai, tiap ibukota 440 kabupaten/kota akan terhubung via serat optik yang notabene jalur telekomunikasi paling efisien. Artinya, jika proyek ini tuntas, nusantara akan “bersatu”.

Rencana pemerintah, Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Tujuannya ini nih: membuat sambungan jarak jauh yang mudah & murah, penetrasi jaringan telpon dan internet, membangun infrastruktur fundamental jaringan komunikasi, dan mengatasi kesenjangan info antardaerah. Mantap kan?

Mau tau biaya pembangunan serat optik dengan total panjang  35280 km (di laut) dan 20737 km (di darat) ini? mencapai $ 1517 miliar atau setara dengan 13653 triliun Rupiah. Wow, jumlah yang sangat besar! Uniknya, dana sebesar itu tak masuk dalam APBN. Bukannya mempersilakan APBN dipakai untuk membangun gedung baru DPR yang ga jelas itu, tapi karena sudah kuatnya konsorsium operator telekomunikasi Indonesia sehingga bisa menyokong investasi ini.

Dengar-dengar nih ya, sekarang jaringan yang sudah terbangun mencapai 15000 km. Sudah sangat panjang, tapi masih kurang banyak dari target. Walaupun sudah melalui studi kelayakan untuk mencapai desain optimum dan perkiraan trafik telekomunikasi di masa depan, yang namanya hambatan pasti ada. Apalagi untuk proyek sebesar ini. Mulai dari hambatan alam seperti wilayah timur Indonesia yang sangat sangat luas dan kondisinya berupa ribuan kepulauan, sampai pada hambatan institusional macam keterbatasan vendor penyedia kapal (untuk masang serat optik bawah laut), mundurnya 1 anggota konsorsium sampai SK menteri dalam negeri yang menghentikan sementara proyek ini.

Apapun masalahnya, semoga saja cepat teratasi. Boleh kita berharap selesai tepat waktu target (2013) atau malah lebih cepat dari itu mengingat begitu banyaknya manfaat Palapa Ring ini. Berdoa semoga proyek ini lancar, dan sambil menunggu manfaatkan sebaik mungkin fasilitas komunikasi yang sudah ada saat ini (terlebih untuk kita yang kebetulan tinggal di Indonesia bagian barat. Banyak saudara kita di Indonesia timur yang bahkan masih menunggu jaringan telepon dan internet, pren!). Saya sendiri juga baru berusaha untuk mempelajari lebih dalam mengenai serat optik, sehingga kalau Palapa Ring jadi, dan menghadapi kemungkinan mengalami beberapa gangguan nantinya, saya bisa menjadi salah satu ahli yang bisa memberikan solusi. Amin.

Dan bersatulah nusantara! Dan berjuanglah untuk jadi nomor satu, Indonesia!

#danmasihterusbelajar

Lirik-Lirik Sang Pemimpi (2)

Intro postingan ini kurang lebih sama dengan postingan lirik sang pemimpi yang pertama.

Hmm.. untuk lirik bermakna dalam selanjutnya, mungkin bisa dimulai dengan refresh lirik lagu utama dulu deh.. 🙂

Sang Pemimpi

sambut hari baru di depanmu
sang pemimpi siap untuk melangkah
beri tanganku jika kau ragu
bila terjatuh ku kan menjaga

kita telah berjanji bersama
taklukkan dunia ini
menghadapi segala tantangan bersama
mengejar mimpi-mimpi

berteriaklah hai sang pemimpi
kita takkan berhenti di sini

kita telah berjanji bersama
taklukkan dunia ini
menghadapi segala tantangan bersama

reff:
bersyukurlah pada yang maha kuasa
hargailah orang-orang yang menyayangimu
yang selalu ada setia di sisimu

siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu
dan semua yang kau impikan
tegarlah sang pemimpi

berteriaklah hai sang pemimpi
kita takkan berhenti di sini

kita telah berjanji bersama
taklukkan dunia ini
menghadapi segala tantangan bersama

Teruslah Bermimpi

Apa yang kau takutkan
Dengan semua ini
Bukankah kesedihan
Sering kita alami
Keadaan ini
Buat kita terbiasa

Dengarkan ku bicara
Teruslah bermimpi
Walau kenyataannya jauh berbeda
Teruslah bermimpi
Jangan berhenti

*
Percayalah
Lelah ini hanya sebentar saja
Jangan menyerah
Walaupun tak mudah meraihnya

Menghentikan pikiran dengan mata terpejam
Menunggu malam bisa hapus kenyataan
Biar saja mimpi jauh membawa kita

**
Tetap tersenyumlah
Biar semakin mudah
Karena kesedihan pun
Ternyata hanya sementara

Para Pemimpi

Hey para pemimpi
Tak perlu terseret pelangi yang lesap pergi
Terus saja menggosok hati
Agar dapat mengkilap diajak berlari lagi

Hey para pemimpi
Tanah ini bisa kering akan janji
Tapi jangan sampai ada kata tak jadi
Sebab ada satu yang jernih dan pasti

(#)
Hey hidup itu sederhana
Berani bermimpi lalu mewujudkannya
Hidup itu sederhana
Menggerakkan arang jadi intan permata

Hey para pemimpi
Buang rengekanmu dan caci maki
Bersihkanlah saja jati diri
Biar bisa gagah menunggangi hari

Hey para pemimpi
Walau harapan boleh hitam dan mati
Tapi itu bukanlah titik henti
Karena ada satu yang jernih dan pasti

Hey Para Pemimpi, Sang Pemimpi, Teruslah Bermimpi dan Berusalah tuk Mewujudkannya!!!

YES, WE CAN RUN….

Lirik-Lirik Sang Pemimpi (1)

Masih ingat dengan “Sang Pemimpi”, kawan? Novel best seller yang juga diangkat ke layar lebar dengan kesuksesan yang tak kalah besarnya.

Dapat pelajaran atau hikmah apa dari film tersebut? Tentu banyak sekali ya. Intinya (menurut saya), beranilah dan teruslah bermimpi karena suatu saat Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

Nah, yang namanya film layar lebar kan ada OST (Original Soundtracknya) ya.. Saya dulu taunya OST Sang Pemimpi yah cuma ‘yang paling resmi’ dibawakan oleh Gigi (Sang Pemimpi) dan lagu ciptaan sang novelis Andrea Hirata yang dinyanyikan Ungu (Cinta Gila). Ternyata masih banyak toh (sealbum..) dan semuanya punya lirik dengan makna mendalam. Very nice untuk menemani belajar. Nah inilah lirik-lirik Sang Pemimpi yang indah tapi saya baru tahu itu.. hehe..

Mengejar Mimpi

Memang tak mudah untuk mengejar mimpi
Bila keteguhan tak ada di jiwa
Tetap tersenyum dan berdoa kepada-Nya

Setinggi apa cita dan mimpimu
Yakinlah bahwa kau bisa meraih
Dunia menunggu suara kemenanganmu

(#)
Jelajahi… keindahan yang menjelma di hidupmu
Suara hati.. senantiasa kan berbunyi
Jadikan semangat tuk bermimpi

Mengejar Mimpi ..

Tetaplah Berdiri

Sang pemimpi terus berlari
Mencari arti yang dinanti
Ranah indah jauh di sana
Seakan itu tak kan terdulang

Biar cahaya terang menyinari ruang mimpi
Mimpi..

(#)
Tersenyumlah dalam langkah
Bulatkan hati demi mimpi
Jangan pernah rasa lelah
Mengejar mimpi yang kita nanti
Tetaplah Berdiri

Tahan lelah terdiam gerah
Menghadapi makna kehidupan
Ranah indah jauh di sana
Seakan itu tak kan terdulang

Ini Mimpiku

Aku berada di tengah keramaian orang orang
yang sibuk mengejar mimpinya…
aku melihat indahnya dunia
di kota kota yang berbeda nyata sekali…

ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini mimpiku…

aku percaya didalam hidupku kan ada mimpi yang Tuhan ijinkan terjadi
manis airmata pengorbananku
takkan pernah membuatku berhenti Percaya….

ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini hidupku..
semangatku juga karena semua yang kucinta…
aku masih sanggup tuk trus berjalan…

ini mimpiku
ini mimpiku
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti

ini hidupku
yang kuyakin terjadi
ini mimpiku

==

Bagus ya liriknya.. untuk versi mp3nya, download sendiri aja ya.. ^^

Belajar dari Dekan Termuda

Tidak banyak orang yang bisa menduduki posisi akademis strategis dalam waktu sangat singkat. Terlebih di perguruan tinggi negeri, dan perguruan tinggi tersebut merupakan salah satu dari trio best Indonesia. Itulah mengapa ketika seorang menjadi dekan, menjadi guru besar, dan mungkin merintis jadi rektor, dalam usia muda, patutlah apresiasi tinggi kita berikan. Dan kita bisa belajar dari seorang Dekan Termuda, yang akan saya ceritakan ini.

Yah, mengingat “belajar” pasti Sabtu malam (malam Minggu) merupakan waktu yang dianggap paling tidak cocok untuk melakukannya. Konon begitulah yang banyak diamini oleh orang-orang. Tak terkecuali saya, terlebih di weekend selepas UTS.  Sambil bersiap bersantap malam, posisi sudah di depan TV untuk menikmati hiburannya. Kali ini ditemani sahabat yang juga guru besar saya saat SMA, Arif Prasetiya. Tentu di sini dia pure sebagai teman ngobrol, bukan teman belajar. Haha..

Channel TV yang kami tonton waktu itu adalah TVO*e, TV yang belakangan banyak yang sensi karena terlalu mendukung si NH (tau sendiri lah). Untung acaranya bukan dukungan terhadap NH, melainkan acara yang dipandu Alfito Deannova (orang news yang saya kagumi selain Andy F. Noya dan Azrul Ananda). Lupa judul acaranya, yang jelas mengenai tokoh-tokoh yang bisa dijadikan teladan. Dan tokoh yang jadi narasumber kali ini adalah Prof Firmanzah, Ph.D. , dekan termuda di Universitas Indonesia. Wow!

Pada wawancara santai bersetting FE UI tersebut, ada beberapa hal unik yang saya tangkap:

– Pak Firmanzah (biasa dipanggil Fiz) ini saat mau lulus kuliah, dibingungkan oleh pilihan ambil kuliah yang sesuai jurusannya, IPA (suka fisika matematika) atau ke IPS (manajemen). Akhirnya diputuskan “membelot” ke IPS saja, dan ternyata Pak Fiz memang menemukan jalan hidup terbaiknya di sana.

– Saat kuliah di UI, sang Ibu sebenarnya kurang setuju (prefer Pak Fiz kuliah di daerah asalnya, di Surabaya sana). Alhasil, kirimin uang pun diminimalkan biar ga kerasan. Toh, Pak Fiz nyatanya masih kerasan-kerasan juga dan survive.

– Waktu awal kerja ga siap dengan suasananya (hidup sangat teratur dan diatur-atur), beda dengan apa yang ia rasakan selama aktif di organisasi kemahasiswaan. So, ia memilih jadi asisten dosen saja sambil melanjutkan S2 di UI.

– Jalan sekolah di luar negeri dirintis justru bukan oleh usaha beliau sendiri, tapi dari ngikut teman. Temannya yang mendaftarkan dan mengurus, pak Fiz sebenarnya ragu tapi tetap ikut wawancara. Eh, malah diterima. Hmm.. entah mengapa saya sering mendengar kasus seperti ini. Apa ntar kalau cari kerja atau beasiswa nitip teman aja ya? haha..

– Pada studi lanjutnya di Prancis, S2 yang sudah beliau jalani ternyata ga cocok untuk ambil S3 di sana. Diharuskan mengambil S2 ulang yang sesuai. Padahal dari promotor waktu beasiswa di Prancis hanya 3 tahun. Mau kuliah S2 lagi Ok tetap dibayarin, tapi tetap harus lulus S3 pada 3 tahun itu. So, S2 dan S3 WAJIB selesai dalam 3 tahun. Puyeng ga tuh!

– Menghadapi kewajiban harus lulus S2 dan S3 hanya dalam 3 tahun saja, dan akhirnya berhasil, bukan berarti Pak Fiz adalah anak ajaib yang super jenius. Tapi, beliau benar-benar mengusahakan. Sampai harus menginap di perpus, bahkan sampai muntah-muntah di perpus menghadapi banyaknya tes dan tugas!!!

Ini bagian yang paling menggugah saya dari acara ini, USAHAKAN SUNGGUH-SUNGGUH dan BERKORBANLAH SEMAKSIMAL MUNGKIN UNTUK MENCAPAI HASIL.. Tidak ada keajaiban tanpa usaha!

– Selepas lulus S2 dan S3, dapat tawaran menggiurkan berkarir di Prancis. Tapi mendengar pengalaman dari para profesor yang berasal dari negara lain (Maroko, Mesir, dll) bahwa pada akhirnya apa yang diusahakan ntar bakal mentok, tidak ada yang diabdikan untuk negara. Beda kalau pulang dan bisa berkontribusi untuk negara. So, beliau sesaat itu langsung memutuskan untuk pulang saja dan berkarir di nusantara tercinta.

– Saat mau maju jadi dekan, pikir panjang juga mengingat usia yang sangat muda dan harus bersaing dengan para senior dengan reputasi tinggi. Tapi seperti beliau katakan, Singkirkan ketakutan diri, rasa sungkan, minder, pesimis untuk mencapai target. BISAA!! Poin ini juga yang jadi pembelajaran besar untuk saya yang masih sering sungkan dan minder. Memang harus berpikir positif dan mengusahakan untuk BISA. Think you can, yes you can!

Nah, begitulah tadi yang saya dapat dari hasil “belajar” dari dekan termuda. Lah, malam minggu kok malah belajar? ga tau nih, apa karena nonton TVnya bareng si guru besar.. haha.. whatever…

#danmasihterusbelajar