Diposkan pada embun, kampus

Belajar dari Dekan Termuda


Tidak banyak orang yang bisa menduduki posisi akademis strategis dalam waktu sangat singkat. Terlebih di perguruan tinggi negeri, dan perguruan tinggi tersebut merupakan salah satu dari trio best Indonesia. Itulah mengapa ketika seorang menjadi dekan, menjadi guru besar, dan mungkin merintis jadi rektor, dalam usia muda, patutlah apresiasi tinggi kita berikan. Dan kita bisa belajar dari seorang Dekan Termuda, yang akan saya ceritakan ini.

Yah, mengingat “belajar” pasti Sabtu malam (malam Minggu) merupakan waktu yang dianggap paling tidak cocok untuk melakukannya. Konon begitulah yang banyak diamini oleh orang-orang. Tak terkecuali saya, terlebih di weekend selepas UTS.  Sambil bersiap bersantap malam, posisi sudah di depan TV untuk menikmati hiburannya. Kali ini ditemani sahabat yang juga guru besar saya saat SMA, Arif Prasetiya. Tentu di sini dia pure sebagai teman ngobrol, bukan teman belajar. Haha..

Channel TV yang kami tonton waktu itu adalah TVO*e, TV yang belakangan banyak yang sensi karena terlalu mendukung si NH (tau sendiri lah). Untung acaranya bukan dukungan terhadap NH, melainkan acara yang dipandu Alfito Deannova (orang news yang saya kagumi selain Andy F. Noya dan Azrul Ananda). Lupa judul acaranya, yang jelas mengenai tokoh-tokoh yang bisa dijadikan teladan. Dan tokoh yang jadi narasumber kali ini adalah Prof Firmanzah, Ph.D. , dekan termuda di Universitas Indonesia. Wow!

Pada wawancara santai bersetting FE UI tersebut, ada beberapa hal unik yang saya tangkap:

– Pak Firmanzah (biasa dipanggil Fiz) ini saat mau lulus kuliah, dibingungkan oleh pilihan ambil kuliah yang sesuai jurusannya, IPA (suka fisika matematika) atau ke IPS (manajemen). Akhirnya diputuskan “membelot” ke IPS saja, dan ternyata Pak Fiz memang menemukan jalan hidup terbaiknya di sana.

– Saat kuliah di UI, sang Ibu sebenarnya kurang setuju (prefer Pak Fiz kuliah di daerah asalnya, di Surabaya sana). Alhasil, kirimin uang pun diminimalkan biar ga kerasan. Toh, Pak Fiz nyatanya masih kerasan-kerasan juga dan survive.

– Waktu awal kerja ga siap dengan suasananya (hidup sangat teratur dan diatur-atur), beda dengan apa yang ia rasakan selama aktif di organisasi kemahasiswaan. So, ia memilih jadi asisten dosen saja sambil melanjutkan S2 di UI.

– Jalan sekolah di luar negeri dirintis justru bukan oleh usaha beliau sendiri, tapi dari ngikut teman. Temannya yang mendaftarkan dan mengurus, pak Fiz sebenarnya ragu tapi tetap ikut wawancara. Eh, malah diterima. Hmm.. entah mengapa saya sering mendengar kasus seperti ini. Apa ntar kalau cari kerja atau beasiswa nitip teman aja ya? haha..

– Pada studi lanjutnya di Prancis, S2 yang sudah beliau jalani ternyata ga cocok untuk ambil S3 di sana. Diharuskan mengambil S2 ulang yang sesuai. Padahal dari promotor waktu beasiswa di Prancis hanya 3 tahun. Mau kuliah S2 lagi Ok tetap dibayarin, tapi tetap harus lulus S3 pada 3 tahun itu. So, S2 dan S3 WAJIB selesai dalam 3 tahun. Puyeng ga tuh!

– Menghadapi kewajiban harus lulus S2 dan S3 hanya dalam 3 tahun saja, dan akhirnya berhasil, bukan berarti Pak Fiz adalah anak ajaib yang super jenius. Tapi, beliau benar-benar mengusahakan. Sampai harus menginap di perpus, bahkan sampai muntah-muntah di perpus menghadapi banyaknya tes dan tugas!!!

Ini bagian yang paling menggugah saya dari acara ini, USAHAKAN SUNGGUH-SUNGGUH dan BERKORBANLAH SEMAKSIMAL MUNGKIN UNTUK MENCAPAI HASIL.. Tidak ada keajaiban tanpa usaha!

– Selepas lulus S2 dan S3, dapat tawaran menggiurkan berkarir di Prancis. Tapi mendengar pengalaman dari para profesor yang berasal dari negara lain (Maroko, Mesir, dll) bahwa pada akhirnya apa yang diusahakan ntar bakal mentok, tidak ada yang diabdikan untuk negara. Beda kalau pulang dan bisa berkontribusi untuk negara. So, beliau sesaat itu langsung memutuskan untuk pulang saja dan berkarir di nusantara tercinta.

– Saat mau maju jadi dekan, pikir panjang juga mengingat usia yang sangat muda dan harus bersaing dengan para senior dengan reputasi tinggi. Tapi seperti beliau katakan, Singkirkan ketakutan diri, rasa sungkan, minder, pesimis untuk mencapai target. BISAA!! Poin ini juga yang jadi pembelajaran besar untuk saya yang masih sering sungkan dan minder. Memang harus berpikir positif dan mengusahakan untuk BISA. Think you can, yes you can!

Nah, begitulah tadi yang saya dapat dari hasil “belajar” dari dekan termuda. Lah, malam minggu kok malah belajar? ga tau nih, apa karena nonton TVnya bareng si guru besar.. haha.. whatever…

#danmasihterusbelajar

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Satu tanggapan untuk “Belajar dari Dekan Termuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s