Diposkan pada jalan-jalan

Melihat Belanda dari Romantisme Pendidikan di Indonesia


Yuhu, setelah bergulat dengan UAS semester 6, update lagi blog “Just Kick It!” ini.. Dimulai dulu dari tulisan saya dalam suatu Kompetiblog memperebutkan tiket ke negeri Oranje, yang saya tulis di tengah gemuruh ujian yang datang silih berganti.. hoho.. enjoy, my friends…

***

Sejuknya udara dan cerahnya hari itu telah menyejukkan hatiku. Kulangkahkan kaki dengan santai menyusuri area kampus di tengah kesibukan perkuliahan yang mulai mereda menjelang musim ujian. Technische Hogeschool (THS), nama kampus ini saat dirintis tahun 1920 dulu. Unsur Belanda jelas terlihat dalam nama itu. Sekarang, masyarakat mengenalnya dengan Institut Teknologi Bandung. Toh romantisme yang mulai dibangun di era Hindia Belanda itu masih terasa karena keberadaan gedung-gedung yang bernuansa campuran Belanda dan pribumi. Sejenak kunikmati romantisme itu, antara pendidikanku dan Belanda. Dan itulah yang jadi jawaban mengapa aku selalu mengagumi Belanda dan tidak heran jika negeri Oranje itu masuk dalam 10 negara terbaik di dunia dalam berbagai macam hal.

Romantisme itu sendiri berawal saat aku berada di bangku SMP, lalu SMA, di kota Surakarta. Gedung sekolah tempatku mengenyam ilmu dan mulai merajut mimpi itu merupakan gedung peninggalan Belanda. Kokoh dan megah. Kemudian aku mulai menggemari bidang eksakta. Di laboratorium biologi, asyik diriku mengamati benda mikroskopis. Terang saja aku sangat kagum dengan kerja mikroskop, yang ternyata dikembangkan oleh seorang bernama Antony van Leeuwenhoek, ilmuwan Belanda. Masih tentang optikal tapi beda laboratorium, yakni di laboratorium fisika, aku terhanyut menikmati pembiasan cahaya yang persamaannya menjadi mudah diaplikasikan berkat jasa Snellius, ilmuwan negeri kincir angin pula. “Aroma oranje” tidak hilang sampai di situ, karena saat kimia mulai diajarkan di bangku SMA, gaya van der Waals dan kinematika kimia oleh van’t Hoff, beberapa dari buah pemikiran ilmuwan Belanda yang dianugerahi hadiah Nobel, menyambutku. Pun saat di bangku kuliah, bergulat dnegan kalkulus modern dan mempelajari elektromagnetik dengan memahami pula karya cemerlang ilmuwan negeri tulip, Cristian Huygens. Sebuah romantisme Oranje yang indah, mewarnai keasyikanku ber-eksakta ria seperti layaknya mekar bunga tulip.


Kembali lagi ke Technische Hogeschool. Kulayangkan pandanganku sejenak ke arah utara, di mana gunung Tangkuban Perahu terlihat secara indah dan simetris tanpa terhalang bangunan. Pengonsepan pembangunan sejak awal yang teratur seperti ini berasal dari pengaruh Belanda pula. Keteraturan yang di negeri aslinya sana, di negeri kincir angin, lebih terlihat secara menyeruluh dan menjadikannya sebagai salah satu negara yang paling layak huni.
Hmm.. Romantisme tentang Belanda. Terasa luar biasa. Saat kuingat lagi tujuanku di sini adalah mencari ilmu, dan ternyata saat kuingat lagi dalam proses yang sedang kulalui ini ada negeri Oranje, Belanda, yang terkenal akan antusiasme terhadap ilmu dan keteraturan yang indah. Aku harus memantapkan lagi ilmuku, dan dalam hati kuberharap bisa ke sana suatu hari nanti bisa menimba ilmu langsung di negeri Oranje. Bila itu terwujud, semakin romantislah jadinya.

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s