A Quote from Edensor

Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.

Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai dan berpencar ke arah yang mengejutkan.

Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang-gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin.

Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

(Andrea Hirata on his Edensor novel)

***

Bagus banget ya? Let’s work hard. We can run!

Jadi ini bisikan alam..

Jadi ini bisikan alam…

Yang bukakan tirai kabut untukku

Tuk lihat sejenak sang edelweys

Jadi ini bisikan alam…

Sebentar saja aku boleh sekedar melihat

Dan hujan pun turun, dengan dinginnya menahan

Jadi ini bisikan alam..

Ia takkan datang menjemput

Tapi kenapa ku masih termangu?

Jadi ini bisikan alam…

Melangkahlah.. Naiklah…

Ya, aku akan ke sana

Menuju puncak

Bersengau Ria, “Se Presenter”

Selasa lalu, saya akhirnya mulai belajar Francais (bahasa Prancis). Yah, hitung-hitung sebagai pengisi liburan sekaligus penambah skill dan motivasi untuk bekal mengambil Master di Prancis ntar (amiin). Ikut kursus di UPT Bahasa ITB, dengan harga yang murah meriah, terjangkau untuk ukuran mahasiswa.

Kenapa les bahasa Prancis? Itulah yang pertama ditanyakan proffeseur saya waktu awal kursus ini. Oya, proffeseur jangan buru2 diartikan profesor ya. Itu artinya guru kok. Jadi kalau Anda ingin jadi pengajar, jadi pengajar bahasa Prancis aja, dipanggilnya udah “proffeseur” tuh.. keren kan… back to the topic. Saat peserta kursus yang berjumlah 14 menjawab, ternyata alasannya beragam. Ada yang tertarik aja (iseng), ingin belajar masak Prancis (wew!), ingin menikmati film-film Prancis yang bagus2, karena Bandung itu Paris van Java (hmm..), ada pula yang disebabkan temannya suka nulis status bahasa Prancis di jejaring sosial,. Unik-unik ya? Dan karena alasan saya masuk yang paling “serius” yakni persiapan mengambil master, jadi pak proffeseur mewanti-wanti untuk belajar sungguh-sungguh dari sekarang. Tentu, monsieur!

Nah, di awal dijelaskan bahwa bahasa Prancis (dan secara umum bahasa-bahasa negara Eropa) ada level-levelnya, dari A1, A2, B1, B2, dst. Tiap level biasanya dipelajari setara 100 jam, tapi di kursus ini karena lebih murah, ya mesti bisa dalam 72 jam. No problemo. Lalu untuk beasiswa ke Prancis, biasanya perguruan tinggi di sana mensyaratkan minimal di level B2 (ntar ada ujian DELF, semacam TOEFL untuk Francais). Kalau gagal menguasai sampai B2, bisa jadi beasiswa itu hangus. Waha.. Study hard.. Study hard…

Untuk menambah ketertarikan belajar, pak proffeseur mengatakan kalau Prancis sudah sedemikian dominan, bahkan di Indonesia. Air minum..Danone (Aqua). Energi..ada Total E&P. Tas..Sophie Martin. dan berbagai produk lain. Menguasai bahasa Prancis berarti punya kesempatan lebih di perusahaan ternama tersebut. Tapi sebenarnya yang paling penting dari belajar bahasa Prancis, kita bisa mengatakan pada orang2 Prancis “Betapa Indahnya Indonesia” dan “Betapa tidak selayaknya mereka menguasai SDA kita”. Haha.. bisa ngasi pelajaran nasionalisme juga nih, proffeseur..

Saatnya untuk mulai melafalkan Francais, dan itu artinya, saatnya bersengau-sengau ria.. 😀

Pelajaran hari pertama adalah “Se Presenter” (Introduce). Coba tebak gimana bacanya “Se Presenter”? bacanya “se presongte”.. jadi Francaise itu khasnya huruf terakhir (hampir untuk semua kata) tidak dibaca. terus selamat bersengau ria untuk en, an, on (sengau ‘ong’), dan untuk in, un (sengau ‘ang’). Orang Prancis sering baca Ikhfa’ Haqiqi mungkin ya.. nun sukun ketemu huruf tertentu jadi sengau-sengau gitu.. haha

yang pertama dilakukan waktu mulai kenalan? Oke, sapaan dulu. Yang biasa dipake adalah “Bonjour” (baca: bongyue). Ini semacam ‘good morning’, pokoknya dipakai selama matahari masih terlihat. Setelah matahari terbenam, jadi “Bonsoir” (baca: bongsoa). Semacam ‘good evening’ lah ya..

Lalu kalau ada yang tanya “Vous vous appelez comment” (baca: vou vouzappele kommong.. haha, ribet ga tuh), jawabnya Je M’appele Mushofi (baca: yeu mapel), berarti ‘my name is…’. Atau kalau udah kenal, tanya pake “Comment allez vous?” (baca: kommongtale vou), berarti ‘how are you?’. Bisa dijawab “Ca va” (baca: sa fa) untuk ‘fine’ atau “Ca ne va pas” (baca: sa ne fa pa) untuk ‘not fine’.

Perkenalan lanjut dengan “J’habite a  Bandung” (baca: zzabit a …) sebagai pengenal alamat ‘I live in..’. Lalu “Je suis etudiant” (baca: yeu sui etudiang) sebagai pengenal pekerjaan “I am student”. dan karena asing maka akan ditanya kewarganegaraan, jawabnya “Je suis Indonesien” (baca: yeu sui Angdonesiang).

Hmmm… bersengau-sengau ria.. ya gitu deh, tantangan belajar bahasa Prancis. Oya, di bahasa Prancis ada kata-kata untuk masculin (cowo) dan feminin (cewe). Kaya bahasa Arab gitu. Tapi pada dasarnya hanya berbeda pada cara pengucapannya (cara bersengaunya.. haha)

Terakhir yang saya ingat dari lesson1… ada kalimat Prancis asyik nih…

“Je t’aime”

apa ya artinya? hmm.. kalau urusan gini, pasti banyak yang tau artinya (pada galau sih :P). Yuph, disimpan dulu,, biar Eiffel Tower dan bunga Iris yang menyaksikannya nanti… aseek…

Sekarang, Usahakan lebih dulu. dan saatnya bersengau-sengau ria 🙂

Hey, Ibukota! (2)

Sudah bukan rahasia lagi kalau transportasi massal menjadi salah satu agenda utama Ibukota Jakarta. Sebagai kota metropolitan terbesar dan terpadat seantero Asia Tenggara, bukan pekerjaan yang mudah untuk mengatasi kesemrawutan di dalamnya. Proyek yang secara kajian dapat mengatasi, atau paling tidak menekan, masalah transportasi ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Termakan kompleksitas masalah dan menghadirkan gerutuan yang paling sering terdengar, “Sial! Macet!”

Saat mulai berpikir tentang itu, saya baru menikmati transportasi massa paling spesial di Ibukota, busway namanya. Kenapa spesial? ya, untuk melaju saja ada jalur tersendirinya. Bisa jalan lancar di jalur lengang sambil melambaikan tangan pada mobil-mobil jalur sebelah yang sedang mengutuki kemacetan. Terlebih saat itu saya cukup nyaman di dalam busway. Bisa duduk, tidak padat penumpang, dan AC yang menyala sungguh terasa menepiskan gerah udara Ibukota.

Saya menikmati dari dalam busway trafik metro-ethernet..eh, bukan, itu mah waktu KP… trafik metropolitan Jakarta. Sejenak saya melihat mobil dengan plat berhuruf belakang 3 (B xxxx ACE). Hmm.. sudah sebegitu banyaknya ya jumlah kendaraan roda empat, sampai huruf belakang ada 3 (normal 2 kan ya?). Dan saya yakin itu (dari 2 huruf di belakang jadi 3 huruf) sudah mulai diberlakukan beberapa tahun lalu. Tak terbayang berapa jumlah kendaraan di Jakarta sekarang. Hmm.. pada nyaman apa? Bukankah cenderung kena macet terus? Nih, saya di sini, naik transportasi massal, bisa duduk leha-leha dengan enaknya. Hidup transportasi massal!

Hari berganti

Dan ternyata semua pikiran saya tentang “kemenangan mutlak” transportasi publik dengan cepat menurun. Pagi itu saya berdiri berdempet-dempetan penuh sesak di dalam busway. Harus berpegang erat untuk menahan getaran dalam bus yang cukup kencang. Di sisi lain, entah karena saya masih merasa asing, ada mata-mata yang saya rasa mencurigakan. Dan sebentar sebentar saya harus mengecek keberadaan handphone dan dompet saya. Oke, mungkin tingkah saya agak lebay. Tapi realita Ibukota yang begitu keras, cenderung memunculkan banyak pula kriminalitas. Dan di area transportasi publik, saat penuh sesak berdesakan gini, kesempatan untuk para kriminal itu semakin besar.

Saya pun melihat barisan mobil pribadi yang terkena macet. Mereka, it’s okay terkena macet. Tapi soal keamanan dan kenyamanan, para pemakai mobil pribadi “menang”. Toh saat terjebak macet, mereka masih sempat menikmati AC, update status di jejaring sosial, atau bahkan nonton TV dulu. Harga mahal sebuah kenyamanan toh bisa bebas mereka beli, uang mengalir sangat kencang di metropolitan ini. Plus tidak adanya kebijakan untuk kendaraan pribadi berupa pembatasan jumlah atau penetapan pajak tinggi, membuat tau sendiri betapa banyaknya kendaraan yang menjejali Ibukota ini. Kalau saya memposisikan diri sebagai pemilik kendaraan pribadi, saya juga akan bilang “Gimana lagi, busway penuh sesak dan mungkin kecopetan di sana. Turun di halte juga belum tentu dekat kantor. Sebenarnya yang bikin macet bukan gw kok, tuh angkutan umum cem angkot, kopaja, metromini yang berhenti seenaknya…”

Nah lho… Kompleksitas itu pun semakin menjadi.

Hey, Ibukota ! (1)

Waktu isya baru saja menjelang saat perutku mulai meminta untuk diisi. Ternyata sebotol minuman isotonik belum cukup untuk mengalihkan rasa lapar. Dan keadaan di sekitarku mengatakan bahwa tak kan lebih cepat dari 30 menit untuk sekedar mampir di warung dan membeli makanan ala kadarnya untuk mengganjal perut. Di luar kendaraan berpacu dengan kencangnya. Hanya cap orang gila yang akan kuterima jika minta turun mencari warung. Ya, ini di jalan tol dan aku sedang di dalam sebuah mobil travel yang akan menghantarkanku ke sebuah kota, kota spesial yang telah mengandung dan melahirkan kota-kota yang lain (iya gitu?), makanya disebut Daerah Khusus Ibukota (DKI). Haha

Sesaat kemudian secara konstan mobil melambat. Baru ku sadar malam saat itu tidak menampakkan gemerlap bintangnya. Gelap. Dan sekarang mobil berhenti tanpa komando. Kulihat ke belakang para penumpang travel masih tertidur. Begitu juga penumpang yang di sebelahku. Berarti hanya aku dan pak sopir yang merasakan momen ini. Secara nyata, kulihat tangan seorang cewe di seberang kaca cendela pak sopir. Pak Sopir tahu keberadaan tangan itu, tapi ia berusaha tetap tenang sambil mengambil sesuatu di sakunya. Aku sendiri hanya melihat sejenak lalu memalingkan muka ke depan.  Bukankah ini bukan di Cipularang km sekian yang penuh misteri itu? Aku ingin mobil travel ini segera melaju saja. Melaju sekencang mungkin…!

Oke, tenang, paragraf di atas bukan bagian cerita misteri. Mobil melambat dan berhenti karena akan bayar tol, tangan cewe itu adalah petugas tolnya, pak sopir mengambil uang di sakunya, kupalingkan muka ke depan karena cuek (perhatian amat dengan bayar tol). Dan kuingin mobil segera melaju sekencang mungkin, karena seperti sudah kukatakan tadi, aku lapaaar!!

Entah mulai dari mana travel ini memasuki Ibukota, tapi yang jelas aku sudah menyadari bahwa aku sudah sampai di kota yang baru saja merayakan ultahnya 22 Juni yang lalu itu. Jakarta. Gedung-gedung menjulang, jumlah bangunan pencakar langit yang jelas terbanyak di Indonesia. Kepadatan dan kemacetan mulai terasa. Tapi kata pak sopir, ini sudah jauh lebih mending dari biasanya. Oya, Pak? Sepertinya iya sih, walau aku tak tahu kondisi macet biasanya, yang jelas mobil ini bisa melaju cukup lancar. Selang beberapa waktu kemudian, kulihat gedung Transcorp, perusahaan 2 channel asyik yang konstan mengeksplor Indonesia dan di Bandung baru saja menyelesaikan indoor park-nya yang diklaim  terbesar di dunia. Melihat Transcorp berarti tujuan pemberhentian tinggal bentar. Begitulah kata sahabatku yang telah lebih dulu di Ibukota untuk kerja praktek. Well, naek jalan layang Mampang bentar, dan berhenti di seberang kantor pos Mampang. Makasih pak sopir! Dan saya pun turun.

Mampang, Jakarta Selatan. Sepertinya ini belum kompleks utama bisnis dan perkantoran utama di Ibukota, tapi tetap saja jarak pandang sangat terbatas karena gedung-gedung raksasa yang tinggi menjulang. Di pinggir jalan terlihat bagaimana realita hidup berjalan. Belasan tukang ojek menunggu penumpang, bus Kopaja yang penuh, pasar tumpah nan ramai, dan lainnya. Bagaimana mereka berusaha mencari rezeki, mencari sebuah kehidupan yang layak di Ibukota.

Aha, akhirnya. Sahabatku sudah datang menjemput. Kembali jabat tangan dan senyum persahabatan itu lagi. Teman sebangku, eh salah semeja (bangkunya sendiri-sendiri) waktu SMA, di Bandung pun sekamar, eh salah sekosan (dengan kamar yang bersebelahan, bisa ngobrol tanpa harus keluar kamar masing2), dan sekarang kami bertemu lagi di Ibukota. Kalau ini menjadi semacam roda berkelanjutan, aku ingin dan selalu berdoa agar Allah SWT mengizinkan itu kembali terjadi, mungkin saling menjemput/bertemu di Frankfurt Airport, Rotterdam Port atau di Avron Station, untuk mengejar kehausan kita akan intelektualitas. Bukannya “tak perlulah aku keliling dunia, karena kau di sini” seperti di lirik salah satu lagu Laskar Pelangi, tapi “kutahu kubisa keliling dunia, karena kau di sini”. Dan mari mengusahakan lebih (terutama untuk memotivasi diriku sendiri) untuk membuktikan betapa hebat persahabatan kita.

Kami pun berjalan menuju kosan. Melewati pasar tumpah malam hari nan ramai, membelikan mie ayam titipan teman dulu, mengantarkannya, lalu melakukan sesuatu yang sudah kutunggu sedari tadi: makan malam! yeah! Dan sepiring ketoprak mengisi perutku. Sudah lama ga makan ketoprak nih. Alhamdulillah. Enak dan murah! Ternyata tak semua mahal di Ibukota.

Sebentar saja untuk sampai di kosan sahabatku itu. Wah, pintar juga ia memilih kos di sendiri. Rumahnya bagus, tapi harganya terjangkau juga, dan ternyata pemiliknya orang Wonosari, ibukota kabupaten tempat kelahiran ayahandaku. Satu kekurangan, walau itu normal, tidak bisa mencegah udara Ibukota ini yang masih saja membuat gerah walau sudah malam hari. Duduk-duduk di sofa bentar, ngobrol sebelum mau ke destination berikutnya.

Waktu sudah menunjuk pukul 22 saat kami tiba di halte busway Mampang Prapatan. Emang masih ada busway ya jam segini? Yoha, ternyata masih. Dan mengasyikkan sekali karena saat naek, di dalam cukup sepi. Bisa duduk nyaman dan menghirup udara dengan nikmat, kondisi yang tidak kutemui saat naek busway di kesempatan selanjutnya. Hanya 3 halte (sebenarnya rugi juga sih karena bayarnya 3500, harusnya lebih jauh lagi ya). Tahfafa dah. Turun di halte GOR Sumantri. Terlihat di sebelah kanan, GOR Sumantri, Universitas Bakrie, dan tentu saja Bakrie Tower. Tapi tujuan kami bukan di situ, tapi di arah seberangnya. Berjalan kaki sebentar untuk menuju kosan teman yang kerja praktek di Bakrie Telecom.

Tak butuh waktu lama untuk menemui kosan itu. Dan di kosan ini, cukup wah, karena di dalam ada alat untuk menepis rasa gerah (yah, sebut saja AC). Malam hari dilalui dengan ngobrol dan nonton TV bareng. Sometimes untuk masalah yang cukup serius, tapi tetap terasa santai. Hingga tak sadar sudah masuk midnight. Sudah tak lagi Jumat 24 Juni 2011 malah, ini sudah jam 1 dini hari. Oke, istirahat dulu. Capek gan. Semoga energi segera kembali untuk jalan-jalan di Ibukota. Lampu dimatikan, goodnight.

[bersambung]

Menghidupkan Hidup

Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them. –Albert Camus

Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain. Yeah.

Sekedar hidup, mudah. Tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita, beres. Tapi kita manusia, makhluk spesial, khalifah di muka bumi, masa iya hanya mau sekedar hidup. Keharusannya: mengusahakan seoptimal mungkin untuk mempunyai hidup yang berarti. “Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun.”

Ada beberapa langkah agar hidup kita lebih hidup (cayoo!), dan inilah langkahnya:

langkah Pertama, Perbesar kemauan untuk belajar. Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka pikiran tersebut mestinya untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup. Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.
langkah Kedua, untuk kehidupan lebih berarti, Lakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan. Bekerja secara lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia. Satu hal yang patut dijadikan pedoman sejak awal: bahwas kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5 P, yakni power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan), prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan). Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan. So, bagaimana membuat akhir yang menyenangkan?

langkah Ketiga, berbuat kebaikan. “Kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain,” kata penulis Prancis Andrew Gide. Kerja keras yang diimbangi dengan niat berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih. Melebihi dari apa yang dibutuhkan. Karena kita ingin dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain, so kita harus berusaha menciptakan dulu hal-hal indah untuk dibagi. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan sikap dan ekonomi.

Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti. Don’t make any regrets, friends! Live the life to the fullest! Yes, we can..

**

tulisan ini bersumber dari buku Make A Life, Not Merely A Living (Ciptakan Kehidupan, Bukan Sekedar Hidup)nya Andrew Ho, re-share dari Pak Djoko Arijanto di web netre Jabar Telkom, diedit sendiri seperlunya. 🙂

Senyum dan Amarah

Senyum dan Amarah adalah dua hal yang saling bertolak belakang dan merupakan dampak dari perasaan-perasaan mematikan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya.

Faktor kemarahan, kebencian & iri hati, kesombongan, ketakutan & kekhawatiran serta depressi merupakan hal-hal yang dapat memicu berbagai macam penyakit; diantaranya adalah berikut ini :

1. Kemarahan, dapat menyebabkan :

-Rheumatoid Arthritis
-Serangan jantung
-Penyakit jantung
-Gagal jantung
-Kanker
-Tekanan darah tinggi
-Stroke
-Tukak lambung

Dr. Robert Eliot, seorang ahli Kardiologi ternama, menemukan bahwa ketika “para pereaksi panas” itu memendam perasaan-perasaan mereka, itu pada akhirnya berubah menjadi permusuhan dan kemarahan. Ketika itu terjadi, tekanan darah meningkat tajam, resiko serangan jantung dan Stroke akan lebih tinggi. Maka, lepaskan kemarahan dan mintalah pengampunan, jangan menyimpan kemarahan sampai matahari terbenam.

2. Kebencian dan Iri hati, dapat menyebabkan :

-Tekanan darah tinggi
-Sakit kepala migrain
-Penyakit jantung
-Tukak lambung
-Kanker.

Ketika seseorang mengalami kemarahan yang berlebihan, kekhawatiran dan stress yang diakibatkan oleh kebencian, tingkat adrenalinnya meningkat, tekanan darah juga meningkat dan dengan begitu jantung-khususnya serangan jantung- bertambah bagi mereka yang hidup dalam kemarahan.

Orang-orang itu menghadapi resiko penyakit jantung dua kali lebih tinggi dibanding orang lain. Sebagai tambahan, ketika seseorang mengalami kekecewaan, kemarahan atau ketakutan saat makan, perasaan-perasaan negatif ini merangsang system saraf simpatiknya, yang pada gilirannya menyebabkan berkurangnya pengeluaran Enzim-enzim Pancreas, yang menciptakan kesulitan dalam pencernaan makanan.

Ini menyebabkan perut kembung, adanya gas, sakit ulu hati, dan masalah pencernaan lainnya. Stress yang berlebihan yang disebabkan oleh perasaan-perasaan negatif cukup berbahaya karena itu meningkatkan tingkat Kortisol kita, yang kemudian menekan system kekebalan tubuh kita. Ketika system kekebalan kita tertekan, sel kanker mulai terbentuk dan berkembang. So,kebencian dan iri hati jelas merupakan perasaan-perasaan yang merusak.

3. Kesombongan, dapat menyebabkan :

-Penyakit mental
-Stroke
-Serangan jantung

Kesombongan adalah salah satu perasaan yang paling mematikan. Karena itu, kerendahan hati dan ucapan Syukur kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta akan melindungi Anda dari perasaan yang paling mematikan tersebut.

4. Ketakutan dan Kekhawatiran (Anxiety), dapat menyebabkan :

-Penyakit jantung
-Penyakit mental
-Kepanikan
-Depresi
-Serangan jantung
-Fobia.

Tubuh anda bisa menanggapi ketakutan dan kekhawatiran dengan memicu pelepasan hormon Adrenalin secara berlebihan, yang menyebabkan percepatan denyut jantung, peningkatan Ventilasi paru yang Abnormal, telapak tangan berkeringat, dan meningkatnya kontraksi system pencernaan. Ketakutan dan kekhawatiran yang berkesinambungan dapat menyebabkan keadaan peningkatan yang
terjadi terlalu lama dan dapat menyebabkan kelelahan adrenalin, kelelahan, kegelisahan dan kepanikan, gejala sulit buang air besar dan
sakit kepala karena ketegangan. Kelelahan fisik dan Emosional serta kelemahan sistem kekebalan tubuh anda dapat terjadi dan hasil akhirnya adalah penyakit.

5. Depressi, dapat menyebabkan :

-Kanker

Penelitian telah menunjukkan bahwa pria memiliki kecenderungan untuk melepaskan kemarahan mereka, sementara wanita cenderung menyembunyikannya. Adalah benar bahwa kanker dapat menyerang semua orang, tetapi salah satu faktor yang paling umum yang ditemukan para peneliti sebelum kanker menyerang adalah ‘kurangnya penyaluran Emosi’. Ibu rumah tangga memiliki peluang 54% lebih besar terkena kanker dibanding populasi pada umumnya dan 157% lebih besar dibanding dengan para wanita yang bekerja di luar rumah.

Then, langkah-langkah apa saja untuk mengembangkan hati yang gembira untuk menghasilkan kesehatan yang baik dan jauh dari penyakit ? Ini nih beberapa yang sangat ampuh:

-Mengampuni
-Mengendalikan lidah
-Bersahabatlah dengan orang-orang yang positif
-Berilah makanan yang sehat ke dalam pikiran anda
-Kehidupan berohani yang akan mengubah kehidupan anda
-Selalulah tersenyum

Maka perbanyaklah senyum dan buanglah jauh-jauh rasa amarah dalam hati sehingga tidak memicu berbagai macam penyakit. Keep Spirit. Keep smiling.

(sumber: Detik health)

Source Code.. Excellent Thriller…

Lama tidak menonton film, dan karena malam kemarin koneksi internet di kosan sedang down parah, maka menyempatkan diri dulu untuk menikmati film yang katanya (ya sebelum saya nonton) keren dan membuat penasaran.

Film ini judulnya Source Code. Rilis 11 Mei 2011, jadi masih cukup fresh lah ya? Genrenya, favorit saya: Sci-Fi Thriller. Namanya thriller, adegan penuh tekanan, tensi tinggi, berpacu dengan waktu, rasa penasaran jadi elemen utama yang sangat menarik. Dan apa alur yang biasa di film thriller? yuph, menggagalkan rencana kejahatan atau mengungkap tabir kriminal, entah bagaimana caranya. Di film ini, dengan aspek science, dengan metode unik modern yang disebut “Source Code”. Metode di luar akal sehat, yang.. ah, unik banget lah… Ini coba saya buat reviewnya… Check this out!

***

Seorang cowo bernama Colter Stevens (diperankan Jake Gyllenhaal yg terkenal lewat “The Day after Tomorrow” dan “Brokeback Mountain”), pilot kapten pesawat tempur AS dengan misi Afghanistan, tiba-tiba terbangun di suatu kereta api, di depan cewe bernama Cristina Warren (diperankan Michelle Monaghan). Si cewe mengenalinya sebagai Sean Fertress, di mana si cowo sendiri asing dengan dia dan ia bingung dengan identitasnya dan kenapa tiba-tiba ada di kereta api. Saat ia masih kebingungan, selang 8 menit, meledaklah kereta itu. Hancur.

Sesaat kemudian adegan beralih ke sebuah bunker. Cowo yang sama (Colter Stevens) terbangun di sebuah bunker. Ia meraba keadaan sekitarnya saat sebuah monitor di depannya menyala, menampilkan kapten AU Coleen Goodwin. Ternyata si kapten Stevens sedang diberi misi mencari pelaku pengeboman kereta api yang baru saja ditumpanginya (mencari pelaku pengeboman saat ia sendiri hancur oleh ledakan KA? hmm..). Menemukan si bomber sangat penting karena akan ada bom susulan di Chicago selepas bom yang meledakkan KA itu. Ia akan masuk sebagai Sean Fertress, salah satu korban ledakan KA, dan memulai menelusuri dalam waktu hanya 8 menit untuk menemukan bomber. Anda mulai bingung dan penasaran? oke, bahkan kapten Stevens juga masih bingung.

***

Di saat seperti ini saya malah merasa lebih baik dipotong sampe situ saja ceritanya. Ga asyik kan kalau thriller yang penuh aksi menegangkan dan membuat penasaran sudah diceritain banyak? Hehe

Nah, yang ingin saya tulis di sini mengenai salah satu hal paling menarik dari film itu, tak lain tentu sesuai judulnya. “Source Code”. Jangan keburu mengira ini tentang algoritma spesifik,, saya sendiri sudah bete dengan algoritma struktur data (all stroke death) di kampus.Haha

Source Code yang dimaksud di sini adalah.. hmm, gimana jelasinnya ya buat yang belum nonton filmnya…

Gini deh, di ceritanya itu kapten Stevens tertembak jatuh pesawatnya di misi Afghanistan. Bagian tubuhnya hilang separuh, hanya tinggal perut ke atas. Tubuhnya bisa dikatakan “mati”, tapi tidak dengan otaknya. Nah si otak disinkronkan dengan otak Sean Fertress korban ledakan KA, sehingga bisa masuk suatu memori masa lalu yang istilahnya alternate reality. Kalau bagi anak elektroteknik, ya seperti kapasitor yang bisa menyimpan energi listrik sementara sebelum mati. Batas kapasitas si otak hanya 8 menit, jadi orang yang kondisinya seperti kapten Stevens, bisa masuk ke alternate reality dan mengambil info dari situ.

Kejadian yang telah terjadi akan tetap terjadi. Jadi kereta api yang meledak, hancur dan menewaskan seluruh penumpang ga akan kembali lagi setelah apapun yang dilakukan kapten Stevens selama 8 menit masa lalu (alternate reality). Manfaat penting dari masuk alternate reality adalah bisa menghimpun info masa lalu, dalam case ini siapa sih sebenarnya bomber KA-nya dan apa yang akan dilakukan si bomber setelah itu. So, teror berikutnya setelah teror KA bisa dicegah sebagai hasil didapatnya info tersebut.

Benar-benar menarik, ide yang fresh. Plusnya, bisa cukup membantu mengungkap tabir kejahatan. Bisa ngga ya ntar kesampaian di dunia nyata mengingat teknologi berkembang sedemikian pesat? Entahlah. Yang jelas, secara subjektif, saya cenderung tidak setuju dengan metode ini. Kenapa? Otak orang sekarat dieksploitasi habis-habisan, dan orangnya dibiarkan “nggantung” antara hidup dan mati. Hmmm… tapi ga tau juga klo benar terjadi pada kehidupan manusia. Sekarang aja faktor kemanusiaan lebih banyak diacuhkan, dan banyak yang lebih memilih kepentingan sendiri atau golongan. Yah, begitulah… bagaimana pendapat Anda?

Yang jelas,, Source Code.. Excellent Thriller…

Mengenal IPTV

Cerita KP berlanjut nih. Setelah dari tanggal 1-8 Juni saya menempati kantor Netre Jabar di Jalan Supratman, mulai hari Kamis 9 Juni saya bergabung dengan teman-teman di Telkom Lembong. Yeah. Pengalaman baru pun dimulai.

Dengan berpindah ke Lembong, ada beberapa keuntungan nih. Pertama, dapat ID Card Telkom, walaupun bertuliskan “PKL” tapi gapapa lah, jadi terlihat resmi. Secara kebetulan nomor kartunya 156 (hmm.. emang apa maksud nomor tersebut? Ada dweh..). Kemudian keuntungan kedua, masuknya jam 9. Hoho.. jadi masuknya lebih siang nih, kalau di Supratman kan saya sudah stand by semenjak jam 8.  Ketiga, ruangannya kalau di Lembong tuh di NGN (New Generation Networks) Competence Centre. Di ruang tersebut, Wifinya dapat diakses bebas dengan kecepatan luar biasa (jauh lebih cepat dari speedy, youtube-an tanpa buffering), dan bisa mengamati langsung teknologi canggih terbaru yang dimiliki Telkom cem softswitch, teleconference, sampai IPTV. Jadi di ruang sini saya bisa kerja sambil ngenet dan nonton TV (hoho.. asyik ga tuh). Nah, kali ini mari kita mengenal sedikit dulu mengenai IPTV.

Apa sih IPTV?

IPTV adalah layanan pay TV yang dideliver-kan dengan media IP (Internet Protocol). Jadi tau kan singkatan IPTV, tak lain tak bukan ya Internet Protocol Television. Dalam mengembangkan layanan True Broadband, TELKOM menggunakan Home Gateway yang dihubungkan melalui Speedy, dalam men-deliver layanan IPTV. Kabarnya nih, keberadaan IPTV bakal jadi saingan utama atau bahkan menggeser para pelakon bisnis TV berlangganan (TV kabel maupun satelit). Melalui teknologi berbasis internet ini, satu kabel bisa untuk layanan pengiriman data berbentuk suara maupun video. Terlebih lagi, teknologi itu memanfaatkan jaringan kebel telepon yang sudah banyak tersambung di rumah-rumah konsumen. So, operator ngga perlu lagi membuat jaringan baru yang memakan biaya besar.

Mengapa dikembangin IPTV?

Yah, ini karena kebutuhan layanan telekomunikasi customer  cenderung berubah dari hanya sekedar untuk berkomunikasi menjadi komunikasi dan hiburan (entertaintment), bahkan kini dan di masa yang akan datang komunikasi tidak hanya sekedar untuk berkomunikasi dan hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup (life style). Emang yang namanya telekomunikasi itu ga ada matinya ya! Nah, perubahan ini juga menuntut perkembangan kapasitas bandwidth baik up-stream maupun down-stream. Juga perubahan layanan dari penyedia jasa layanan telekomunikasi dari telecommunication provider menjadi integrated Service Provider.

Apa sih kelebihannya IPTV?

Kalau saya pribadi, untuk sementara kelebihannya ya bisa nonton TV di tempat kerja. Hehe.. Itu sangat umum yah. Oke, IPTV sebenarnya punya banyak kelebihan. Telkom aja investnya antara 50-100 Miliar, masak cuma untuk bikin layanan copo.

Then, Kita bisa liat kelebihannya dari fasilitas yang ditawarkan. Pertama, Video on Demand (VoD) Service. Layanan ini memberikan penyewaan konten video secara spesifik sesuai dengan pemesanan pelanggan. Kedua, Network Personal Video Recorder (NPVR). Layanan ini memungkinkan perekaman tayangan IPTV dan dapat di-schedule pada periode tertentu. Jadi kita bisa pause rewind dan bahkan record. Ga perlu khawatir kalau dini hari kelewatan menonton liukan Lionel Messi meluluhlantakkan tim lawan, ga sempat nonton Sule memimpin lawakan Opera Van Java, atau ketinggalan acara Kick Andy. Ga sabar nunggu highlight atau malah emang ga ada siaran replaynya, bisa langsung liat tuh. Apapun program acara favoritnya, bisa direkam dengan scheduling tertentu. Ketiga, Interactivity . Merupakan layanan yang memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan konten interaktif IPTV. Dengan tambahan perangkat untuk layanan IPTV yang namanya Set Top Box (STB), yang berfungsi seperti decoder TV parabola, maka tayangan TV dapat dinikmati dari jarak jauh. Bisa diakses secara mobile tanpa harus berada di dalam rumah.

Lalu kelemahannya?

Sebagai layanan baru, so pasti berbagai kelemahan muncul. Yang pertama, dan sebenarnya untuk teknologi baru bisa tertebak sih masalahnya itu-itu aja, yakni masalah harga. Groovia TV, nama untuk IPTVnya Telkom, punya tarif yang bisa dibilang sasarannya untuk kelas menengah ke atas. Menurut info yang saya baca, biaya langganan paling murah paketnya Rp695.000 per bulan untuk 1 Mbps, lalu Rp1.045.000 untuk 2 Mbps, dan Rp1.745.000 untuk 3 Mbps. Mahal ga tuh? Tapi katanya sih bagi pelanggan speedy 1 Mbps cukup menambah Rp50.000 sudah bisa mendapatkan pelayanan Groovia TV dan menikmati 40 channel TV Hiburan. hmm.. sebenarnya bisa dipahami juga kalau background pengembangan teknologi ini untuk lifestyle, jadi emang ada unsur eksklusif. But, kalau Telkom menargetkan jutaan pelanggan dalam tahun-tahun mendatang, harusnya tarifnya lebih flat yah..

Kelemahan kedua, baru Jakarta yang bisa menikmati layanan ini. Setau saya malah baru Jakarta Selatan, entah sekarang sudah berkembang di seluruh Jakarta atau belum. Emang perlu kecermatan marketing dan teknis sih untuk teknologi baru gini. Oya, Bandung juga sudah bisa menikmati. Nih, saya nonton di kantor Telkom.. hehe.. Tentu saja ga bisa digeneralisir untuk kota Bandung ya.

**

Begitulah report kecil saya mengenai IPTV. Ditulis dengan sumber artikel Kompas dan Antara, artikel dari Netre Jabar, dan juga sempat liat barangnya langsung. Semoga saja teknologi baru ini terus berkembang, dan ke depannya bisa memberi kemanfaatan berarti bagi Indonesia tercinta. Maju terus teknologi telekomunikasi Indonesia!

Cerita KP: Start to Analyze

Kembali bercerita tentang Kerja Praktek (KP). Setelah rehat 4 hari, masuklah kerja praktek (KP) di hari kedua. Senin, 6 Juni 2011. Seperti sebelumnya, jam 8 pagi sudah sampai di kantor di Jalan Supratman. Apakah yang mesti dikerjakan hari ini? Ilmu dan Pengalaman baru apa yang bakal didapat? Atau justru bakal gabut? Hmm…let’s see

Di hari pertama masuk KP, Pak Agus Fikri selaku pembimbing KP sudah memberikan gambaran besar agenda dan target selama masa KP. Saatnya untuk mulai take action sesegera mungkin. Dimulai dengan memahami lagi tools management system seperti kemarin. Tapi untuk hari ini berbeda, tak lagi menggunakan SiPete (mungkin karena pembacaannya lebih ribet kali ya…). Dan hari ini kita beralih  menggunakan ITMS. Yaha…memulai lagi dari awal donk? Bisa dikatakan begitu. Bukannya jadi lebih ribet? Engga juga,, kali ini ternyata lebih menyenangkan…

Data ITMS bisa dibilang jauh lebih mudah dipahami dan dianalisis dibanding SiPete. Dari sumber ini, dapat dilihat data masing-masing sentral dengan lebih sistematis. Gangguan dalam sentral terbagi menjadi loss incoming dan loss transit. Di sini saya mempelajari konsep terjadinya loss tersebut. Ada no dial (ada pendudukan/seizure tapi digit tidak terkirim), ada incomplete dial (pengiriman digit tidak komplet) dan technical irregular (gagal secara teknis) untuk loss incoming. Sedangkan pada loss transit, terdapat SN-Busy (Switching network busy), TgrBy (trunkgroup busy), Technical Irregular dan Incomplete Dial.

Setelah mempelajari data tadi, trafficability (TA) yang menjadi targetan pertama, bisa didapat dengan rumus TA = 1- [∑(loss incoming + loss transit) / effective bit]. Nah dari pembacaan data ITMS, ntar bisa memberikan rekomendasi untuk perbaikan demi tercapainya tingkat TA yang diharapkan. Bisa dibilang hari ini saya sudah one step ahead, analisis untuk memberikan rekomendasi. Yeah, start to analyze!!

Sayang beribu sayang, ternyata keefektifan jam kerja saya hari ini hanya sebentar. Bapak-bapak di ruang kantor kemudian ada agenda di Telkom Lembong. Nah lho… tidak ada yang bisa ditanya-tanya lagi untuk hari ini. Bingung kan… Saya pun hanya melanjutkan dengan save as page web untuk mendapat data yang diperlukan. Tapi muncul masalah di sini, flashdisk saya tidak bisa terdetect di computer! Dicoba berulang kali, tetap tidak bisa. Sepertinya computer ini memang diprotect agar tidak ada pengambilan data tanpa izin. Hmm.. tak ada yang bisa ditanyai… gimana nih…

Di balik kebingungan saya yang tak bisa segera menyimpan data penting untuk dianalisis tersebut, ternyata muncullah hikmah. Hikmah yang nantinya cukup menguntungkan. Tidak seperti yang dikatakan oleh pembimbing KP, ternyata bisa buka situs eksternal (di luar web Netre Telkom). Waha… email saya pun bisa difungsikan, data bisa terpindahkan. Dan pemikiran panjang selanjutnya tentunya berkah kalau-kalau di hari-hari mendatang “gabut”, bisa memanfaatkan fasilitas internet tersebut. Walau browser yang tersedia hanya IE (Internet Explorer; entah ni masih diingat sebagai browser atau engga saking tenggelamnya oleh Firefox, Chrome maupun Opera), tahfafa lah…

Khusus hari ini (dan mungkin boleh dicoba di hari lain.. hehe), karena pak Agus masih di Lembong sampai entah jam berapa, saya pun izin pulang lebih dulu. Ashar saya sudah pulang. Hari yang pendek.. Yah, esok hari harus lebih produktif…

**

Berikutnya, Selasa 7 Juni 2011. Hari ini mungkin salah satu yang paling menyenangkan sepanjang 2 bulan KP ntar. Kenapa? karena: AGGER. Ada apa dengan Daniel Agger? Oh, bukan bek Liverpool yang barusan saya transfer di master league PES itu. AGGER di sini adalah AnalyzinG and GivE Recommendation. Terus?

Hmm.. gini, kemarin kan sudah mulai analisis dengan ITMS tuh.. Nah hari ini analisis itu sudah cukup lengkap, dan sudah bisa memberikan rekomendasi. Data tiap sentral sudah didapat, problem-problem masing-masing sentral sudah teridentifikasi, kemudian ditentukan tindakan apa yang mesti dilakukan untuk menjaga ketercapaian trafficability. Di sini saya mendiskusikan hasil analisis saya dengan pembimbing KP. Nah, ntah Pak Pembimbing KP sedang coba-coba (iseng), sedang bercanda, atau memang sudah percaya, analisis newbie saya tadi langsung dibuatkan nota dinas! Langsung disampaikan ke sentral terkait sebagai perintah dinas manajer switching Jawa Barat. Entahlah “nota dinas” tadi beneran atau hanya bercanda, yang jelas itu mengobarkan semangat saya. Syukur kalo analisis awam saya tadi hanya dibaca, nah gimana kalo benar-benar jadi rujukan perbaikan suatu sentral? Mataang… Susaah kan.. Makanya saya bertekad untuk lebih baik lagi (hoho…) menganalisisnya untuk rekomendasi di hari depan. Gabut boleh gabut, tapi hasil kerja ga boleh asal kan ya…

tambahan dikit mengenai kesenangan di hari Selasa ini, saya ditraktir lagi oleh pembimbing KP. Hehe…

**

Setelah tempo yang sempat naik karena “kasus nota dinas” tadi, hari ini, Rabu 8 Juni 2011, tempo turun lagi. Tak lain tak bukan karena para petinggi di ruang kerja (tentunya termasuk pembimbing saya) sedang rapat. Rapat yang cukup lama yang membuat saya sempat mencicil laporan KP dari cover sampai bab 2 (dan tentunya sempat facebookan :P). Tercatat baru menjelang waktu Dhuhur saya bisa memulai diskusi dengan pembimbing KP. Masih tentang rekomendasi perbaikan link sentral seperti kemarin, ditambah pekerjaan untuk bikin konfigurasi data potensi sentral lokal. Untuk itu, saya butuh Microsoft Visio

Tak ada installer di kantor, googling untuk free download juga ga ketemu-ketemu, Kaskus Indowebster tak membantu…

Please give me Visio…

***

[to be continued]