Posted in islami

Tarawih 2- Masjid Raya Cipaganti


Malam 2 Ramadhan, kali ini agenda tarawih keliling di Masjid Raya Cipaganti. Masjid raya yang konon sudah berdiri sejak 1930an, dibangun dengan arsitektur Belanda dan menjadi saksi bisu perkembangan Islam di kota Bandung. Untuk pertama kalinya semenjak di Bandung, saya sholat di masjid ini.

Masjid yang megah dengan arsitektur unik, untuk yang ikhwan hanya terdiri dari –kalau ga salah– 10 shof (jumlah yang sedikit kan untuk ukuran masjid raya?), tapi.. 1 shofnya panjang banget, bisa sampai 100 jamaah. Karena ini masih awal Ramadhan jadi masjid raya masih penuh (dan semoga masih penuh juga sampai akhir Ramadhan yaa..).  Ada sisi unik dari penyelenggaraan sholat tarawih di masjid ini, yakni kita bisa ikut 11 rakaat atau 23 rakaat. Jadi 8 rakaat tarawih dulu, terus 3 rakaat witir (saat witir ini yang mau ikut 23 rakaat dipersilakan istirahat dulu), setelahnya baru lanjut 12 rakaat tarawih plus 3 rakaat witir  untuk yang sholat 23 rakaat.

**

Untuk khutbah malam 2 Ramadhan ini, khotib membuka dengan membacakan ayat yang paling sering kita dengar saat Ramadhan ini, yakni QS Al-Baqoroh: 183

Ada 3 poin penting dalam ayat tersebut;

Pertama, bahwa perintah shaum merupakan kewajiban untuk orang mukmin. Jadi, untuk mukmin yang sudah baligh tidak ada alasan untuk tidak shaum.

Kedua, bahwa perintah shaum merupakan kewajiban pula dan telah dilakukan oleh umat terdahulu. Jadi, tidak perlu ada kesombongan bahwa umat masa ini kuat berpuasa, karena toh kaum sebelumnya juga sudah menjalankan.

Ketiga, shaum untuk mencapai ketaqwaan.

Kalau kita menjalankan shaum berdasar poin 1-3 tadi tanpa kaitan (maksudnya: sebagai syarat orang mukmin saja, tanpa berusaha mencapai ketaqwaan), niscaya shaum kita hanyalah lapar dan haus saja.

Bulan Ramadhan ini juga merupakan bulan yang unik. Di bulan ini aktivitas duniawi bisa dikatakan berkurang atau berhenti sejenak. Dari yang sebelumnya siang malam mungkin susah untuk ibadah, di bulan suci ini kita mendapat kesempatan dan dorongan untuk bisa terus mendekatkan diri pada Allah SWT. Jangankan siang atau malam, dini hari pun digunakan untuk ibadah. Bisa bersadaqah lebih ikhlas dan lebih banyak, bisa baca Quran lebih sering, dan lebih banyak menundukkan diri (sujud). Merupakan tantangan untuk kita apakah setelah bulan suci berakhir, pendekatan diri pada Allah ini terus berlanjut (insan yang bertaqwa) atau kembali hangus lagi.

Khotib juga memberi materi sesuai dengan QS Al Fath:4, di mana dari ayat tersebut disebutkan Allah akan memberi ketenangan hati dalam hati orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan (yang sudah ada). Jadi jika ibadah kita selama bulan Ramadhan ini belum membuat hati kita tenang, belum memunculkan kenikmatan, dan masih saja ada unsur terpaksa atau formalitas, maka harus introspeksi diri. Dalam bulan Ramadhan yang merupakan bulan Tarbiyah, bulan belajar ini kita mesti terus belajar, baik belajar introspeksi diri dan belajar meningkatkan amalan.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Tarawih 2- Masjid Raya Cipaganti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s