Tarawih 11- Masjid Agung Bandung

Malam 11 Ramadhan… Kali ini agenda tarawih di Masjid Agung Bandung Provinsi Jawa Barat. Masjidnya benar-benar agung nih, ukurannya berkali-kali lipat jauh lebih besar dari Masjid Salman. Sayangnya, jumlah jamaah malam ini sama sekali ga sebanding dengan ukuran itu. Oke, itu masih bisa diterima. Yang aneh, cara membentuk shof jamaahnya. Belum juga shof depan terisi dua pertiganya, eh udah bikin shof baru di belakang. Begitu, sampai-sampai kalau diliat dari atas mungkin bentuk keseluruhannya seperti trapesium. Aneh kan? Untung saya bersama 3 teman saya, jadi masih bisa menjaga kerapatan dan kelurusan shof sebagai syarat sempurnanya jamaah. Kalau tidak, mungkin saya bakal terus bergumam tentang tipisnya beda “sholat jamaah” atau “sholat sendiri-sendiri tapi di masjid yang sama” di sini.

Oya, FYI di sini sholat tarawihnya 23 rakaat. Tapi selesainya cepet kok, bahkan relatif lebih cepat dibanding 11 rakaat di Salman. Saya sendiri, ya bisa ditebak lah ikut berapa rakaat. 🙂

    

**

Dalam khutbah tarawih kali ini, khotib mengingatkan akan kesadaran kita terhadap shaum dan hakekatnya. Mari kita nilai shaum kita sendiri, apakah hanya menahan lapar lalu riang saat buka puasa? Tentunya kita tidak ingin sekedar itu saja. Tapi dengan kepahaman dan kesadaran akan makna shaum Ramadhan, yakni untuk mencapai derajat taqwa.

Berlanjut penilaian kita tentang shaum kita, apakah kita sudah tahu doa Rasulullah SAW saat buka puasa?

(HR Abu Dawud, ad-Daruquthni, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, dari hadits Ibnu Umar dan dihasankan oleh as-Syaikh al-Abani)

Lalu, bagaimana tilawah kita di bulan suci ini? Kita mesti memegang prinsip tiada hari tanpa Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini. Shaum tanpa tilawah/tadarus AlQur’an, jangan harap nilainya akan sempurna. Karena itu, sudah semestinya kita terus membaca dan mendalami ayat suci Al-Qur’an. Belajar 1 huruf saja punya nilai kebaikan yang tinggi, apalagi kalau sampai khatam berkali-kali di bulan Ramadhan ini.

Amalan lain yang perlu dievaluasi oleh diri sendiri, sudah dijalankan dan dimaknai atau belum, adalah konsistensi dan kesinambungan dzikir kita pada Allah SWT serta keihklasan dalam beramal. Seberapa banyakkah kita mengingat Allah hari ini? Seberapa banyak kita telah beramal? dan apakah itu ikhlas? Diri kita sendiri yang mesti bisa mengevaluasi.

Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT. Dan mari terus kita tingkatkan…

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 10- Masjid Daarut Tauhid Gegerkalong

Malam 10 Ramadhan… Setelah 3 hari berturut-turut sholat tarawih di Masjid Salman, saatnya “menjelajah”. Kali ini berkilo-kilo jauhnya dari ITB, menuju ke Gegerkalong untuk tarawih di masjid yang kondang karena didirikan da’i nasional Aa Gym, masjid Daarut Tauhid.

Sholat di masjid ini untuk kedua kalinya (yang pertama Ramadhan tahun lalu), ada sedikit perubahan dalam masjid ini. Tapi tetap saja nyaman senyamannya untuk sholat dan tilawah. Masih ada juga 2 TV flat bagian kanan dan kiri, mungkin sekalian khutbah tarawihnya dibroadcast MQTV. Saya sendiri bersama 3 teman kebetulan dapat shof kedua dari depan, tepat di hadapan mimbar jadi tak perlu melirik ke layar TV besar di samping. Anyway, khotib malam ini bukan Aa Gym, tapi tetap bagus kok materi dan cara penyampaiannya. 😀

     

**

Dalam khutbah tarawih ini, khotib membahas mengenai usaha pencapaian kita menuju ketakwaan, sebagaimana merupakan tujuan kita shaum di bulan Ramadhan ini. Dalam mencapainya, Allah telah memberi modal yang sangat banyak, salah satunya adalah otak.

Otak merupakan pusat indera kita. Bagian tubuh paling spesial untuk mengendalikan tubuh kita. Berhubungan dengan shaum ini, otak kita semestinyalah diprogram berdasar Al-Qur’an. Karena tiada keraguan dalam AlQur’an, di sanalah letak segala jawaban. Dengan memprogram otak dengan Al-Qur’an maka outputnya adalah pikiran yang cerdas dan solutif. Langkahnya jelas, lebih mendalami al-Qur’an. Rasulullah SAW saja sebulan terus belajar dari malaikat Jibril, apalagi kita yang kadar imannya masih naik turun.

Selain itu dijelaskan pula mengenai shaum, di mana tugas berat kita adalah mengendalikan nafsu. Bukan hanya menahan dari makan dan minum saja, tapi pengendalian syahwat yang merupakan tempat bermain setan. Tentunya kita tidak mau dikendalikan oleh setan. Nauzubillahi min dzalik…