Tarawih 14- Masjid Salman ITB

Malam 14 Ramadhan.. Agenda hari ini di Masjid Salman (lagi). Karena 20 menit sebelum waktu Isya masih di Cimahi, sempat terpikir untuk sholat di Masjid Agung Cimahi, tapi ternyata masih ada waktu untuk mengejar tarawih di Salman. Kemacetan di Cimindi dan Pasteur tak jadi halangan. Yang penting bisa “Nyalman” 🙂

Khutbah tarawih malam ini dibawakan oleh Prof.Dr.Ir.Abdulhakim Alim. Beliau dari Majelis Guru Besar ITB. Menarik..

**

Dalam khutbah tarawih ini, khotib memaparkan mengenai 3 kesimpulan dalam kehidupan sekarang. Kesimpulan apa saja itu?

Pertama, bahwa peradaban sekarang lebih mementingkan kehidupan duniawi.

Kedua, ketaatan kepada Allah SWT dianggap sebagai beban.

Ketiga, banyak yang terlarut dalam pengejaran capaian duniawi.

Tiga kesimpulan yang tidak bagus untuk lingkungan hamba Allah, di mana diciptakan tak lain untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu kita dihadapkan pada tiga tuntutan:

1. Bagaimana agar dunia digenggam, tetapi tidak mengendalikan kita

2. Bagaimana mendapat kekuasaan di dunia, tetapi digunakan untuk membela kebenaran

3. Bagaimana agar ibadah kita menjadi kekuatan dalam perilaku

Untuk menghadapi tuntutan tersebut, mari kita simak hadits berikut:

Dari Umar r.a. beliau berkata : Suatu hari ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lutut Rasulullah SAW seraya berkata:

“Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam”, maka bersabdalah Rasulullah SAW : “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu“,

Kemudian dia berkata: “anda benar”.

Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman“. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk

lalu dia berkata: “anda benar”.

Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Beliau pun bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” .

kembali dia bertanya: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.

Dia berkata:  “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda:  “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya”, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.

Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian”.

(Hadits Riwayat Muslim)

Dari hadits di atas, dijelaskan mengenai Islam, Iman dan Ihsan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan, dan membawa ketiganya dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan kunci menghadapi 3 tuntutan di atas.

Dan tak ada alasan bagi kita untuk ingkar kepada Allah SWT. Bukankah kita dulu pernah berjanji untuk senantiasa beribadah kepada-Nya? Tidak perlu menyalahkan orang tua, orang lain, atau lingkungan yang mungkin kita rasa “menjauhkan” dari Allah SWT, melenakan dalam kehidupan dunia. Semuanya kembali pada diri sendiri, bagaimana membawa Islam, Iman, Ihsan.

Semoga kita bisa senantiasa menjaga Islam, Iman, Ihsan kita dalam kehidupan dunia ini. Bismillahirrahmanirrahiim

Tarawih 13- Masjid Al-Ukhuwwah Wastukencana

Malam 13 Ramadhan.. Untuk kedua kalinya dalam Ramadhan ini sholat tarawih di masjid agungnya Kota Bandung, yakni masjid Al-Ukhuwwah. Oya, khutbah di masjid berarsitektur indah ini biasanya 40% bahasa Indonesia dan 60% bahasa Sunda. Walaupun saya nyaris tidak bisa sama sekali berbahasa Sunda (padahal sudah 3 tahun di Bandung), tapi secara pasif masih bisa menangkap isi khutbah Sundanya. Kalau dalam kalimat yang panjang sekalian, bahasa yang “asing” pun lebih mudah dicerna ternyata. Anyway, asyik juga lho mendengarkan khutbah campur Indonesia-Sunda 😀

**

Dalam khutbah kali ini, khotib menyampaikan salah satu sabda Rasulullah yang berbunyi:

Kalaulah seandainya umatku tahu keutamaan bulan Ramadhan, tentu mereka akan meminta supaya satu tahun, semuanya dijadikan Ramadhan (HR Ibnu Mazah)

Kutipan hadits di atas menyebutkan mengenai begitu istimewanya bulan Ramadhan. Bulan yang penuh keistimewaan yang sangat sayang untuk dilewatkan tanpa menjalankan amal ibadah sebanyak mungkin. Karena dalam Ramadhan ini, ada “obral pahala”, kenikmatan dan ganjaran atas ibadah kita akan dilipatgandakan.

Mengingat keutamaan bulan Ramadhan tersebut, semestinyalah kita punya targetan dalam beribadah. Untuk merancang target, kita perlu tahu tujuan Allah SWT memerintahkan kita menjalankan ibadah tersebut.

Sholat, sesuai QS Al-Ankabut ayat 45, bertujuan untuk menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar

Zakat, sesuai QS At-taubah:103,  untuk membersihkan harta dari segala noda keserakahan

Sedangkan SHAUM, maka sebagaimana sering kita dengar selama Ramadhan ini, QS Al-Baqoroh: 183, bertujuan untuk mencapai derajat takwa

Jadi, untuk bahasan utama shaum di bulan Ramadhan ini, target kita jelas: MENCAPAI KETAQWAAN.

Lalu, apa saja sih ciri-ciri Taqwa? Khotib menjelaskan dalam khutbahnya sebagai berikut:

Ciri pertama adalah Tawadhu’. Sifat ini mengandung makna selalu merasa bersalah di depan Allah, merasa amalan yang sudah diperbuat masih kecil, tidak ingin diistimewakan, sehingga selalu meningkatkan usaha atau amalan kepada Allah SWT dan bersegera menggapai ampunan Allah SWT.

Ciri kedua adalah Qonaah. Sifat ini mengandung makna menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi yang dialami, tapi tidak berhenti hanya sampai situ saja. Sikap qonaah menuntut kita untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas.

Ciri ketiga adalah Waro’. Sifat ini mengandung makna berhati-hati. Berhati-hati terhadap sesuatu yang jelek akibatnya, sehingga selalu berusaha mengetahui dan memperdalam ilmu (dalam hal ini menyandarkan pada syariat Islam), serta senantiasa memohon perlindungan pada Sang Pemilik Segala Daya dan Kekuataan, Allah SWT.

Demikianlah semoga kita semua bisa mengambil hikmah. Semoga kita bisa meningkatkan ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini dan menggapai ciri dan derajat Taqwa.

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

Tarawih 12- Masjid Salman ITB

Malam 12 Ramadhan.. Setelah dua hari “meninggalkan” Salman, kini saatnya untuk kembali.. hoho..

Ada yang berbeda dari format khutbah-sholat tarawih malam ini. Jika di malam-malam sebelumnya, dan nyaris selalu begitu, setelah sholat Isya khutbah dulu baru sholat tarawih, kali ini dibalik: sholat tarawih dulu, baru khutbah.

Khotib yang dijadwalkan sebenarnya adalah Gubernur Jawa Barat, bapak Ahmad Heryawan. Tetapi karena berhalangan hadir, maka beliau digantikan oleh pak Agung, dosen Teknik Sipil ITB. Khutbah dengan format berbeda malam ini, suasananya tentu saja berbeda. Kalau sebelumnya khotib berbicara di mimbar, untuk malam ini khotib bisa “jalan-jalan” sambil menampilkan slide-slide yang dipancarkan 2 buah proyektor ke dinding depan masjid.

**

Materi khutbah — atau mungkin lebih condong ke “training”..yah, whatever– malam ini adalah 7 HABITS for COLLEGE STUDENTS. Wow! Sebagai pengagum buku Covey Family (Stephen dan Sean), tentu bukan hal yang baru mendengar 7 HABITS. Tapi yang unik di sini adalah embel-embel “For College Students” itu lho.. berbeda dari yang sudah saya baca, yakni For Teens (Remaja). Oh, ternyata ini juga yang baru diberikan kepada mahasiswa baru/ TPB (Tahap Persiapan Bersama) dalam training SSDK (Strategi Sukses Di Kampus), training yang rutin digelar untuk mahasiswa baru ITB.

Inti utama slide-slide yang ditampilkan adalah skala kematangan 7 Habit (Kebiasaan). Manusia punya potensi, punya juga banyak kesempatan, dan dengan kebiasaan serta kerja keras maka SUKSES akan didapat. Yang akan di-trigger di sini adalah kebiasaan/kerja keras, yakni dengan memberi motivation (motivasi), grit (kegigihan) dan mindset (pola pikir). Dan jadilah rumus: POTENSI + KESEMPATAN + KEBIASAAN, KERJA KERAS = SUKSES!

Habit (kebiasaan) itu letaknya seperti dalam gambar ini:

Oke, langsung kita lanjut ke skala kematangan 7 HABIT. Skala ini berlaku secara umum, seperti dicetuskan Stephen Covey, sang penulis buku fenomenal itu.

Tingkat terendah diri adalah dependence (bergantung), untuk berubah ke level berikutnya yakni independence (mandiri), maka  perlu 3 kebiasaan:

1. BE PROACTIVE (menjadi proaktif)

Memegang prinsip untuk berpikir jernih sebelum bertindak. Berasas See-Do-Get. Dari melihat menuju melakukan, maka kita harus senantiasa bertanggung jawab atas pilihan. Melakukan untuk mendapatkan, maka perlu memilih untuk ‘bertindak’, bukan ‘bereaksi’. Dari dapat menuju lihat, maka di situlah kita memegang kendali hidup kita.

Selain itu perlu pula stop & pause (mencoba mengerti mengapa kita merasakan suatu hal), think & choose (memikirkan berbagai alternatif yang mungkin, lalu menentukan pilihan), lalu Do (bertindak sesuai pilihan).

2. BEGIN WITH THE END IN MIND

Memulai dari acuan tujuan akhir. Dengan begitu, akan lebih mudah menentukan step-step mencapai target itu. Jangan sampai tergoda, dan pantang untuk gagal. Dalam Islam, tentu tujuan kita semua adalah ketaqwaan dan ridho Allah.

3. PUT FIRST THING FIRST

Prinsip ini memacu kita untuk pintar-pintar menetapkan prioritas, dan disiplin mengerjakannya. Karena seringkali kita terbuai dengan agenda yang sebenarnya kurang penting, dan itu jelas mempengaruhi agenda utama.

Dengan 3 kebiasaan di atas, kita telah bisa mencapai kemenangan pribadi dan kemandirian. Tentunya tidak sampai itu saja kita merasa puas. Harus meningkat dengan mendapatkan kemenangan publik dan level interdependence. Maka kebiasaan untuk mencapai itu adalah:

4. THINK WIN-WIN

Berpikir solusi sama-sama menang/menguntungkan, tidak mementingkan diri sendiri saja. Dalam Islam, disandarkan pada rukun Iman dan rukun Islam.

5. FIRST UNDERSTAND, THEN TO BE UNDERSTOOD

Berusaha memahami terlebih dulu, baru dipahami. Memandang masalah secara bijaksana

6. SINERGYZE

Sinergisasi antar elemen

Dan setelah kemenangan publik tercapai, terus asah dengan kebiasaan puncak, kebiasaan ketujuh

7. SHARPEN THE SAW

Asah gergaji. Asah kemampuan dan wawasan kita. Dalam Islam, dengan lebih banyak menghadiri kajian ilmu dan membaca dengan nama Allah SWT.

Demikian 7 HABIT (kebiasaan) yang bakal mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan. Dan mari kita usahakan untuk mencapai kemenangan-kemenangan kita, di bulan suci, bulan penuh kemenangan ini, bulan Ramadhan.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 11- Masjid Agung Bandung

Malam 11 Ramadhan… Kali ini agenda tarawih di Masjid Agung Bandung Provinsi Jawa Barat. Masjidnya benar-benar agung nih, ukurannya berkali-kali lipat jauh lebih besar dari Masjid Salman. Sayangnya, jumlah jamaah malam ini sama sekali ga sebanding dengan ukuran itu. Oke, itu masih bisa diterima. Yang aneh, cara membentuk shof jamaahnya. Belum juga shof depan terisi dua pertiganya, eh udah bikin shof baru di belakang. Begitu, sampai-sampai kalau diliat dari atas mungkin bentuk keseluruhannya seperti trapesium. Aneh kan? Untung saya bersama 3 teman saya, jadi masih bisa menjaga kerapatan dan kelurusan shof sebagai syarat sempurnanya jamaah. Kalau tidak, mungkin saya bakal terus bergumam tentang tipisnya beda “sholat jamaah” atau “sholat sendiri-sendiri tapi di masjid yang sama” di sini.

Oya, FYI di sini sholat tarawihnya 23 rakaat. Tapi selesainya cepet kok, bahkan relatif lebih cepat dibanding 11 rakaat di Salman. Saya sendiri, ya bisa ditebak lah ikut berapa rakaat. 🙂

    

**

Dalam khutbah tarawih kali ini, khotib mengingatkan akan kesadaran kita terhadap shaum dan hakekatnya. Mari kita nilai shaum kita sendiri, apakah hanya menahan lapar lalu riang saat buka puasa? Tentunya kita tidak ingin sekedar itu saja. Tapi dengan kepahaman dan kesadaran akan makna shaum Ramadhan, yakni untuk mencapai derajat taqwa.

Berlanjut penilaian kita tentang shaum kita, apakah kita sudah tahu doa Rasulullah SAW saat buka puasa?

(HR Abu Dawud, ad-Daruquthni, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, dari hadits Ibnu Umar dan dihasankan oleh as-Syaikh al-Abani)

Lalu, bagaimana tilawah kita di bulan suci ini? Kita mesti memegang prinsip tiada hari tanpa Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini. Shaum tanpa tilawah/tadarus AlQur’an, jangan harap nilainya akan sempurna. Karena itu, sudah semestinya kita terus membaca dan mendalami ayat suci Al-Qur’an. Belajar 1 huruf saja punya nilai kebaikan yang tinggi, apalagi kalau sampai khatam berkali-kali di bulan Ramadhan ini.

Amalan lain yang perlu dievaluasi oleh diri sendiri, sudah dijalankan dan dimaknai atau belum, adalah konsistensi dan kesinambungan dzikir kita pada Allah SWT serta keihklasan dalam beramal. Seberapa banyakkah kita mengingat Allah hari ini? Seberapa banyak kita telah beramal? dan apakah itu ikhlas? Diri kita sendiri yang mesti bisa mengevaluasi.

Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT. Dan mari terus kita tingkatkan…

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 10- Masjid Daarut Tauhid Gegerkalong

Malam 10 Ramadhan… Setelah 3 hari berturut-turut sholat tarawih di Masjid Salman, saatnya “menjelajah”. Kali ini berkilo-kilo jauhnya dari ITB, menuju ke Gegerkalong untuk tarawih di masjid yang kondang karena didirikan da’i nasional Aa Gym, masjid Daarut Tauhid.

Sholat di masjid ini untuk kedua kalinya (yang pertama Ramadhan tahun lalu), ada sedikit perubahan dalam masjid ini. Tapi tetap saja nyaman senyamannya untuk sholat dan tilawah. Masih ada juga 2 TV flat bagian kanan dan kiri, mungkin sekalian khutbah tarawihnya dibroadcast MQTV. Saya sendiri bersama 3 teman kebetulan dapat shof kedua dari depan, tepat di hadapan mimbar jadi tak perlu melirik ke layar TV besar di samping. Anyway, khotib malam ini bukan Aa Gym, tapi tetap bagus kok materi dan cara penyampaiannya. 😀

     

**

Dalam khutbah tarawih ini, khotib membahas mengenai usaha pencapaian kita menuju ketakwaan, sebagaimana merupakan tujuan kita shaum di bulan Ramadhan ini. Dalam mencapainya, Allah telah memberi modal yang sangat banyak, salah satunya adalah otak.

Otak merupakan pusat indera kita. Bagian tubuh paling spesial untuk mengendalikan tubuh kita. Berhubungan dengan shaum ini, otak kita semestinyalah diprogram berdasar Al-Qur’an. Karena tiada keraguan dalam AlQur’an, di sanalah letak segala jawaban. Dengan memprogram otak dengan Al-Qur’an maka outputnya adalah pikiran yang cerdas dan solutif. Langkahnya jelas, lebih mendalami al-Qur’an. Rasulullah SAW saja sebulan terus belajar dari malaikat Jibril, apalagi kita yang kadar imannya masih naik turun.

Selain itu dijelaskan pula mengenai shaum, di mana tugas berat kita adalah mengendalikan nafsu. Bukan hanya menahan dari makan dan minum saja, tapi pengendalian syahwat yang merupakan tempat bermain setan. Tentunya kita tidak mau dikendalikan oleh setan. Nauzubillahi min dzalik…

Tarawih 9- Masjid Salman ITB

Malam 9 Ramadhan.. Terdorong untuk sholat di masjid Salman lagi.. hehee..

Khotib untuk tarawih malam hari ini tak kalah dengan khotib-khotib terdahulu, yakni Bapak KH Athian Ali, beliau adalah ketua FUUI (Forum Ulama Umat Islam). Walau beliau masih dalam kondisi kurang fit karena baru 2 hari lalu operasi, tapi beliau masih bisa membawakan khutbah dengan sangat bagus. Materi yang disampaikan agak sensitif tapi dengan penyampaian seperti beliau, jamaah jadi sangat antusias. Dan memang jamaah perlu belajar banyak dari beliau, yang bisa terus berdakwah dengan baik dalam kondisi sakit sekalipun. Subhanallah

**

Khotib dalam khutbah tarawih ini membahas mengenai iman dan kafir yang saat ini perbedaannya tampak makin kabur, terutama di negeri kita Indonesia. Klo tentang urusan hati memang semua orang juga tidak tahu, tapi kondisi sekarang, tampak luar pun susah untuk membedakan apakah seseorang beriman atau sebenarnya kafir.

Dalam QS Al-Baqoroh ayat 185 dijelaskan salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai pembeda, pembeda antara haq dan bathil. Jadi dari Al-Qur’anlah semestinya kita bisa membedakan mana perkara yang baik dan buruk.

Khotib secara khusu menyoroti QS Al-Hujurat ayat 14-15 berikut

Dari ayat tersebut, Allah SWT pernah mengingatkan Rasulullah SAW untuk mengatakan pada orang Arab Badui bahwa telah Islam/tunduk, belum tentu telah mukmin karena iman belum tentu sudah masuk dalam hati mereka. Sedangkan iman yang sesungguhnya adalah yang disebutkan dalam QS Al-Hujurat: 15 itu.

Nah, di Indonesia tercinta ini, banyak kasus yang membuat miris karena banyak yang belum mukmin tadi. Dan mungkin juga lho kita ini sudah Islam, tapi ternyata belum benar-benar mukmin. Padahal ga ada yang namanya “rada mukmin” atau “agak kafir”. Kalau ga mukmin, ya berarti kafir. Naudzubillahi min dzalik.

Dalam candaannya, khotib berkata kalau Iblis itu, mungkin paling sebel di Indonesia. Kenapa? Coz, dia (iblis) aja hanya sekali mengkufuri (tidak mau sujud pada Adam A.S. dengan alasan api lebih mulia dari tanah) hukumannya diturunkan dari surga dan dilaknat sampai akhir zaman. Sedangkan di Indonesia, orang yang kufur berkali-kali banyak yang menyebutnya Kiai Haji. Contoh juga yang mengatakan Al-Qur’an sebagai kitab suci paling porno tuh…

Masih dalam nada candaan, khotib berkata kalau Iblis mungkin lebih beriman dari manusia. Kenapa? Kan dia (iblis) melihat langsung Allah, ia sadar kalau Allah Sang Pencipta, tidak beranak dan diperanakkan. Eh manusia malah masih banyak yang ragu akan Allah SWT, berkata Allah itu punya putra, de-el-el. Hmm…

Bahwa beda antara mukmin dan kafir makin kabur di negeri ini adalah pendapat mengenai hukum waris. Ada yang beranggapan (padahal yang beranggapan wawasan Islamnya cukup luas), jatah warisan laki:perempuan 2:1 seperti tercantum dalam Al-Qur’an itu tidak adil, karena kondisinya perempuan sekarang banyak yang bekerja. Kalau perbandingan 2:1 kan cocoknya di Arab tempo dulu, ga cocok di kondisi seperti Indonesia sekarang. Jadi ada pendapat untuk bikin “fiqih versi Indonesia”. Nauzubillah.

Al-Qur’an sebagai kitab suci pedoman hidup manusia itu tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada sama sekali. Kalau dinalar sederhana, itu seperti kita memilih kopiah untuk kepala. Bukan kepalanya yang harus menyesuaikan dengan kopiah, tapi kopiah yang dipilihlah yang harus menyesuaikan dengan kepala. Dan kepala dalam analogi ini adalah induk ilmu, tak lain kitab suci Al-Qur’an. al-Qur’an mesti kita pelajari dan pahami benar karena fungsinya juga sebagai Al-Furqon, pembeda antara haq dan bathil.

Semoga kita bisa lebih mendalami Al-Qur’an dan Islam. Beriman dengan sebenar-benarnya iman. Dan kita terbimbing dalam menghadapi batas mukmin dan kafir yang makin kabur.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Kultum Subuh 8- Masjid Salman ITB

8 Ramadhan 1432 H atau bertepatan dengan Senin 8 Agustus 2011. Hari pertama perkuliahan semester 7 di ITB. Semester baru, semangat baru. Tak terasa sudah jadi mahasiswa versi 4.0 (tingkat empat). Final year.. Harus bisa jadi produktif dan lebih produktif lagi,, dan pagi nan cukup hangat ini dimulai dengan sujud di Masjid Salman.

**

Kultum Subuh kali ini membahas mengenai doa yang merupakan salah satu cara komunikasi kita kepada Sang Pencipta, ALLAH SWT. Manusia, sebagaimana kita tahu, punya kelebihan dan batasan masing-masing. Karena itu semestinyalah tempat bergantung kita hanya Allah, bukan malah bergantung pada manusia yang jelas-jelas punya banyak batasan.

Caranya, ya komunikasi itu tadi : doa. Dibarengi dengan ikhtiar, insya Allah dimudahkan dalam berbagai hal di kehidupan ini. Manusia berikhtiar tanpa doa, itu sombong. Manusia berdoa tanpa ikhtiar, itu bohong.

Ada syarat agar doa kita makbul (dikabulkan oleh Allah SWT), yakni dengan sikap yang tepat dan waktu yang tepat. Dalam kultum ini, khotib memaparkan waktu-waktu doa makbul yakni: saat adzan, antara adzan dan iqomah, saat sujud, sesaat setelah sholat fardhu, sepertiga malam terakhir, saat khotib duduk di antara 2 khutbah Jum’at, saat buka puasa.

Waktu yang mustajab itu akan lebih berlipat kesempatannya saat bulan suci Ramadhan ini. Karena itu, bismillah, mari lebih banyak mendekatkan diri dengan Allah melalui doa. Memberi harapan dan melengkapi ikhtiar sungguh-sungguh yang kita lakukan dengan nama Allah, untuk mengharap ridho Allah.

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

Tarawih 8- Masjid Salman ITB

Malam 8 Ramadhan.. Salman dan Salman… 😀

Kalau biasanya jamaah tarawih penuh, malam ini lebih penuh lagi karena khotib yang mengisi merupakan seorang menteri. Seorang yang juga cukup identik dengan ITB. Beliaulah ketua Ikatan Alumni ITB, yang sekarang juga diamanahi jabatan tak main-main, Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia. Ya, khotib malam ini adalah bapak Ir.H. Hatta Radjasa..

**

Dalam khutbah tarawih malam ini, Pak Hatta mengawali dengan menceritakan banyaknya peristiwa penting dalam sejarah, terutama tarikh Islam, yang terjadi di bulan Ramadhan. Kemenangan pasukan Rasulullah SAW di Perang Badr, penaklukan Andalusia (Spanyol) oleh Tariq bin Ziyad, perebutan Palestina oleh Sholahuddin Al-Ayubi adalah contohnya.

Bulan Ramadhan merupakan syahrul jihad. Bulan untuk berjuang. Bulan untuk berjihad melawan berbagai permasalahan yang menimpa diri, bangsa dan agama. Sebagai seorang menteri ekonomi, Pak Hatta akan membahas mengenai perjuangan yang mesti dilakukan bangsa Indonesia, terutama terkait ekonomi. Mengenai ekonomi, Indonesia sering dilanda krisis, saat krisis itu muncul energi untuk bersatu, dan motor utamanya adalah umat Islam. Karena itu, sudah selayaknya  kita sebagai muslim Indonesia juga turut memikirkan permasalahan bangsa.

Indonesia, kata Pak Hatta, butuh waktu 65 tahun untuk mencapai kemajuan ekonomi gelombang pertama. Tapi, apakah perlu 65 tahun lagi untuk kemajuan ekonomi kedua? Tentu semua akan sepakat untuk berkata “Tidak!”. Kita butuh percepatan pembangunan, dan itu mesti diupayakan sebaik mungkin.

Mengenai pembangunan, Indonesia jelas punya potensi besar. Di antaranya adalah kondisi generasi sekarang yang merupakan transisi usia produktif (double bonus generation). Di saat kebanyakan negara Barat serta Jepang mulai aging (banyak yang berumur tua), Indonesia justru punya piramida penduduk yang produktif. Sayang jika kondisi ini tidak bisa dimanfaatkan. Potensi utama lainnya adalah kekayaan SDA (Sumber Daya Alam) yang belum terolah dengan benar walau rata-rata merupakan sumber melimpah 5 besar dunia.

Dalam program nasional, Pak Hatta menjelaskan langkah strategis yang diambil untuk percepatan pembangunan ekonomi:

1. Pembangunan pusat-pusat ekonomi baru yang tersusun dalam 6 koridor ekonomi nasional. Kawasan ekonomi khusus untuk memacu pertumbuhan ekonomi terus disiapkan

2. Membangun konektivitas dan infrastuktur (locally integrated, globally connected)

3. Memacu SDM dan IPTEK nasional. Jadi landasan pembangunan ekonomi sekarang ditumpukan pada teknologi. Negara butuh entrepreneur-entrepreneur kreatif dalam jumlah banyak. Juga teknokrat yang mau memikirkan dan mampu memajukan bangsa.

Itulah rencana pembangunan ekonomi nasional di mana kita diharapkan untuk sama-sama menyokong. Dimulai dari membangun diri sendiri. Quote dari pak Hatta: Good is not good enough, why not the best?

Yuph, mari berusaha sebaik mungkin…

Bismillahirrahmanirrahiim….

Tarawih 7- Masjid Salman ITB

Malam 7 Ramadhan, sholat tarawih di Masjid Salman lagi.. Sudah menjadi agenda tiap malam ganjil Ramadhan kali ini. Sebenarnya terpikir untuk switch, hari ini sholat di masjid al-Hidayah (dekat kosan) dulu, kemudian besok hari Ahad 7 September baru ke Salman karena khotib hari itu Menko Perekonomian Indonesia yang juga ketua Ikatan Alumni ITB, Pak Hatta Radjasa. Sudah sholat Isya di masjid Al-Hidayah, tapi kemudian terpikir untuk ke Salman lagi untuk tarawihnya. Kenapa? Kerenggangan shof (terlalu dan terlalu renggang) yang sampai saat ini selalu membuat saya heran dan selalu merindukan Salman. So, hari ini tarawih tetap di Salman. Switchnya baru hari Ahad-Senin. Ahad ke Salman untuk ikut khutbahnya Pak Hatta, Senin plan tarling ke Masjid At-Taqwa Gegerkalong.

Khotib untuk tarawih malam ini oke punya (dan kayaknya selalu begitu deh.. hehe), yakni Ustadz Aam Amiruddin, ketua pembina yayasan percikan iman yang juga narasumber acara dakwah di sejumlah TV swasta. Menarik sekali materi dan cara beliau menyampaikan materinya. Mantap!

**

Khutbah tarawih malam ini membahas mengenai kehidupan di dunia. Hidup adalah satu karunia yang sangat besar dari Allah SWT. Karena itu mutlak kita gunakan sebaik-baiknya sebagaimana janji kita sebelum berada di sini, yakni untuk beribadah kepada-Nya. Dan terus mengisi dengan amalan-amalan terbaik karena sesuai QS Al-Mulk: 2 berikut:

Dalam materi khutbah ini, khotib menjelaskan 4 hal pokok mengenai hidup:

1. Life is a process

Hidup merupakan sebuah proses. Jangan mengharapkan sesuatu yang instan di dunia. Pun akan keberhasilan. Berhasil merupakan wewenang Allah, berhasil merupakan “tugas” Allah. Sedangkan tugas kita adalah mengusahakan usaha-usaha terbaik. Menjadikan sebaik-baiknya diri kita. Membentuk mental AHSANU AMALA (yang terbaik amalnya)

2. Life is never flat

Hidup ga pernah datar-datar aja. Selalu ada tantangan, selalu ada cobaan. Ada kalanya kita berada di “atas”, dan ada kalanya pula kita terpuruk di “bawah”. Maka dari itu, mental orang mukmin mestinya membentuk batas atas dan batas bawah. Batas atasnya ketika kita mendapat nikmat yang menyenangkan, maka memperbanyak syukur. Bahwa nikmat tersebut merupakan milik Allah SWT. Sebaliknya kita sedang terpuruk, kita menjaga batas bawah dengan bersabar dan terus belajar dari pengalaman. Sebenar-benarnya belajar dari kesalahan sehingga seorang mukmin sudah semestinya tidak terperosok dalam lubang yang sama.

3. Life is choice

Hidup itu merupakan suatu pilihan. Dalam memilihnya, bebas saja kita mau memilih yang mana. Toh baik buruk kita sudah bisa menakar sendiri. Tetapi mesti diingat bahwa semua ada pertanggungjawabannya. Dan Allah SWT menghargai makhluk-Nya yang bisa menempatkan diri pada pilihan-pilihan terbaik.  Salah satunya tertulis dalam QS Al-Mu’minun ayat 3 mengenai ciri orang mukmin “orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna”.

4. Life is temporary

Hidup ini hanya sesaat, Kawan. Semua yang hidup di dunia ini akan meninggal. Kita tak tahu kapan waktunya, karena itu waktu menjadi sangat berharga. Dan menjadi tugas kita untuk menjadikan diri kita, saat kita telah meninggal, menjadi pembicaraan yang baik-baik, bukan dipergunjingkan karena hal buruk. Kita mesti mengupayakan sehingga saat meninggal bisa dalam keadaan khusnul khotimah.

Demikian khutbah tarawih malam ini. Semoga kita bisa benar-benar bisa memanfaatkan hidup kita di dunia nan fana ini dengan sebaik-baiknya. Ahsanu amala…

Bismillahirrahmanirrahiim..

 

 

Tarawih 6- Masjid Istiqomah Taman Citarum

Malam 6 Ramadhan, agenda tarawih kali ini menuju ke Masjid Istiqomah di jalan Taman Citarum Bandung. Sebenarnya niat awal mau ke Masjid PUSDAI, tapi karena Ramadhan tahun lalu belum pernah ke Masjid Istiqomah, jadilah destinasi berbelok ke masjid ini. Masjid megah ini punya arsitektur yang mirip-mirip dengan Salman. Dengan lantai kayu nan hangat dan ketiadaan tiang penyangga. Secara umum nyaman juga sholat di masjid ini, walau tetap Salman punya nilai plus lebih dalam hal kerapatan dan kuantitas jamaah serta keindahan bacaan sholat. Hal untuk lagi yang saya jumpai di masjid Istiqomah malam ini adalah format tarawihnya 4-4-3 (11 rakaat), pertama kali dalam tarawih keliling Ramadhan kali ini karena di masjid-masjid sebelumnya biasa 2 rakaat salam. 🙂

         

**

Khotbah tarawih malam ini mengenai Rahmat Allah SWT. Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh rahmat sehingga tidak habis-habisnya topik ini dibahas. Dan ketika mendengar frase “Rahmat Allah SWT” maka semestinya yang berada dalam pikiran dan hati kita adalah rasa syukur, mengingat rahmat yang begitu besar dari-Nya. Dan juga dalam bulan penuh kemuliaan ini, tak ada salahnya kita meminta (berdoa) lebih banyak untuk rahmat dan ridho Allah SWT.

Ada 3 golongan yang tidak ditolak doa mereka, yakni orang yang shaum hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doa orang yang dizalimi (HR Tirmidzi)

Untuk mendapat rahmat dan ridho Allah SWT caranya adalah beriman, beramal dan berjihad. Dalam bulan Ramadhan ini, dalam proses menuju ketakwaan, maka mari kita tingkatkan kekokohan iman kita, memperbanyak amalan sholeh dan berjihad fisabilillah.

Bismillahirrahmanirrahiim…