Maraknya Kasus Pencurian/Penyedotan Pulsa

Siang tadi, saya barusan mengikuti kuliah Regulasi Telekomunikasi. Di mata kuliah yang dibawakan dengan sangat menarik oleh dosen saya itu, kami membahas mengenai kasus paling aktual terkait telekomunikasi. Yah, sebagai civitas academica yang bergelut di bidang telekomunikasi, kami memang mesti diajarkan sense untuk mengikuti tren dan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Then, apa topik hangat yang bergulir tadi? Of course, yang sedang hangat-hangatnya dibahas,, tak lain tak bukan KASUS PENCURIAN/ PENYEDOTAN PULSA. Belakangan masyarakat memang sangat diresahkan dengan kasus ini. Dari yang kecewa tersedot Rp 2000/sms tapi cenderung pasrah aja karena nilai itu dirasa tak cukup besar untuk effort melapor ke pihak berwenang, sampai yang terang-terang memidanakan kasus ini (menuntut provider telekomunikasi) karena dianggap melakukan kebohongan publik, merugikan konsumen dan hal-hal yang bertentangan dengan UU ITE.

Hmm.. case yang menuntun saya –dari semula cuek– menjadi gencar browsing info terkait masalah ini. Dan setelah mengumpulkan berbagai sumber khususnya dari Liputan6, Detikinet, Teknojurnal dan Republika.. berikut sedikit yang bisa saya ambil dan rangkum:

Deskripsi Kasus

Inti dari kasus ini adalah Pengguna tanpa sadar masuk/register ke layanan konten yang menyedot pulsa secara signifikan, di mana sangat minim informasi untuk unregister (UNREG) sehingga pulsa terus menerus tersedot.

Umumnya kalau kita akan mengakses layanan konten tertentu (RBT, NSP atau konten lain) kita diperkenankan ketik REG (spasi), kita mendapat info/layanan tersebut, dan pulsa berkurang dengan nominal yang jelas. Tapi, entah apakah karena masyarakat mulai aware sehingga jumlah yang register dengan cara ini berkurang, penyedia konten atau content provider (CP) mulai menggunakan trik yang lebih jitu, dan pastinya menjengkelkan. Sejenak lupakan “SMS mama”, cek contoh kasus pencurian/penyedotan pulsa berikut:

  1. Anda dapat sms menang hadiah jutaan rupiah dan dipersilakan sms ke *XXX*X# (contoh: *123*2#). Waspadalah karena inilah bentuk baru registrasi layanan tanpa harus menggunakan REG (biasa disebut UMB). Nah, sebagai pengguna awam pasti kita akan mencobanya (karena sekilas nomor tersebut seperti nomor yang kita gunakan untuk mengecek sisa pulsa), namun jika kita menekan tombol tersebut maka secara langsung akan mengirimkan perintah untuk melakukan pendaftaran nomor kita ke layanan yang terpilih, kita teregistrasi ke layanan itu, dan well.. mulai tersedotlah pulsa kita.SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tibatiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka sms tersebut, tanpa membalasnya!
  2. SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tiba-tiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka SMS tersebut!! Biasanya sih kalau membalas SMS tersebut baru pulsa tersedot. Tapi case di Surabaya ini terbukti hanya dengan membuka SMS saja, pulsa sudah tersedot. Hmm….
  3. Pengguna layanan khusus semacam Ring Back Tone (RBT), ia akan diberi secara gratis selama beberapa hari dan jika masa gratisnya tersebut telah selesai maka pengguna akan dipotong pulsanya sejumlah harga RBT yang berlaku. Kasus ini sangat jarang terdeteksi karena kita baru akan tahu ketika orang lain akan bilang ke kita “Kamu pasang RBT lagu X ya?” dan kita akan kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena kita merasa tidak suka dan tidak pernah berlangganan RBT. Kasus yang mirip adalah layanan tambahan Opera Mini. Pengacara David Tobing bahkan sampai memidanakan kasus ini karena merasa CP melakukan “negative option“, jika pelanggan tidak membalas konfirmasi maka dianggap sudah menyetujui.

Melihat contoh kasus di atas, cara-cara curangnya begitu ‘canggih’ dan sangat meresahkan, bukan??

Seperti diberitakan, YLKI (Yayasan Layanan Konsumen Indonesia) memastikan setiap bulan sekitar Rp 100 miliar pulsa milik konsumen tersedot para pencuri pulsa. Wew!! Jumlah kerugian yang sangat besar…

(under construction.. to be continued.. 🙂 )


Mengaji Ba’da Maghrib

Memiliki kebiasaan baik itu sangat menyenangkan. Walau terkadang kebiasaan yang baik dalam aktivitas harian justru kalah kuantitasnya dengan kebiasaan buruk. Nah, sambil koreksi kebiasaan masing-masing, saya mau menceritakan satu kebiasaan baik yang mungkin bisa sama-sama dibudayakan.

Kebiasaan itu tak lain membaca Al-Qur’an (mengaji) ba’da maghrib

Membaca Al-Qu’ran tentu saja memiliki banyak sekali keutamaan mengingat Al-Qur’an adalah petunjuk hidup manusia di dunia nan fana ini. Mengenai waktu membacanya, kapanpun takkan mengurangi keutamaan. Nah, kalau saya menyebutkan kebiasaan ba’da Maghrib, itu karena di waktu itulah saya selalu dibiasakan oleh Ibu saya. Kebiasaan yang sudah dimulai sejak kecil, atau mungkin juga sejak dalam kandungan Ibu.

Berikut ayat yang mengandung salah satu keutamaan mambaca Al-Qur’an (mengaji) :

Nah, tertulis jelas di situ bahwa Al-Qur’an sebagai PENJELAS, PETUNJUK, RAHMAT dan KABAR GEMBIRA sekaligus. Menarik sekali bukan?

Berhubungan dengan waktu Maghrib, waktu ini merupakan transisi dari waktu ada dan tidaknya matahari. Waktu ini menjadi krusial karena selepas Maghrib sampai kita terlelap tidur merupakan waktu yang sangat potensial untuk melakukan hal produktif (utamanya belajar). Mengaji di saat ini bakal merefresh pikiran dan keletihan, plus tambahan luar biasa tadi: Penjelas, Petunjuk, Rahmat, Kabar Gembira, sehingga kita bisa menikmati belajar kita. Tentunya dengan bismillah, atas nama Allah.. 🙂

So, ba’da Maghrib adalah waktu yang sangat recommended untuk kebiasaan baik membaca Al-Qur’an. Then, why not? yuk sama-sama dibiasakan..

 

Keluarga Widya Kelana

Sebagai anak rantau dari Solo di kota Bandung, saya punya “keluarga besar” di sini. Namanya Widya Kelana. Biasa disingkat dengan Wika. Paguyuban ini sudah dirintis sejak lama dan terus eksis dengan semangat paguyuban kekeluargaan.

Kalo ditelusuri dari nama, Widya=Ilmu/belajar, Kelana=berkelana/merantau. Yuph, berkelana untuk mencari ilmu. Filosofi yang bagus kan? Tapi entah kenapa baru ditelusuri saat kepengurusan tahun ini, mengenai sejarah dan pembentukan paguyuban Wika. Konon, sudah sejak 1976 lho.. wow.. tapi itu juga baru konon, saat kopi darat yang akan diadakan sebentar lagi di kota Bandung ini mungkin akan ditemui jawaban pastinya. Sekarang, seperti tercantum di jaket identitas, Widya Kelana dimaknai sebagai “Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB”.

Banyak sekali kegiatan dan kemanfaatan dari paguyuban Widya Kelana. Baik sebagai keluarga bagi internal anggotanya, juga bagi adik-adik SMA yang ingin tahu banyak informasi mengenai universitas (khususnya ITB). Apa saja itu?

Hmm.. kalau diceritakan bakal panjang banget ntar. Nah, biar ga kecampur dengan materi blog ini, tapi saya masih bisa menyampaikan inspirasi dari Widyakelana, monggo teman-teman semua menyempatkan untuk mengunjungi situs resmi Widya Kelana:

www.widyakelana-itb.org

Karena saat ini saya masih diamanahi jadi kadiv kekeluargaan Widya Kelana, report acara dan motivasi agar paguyuban ini makin guyub di situs itu saya yang nulis. Bisa dibaca dari gayanya yang catchy (auwah..)

Selamat berkunjung ya! Semoga tulisan saya di sana juga bisa memberi inspirasi dan motivasi, sebagaimana yang saya harapkan lewat blog saya ini…!

Terima kasih

Menjadi 100%

Tahukah Anda bahwa untuk bisa lepas landas, pesawat butuh lintasan sepanjang minimal 2,2 km?

Jarak tersebut digunakan untuk mencapai kecepatan minimal 200 knot sehingga punya daya angkat yang cukup.

Sekarang, bila pesawat itu kurang 1 knot saja kecepatannya, atau kurang 1/200 (0,05%) saja, apa yang terjadi?

Ya, pesawat kurang daya angkat, tak bisa lepas landas, dan kecelakaanlah yang dialami.

Berapa usaha yang sudah dilakukan pesawat? 99,95% dan GAGAL…

 

Ambil contoh satu lagi, kali ini dalam hal ibadah…

Bagi umat muslim, ada kewajiban shaum. Saat shaum dalam dari Subuh sampai Maghrib,,

Sudah berpuasa selama sekitar 14 jam, tapi satu menit sebelum waktu adzan (atau hanya kurang 0,04%) kita sudah sengaja makan/minum..

Tetap saja BATAL, bukan?

Berapa usaha yang sudah dilakukan? 99,96% dan GAGAL…

**

 

Apa yang bisa diambil hikmah?

Dalam hidup, dalam menjalankan aktivitas dan ibadah kita memang dituntut untuk berusaha 100%…

Memang terkadang ada toleransi tertentu sehingga usaha kita yang tak maksimal pun bisa mendatangkan hasil..

Tapi, kebanyakan, usaha yang tak 100% akan mendatangkan kecelakaan atau hilangnya kesempatan…

So, Be 100%..!! serasa iklan ya.. 🙂

Mari lebih giat berusaha!!

 

*sebuah renungan, terutama sebagai refleksi diri sendiri..

Thank You, Steve Jobs

Inovator ulung teknologi abad ini, Steve Jobs, telah berpulang kemarin. Dialah yang menemukan berbagai perangkat teknologi revolusioner dalam produk Apple seperti iPod, iPhone dan iPad. Gayanya yang kharismatik dan kata-katanya yang sangat inspiratif telah mengubah pola pikir dunia menjadi lebih baik. Rekor tweet 10.000 per detik untuknya, plus testimoni dari seluruh produk teknologi unggulan dunia, mungkin hanya sedikit bukti bahwa he is a legend.

Situs paling populer sejagad, Google, tak lupa memberi penghargaan tinggi dengan menampilkan namanya yang ter-link ke situs Apple

Dan ternyata saya pernah juga menulis ulang kata-kata inspiratif Steve Jobs dalam blog ini. Kata-kata yang sangat bagus untuk para pembelajar. Terangkum dalam tulisan pidato inspiratif beliau saat wisudaan Stanford University yang berada pada first page Google untuk keyword “pidato inspiratif Steve Jobs” di link ini:

Pidato Inspiratif Steve Jobs-1

Pidato Inspiratif Steve Jobs-2

Pidato Inspiratif Steve Jobs-3

Quote yang juga sangat ingin saya kutip dan belajar banyak:

Waktu Anda terbatas, jangan sia-siakan untuk menjalani kehidupan seperti orang lain. Jangan terjebak pada dogma, yang merupakan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan opini orang lain menenggelamkan suara di dalam diri Anda. Yang paling penting, beranilah mengikuti hati dan intuisimu yang entah bagaimana, sudah tahu sesungguhnya Anda ingin menjadi apa (STEVE JOBS)

Thank You, Steve Jobs…

Saya dan Kereta Api

Ketika memulai tulisan ini, sebenarnya saya ingin mengulas “Transformasi Kereta Api” mulai 1 Oktober 2011 kemarin. Tapi di tengah menulis, tiba-tiba saya terpikir membuat semacam prolog dulu. Mengenai kesan mendalam saya akan kereta api.

Slow aja ya ceritanya.. Alasan mengapa saya tertarik untuk menulis tentang kereta api..

Masa Kecil Saya dan Kereta Api

Saat saya masih kecil, mungkin hanya 3 alat transportasi yang cocok dengan saya: sepeda, sepeda motor dan kereta api.

Dua alat transportasi yang disebut lebih awal, pastinya lah ya karena normalnya itu yang biasa kita naiki. Bisa bercengkerama dengan angin, bisa nyelip-nyelip bebas, simpel, fleksibel, minim polusi dan tentunya ekonomis. Pokoknya semua yang ada di rumah saya anggap sebagai barang-barang terbaik. Pada akhirnya sih saya juga suka kendaraan roda empat, tapi hanya berlaku untuk mobil. Bus, sungguh saya membencinya. Sumber ‘keonaran’. Memaksaku menghirup asap kotor polusinya saat lewat jalan raya, serta suka berhenti mendadak tanpa sopan santun. Apalagi waktu itu saya kan hampir selalu mabuk jika naik bus. Hoho.. Pandangan saya terhadap bus mulai netral saat SMP, saat saya sudah ga mabukan lagi kalau naik bus. Tapi tetap saja sampai saat ini saya ga begitu suka (bukan berarti anti) naek bus.

Nah, untuk kereta api: saya selalu menyukai dentuman suaranya dan prototype besinya nan gagah, plus gara-gara lokomotif tunggal nan lucu ini:

Loko jadul yang jalannya lambat sehingga saya menyebutnya “unul-unul”. Emang asyik waktu berhenti karena palang kereta api ditutup, dan yang lewat ternyata si “unul-unul” ini. Hahaha.. Saya juga menikmati di kala balita, kereta api sudah mengantar saya ke Jakarta untuk acara nikahan om saya, serta mengantar ke Wonogiri untuk piknik TK. Menyenangkan. Lanjut waktu SD, saat Mushofi kecil mulai terlihat ketampanan dan keisengannya (hehe), rel kereta menjadi arena bermain yang asyik. Tentu bukan maen lari-lari atau petak umpet di rel (mau mati muda apa), melainkan “membuat pedang”. Bawa paku, letakkan di rel, tunggu kereta api lewat dan melindas paku itu, dan jadilah pedang mini. Keren!

Kereta Api dan Kisah Persahabatan

Singkatnya, saya sudah jadi ABG (Anak Baik n Ganteng…eh), sudah memasuki dunia putih abu-abu (SMA). Dunia yang saya akui sangat indah mengasyikkan. Saya masuk di SMA nomor wahid di Solo, saat persahabatan hebat dan mimpi-mimpi gila itu mulai terangkai. Salah satu kisah yang saya ingat waktu itu berhubungan pula dengan kereta api.

Awal kelas 1 SMA, pada hari Minggu. Biasanya sih naik delman istimewa ikut ayah ke kota, tapi tidak dengan Minggu itu. Tanpa direncanakan sebelumnya, di pagi hari kami kepikiran dolan ke Jogja coba naik kereta api Prambanan Ekspress (Prameks). Tapi namanya juga persahabatan, yah take it easy, apa yang terlintas langsung dijalani pun oke-oke aja. Maka tanpa persiapan kami langsung saja ke Stasiun Balapan, stasiun utama kota Solo.

Di stasiun inilah, untuk pertama kalinya aku melihat dia. Ia masih menunduk sekian detik, saat kemudian menghadap depan lagi dan tersenyum. Kami bertatapan. Daun di belakang stasiun berguguran menyambutnya berkata,

“Pesan tiket kereta apa, mas?”

Oh iya, aku belum bilang mau pesan tiket Prameks tadi. Maklum pertama kali beli tiket di stasiun. Semuanya jadi serba pertama, termasuk berurusan dengan penjaga loket tadi.

Then, saya masuk peron dan menunggu datangnya kereta api. Konon, kereta Prameks selalu penuh. Banyak sekali kuantitas orang yang bepergian Solo-Jogja, dua kota induk budaya Jawa ini. Jadi harus menyiapkan langkah seribu untuk menyerbu masuk dan mendapatkan tempat duduk nyaman di dalam kereta. Kami pun bersiap. Peregangan dan pemanasan sudah dilakukan (lebay). Dan kereta pun datang. Serbu! Semangat 45 kami masuk berdesak-desakan dengan banyaknya penumpang yang lain. Deretan kursi sebelah kiri sudah penuh, langsung menoleh ke kanan. Kondisi acak-acakan ini hanya berlangsung 1 menit. Setelahnya penumpang sudah menempati nasib posisinya masing-masing dengan tertib. Suasana tenang dan kereta mulai berjalan.

Kami mulai menyamankan diri di posisi duduk. Di manakah posisi kami? Di tengah-tengah. Lah? Iya, kami tak dapat tempat duduk. Deretan kiri dan kanan penuh dalam waktu sangat instan. Yawda lah ya, duduk di tengah aja. Tanpa alas tak masalah. Dan mulai dengan cueknya kami maen tebak-tebakan dan sompyo di saat orang-orang yang berdiri masih dipenuhi kekecewaan ga dapat tempat duduk. Di sini saya belajar lagi tentang persahabatan, mau menjalani di tempat nongkrong yang nyaman atau di tempat penuh hiruk pikuk seperti ini, tetap saja mengasyikkan.

Kereta Api dan Tanah Rantau

Masa SMA berlalu dan Allah SWT memberi saya kesempatan menuntut ilmu di tanah rantau. Tepatnya di Kota Bandung. Kesempatan merantau inilah yang membuat saya menjadi biasa naik kereta api. Dimulai dengan malam keberangkatan menuju Bandung dengan kereta Lodaya Malam Solo-Bandung bersama teman-teman seperjuangan yang sekarang tergabung dalam Widyakelana.

Rasanya baru kemarin saya merasakan antusiasme yang begitu tinggi menuju petualangan baru di tanah rantau. Rasanya baru kemarin ibu dan ayah saya melepas dengan doa restu dan harapan yang begitu besar. Dan tak terasa sudah 3 tahun lebih saya berangkat dan mudik berkereta api. Lodaya dan Malabar Ekspress seolah sudah jadi teman sendiri.

Tentu banyak asam garam yang sudah saya nikmati selama berkereta api. Kereta sudah menjadi tempat refleksi diri untuk saya. Refleksi apa yang sudah saya lakukan selama di Bandung saat perjalanan mudik ke Solo. Juga refleksi karena saya pernah kehilangan barang berharga dan kepercayaan saat di kereta ini, bahwa kita harus senantiasa waspada dan jaga diri. Terlebih saat saya pulang tanpa membawa prestasi, deru roda besi kereta api seakan jadi musik sendu yang mengiringi. Sebaliknya, deru itu pula yang mengiringi semangat meletup-letup saat balik lagi ke tanah rantau. Semangat untuk jadi lebih baik.

Mungkin masih akan ada banyak waktu lagi saya berkereta api.

Masih ada lagi momen di mana deru untuk jadi lebih baik itu beriringan, SAYA dan KERETA API…

Berlelah-lelah berjuang

Orang Berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

Jika di dalam hutan

(Imam Syafi’i)

**

Syair dari ulama besar nan luar biasa. Membacanya dapat membuat semangat ini meletup-letup. Terlebih sebagai anak rantau di tanah rantau ini. Sudah masuk tahun keempat. Ya, ternyata sudah cukup lama saya merantau.

Tapi yang harus dicetak tebal dari syair di atas, merantau bukanlah poin tunggal untuk meningkatkan ilmu dan adab. Tapi: Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Sungguh, poin inilah yang utama. BERLELAH-LELAH BERJUANG. Merantau niscaya hanya salah satu bentuk perjuangan. Dalam prosesnya masih banyak hal-hal yang mesti gigih diperjuangkan untuk merasakan manisnya hidup.

Tahun keempat perkuliahan, banyak pelajaran yang mesti diingat dan diserap lagi. Pun penelitian yang bukan sekedar lewat demi sebuah gelar. Perjuangan. Harus siap berlelah-lelah.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

(credit to: A.Fuadi, penulis buku best seller “Negeri 5 Menara” yang telah banyak menginspirasi)