Posted in jalan-jalan, periodic diary

Saya dan Kereta Api


Ketika memulai tulisan ini, sebenarnya saya ingin mengulas “Transformasi Kereta Api” mulai 1 Oktober 2011 kemarin. Tapi di tengah menulis, tiba-tiba saya terpikir membuat semacam prolog dulu. Mengenai kesan mendalam saya akan kereta api.

Slow aja ya ceritanya.. Alasan mengapa saya tertarik untuk menulis tentang kereta api..

Masa Kecil Saya dan Kereta Api

Saat saya masih kecil, mungkin hanya 3 alat transportasi yang cocok dengan saya: sepeda, sepeda motor dan kereta api.

Dua alat transportasi yang disebut lebih awal, pastinya lah ya karena normalnya itu yang biasa kita naiki. Bisa bercengkerama dengan angin, bisa nyelip-nyelip bebas, simpel, fleksibel, minim polusi dan tentunya ekonomis. Pokoknya semua yang ada di rumah saya anggap sebagai barang-barang terbaik. Pada akhirnya sih saya juga suka kendaraan roda empat, tapi hanya berlaku untuk mobil. Bus, sungguh saya membencinya. Sumber ‘keonaran’. Memaksaku menghirup asap kotor polusinya saat lewat jalan raya, serta suka berhenti mendadak tanpa sopan santun. Apalagi waktu itu saya kan hampir selalu mabuk jika naik bus. Hoho.. Pandangan saya terhadap bus mulai netral saat SMP, saat saya sudah ga mabukan lagi kalau naik bus. Tapi tetap saja sampai saat ini saya ga begitu suka (bukan berarti anti) naek bus.

Nah, untuk kereta api: saya selalu menyukai dentuman suaranya dan prototype besinya nan gagah, plus gara-gara lokomotif tunggal nan lucu ini:

Loko jadul yang jalannya lambat sehingga saya menyebutnya “unul-unul”. Emang asyik waktu berhenti karena palang kereta api ditutup, dan yang lewat ternyata si “unul-unul” ini. Hahaha.. Saya juga menikmati di kala balita, kereta api sudah mengantar saya ke Jakarta untuk acara nikahan om saya, serta mengantar ke Wonogiri untuk piknik TK. Menyenangkan. Lanjut waktu SD, saat Mushofi kecil mulai terlihat ketampanan dan keisengannya (hehe), rel kereta menjadi arena bermain yang asyik. Tentu bukan maen lari-lari atau petak umpet di rel (mau mati muda apa), melainkan “membuat pedang”. Bawa paku, letakkan di rel, tunggu kereta api lewat dan melindas paku itu, dan jadilah pedang mini. Keren!

Kereta Api dan Kisah Persahabatan

Singkatnya, saya sudah jadi ABG (Anak Baik n Ganteng…eh), sudah memasuki dunia putih abu-abu (SMA). Dunia yang saya akui sangat indah mengasyikkan. Saya masuk di SMA nomor wahid di Solo, saat persahabatan hebat dan mimpi-mimpi gila itu mulai terangkai. Salah satu kisah yang saya ingat waktu itu berhubungan pula dengan kereta api.

Awal kelas 1 SMA, pada hari Minggu. Biasanya sih naik delman istimewa ikut ayah ke kota, tapi tidak dengan Minggu itu. Tanpa direncanakan sebelumnya, di pagi hari kami kepikiran dolan ke Jogja coba naik kereta api Prambanan Ekspress (Prameks). Tapi namanya juga persahabatan, yah take it easy, apa yang terlintas langsung dijalani pun oke-oke aja. Maka tanpa persiapan kami langsung saja ke Stasiun Balapan, stasiun utama kota Solo.

Di stasiun inilah, untuk pertama kalinya aku melihat dia. Ia masih menunduk sekian detik, saat kemudian menghadap depan lagi dan tersenyum. Kami bertatapan. Daun di belakang stasiun berguguran menyambutnya berkata,

“Pesan tiket kereta apa, mas?”

Oh iya, aku belum bilang mau pesan tiket Prameks tadi. Maklum pertama kali beli tiket di stasiun. Semuanya jadi serba pertama, termasuk berurusan dengan penjaga loket tadi.

Then, saya masuk peron dan menunggu datangnya kereta api. Konon, kereta Prameks selalu penuh. Banyak sekali kuantitas orang yang bepergian Solo-Jogja, dua kota induk budaya Jawa ini. Jadi harus menyiapkan langkah seribu untuk menyerbu masuk dan mendapatkan tempat duduk nyaman di dalam kereta. Kami pun bersiap. Peregangan dan pemanasan sudah dilakukan (lebay). Dan kereta pun datang. Serbu! Semangat 45 kami masuk berdesak-desakan dengan banyaknya penumpang yang lain. Deretan kursi sebelah kiri sudah penuh, langsung menoleh ke kanan. Kondisi acak-acakan ini hanya berlangsung 1 menit. Setelahnya penumpang sudah menempati nasib posisinya masing-masing dengan tertib. Suasana tenang dan kereta mulai berjalan.

Kami mulai menyamankan diri di posisi duduk. Di manakah posisi kami? Di tengah-tengah. Lah? Iya, kami tak dapat tempat duduk. Deretan kiri dan kanan penuh dalam waktu sangat instan. Yawda lah ya, duduk di tengah aja. Tanpa alas tak masalah. Dan mulai dengan cueknya kami maen tebak-tebakan dan sompyo di saat orang-orang yang berdiri masih dipenuhi kekecewaan ga dapat tempat duduk. Di sini saya belajar lagi tentang persahabatan, mau menjalani di tempat nongkrong yang nyaman atau di tempat penuh hiruk pikuk seperti ini, tetap saja mengasyikkan.

Kereta Api dan Tanah Rantau

Masa SMA berlalu dan Allah SWT memberi saya kesempatan menuntut ilmu di tanah rantau. Tepatnya di Kota Bandung. Kesempatan merantau inilah yang membuat saya menjadi biasa naik kereta api. Dimulai dengan malam keberangkatan menuju Bandung dengan kereta Lodaya Malam Solo-Bandung bersama teman-teman seperjuangan yang sekarang tergabung dalam Widyakelana.

Rasanya baru kemarin saya merasakan antusiasme yang begitu tinggi menuju petualangan baru di tanah rantau. Rasanya baru kemarin ibu dan ayah saya melepas dengan doa restu dan harapan yang begitu besar. Dan tak terasa sudah 3 tahun lebih saya berangkat dan mudik berkereta api. Lodaya dan Malabar Ekspress seolah sudah jadi teman sendiri.

Tentu banyak asam garam yang sudah saya nikmati selama berkereta api. Kereta sudah menjadi tempat refleksi diri untuk saya. Refleksi apa yang sudah saya lakukan selama di Bandung saat perjalanan mudik ke Solo. Juga refleksi karena saya pernah kehilangan barang berharga dan kepercayaan saat di kereta ini, bahwa kita harus senantiasa waspada dan jaga diri. Terlebih saat saya pulang tanpa membawa prestasi, deru roda besi kereta api seakan jadi musik sendu yang mengiringi. Sebaliknya, deru itu pula yang mengiringi semangat meletup-letup saat balik lagi ke tanah rantau. Semangat untuk jadi lebih baik.

Mungkin masih akan ada banyak waktu lagi saya berkereta api.

Masih ada lagi momen di mana deru untuk jadi lebih baik itu beriringan, SAYA dan KERETA API…

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Saya dan Kereta Api

  1. Doa selalu mengiringi setiap langkah perjuangan menuju keberhasilan. Semoga diberi kemudahan. Amin3. Sukses selalu, insya Allah. Berjuang terus ya. Insya Allah sukses kan teraih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s