Arsip Harian: Oktober 16, 2011

Mengaji Ba’da Maghrib

Memiliki kebiasaan baik itu sangat menyenangkan. Walau terkadang kebiasaan yang baik dalam aktivitas harian justru kalah kuantitasnya dengan kebiasaan buruk. Nah, sambil koreksi kebiasaan masing-masing, saya mau menceritakan satu kebiasaan baik yang mungkin bisa sama-sama dibudayakan.

Kebiasaan itu tak lain membaca Al-Qur’an (mengaji) ba’da maghrib

Membaca Al-Qu’ran tentu saja memiliki banyak sekali keutamaan mengingat Al-Qur’an adalah petunjuk hidup manusia di dunia nan fana ini. Mengenai waktu membacanya, kapanpun takkan mengurangi keutamaan. Nah, kalau saya menyebutkan kebiasaan ba’da Maghrib, itu karena di waktu itulah saya selalu dibiasakan oleh Ibu saya. Kebiasaan yang sudah dimulai sejak kecil, atau mungkin juga sejak dalam kandungan Ibu.

Berikut ayat yang mengandung salah satu keutamaan mambaca Al-Qur’an (mengaji) :

Nah, tertulis jelas di situ bahwa Al-Qur’an sebagai PENJELAS, PETUNJUK, RAHMAT dan KABAR GEMBIRA sekaligus. Menarik sekali bukan?

Berhubungan dengan waktu Maghrib, waktu ini merupakan transisi dari waktu ada dan tidaknya matahari. Waktu ini menjadi krusial karena selepas Maghrib sampai kita terlelap tidur merupakan waktu yang sangat potensial untuk melakukan hal produktif (utamanya belajar). Mengaji di saat ini bakal merefresh pikiran dan keletihan, plus tambahan luar biasa tadi: Penjelas, Petunjuk, Rahmat, Kabar Gembira, sehingga kita bisa menikmati belajar kita. Tentunya dengan bismillah, atas nama Allah.. 🙂

So, ba’da Maghrib adalah waktu yang sangat recommended untuk kebiasaan baik membaca Al-Qur’an. Then, why not? yuk sama-sama dibiasakan..

 

Keluarga Widya Kelana

Sebagai anak rantau dari Solo di kota Bandung, saya punya “keluarga besar” di sini. Namanya Widya Kelana. Biasa disingkat dengan Wika. Paguyuban ini sudah dirintis sejak lama dan terus eksis dengan semangat paguyuban kekeluargaan.

Kalo ditelusuri dari nama, Widya=Ilmu/belajar, Kelana=berkelana/merantau. Yuph, berkelana untuk mencari ilmu. Filosofi yang bagus kan? Tapi entah kenapa baru ditelusuri saat kepengurusan tahun ini, mengenai sejarah dan pembentukan paguyuban Wika. Konon, sudah sejak 1976 lho.. wow.. tapi itu juga baru konon, saat kopi darat yang akan diadakan sebentar lagi di kota Bandung ini mungkin akan ditemui jawaban pastinya. Sekarang, seperti tercantum di jaket identitas, Widya Kelana dimaknai sebagai “Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB”.

Banyak sekali kegiatan dan kemanfaatan dari paguyuban Widya Kelana. Baik sebagai keluarga bagi internal anggotanya, juga bagi adik-adik SMA yang ingin tahu banyak informasi mengenai universitas (khususnya ITB). Apa saja itu?

Hmm.. kalau diceritakan bakal panjang banget ntar. Nah, biar ga kecampur dengan materi blog ini, tapi saya masih bisa menyampaikan inspirasi dari Widyakelana, monggo teman-teman semua menyempatkan untuk mengunjungi situs resmi Widya Kelana:

www.widyakelana-itb.org

Karena saat ini saya masih diamanahi jadi kadiv kekeluargaan Widya Kelana, report acara dan motivasi agar paguyuban ini makin guyub di situs itu saya yang nulis. Bisa dibaca dari gayanya yang catchy (auwah..)

Selamat berkunjung ya! Semoga tulisan saya di sana juga bisa memberi inspirasi dan motivasi, sebagaimana yang saya harapkan lewat blog saya ini…!

Terima kasih

Menjadi 100%

Tahukah Anda bahwa untuk bisa lepas landas, pesawat butuh lintasan sepanjang minimal 2,2 km?

Jarak tersebut digunakan untuk mencapai kecepatan minimal 200 knot sehingga punya daya angkat yang cukup.

Sekarang, bila pesawat itu kurang 1 knot saja kecepatannya, atau kurang 1/200 (0,05%) saja, apa yang terjadi?

Ya, pesawat kurang daya angkat, tak bisa lepas landas, dan kecelakaanlah yang dialami.

Berapa usaha yang sudah dilakukan pesawat? 99,95% dan GAGAL…

 

Ambil contoh satu lagi, kali ini dalam hal ibadah…

Bagi umat muslim, ada kewajiban shaum. Saat shaum dalam dari Subuh sampai Maghrib,,

Sudah berpuasa selama sekitar 14 jam, tapi satu menit sebelum waktu adzan (atau hanya kurang 0,04%) kita sudah sengaja makan/minum..

Tetap saja BATAL, bukan?

Berapa usaha yang sudah dilakukan? 99,96% dan GAGAL…

**

 

Apa yang bisa diambil hikmah?

Dalam hidup, dalam menjalankan aktivitas dan ibadah kita memang dituntut untuk berusaha 100%…

Memang terkadang ada toleransi tertentu sehingga usaha kita yang tak maksimal pun bisa mendatangkan hasil..

Tapi, kebanyakan, usaha yang tak 100% akan mendatangkan kecelakaan atau hilangnya kesempatan…

So, Be 100%..!! serasa iklan ya.. 🙂

Mari lebih giat berusaha!!

 

*sebuah renungan, terutama sebagai refleksi diri sendiri..