Diposkan pada periodic diary

Saya dan Malam Tahun Baru


Tak terasa tahun 2011 sudah selesai ya. Bagaimana kenangan selama setahun kemarin, Kawan? Semoga banyak kenangan indah penuh hikmah ya,, dan bagaimanapun bagusnya itu, semoga lebih jelek dibanding setahun ke depan, betul begitu? So pasti lah ya.. karena kita akan isi hari-hari baru di depan dengan lebih baik lagi.

Karena momennya sekarang adalah pergantian tahun, salah satu trending topicnya pasti New Year Eve atau Malam Tahun Baru. Di hari terakhir kalender Masehi (31 Desember), berita dari pagi isinya tentang persiapan malam tahun baru. Tak tanggung-tanggung, ada laporan persiapan pesta kembang api di berbagai kota di tanah air maupun luar negeri. Diselingi iklan produk sejenak, setelahnya ada iklan acara malam tahun baruan masing-masing channel TV yang menawarkan program yang menurut masing-masing paling heboh dan menghibur. Lalu bagaimana dengan Anda, Kawan? Ikut serta dalam gegap gempita malam tahun baru? Atau pilih nonton TV di rumah? Atau pilih merenung bermuhasabah semalam suntuk? Atau..

Ya, semua orang punya pilihan dan agenda tersendiri dalam menyikapi Malam Tahun Baru. Kali ini saya mau cerita sejenak mengenai acara saya di Malam Tahun Baru, dalam tulisan berjudul “Saya dan Malam Tahun Baru” ini.. Hope you enjoy J

**

Bagi saya, malam tahun baru tak begitu spesial. Tingkat interest saya untuk merayakan bisa dikatakan asimtot, nyaris nol tapi tidak nol. Ya, masih ada sedikit ketertarikan. Tak lain karena ini merupakan milestone, momen terkait angka yang unik. Serta sajian yang mengedepankan hal baru, yang ini bertajuk “tahun baru”. Semua hal-hal dengan bau baru sedikit banyak menarik perhatian, bukan?

Karena kalender Islam belum berlaku secara global, tentu kalender Masehi yang lebih kita gunakan. Nah, di malam akhir tahun inilah kita mulai melipat kalender. Ada yang melipat sambil tersenyum karena punya banyak kenangan manis sepanjang tahun, ada juga yang melipat secara kasar (sobek-sobek kalo kata mas Tukul Arwarna) karena ingin segera melupakan hal-hal tak mengenakkan sepanjang tahun. Bagaimana dengan saya? Saya tidak melipat apa-apa. Loh? Iya, saya lebih banyak lihat kalender dari laptop dan arloji sih, kalo dilipat.. yah ga jadi nulis tulisan ini donk.. hehe..

Waktu maghrib telah menjelang, dan berarti sudah masuk apa yang disebut orang-orang “Malam Tahun Baru”. Selepas sholat di masjid, saya baca Al-Qur’an 4 ruku’,, yang secara kebetulan total menyelesaikan 11 ruku’ sepanjang hari ini (selaras dengan tahun yang akan segera ditinggalkan: 2011). Di luar, hujan masih mengguyur. Sudah seperti jadi kebiasaan di Solo, malam tahun baru dari menjelang maghrib sampai sekitar jam 22, hujan turun dulu.. baru setelah itu tak lagi ada hujan hingga tahun baru.

Oya, di Solo ada agenda menarik nih untuk malam tahun baru ini, yakni adanya Car Free Night. Yuph, jalan paling utama di kota Bengawan ini, yakni jalan Slamet Riyadi (dari Purwosari-Gladak), bakal ditutup dari jam 21-1 jam selepas 2012 datang. Karena saya sangat appreciate dengan program Car Free Day yang ramah lingkungan itu dan biasa jogging di sana hari Ahad pagi, saya jadi penasaran bagaimana versi malam harinya, tentunya di program Car Free Night ini . Karena program unik itu, untuk pertama kalinya semenjak entah berapa tahun lamanya, saya excited untuk keluar di malam tahun baru. Tapi tentu akan sangat membuang waktu jika saya sudah keluar rumah selepas isya. So, saya mengagendakan keluar niliki bentar di jam 23.30 WIB.

Waktu selepas isya sampai jam 23.30 saya habiskan untuk membaca paper referensi TA. Empat paper dengan author dari China, Bosnia, Kroasia dan Inggris yang saya dapatkan dari IEEEExplore sebelum liburan kemarin saya coba cerna sedikit demi sedikit. Terkesan freak? Ga juga sih kalo menurut saya, karena sambil menikmati drill istilah-istilah berat telekomunikasi, ada pertandingan seru BPL (British Premier League; Liga Primer Inggris). Lumayan ada “cemilan” walau saya hanya nonton sebentar untuk hasil akhir, komentar singkat dan cuplikan golnya. Aksi angin-anginan Berbatov (walau jelas lebih oke dibanding Torres atau Carrol) dan kekonyolan dari De Gea (ternyata gak jago dia.. kirain dulu Messi yang terlalu jago, ternyata De Gea yang cups) cukup memberi simpul senyum untuk merangkum paper sampai tuntas.

Jam 23.30 pun tiba. Saatnya keluar rumah! Sebenarnya saya mengajak adik saya, tapi dia malah udah tidur sejak jam 9 (yang membuat saya sempat jadi males juga untuk keluar). Akhirnya, ditemenin Ibu deh.. J

Tak butuh waktu lama dari rumah ke Purwosari, “gerbang” barat Car Free Night. Di situ sudah begitu banyak orang tumpah ruah. Jalan begitu lebar untuk Car Free Night hampir-hampir tak ada ruang renggang lagi untuk sepedaan atau sekedar jalan santai. Benar-benar penuh. Dengan suasana seperti ini, jelas saja saya tak betah. Mungkin saya memang terlahir cenderung membenci keramaian. Cukup 15 menit untuk berada di lautan manusia ini. Sumpek.

Karena sebelumnya saya hampir tak pernah keluar di malam tahun baru, saya baru benar-benar melihat ternyata antusiasme warga untuk menyambut tahun baru sangat besar, atau mungkin terlalu berlebihan. Jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan sebelumnya. Sebegitu megahkah malam tahun baru? Tak kan ada yang menjawab, karena semua sibuk menatap langit.

Kalau ada pemandangan berbeda di langit malam ini dibanding malam biasa, tak lain gemerlap cahaya kembang api. Satu orang menyalakan sumbu sejenak, dan beberapa detik kemudian muncullah percikan cahaya lurus menuju langit lalu di satu titik cahaya itu menyebar, mekar seperti kembang. Indah, kuakui itu. Tapi bagi orang-orang yang berkerumun itu, pasti kembang itu lebih dari indah.  Mungkin lebih indah dari uang, waktu dan rumah mereka. Hanya demi kembang api!

Saya pulang memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang melewati barisan orang-orang yang masih mendongakkan kepala ke atas. Kembang api.. Hmm.. sejenak saya jadi teringat lagu berjudul sama, Fireworks (kembang api)..

‘Cause baby you’re a firework

Come on, show ’em what you’re worth

Make ’em go “Oh, Oh, Oh”

As you shoot across the sky-y-y

Lagu yang punya makna bagus, dan kebetulan tepat dengan malam tahun baru ini. Kita bisa seperti kembang api saat kita bisa menunjukkan betapa berharganya kita. Membuat semua orang kagum sepanjang jalan kita menuju langit, menuju puncak asa kita.

Di balik candela lantai atas rumah, ternyata saya bisa menikmati kembang api. Tanpa harus berkerumun, tanpa harus menghabiskan waktu untuk menunggu. Tepat datangnya 2012, suara gaduh bersahutan. Kembang api menyala silih berganti.

Boom, boom, boom

Even brighter than the moon, moon, moon

It’s always been inside of you, you, you

And now it’s time to let it through-ough-ough

Ah benar,, ada yang harus dinyalakan lebih lebih terang dari cahaya rembulan. Lebih dari sekedar kembang api. Dan itu di dalam diri kita. The best inside of us…

Seperti bubuk-bubuk hitam mesiu yang terubah jadi cahaya lurus lalu menyebar terang mengagumkan banyak orang. Seperti itulah yang akan kita menghadapi kenangan buruk di masa lalu, terus melesat maju dengan usaha keras melawan gravitasi, dan di satu titik nanti.. buah-buah usaha keras kita akan terasa, mekar dengan indahnya…

Selamat datang, 2012. Hari demi hari akan berlalu lagi seakan hal biasa, tapi tak kita anggap biasa. Karena setelah sejenak kita nikmati udara ini dan dengan lebih tenang dan mantap kita melangkah..

MENJADI LEBIH BAIK

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s