Diposkan pada jalan-jalan

Jejak Lombok 1: Start!!


Gerak lurus berubah beraturan diperlambat, begitulah yang acap kita baca saat awal belajar fisika di SMP. Terdengar menjemukan di teori, tapi cukup menarik bila kita menemui prakteknya. Salah satunya dari peristiwa pengereman kereta api. Alih-alih terpikir kecepatan dan jarak berhenti, kita malah bisa menikmati getaran, suara berderit dan hembusan angin yang cukup kencang untuk mengibarkan rambut. Sayangnya itu tidak terjadi pada rambut saya yang kaku nan anti peluru, yang membuat saya tak pernah mungkin membintangi iklan sampo. Baiklah no problem, sekalipun rambut saya tak menikmati “efek” GLBB itu, tapi jiwa saya bisa menikmatinya. Saat itu perasaan saya sedang bergetar, berderit, dan menghembuskan damai angin karena akan melakoni perjalanan panjang yang sangat exciting dan unforgettable.

 

Stasiun Purwosari, stasiun paling barat di kota Solo, menjadi tempat untuk memulai perjalanan panjang itu. Waktu tepat menunjuk pukul 08.30 saat KA ekonomi Sri Tanjung jurusan Jogja-Banyuwangi tiba di stasiun ini. Tepat waktu untuk kereta ekonomi, agaknya apresiasi lebih patut ditujukan pada manajemen PT.Kereta Api yang sedang berbenah itu. Apalagi walau tiket saya dibawa teman yang naiknya di Jogja, saya tetap bisa masuk peron setelah memberi penjelasan singkat. Peraturan tidak boleh masuk peron bagi yang tak bertiket sedang ditegakkan, tapi tidak kaku untuk yang punya alasan/penjelasan. Fine lah.

Maka segeralah saya naik kereta dan menjumpai 8 orang rekan BackpackersTelkom di sana. Wah, ramee.. Untuk menghangatkan suasana dan badan, saya sudah siap membawakan nasi liwet Purwosari nan lezat itu pada teman-teman. Sarapan lah, kawan.. Dan kereta kembali berjalan..

Dengan dibumbui serunya obrolan dan keluarnya cemilan, kami mengamati realita di kereta ekonomi ini. Dalam hati kami cukup ‘terkesima’ dengan betapa lengkapnya jualan di sini. Di perjalanan Jawa Barat-Jogja-Jawa Tengah sudah tak asing kami jumpai salah satu produk minuman yang dibunyikan dengan unik, ada “Mizon”, “Mijon” atau “Mison”. Nah di kereta ini, tak hanya minuman, tapi luar biasa lengkap. Ada stiker, spatula, pisau, lollipop, buku bacaan, TTS,  telur asin, buah-buahan, nasi, lukisan, mainan sampai pakaian! Seperti roda-roda kereta, roda perekonomian di dalam sini berjalan cukup kencang dan keras juga ternyata. Kalau pakar entrepreneur bilang baiknya uang terus diputar sekalipun pemiliknya bisa menikmati sambil diam (istirahat), apa yang kami temui ini mungkin kebalikannya: pemiliknya terus berputar sekalipun uangnya diam (laba bersihnya tak seberapa). Well, inilah realita bangsa yang perlu diambil hikmah. Tentang perjuangan.

Perjalanan dari Solo ke stasiun transit utama di Gubeng Surabaya berlangsung selama 5 jam. Istirahat sebentar kira-kira 20 menit, lalu reverse dan kereta dilajukan lagi menuju Banyuwangi. Sebentar saja selepas Gubeng bisa dilihat tanggul peredam Lumpur Lapindo di daerah Porong, Sidoarjo. Realita miris bangsa lagi. Entah kapan bencana lumpur itu akan berakhir, semoga saja dalam waktu dekat yah.

Sebagian perjalanan saya nikmati di dekat pintu kereta. Namanya kereta ekonomi, yah asyiknya menikmati sensasi di dekat pintu gini.. Hehe.. Dari Surabaya ke stasiun terakhir (Banyuwangi Baru) berlangsung 7 jam. Jadi, total dari Solo selama 12 jam. Wew, setengah hari.. Berasa juga ya.. tapi asyik kok. Tepat waktu pula. Kereta yang kami prediksi bakal molor sampai jam 23.30 ternyata tiba jam 21.35. Alhamdulillah.. segera sholat jama’ di mushola stasiun dan segera melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ketapang. Perjalanan panjang itu baru setengah jalan..

**NOTE**

biaya saya selama perjalanan ini:

  • KA ekonomi Sri Tanjung : 35.000
  • Makan/Jajan di kereta : 7.000

tips untuk perjalanan ini:

  • Usahakan membawa cukup banyak bekal makanan dari rumah, karena dipastikan itu lebih murah dan dapat menghemat pengeluaran. Perjalanan di kereta memang sangat panjang, pedagang makanan/jajanan komplit, tapi bijaklah dalam mengeluarkan uang di awal perjalanan gini 🙂
  • Sampai di stasiun Gubeng Surabaya kan transit tuh.. Teman2 bisa makan siang dan sholat di sana, tapi pastikan Anda bertanya petugas stasiun berapa lama kereta berhenti (rata-rata 30 menit, tapi mungkin pula hanya 15 menit lho) sehingga makan-nya bisa nyaman, ga cemas kalo2 kereta melanjutkan perjalanan
  • Karena perjalanan panjang ditempuh dengan KA ekonomi, pergi dalam rombongan besar lebih utama untuk menjaga keamanan barang bawaan. Kalau dalam rombongan kecil, jangan sungkan untuk ngobrol dengan orang2 di sebelah/sekitar tempat duduk Anda. Selain dapat kenalan, mengusir kebosanan, juga secara tak langsung menambah proteksi barang bawaan.
  • Karena mayoritas waktu selama perjalanan di saat matahari memancarkan sinarnya, maka nikmatilah suasana di KA ekonomi,, sesekali nikmati juga semilir angin di dekat pintu kereta. Jangan kebanyakan tidur atau melamun 🙂

***

(to be continued)

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

3 tanggapan untuk “Jejak Lombok 1: Start!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s