Posted in jalan-jalan

Jejak Lombok 7: Long Way to Go Home


Pagi hari yang indah menyambut. Selepas hujan cukup deras yang sempat membuat tenda mengalami sedikit gangguan teknis reda, kami mulai berkemas untuk meninggalkan Gili Trawangan. Jam 7 WITA, jadwal boat pertama menuju Lombok, akan menjadi waktu kami say goodbye pada pulau kecil nan mempesona ini. Habis agenda kami di Gili Trawangan, habis pula jadwal maen kami, saatnya memikirkan jalan panjang untuk pulang.

Kemolekan sunrise di Gili Trawangan menyambut. Beberapa boat terlihat berjajar seolah bersiap bersama menuju cahaya terang di sana. Sebagaimana juga jiwa ini yang sudah terefresh oleh indahnya alam dan petualangan, bersiap dengan semangat yang lebih terang untuk melewati waktu dan tantangan baru di depan.

Tak butuh waktu lama untuk sampai lagi di pelabuhan Bangsal, Lombok. Berbeda dengan sebelumnya di mana kami masih mencarter mobil, kali ini kami mesti jalan kaki sejauh 1 km untuk mencapai tempat angkutan umum terdekat. Karena masih awal dari perjalanan panjang lagi, rasa lelah belum begitu terasa. Akhirnya, kami mencarter angkot menuju Ampenan, lewat hutan kera Pusuk seperti sebelumnya.

  

(the backpackers way : jalan kaki dan ngikut angkutan umum)

Sopir angkot Lombok yang tak kalah cekatannya dengan sopir angkot Bandung mengantar kami segera tiba di Ampenan. Di rumah om rekan saya, kami mandi untuk menyegarkan diri dan final packing. Jam 11 WITA, kami mulai meninggalkan Ampenan. Beli oleh-oleh sebentar dalam perjalanan ke Terminal Mandalika, Mataram. Alhamdulillah dapat banyak potongan, walau tetap saja hanya cukup membelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah saja (dear friends, maaf ya oleh-olehnya cerita dan gambar saja.. next time deh🙂 ). Sampai di terminal Mandalika, segera carter colt, harus mengejar waktu agar sampai di pelabuhan penyeberangan tak terlalu sore.

Kami tiba di pelabuhan Lembar sesuai rencana. Setelah negosiasi sedemikian rupa dengan agen bus, kami bisa segera naek kapal. Di atas kapal, saya memandang lagi pulau eksotis yang akan segera saya tinggalkan itu. Baru sadar waktu berlalu sedemikian cepat saat tiba waktu untuk pulang seperti ini, sepertinya baru beberapa jam yang lalu kami renang di Tanjung Aan dan jalan di Senggigi, beberapa menit yang lalu menikmati indahnya terumbu karang saat snorkeling serta baru beberapa detik yang lalu menyusuri jalanan sepanjang pantai Gili Trawangan. Hmmm…

Lima jam di lautan kembali kami rasakan. Kali ini tak lagi di bagian belakang, tapi di bagian depan. Angin berhembus cukup kencang, masih dalam kecepatan yang bisa dinikmati. Itu untuk seperlima perjalanan laut yang pertama. Empat jam berikutnya, kecepatan angin mulai menaiki level yang lebih tinggi. Sangat kencang. Kapal masih melaju cukup stabil, tapi suasana sudah tidak asyik lagi dinikmati. Saya pun memilih tidur di mushola sambil berlindung dari kencangnya angin. Lima jam penyeberangan, praktis lebih banyak dihabiskan untuk tidur.

Sampai di pelabuhan Padang Bai, Bali, perjalanan kembali dilanjutkan dengan bus. Untung kami sudah deal di pelabuhan Lembar tadi, kalau tidak hampir dipastikan kami harus merogoh kocek lebih dalam karena waktu maghrib adalah waktunya mayoritas calo di Padang Bai, takkan ada harga murah menuju Denpasar. Well, waktu beranjak petang saat lebih dari 1 jam setelahnya kami tiba di Terminal Ubung Denpasar. Rasa capek sudah sangat terasa, tak terbayang bila harus berlama-lama lagi di Denpasar seperti waktu berangkat. Alhamdulillah pertolongan Tuhan datang di mana kami hanya menghabiskan beberapa langkah untuk dapat bus yang tepat, perjalanan menuju pulau Jawa segera lanjut.

Perjalanan panjang menuju rumah bakal menghabiskan waktu hampir 2 hari. Tak seperti waktu berangkat saat pikiran kami dibuai akan indahnya Lombok yang segera menanti, kali ini di tengah perjalanan kami sudah merasakan rasa capek yang meninggi. Saking capeknya, saya bahkan tidak turun dari bus menuju dek kapal saat menyeberang Selat Bali,, udah lah.. tidur di bus aja..

Pulau Jawa lagi! Dari kota paling timur di Yawadwipa, Banyuwangi, menuju Jember. Sepanjang perjalanan menyusuri jalan perbukitan itu, 99% saya melewatinya dengan mata tertutup. Hehe.. Jam 3.30 WIB, tibalah kami Rambipuji, Jember. Transit istirahat bentar di rumah nenek rekan saya rombongan backpacking Lombok ini, charging all, baik kondisi badan dan gadget. Sambil menunggu jadwal perjalanan berikutnya, KA Logawa, kami menikmati durian mantap Rambipuji. Nice!

Sembilan jam perjalanan pulang berikutnya ditempuh dengan kereta api. Dari balik jendela kereta, terbentuk simpul senyum dengan pasti. Layar biru raksasa yang terkembang di atas sana menampilkan lagi lembutnya pasir dan bersihnya pantai Kuta Lombok, romantisme khas Senggigi, sepiring ayam bakar taliwang, lalu kera yang berkeliaran di hutan Pusuk, ikan berwarna pelangi yang hilir mudik di terumbu karang Gili Trawangan, dan banyak lagi.

Wonderful adventure. Unforgettable memories. Amazing!!

Dan sekarang saatnya untuk kembali menghadapi hari dengan lebih semangat, menyempurnakan senyuman..

### END ###

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

4 thoughts on “Jejak Lombok 7: Long Way to Go Home

  1. Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wanted to say that I have
    really enjoyed browsing your blog posts. After all I will be subscribing to your feed and I hope you write again very
    soon!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s