Posted in embun, periodic diary

Hey Edelweis


Hey edelweis, seindah apakah engkau?

Orang-orang membicarakan segala kelebihanmu. Kata mereka, engkau bunga cantik nan abadi. Aku sendiri jarang mendengarkan kata-kata orang. Tapi entah mengapa kali ini hati kecilnya justru menggumamkan bahwa engkau lebih indah dari yang mereka bicarakan. Aneh.

Hey edelweis, apakah engkau di puncak sana?

Ah, megahnya gunung ini.. Rasa lelah sudah melandaku bahkan saat ini aku baru sampai lerengnya. Ingin rasanya aku berhenti saja mendakinya.. Ya, aku akan berhenti kalau saja pertanyaan tentangmu hey edelweis, dan juga bayangan indah matahari di puncak sana tak merasuki lagi pikiranku.

Hey edelweis, dinginkah di puncak sana?

Terkadang aku membayangkan engkau kedinginan dan perlu kubawakan semacam selimut. Aku sendiri mulai kedinginan di lereng ini. Aku tak menyangka sebelumnya bakal sedingin ini. Ah, aku yang banyak mengeluh. Bahkan selangkah naik pun tak kujalani, bagaimana aku bisa mengantar ke puncak. Lagipula, keabadian di puncak adalah gelarmu,, mungkin engkau sudah lebih dari tahu cara-cara mengatasi dinginnya puncak, dan engkau tetap mekar di atas sana. Ya, kuharap sih begitu.

Hey edelweis, apakah engkau melihatku dari atas sana?

Mungkin engkau bisa melihatku dari atas sana walau dalam jarak yang jauh, dan beberapa yang engkau lihat tentangku sepertinya membuatmu marah. Oke, aku mengerti.. Di saat engkau terus menjaga diri di sana, aku menemui banyak bunga yang cantik di kaki dan di lereng gunung ini. Aku mengaguminya. Beberapa kupetik. Aku terbawa oleh keindahan dan membawanya dengan kelembutan.  Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku teramat salah. Suasana itu justru membuatku jalan di tempat, terlupa akan pendakian, dan tidak beranjak naik. Terlebih, bagi sang bunga, kutinggalkan goresan luka. Seharusnya ia tetap cantik dan terus bermekaran, tanpa pernah kupetik. Maafkan aku, ya semua salahku..

Lalu edelweis, kecewakah engkau?

Tentu saja ya. Pertanyaan retoris yang hanya muncul dari seorang seegois diriku, yang sering mengalihkan pandangan dan tidak peka. Dan kabut tebal turun menutupi jarak kita. Sesuatu pemisah yang pantas. Kita terlupakan oleh waktu. Engkau bisa terus mengembangkan dirimu dalam kedamaian, sedangkan aku mulai membetulkan lagi perlengkapanku dan mulai melangkah naik lagi, setapak demi setapak.

Hey edelweis, engkaukah itu?

Beberapa pos pendakian sudah kulewati dan saat kuistirahatkan tubuhku, sesaat kabut di atas menipis dan memunculkan bayangan bunga cantik di puncak gunung. Engkaukah itu? Ataukah ini hanya halusinasi karena rasa lelahku? Fyuh.. sejenak kuteguk botol air mineral yang kubawa.. Dan kuhirup udara dingin pegunungan ini..

Hey edelweis, aku punya satu pertanyaan untuk kaujawab,,

Ya edelweis, satu saja, dan engkau harus jawab!

Benarkah engkau tetap menunggu di puncak sana?

.

.

.

Hey

.

.

Edelweis?

.

.

Jawab.. Satu pertanyaan ini dan aku tak akan bertanya lagi..

.

.

Edelweis?

.

.

AH! Tunggu-tunggu.. jangan engkau jawab…!

**

Edelweis, Engkau tak pernah mengharap keabadian karena engkau sepenuhnya mengerti yang abadi di dunia ini. Yang abadi adalah perubahan, dan perubahan hanya akan terjadi pada orang yang melangkah. Engkau hanya menunggu orang yang berjuang keras dengan peluh keringat untuk mencapai puncak. Engkau hanya menyambut orang yang menggapai puncak, lalu engkau akan menemaninya menikmati terbitnya matahari, meresapi sinar lembut yang penuh nuansa cerah. Bau masa depan cemerlang yang hanya bisa dinikmati orang yang telah berjuang sampai puncak… Engkau memang istimewa..

Dan aku akan simpan saja tanyaku..

Aku hanya akan melangkah…

Naik

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

9 thoughts on “Hey Edelweis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s