Posted in embun, islami

The Power of Giving: Sedekah


Frasa dalam bahasa Inggris seperti tertulis di judul tentu bukan hal asing bagi kita. Saya yakin kita sama-sama sudah membaca atau mendengar tentang dahsyatnya “kekuatan memberi”. Teorinya, dengan banyak memberi, apa yang bakal kita terima  justru bisa beberapa kali lebih besar. Secara langsung maupun (seringnya) secara tidak langsung.

Memberi bisa dalam banyak bentuk. Mulai dari senyuman, pengetahuan, cinta ataupun materi. Di postingan ini, saya mau sedikit bahas yang berkaitan dengan materi deh, konteksnya yakni infaq/sedekah. Baru dapat pengalaman yang menggugah nih hari Jum’at kemarin🙂

Hari Jum’at, terutama bagi umat muslim, merupakan hari yang sangat mulia. Kalau kemuliaan itu cukup identik dengan ibadah sholat Jum’at, yah kita sama-sama sudah tahu. Tapi ada fakta menggelitik ni yang jadi salah satu alasan kenapa hari Jum’at itu mulia: inilah (kemungkinan besar) satu-satunya hari dalam seminggu di mana kita ingat untuk sedekah. Setuju dengan saya, atau mau membantah? Hmm.. saya akan senang kalau teman-teman membantah, dalam hal ini karena Anda senantiasa ingat sedekah dan melaksanakannya saban hari. Yuph, setiap hari. Well, entah mengapa sepertinya banyak pembaca yang senyum-senyum sepakat dengan saya kalau ingat sedekah (materi) hanya di hari Jum’at. Itu pun belum tentu konkret kan? Haha..

Oke, anggap kita semua sama-sama suspect “hanya ingat sedekah di hari Jum’at”. Satu minggu uang berputar untuk kita, berapa sih yang kita sisihkan untuk sedekah? Selembar berwarna biru tua yang cukup untuk membeli tiket bioskop 3D di hari weekend, atau selembar biru muda bergambar pahlawan dari Ambon yang you-know-very well-how much lah nilainya? Atau malah dengan uang koin, itupun bekas kerokan? Hoho.. Dan sepertinya jika di dompet tinggal tersisa dua lembar (yang satu biru tua, yang satu biru muda), saya bakal mudah menebak secara akurat uang yang mana yang akan disedekahkan (pengalaman juga sih.. ups)..🙂

Ini dari tadi saya “menyindir”, teman-teman merasa tersindir ga sih? Engga ya? Yawda deh, asumsi cukup saya aja yang jadi “si pelit sedekah”. Haha..

Satu hipotesis saya kenapa bisa jadi “si pelit sedekah” adalah disebabkan efek sedekah (sebagaimana umumnya efek memberi) acap baru terasa tak langsung (ada jeda waktu tertentu, mungkin cukup lama), jadi ya kalau bisa ntar kenapa harus sekarang (LOL). Saya tidak bisa menyebutkan seberapa pelit saya, yang jelas nominal paling akrab ya si biru muda itu. Kalau menjelang sholat dan ternyata uang di dompet saya tinggal selembar biru tua, yaah.. hanya bisa menghirup nafas panjang.. dan fyuuh.. besok aja deh sedekahnya -_-

Hari berganti hari, sampai “si pelit sedekah” ini menemui 2 hal yang mengubah cara pandangnya tentang sedekah. Apa saja itu?

Pertama, pengumuman total infaq di Masjid Salman ITB menjelang khutbah Jum’at dimulai. Dengan frekuensi lumayan sering sholat di sana, saya selalu mendengar total infaq Jumatnya tak pernah kurang dari 8 juta. Ambil asumsi bahwa kapasitas maksimum Salman 1000 jamaah, dan nilai total infaq worst case 8 juta. Rata-ratanya masih jauh di atas nominal yang diinfaqkan “si pelit sedekah”! Oh dear.. Oh dear..

Kedua, baca buku mega best seller Ippho Santosa berjudul “7 Keajaiban Rezeki”. Di situ tertulis pentingnya berinfaq atau sedekah. Terkadang kita mau memberi dalam nominal besar tapi ga ikhlas. Takut ga ikhlas jadi malah batal bersedekah. Ada yang bilang “mending berinfaq sedikit tapi ikhlas, daripada infaq banyak tapi ga ikhlas”. Dan bung Ippho menanggapi dalam bukunya, “lah, mending mana dengan berinfaq banyak tapi ikhlas?” Woho.. saya menjadi tergugah karena kalimat beliau itu. Mending infaq/sedekah banyak dan ikhlas lah… Tapi gimana caranya ya?

Gimana caranya biar bisa ikhlas bersedekah dalam nominal besar (ya minimal ga di bawah rata-rata Salman lah..)?

Nah, salah satu jawaban yang sangat solutif adalah dengan berwirausaha. Yuph, saya coba deh wirausaha. Dengan memiliki pendapatan cukup, ntar bakal linier dengan kemungkinan kita berinfaq dengan nominal oke dan secara ikhlas pula. Awal start-up usaha, ya ga lancar-lancar amat, biasa lah.. Tapi tetap harus jalan terus, demi bisa “berinfaq banyak dengan ikhlas”.

Well, Jum’at kemarin saya menemukan satu kesalahan dalam sudut pandang saya. Sudut pandang “si pelit sedekah” itu. Awalnya saya berpikir, dapat profit banyak dulu baru sedekah banyak pula. Lah, gimana kalo sedekah banyak dulu, baru ntar dapat profit banyak? Hmm.. dipikir-dipikir, sudut pandang pertama itu lebih safe, tapi sudut pandang kedua lebih exciting. Then, dicobalah mengkonkretkan sudut pandang kedua.

Jum’at kemarin, saya memasuki masjid dengan membawa uang infaq yang lumayan. Paling tidak, nominalnya tak kurang dari 10x lipat infaq biasanya. Insya Allah ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Ga pakai tarik nafas panjang juga.😀 Bismillahirrahmanirrahiim

Pulang dari sholat Jum’at, saya makan siang sambil menyusun rilis produk baru (spoiler: mulai Februari kemarin saya coba jualan beragam aksesoris Apple). Tepat jam 14, lapak baru rilis. Tak lupa kembali baca kalimat sakti Bismillahirrahmanirrahiim..

Jam 14.30, sebuah sms masuk di HP saya. Isinya, wew, menanyakan produk yang baru rilis itu. Singkat cerita, sehabis ashar saya ketemuan dengan beliau (dokter lho, masih muda, lulusan Unpad..). Deal, alhamdulillah. Selang beberapa jam ada 2 yang menanyakan lagi, dan salah satunya deal. Memang baru esoknya transfer, tapi dengan itu berarti dalam selang waktu hanya sehari, nominal yang saya sedekahkan kembali, bahkan 5x lipatnya! Subhanallah..

Wah… sepertinya sudut pandang kedua (sedekah dulu, baru profit menyusul) lebih oke nih. Beginikah The Power of Giving?

Selanjutnya, saya ga akan jadi “si pelit sedekah” lagi deh. Entah Allah memperkenankan balasannya dalam waktu singkat atau dalam waktu tak terkira, saya akan memprioritaskan untuk sedekah terlebih dahulu. Karena sedekah adalah investasi dunia dan akhirat. Karena sedekah, dekat dengan bersihnya harta. Karena sedekah, dekat dengan ridho Allah.

Sedekah Jum’at benar-benar telah mengingatkan saya akan The Power of Giving. Dahsyat! Buktikanlah!

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

6 thoughts on “The Power of Giving: Sedekah

  1. Assalamualaikum. kenapa gw dh beberapa thn sering tahajud, puasa, zikir, sodaqoh dll tp nasib gk berubah. gw tambah susah dpt jodoh dan rizki. gw kalau nyari jodoh dan rizki sering dijahati org. gw org nya lugu dan klemar klemer shg dijahati org trs. gw juga di masyarakat kurang dikenal dan kurang dihargai. gw dianggap gk penting. kalau ada lowongan kerja, gk ada org yg mau mengajak gw krja. kalau ada cewek nyari jodoh, gk ada yg mau mengenalkan kpd gw. semua ini terjadi krn sejak kecil fisik gw lemah dan gw terlalu lugu shg org2 meremehkan gw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s