Kompetensi Wirausaha: Pengusaha vs Konsumen


Setelah menulis tentang Mr.Budgets, saja jadi kepikiran juga tentang materi yang sudah saya dapat di mata kuliah yang seru abiz, Manajemen Inovasi (Maninov). Pak dosennya mengajar dengan diksi yang oke, pembawaan mantap (sombong-sombong gimana gitu, tapi konkret), dengan materi yang luar biasa. Tiap masuk kuliah ini di hari Senin pasti banyak inspirasi dah..

Nah, salah satu inspirasi yang saya dapat beberapa waktu yang lalu adalah kompetensi wirausaha. Entrepreneurship emang baru jadi bahasan yang sangat menarik untuk anak muda nih. Hampir di setiap seminar atau kajian yang membahas tentang ekonomi bangsa, mau yang menyampaikan Menteri Koordinator Ekonomi, dosen atau sekedar pemerhati sekalipun, ujung-ujungnya muncul harapan kalau negeri kita Indonesia tercinta ini butuh disokong lebih banyak wirausaha lagi. Konon paling engga butuh 2% dari warga negara yang mesti jadi entrepreneur untuk mengangkat ekonomi ke level yang lebih tinggi. Saat ini, di Indonesia mungkin baru 0,5-1% jumlahnya, tentu saja jumlah itu sangat sedikit.

Then, Pak Joko Siswanto selaku dosen Manajemen Inovasi memberi ilmu yang menarik mengenai skill wirausaha. Salah satu yang mesti dimiliki untuk memupuk kemampuan wirausaha adalah mampu membuat laporan raba rugi dan neracanya. Untuk skala mahasiswa, laba di sini mungkin berarti pemasukan (dari ortu, beasiswa, hasil mengajar, start-up business,dll) sedangkan rugi mengacu pada pengeluaran (makan, jajan, fotokopi,dll). Kalau neraca isinya tentang aset/ kekayaan dan liabilitas/beban.

Selama mulai mengisi hari kita dengan belajar mendokumentasikan budget dengan baik (kalau perlu dengan bantuan Mr.Budgets.. hehe), yuk kita mengkaji dikit mengenai prinsip usaha. Prinsip usaha simply sama dengan prinsip ekonomi yang sudah kita dengar sejak SMP, dan berlaku umum di kehidupan sehari-hari. Yang namanya usaha (U) itu ya pengen mendapat profit (P) sebesar-besarnya dan mengurangi biaya (B) sampai seminimal mungkin. Formula: U = P – B

Tau ga kalau gaji pegawai itu masuk dalam list B (biaya) perusahaan? Ya kan ya? Menggaji karyawan pasti dianggap menambah biaya pengeluaran perusahaan. Karena itu, gaji karyawan (meskipun untuk beberapa kasus terlihat masih besar) tetaplah itu merupakan hal yang sebisa mungkin ditekan perusahaan (diminimalisasi). Selamanya, keliatan gedhe atau keliatan kecil, gaji karyawan itu telah mengalami proses peminimalisasian (wedeh, bahasanya..). Mau selamanya dalam lingkup yang diminimal-minimalkan? Kalau engga, berari sudah seharusnya kita beralih menjadi Business Owner. Di saat kerjaan pegawai itu menanti hal yang diminimalisasikan, kerjaan seorang business owner melulu memikirkan profit, suatu hal yang lingkupnya terus-menerus dimaksimalkan :)

Lanjut gan! Kali ini kita bedah kelebihan pengusaha jika dibanding konsumen.. dan ini benar-benar menggugah!

1. Dalam antrian

Konsumen cenderung lebih banyak mengantri, sedangkan pengusaha cenderung banyak akses VIP. Lha wong punya uang kok. Semboyan bijak “Ga semua hal bisa dibeli dengan uang” mulai disejajari oleh kalimat retoris “Apa sih yang ga bisa dibeli dengan uang?”. Ironis, tapi di kenyataan, kalimat kedua mulai mendominasi. Asal ga buat hal negatif aja ya..

2. Laporan

Yang dilihat oleh konsumen adalah saldo, seringkali ini mengkhawatirkan karena cenderung menurun dipakai untuk berbagai pengeluaran. Sedangkan pengusaha relatif lebih “sehat” karena laporannya dalam bentuk laba rugi dan neraca.

3. Membeli barang

Sebagai konsumen, wajar donk waktu beli dapatnya harga pasar. Nah, kalau pengusaha amat mungkin dapat barang yang sama dengan harga grosir atau harga reseller atau harga mitra usaha. Lebih miring? Lebih murah? Itu pasti!

4. Menjual barang

Waktu menjual barang, konsumen yang beli dengan harga pasar hanya dapat menaikkan harga sedikit, itu pun mesti dengan kualitas pelayanan prima. Sedangkan pengusaha, mengingat waktu beli dapatnya harga grosir, bisa donk mengatur harga jadi lebih mahal.. Margin profitnya lebih bagus!

5. Menghadapi tren

Salah satu pembeda konsumen dan pengusaha. Di saat konsumen mengikuti tren, pengusaha dengan segala ide kreatifnya merupakan pembuat tren sejati.

6. Saat mencari untung

Sebagai konsumen, kalau mau cari-cari untung eh seringkali disangka korupsi. Sedangkan pengusaha, kalau mau cari-cari untung.. itu haknya donk.. namanya juga bisnis, buat cari untung..

7. Saat bersepakat

Kolusi adalah kata menohok yang dialamatkan kepada konsumen kalau coba bersepakat. Nah kalau pengusaha mau bersepakat, itu namanya asosiasi.. menjalin mitra bisnis.. Perbedaan kata yang amat jomplang bukan?

8. Saat memasukkan saudara

Memasukkan saudara sama dengan nepotisme. Ya, itu untuk “wilayah” konsumen. Kalau wilayah pengusaha atau business owner.. ya suka-suka.. anggapan resminya, itu untuk memasukkan orang kepercayaan..

Delapan perbedaan yang mungkin dialami konsumen vs pengusaha di atas menarik bukan?

Jadi gimana nih, kita mau jadi pengusaha… atau sekedar jadi konsumen? :)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s