Posted in periodic diary

Kenangan si Tabung 14″


Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Kalimat itu tentunya sudah tak asing bagi kita. Paling tidak sekali dalam belasan jam mata pelajaran sejarah yang kita habiskan untuk tidur atau sok-sokan melek (haha.. parah emang PPKn dan Sejarah #eh), kita pernah dengar. Narsis euy mata pelajarannya, minta diingat-ingat mulu..

Dan kali ini saya akan bercerita tentang sejarah, kawan-kawan! Brace yourself!

.

.

Nah kan. Kan. Begitu denger ada yang mau bercerita dengan sejarah, langsung pada lemes. Menahan kantuk. Meninggalkan postingan ini. Belum juga paragraf inti. Hoho..

Oke kawan, sebelum pikiran tentang Perang Diponegoro, Boedi Oetomo, Sayuti Melik, dll berkelebat dan membuat yang minat akan sejarahnya tipis (biasanya bukan orang yang bijak :p), mari tinggalkan kata “sejarah” untuk kalimat-kalimat sebelumnya, ganti dengan kata yang lebih berjiwa muda, “kenangan”.

Kenangan.

Kata ini hampir sama lho dengan kata yang baru saja kita tinggalkan. Berkaitan erat dengan masa lalu. Tapi entah mengapa kata ini sering dirujuk lebih positif. Coba deh bikin satu kalimat dengan kata “kenangan”, mayoritas bakal menulis mirip-mirip dengan saya: “Kenangan bersamanya sungguh tak terlupakan” (adaw..)

So, saatnya bercerita tentang kenangan yang tertera di judul.

Kenangan si tabung 14″

Dari angka dan petik dua setelah angka, gampang diterka saya akan bercerita tentang apa. Apa coba?

Bener sekali kalau Anda menjawab TV. Yuph, emang tube TV. Televisi kecil di rumah saya nan penuh kenangan.

Inilah penampakannya

Terlihat istimewa? Jelas tidak bagi Anda, jelas iya bagi saya. Karena tak lain tak bukan,,, kenangan…
TV ini sudah ada di rumah sejak saya masih balita. Masih ingusan. Nonton doraemon pagi-pagi di hari Minggu.

TV ini ada di rumah saat saya nan ingusan mulai sekolah. Capek pulang sekolah, nonton Wiro Sableng ama Boboho.

TV ini ada di rumah saat saya mulai punya inisiatif untuk belajar. Selesai belajar, nonton Tik Tak Boom dan Dunia Dalam Berita.

TV ini ada di rumah saat saya mulai suka sepakbola. Curi-curi nonton dini hari, level volume max 2 biar ga ketauan Bapak, dimarahi.

TV ini ada di rumah saat saya dibelikan device paling mainstream kala itu, VCD. Buat nonton Tom & Jerry ama rekaman konser Westlife.

TV ini ada di rumah saat saya mulai emosian. Perang dengan adek gara-gara jadwal Dora the Explorer dengan Lensa Olahraga bentrok.

TV ini ada di rumah saat saya mulai lebih emosian lagi. Dengar adek liat TV Hacchi anak yang sebatang kara. Sumpah itu salah satu lagu super annoying yang bikin saya kepikiran untuk ngancurin aja ni TV. *jangan digoogling lagunya! menyesal loh!*

TV ini ada di rumah juga saat saya mulai berpikir lebih bijak dan dewasa. Tolak ukurnya jelas, sudah mau merelakan adek mempermainkan channel TV. *parameter asal*

Pada akhirnya tabung 14″ ini terpinggirkan.. Diganti sama yang baru bertahun-tahun yang lalu..

**

Siang ini di kala suntuk mau mengerjakan TA, saya menyetel kembali si tabung 14″ yang sudah sangat berdebu itu.

Waah.. masih bisa menangkap sinyal lumayan!

Huff.. time flies..

Si anak ingusan yang paling demen nonton TV dulunya kini sudah berubah jadi si anak ganteng (tsaah.. mulai lagi narsisnya) yang udah ga peduli-peduli amat dengan adanya TV di rumah.

time flies..

Dulu cuma sebatas nonton TV Analog ini sambil tiduran, sekarang sudah mengoprek TA  tentang TV Digital. Sistem TV proyeksi masa depan untuk menggantikan sistem TV analog. Si tabung 14″ yang tergusur ini akan makin tergusur.

Ahaha.. terkadang ironis juga hari-hari saya sekarang dihabiskan untuk mempelajari teknologi yg sebentar lagi bakal menggusur si tabung 14″ ini untuk selamanya. TV yang sudah menjadi saksi dan secara tidak langsung juga membentuk kepribadian saya.

Tapi si tabung 14″ ini tersenyum manis dan mempersilakan saya untuk belajar lagi. Katanya…

Semua kenangan bakal usang. Semua yang usang, mesti diperbarui..

**

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s