Diposkan pada periodic diary

Cerita Kemah Pradana Smansa (2)


(sambungan dari bagian 1)

Jatah Makan

Ketua sangga adalah orang yang paling patut diacungi jempol saat pembagian jatah makan di acara kemah ini. Bagaimana tidak, setidaknya 15 menit ia harus berlari-lari dipermainkan senior untuk mendapatkan ember kehidupan. Ember yang berisi makanan berat untuk 1 sangga. Saya seringkali menertawakan Si Bego, ketua sangga saya, yang berjalan kepayahan selepas dapat tuh ember. Wajahnya melas-melas gimana gitu. Tapi semenjak saya bergantian sebagai “pencari jatah makan” udah deh bungkam. Suer, capek!

Nah. Setelah bercapek ria ini muncul “hiburan”, atau mungkin lebih cocok dibilang cobaan, buat sang pencari jatah makan. Belum juga ia mengambil jatah makannya, teman-teman satu sangga yang hanya menunggu di tenda, keluar.

celingak celinguk, sumringah ada ember di situ, ambil jatahnya, bilang “makasih ya.. hehe”, masuk tenda lagi.

giliran si bangke berikutnya keluar tenda.

celingak celinguk, sumringah ada ember di situ, ambil jatahnya, bilang “makasih ya.. hehe”, masuk tenda lagi.

berikutnya lagi–> Hehe –> masuk tenda lagi

Wow.. Sungguh. Kalian. Jiwa-jiwa yang tak tersentuh dosa  -__-

Morse

Ini adalah perlombaan antarkelas paling awal. Seberapa kompetitifkah kelas kami yang dalam pikirannya hanya ada having fun?

Well, sebenarnya ini yang saya maksudkan fakta paling best di episode sebelumnya: skill pramuka cowo-cowo kelas saya benar-benar sucks!! Mendirikan tenda mentiyung (miring seperti hampir roboh), morse ga bisa, semaphore ngaco, masak ga bisa, show seni ga ada persiapan sama sekali tali-temali uneducated. Yok opo cah.. ngapain kalian ikut kemah?

Di balik keserbaterbatasan skill pramuka inilah, momen inspiratif muncul.

Lomba Morse dimulai. Saya dan seorang teman mewakili kelas. Ga mudeng sama sekali sih. Bahkan buku saku pramuka yang saya sama sekali ga membantu. Masi bingung cari, tiba-tiba senior udah menghentikan kodenya. Sudah selesai. Wah.

Dalam hitungan detik peserta kelas lain menghambur. Melaksanakan perintah yang dikodekan dengan morse. Saya agak terlambat bergerak, emang ga tau sih karena ga bisa memecahkan sandi tadi. Tapi teman saya sudah mulai berlari tak kalah semangat dibanding peserta kelas lain. Bukannya dia juga ga tau perintahnya? Loh? Udah ah, saya lari susul dia.

Sampai di belakangnya, si teman saya ini sudah mendekap seorang dari kelas lain. Dan saya dengar apa yang ia katakan,

Eh, mau kuwi karepe apa?” (itu tadi maksud/bunyi kodenya apa?). Nice try!

Dan tak dinyana dikasitaulah sama si kelas lain itu.. Wew. tau gitu ga usah niat dengerin tadi.

Kalau ini saya merasakan: Sungguh. Enak juga. Sekelas dengan. Jiwa-jiwa yang tak tersentuh dosa -__-

==bersambung==

 

 

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Satu tanggapan untuk “Cerita Kemah Pradana Smansa (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s