Diposkan pada embun, jalan-jalan

Leles Trip: Back to Nature


Jangan habiskan hidup hanya antara bangunan, jalan setapak, kendaraan, itu-itu saja..

Itu-itu saja. Monoton. Membosankan.

Itulah yang dua minggu ini kurasakan setelah melepas status mahasiswa. Dunia yang baru saja dimulai ternyata memang keras. Menumbuhkan berjuta kepenatan. Menyemai beribu keluhan. Menyuburkan rasa ragu dan bimbang.

Sudah sebegitu lemahkah aku? Sudah sedemikian penat?

Maka kubaca lagi secarik kertas kuning itu..

Maka berangkatlah..

Biarkan alas kakimu yang paling jauh hanya pergi sekitaran rumah akhirnya menjejak ribuan mil

Biarkan debu perjalanan menempel di seluruh pakaian

Jangan cemas banyak hal

Jangan berpikir terlalu panjang hingga ragu datang

Lihatlah dunia terbentang..

Ku kembali termenung. Perjalanan. Dunia yang terbentang…

Ya, mungkin sekali aku terlampau banyak menghirup debu kotor perkotaan. Pikiran jadi tak jernih. Stagnan. Lambat. Minim syukur..

Ya, aku rindu perjalanan..

Perjalanan yang menuntunku untuk lebih bijak melihat kehidupan. Perjalanan yang mengizinkanku menghirup udara yang lebih bersih. Perjalanan untuk memaknai setiap langkah yang kujejakkan..

Aku mau berjalan! Aku butuh perjalanan itu!

**

Stasiun Leles, Kamis 1 November 2012 menjelang maghrib

Akhirnya sampai juga di stasiun ini. Dua jam sebelumnya aku masih berada di angkot yang terkena macet di jalanan Bandung yang sempit dan padat. Sekarang aku sudah berada di stasiun kecil yang dikelilingi oleh gunung dan sawah. Menghirup udara segar di sebuah kecamatan yang cukup terpencil di kabupaten Garut. Baru kemarin aku tidur di kasur empuk rumah kontrakan yang berada dekat mall-mall di Bandung. Nanti malam, aku mesti bermalam di masjid, rumah penduduk atau mungkin di kasur stasiun. Sungguh kontras, bukan?

Desa Leles Garut, Jumat 2 November 2012  05.30 WIB

Gunung dan sawah. Dua elemen yang mewarnai desa permai ini. Kokok ayam dan suara kambing menjadi alunan nada di pagi hari. Angin bertiup sepoi. Sementara matahari mulai menggeliat di balik awan, membentuk semburat jingga nan indah.

Berjalan menyusuri pematang sawah. Embun-embun sudah memeluk hijaunya daun padi sedari tadi. Lalu kulihat pak tani yang berangkat memikul cangkul. Walau badannya sudah agak bungkuk, ia tetap mencoba berjalan tegak penuh senyum. Siap memulai rutinitas yang sungguh bakal terlalu berat jika kita yang menjalankan. Tapi ia tak mengeluh, setidaknya itu yang terlihat dari raut mukanya.

Berjalan menyusuri rel. Kulihat bocah-bocah yang juga menyusuri jalan yang sama berjalan dengan penuh semangat menuju sekolah. Rumahnya sangat mungkin berada di desa di kaki gunung yang dipisahkan sawah sejauh setidaknya 2 kilometer menuju jalan aspal. Wajar jika mereka memilih tak lewat pematang untuk menjaga pakaian dan sepatu tetap bersih. Berjalan melewati rel, yang bagi mereka sudah trek terbaik, juga tak mudah. Menginjak kerikil selama 2 kilometer perjalanan niscaya membuat telapak kaki lumayan capek, belum kalau kereta yang lewat memaksa mereka menghindar dulu ke pematang. Percayalah, mereka pun tak mengeluh, setidaknya terlihat dari tawa itu.

Di tengah-tengah sawah. Di sekeliling megahnya gunung. Leles, Garut.

Aku dibelai lagi untuk menghilangkan rasa penat..

Aku diajari lagi untuk menampik rasa keluh..

Dan aku.. masih belajar memaknai lagi..

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s