Posted in embun

Like Singing a Song


Long Wiken dataang… Saatnya liburaaan…

Nah, harusnya kalau libur dari kerja, waktu untuk nulis blog jadi tambah banyak, postingan pun meningkat ya.. Sayang sekali itu tidak terjadi pada saya (huhu.. maaf Kawan..). Postingan malah ikut libur juga -__-. Sudah hattrick posting selepas rehat sebulan, eh mandeg lagi. Sejak hari Rabu malam, setelah pembicaraan seru tentang passion siang harinya, saya sudah bertekad bakal “melepas” tulisan di blog ini saban harinya. Tapi…

Kan.. tapi lagi.. Kawanku, sungguh saya tidak mau banyak alasan ketika berbuat salah. Tak apalah kalau karena ini saya dibilang plin plan, tidak konsisten. Tapi kalau boleh mengemukakan sedikit saja alasan, maka izinkanlah saya bilang bahwa modem internet saya sedang bermasalah (baik secara teknis maupun isi pulsa #eh).. so, hari-hari kemarin ga bisa ngeblog deh..

Lho bukannya bisa posting di warnet atau nyari Wi-Fi? Bukannya tinggal servis aja tuh modem atau isi ulang aja tuh pulsa? Well, makanya saya tidak mau berpanjang alasan, maaf, dan terima kasih masih nimbrung lagi di blog sederhana ini🙂

**

Oke, saatnya bercerita lagi.. tentang inspirasi selama long wiken ini..

Hari Ahad (23 Desember 2012) lalu, saya randomly jalan-jalan di salah satu mall di bilangan Pondok Indah Jakarta bersama sahabat saya (bertele-tele amat sih, oke di PIM!). Mall ini cukup asyik buat hang out menurut saya, setidaknya dibanding Grand Indonesia, mall raksasa yang mbingungin itu. Sisi entertainment dan culinary-nya tertata dengan amat baik dan komplet. Jadi ga bosen deh keliling nih mall, padahal kalo dari ukurannya cukup gedhe juga lho (sampai dibagi jadi PIM 1 dan PIM 2).

Tak dinyana, kebetulan banget di sana saya berpapasan dengan kakak kelas saya selama di SMA (di ITB juga tapi beda fakultas). Mas yang legenda Smansa Cup ini, as always, menyapa dengan sangat bersahabat. Bisa yaa setelah terakhir ketemu terakhir di Bandung, sekarang ketemu lagi di satu titik sebuah mall dari sekian puluh mall di Jakarta..

Kami pun mengobrol hangat. Saya mengagumi mas yang satu ini, selain karena skill sepakbola (atau futsal)nya yang cihuy, keramahannya yang luar biasa, juga karena selepas lulus ia langsung dapet kerjaan yang konon dream job.

Gimana deskripsi “konon dream job” itu? Yeah, freshgraduate dapat gaji dua digit juta, kerja ke luar daerah dikasi tiket pesawat selalu Garuda (yang notabene maskapai terbaik di tanah air), tidur di hotel mewah, tanpa mesti bekerja nguli sebagai teknisi langsung (mentahnya bisa dibilang tinggal ngecek dan ngemeng doank), plus potensial dapat “amplop gedhe” sepulang dari dinas.

Dream job nan menggiurkan versi Anda jugakah?

Kalau ya, bersiaplah untuk terheran-heran. Karena bagi beliau, dream job tadi ditinggalkan tanpa rasa ragu. Percayalah, walau deskripsi tadi bukan dream job versi saya, tapi tetep saja saya heran. Beliau pindah ke perusahaan lain, dengan gaji yang jelas lebih kecil, dan juga heran kenapa beliau meninggalkan pekerjaan terdahulunya itu.

Jawab beliau saat diwawancara, “I just wanna work.. Like singing a song

“Haah.. maksudnya apa mas?” tanyaku penuh selidik.

“Ya aku ini maunya kerja yang aku bisa menikmatinya.. bisa bikin semangat dan hati tenang.. kaya nyanyi santai gitu lho..”

Deg.

What a great answer.

Saya merasa tertampar. Setelah kemarin dibingungkan terkait passion, sekarang saya disadarkan lagi.

Enyahlah rasa yang selalu membandingkan kerjaan berdasar gaji. Enyahlah rasa yang selalu membandingkan kenikmatan kerja berdasar sibuk dan santainya. Naikkanlah rasa sombong itu kalau mau tapi segera enyahkanlah. Semua itu tiadalah berarti tanpa kebahagiaan, rasa senang, dan motivasi.

**

Hari berikutnya saya mendengar lagi sebuah lagu berdendang. Dari playlist hape.. Dinyanyikan Nugie, berjudul Lentera Jiwa..

Deg.

Lagu itu, juga tentang passion. Coba kita sama-sama renungkan video klip dan liriknya nan menggugah itu..

**

Hari berikutnya saya membaca sebuah novel nan menarik yang ditulis penulis ternama Andrea Hirata. Novel cantik hadiah lulus sidang yang saya peluk sepanjang malam * tapi secara kurang ajar baru kemarin saya baca.. hehe.. maaf ya🙂 *

Ada banyak pesan moral di novel itu. Salah satunya saat tokoh Enong punya antusiasme pada 3 kata berikut :

Sacrifice. Honesty. Freedom

Deg.

Ini pun terkait passion juga. Saat kita menemukan passion kita, maka kita bakal berani berkorban (sacrifice) menanggung bermacam resiko yang mungkin muncul, berani untuk terus jujur (honesty), serta kita bakal merasa nyaman tentram hawa-hawa kebebasan (freedom). Sebaliknya selama kita tidak berani berkorban, terus membohongi hati nurani, dan tidak merasa nyaman, bisa dipastikan kita sedang berada dalam hal yang bukan passion kita.

**

Passion oh passion. Sudahkah kita menemukannya?

Dalam tunduk dan harap, semoga kita sama-sama segera menemukan dan berada dalam passion kita ya.. Amiin

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

3 thoughts on “Like Singing a Song

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s