Diposkan pada islami, jalan-jalan

Jejak Umroh: Jeddah, Dalam Pelukan Nenek


Nenek. Oma. Simbah. Eyang Putri.

Begitulah beberapa versi panggilan untuk Ibunya orang tua kita. Ada apakah dengan nenek? Hmm.. Jangan lanjutkan membaca dulu. Stop sejenak. Dan mari sama-sama membiarkan nama tersebut terdengar dan mulai merasuki pikiran. Sudah? Apa yang terpikir?

Saya menebaknya dengan cukup yakin bahwa hanya akan ada 2 hal melankoli yang akan muncul: memori masa kecil kita nan indah, serta kesedihan karena nenek sudah sedemikian tua (atau mungkin, telah tiada). Bicara masa kecil nih ye, ingat-ingat deh, siapa “pahlawan kebanggaan” kita? Cukup dimaklumi jika jawabannya adalah Satria Baja Hitam, Ultraman, atau Songoku (terutama bagi generasi 90an seperti saya). Tapi usut punya usut, pahlawan paling konkret.. paling konkret.. di masa kecil kita adalah.. ya, jika kita mengalami masa kecil yang mainstream.. benar sekali, nenek.

Merasa uang saku buat ga cukup buat beli Cheetos dan mainan karena salary cap dari ortu? Minta nenek!

Ngambek karena dimarahi ortu? Dihibur nenek! (dan ssstt.. malah ortu kita yang ditegur.. hihi)

Laper habis pulang sekolah? Dimasakin nenek! (lezaat.. pengalaman masak puluhan tahun sih..)

Begitulah balada nenek dengan segala kemurahan hatinya. Sang pahlawan masa kecil kita. Terkadang, rindu itu datang. Teringin masa lalu itu terulang. Ketentraman dalam pelukan nenek.

**

DSC_0661

Jeddah, 22 Mei 2013

Pemeriksaan imigrasi baru saja saya lalui ketika jam bandara menunjuk jam 03.40 waktu setempat. Masih sangat pagi. Begitulah enaknya perjalanan panjang yang “memotong waktu”, berasa lebih cepat. Jam 8 malam baru take off dari Jakarta, jam 3-an sudah landing di sini, di tempat yang berjarak sekurangnya perlu waktu tempuh 9 jam. Hemat 2 jam bukan?

Karena terbilang masih dini hari, suasana bandara cukup lengang. Antrian pemeriksaan paspor tidak panjang, sehingga paspor saya pun segera dapat stempel baru. Sayangnya, lolos dengan cepat bukan berarti dapat melengang dengan cepat juga. Karena tidak sampai 1 jam kemudian, paspor saya… disita dan ditahan.

Hah!?

Ya, kejadian itu sama sekali tidak salah. Suatu kesalahpahaman yang sering disebut “miskomunikasi”, lebih tepatnya miskomunikasi karena kendala bahasa. Kawan, percayalah bahwa: bisa bahasa Inggris itu penting! Kedua, sedikit menguasai bahasa penduduk setempat juga penting, jangan melulu mengandalkan English!

Si Arab yang ga bisa Inggris, “Passport! Passport!”. Ia bermaksud mengambil paspor kami sejenak untuk diperiksa (scan). Tapi karena tidak bisa menjelaskan dengan singkat dan jelas, vocab yang diketahui cuma passport, terlalu kaku pada prosedur, plus dipadu dengan tampang yang sangar, manaa ada yang mau ngasihin paspor cuma-cuma ke dia. Ya kalau beneran petugas, kalau engga?

Si saya dan rekan yang ga bisa Arab, “Sholat! Sholat!” waktu Subuh sudah tiba, hak kami donk untuk segera sholat. Tapi saya pun ga menguasai kata-kata untuk ‘izin’ sholat dulu, scan paspor belakangan. Atau mendebat bahwa tadi sudah diperiksa di imigrasi, kenapa harus diambil dan dicek lagi paspornya. Hmm.. ya kalau tampang saya beneran terlihat superalim sehingga mereka ga khawatir sama sekali. Kalau emang habis sholat terus kabur tanpa scan visa?

Hahaha.. untunglah ada seseorang, sepertinya pejabat KBRI, yang bisa segera menyelesaikan miskomunikasi tsb. Alhamdulillah, clear.. fyuuh..

**

Kawan, ada cerita tersendiri mengenai Jeddah. Dan kenapa di awal tulisan saya -seperti biasa- ngelantur dengan pembahasan “nenek”. Kenapa nenek hayoo?

Tak lain tak bukan ya Jeddah itu sendiri. Jeddah itu artinya nenek. Kenapa nenek hayoo?

Konon nih ya, kota ini adalah tempat turunnya dan tempat dikuburkannya nenek kita, nenek moyang seluruh manusia di dunia. Siapa? Yuph, HAWA.

Ada bekas jatuhnya ngga? *emang meteor!

Jatuhnya pake apa ni? Ada pesawat aneh ngga kayak di Superman / Man of Steel? *hei -,-

Kalau sampe ada yang tanya langsung seperti itu, kecuali anak kecil, awas ya!

Tapi waktu dalam pelukan nenek dulu, saya juga menyimpan pertanyaan bodoh lho, “Kenapa sih Adam dan Hawa itu lemah banget sampe bisa dibujuk setan? Kalau ga kebujuk kan kita semua masih di surga sekarang?” Nah, sekarang udah sampai di “kotanya nenek Hawa”, boleh ngga ya mengadukan pertanyaan itu lagi? Terlebih di umur yang sedang saya lalui, dunia itu serasa sedang memberikan tekanan yang sangat besar, enak deh kalau sekarang bisa langsung masuk surga.

Gumaman yang tiada perlu.

Ya, selepas sampai di kota gerbang tanah Saudi ini, saya segera tersadar. Dari “kota nenek” di tepian Laut Merah, kemegahan itu mulai terasa.

Ya nenek, terima kasih telah turun ke bumi sehingga memungkinkan kami berkesempatan menikmati indahnya alam dunia dan semoga, alam surga.

Ya nenek, kalau kota ini benar disebut begitu karena engkau, terima kasih karena telah menjadi gerbang untuk memulai perjalanan menggetarkan dalam tanah suci ini.

DSC_0662

Angin bertiup dengan kecepatan sedang. Di depan, sejauh mata memandang terhampar lautan dengan ombak nan tenang. Di samping kiri, ada arsitektur rupawan dengan laut sebagai tempat terpancangnya tiang. Menyangga sehingga bangunan itu seolah mengambang. Di samping kanan, sekawanan burung merpati mematuk biji jagung yang terserak lalu kembali terbang.

Dalam pelukan Nenek. Suasana hati nan tentram dan semangat nan kian menggebu.
Dalam pelukan Nenek, perjalanan di pusat dunia itu.. dimulai.

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

2 tanggapan untuk “Jejak Umroh: Jeddah, Dalam Pelukan Nenek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s