Posted in islami, jalan-jalan

Jejak Umroh: Safari di Tanah Saudi


Pagi hari yang tenang. Bus yang saya tumpangi mulai meninggalkan Kota Nenek. Sebelum masuk kembali ke dalam bus, sempat saya rasakan hangatnya sinar mentari yang tersenyum di atas Laut Merah.

Ya, hangat. Tidak superterik sebagaimana bayangan kekhawatiran saya tentang tanah Saudi ini. Bagaimana tidak, ini tanah yang dinamai Arab, artinya “gurun yang kosong”. Tanah yang saking keringnya, ga ada sungai (beuh.. padahal di sini sungai airnya sampai bersisa, para penduduk kalang kabut tiap hujan turun sebentar saja), apalagi danau alami (yakali, emang Jakarta atau Bandung, produsen “waduk-waduk” baru tiap hujan deras datang). Tanah yang walau benderanya hijau, tapi jumlah pohonnya sangat minim. Ga ada ijo-ijonya. Sepanjang jalan adalah coklat pasir dan bebatuan, ngarep apa menemui pepohonan layaknya di negara yang konon zamrud katulistiwa.

DSC_0674

Deskripsi yang cukup membuat saya kurang puas kalau panasnya cuma sehangat kota Solo. Mana ini matahari megah yang teriknya ‘menyedot’ sumber-sumber air di tanah ini. Selayang pandang ke langit biru saat sang mentari membungkamku,

“Halah si cemen.. bersyukur dulu sana. beraninya naek bus ber-AC. Coba kalau mau naek yang ga ber-AC, atau kalau berani sono naek unta barang seratus dua ratus meter..”

Ughhh. Iya juga. Sang mentari memilih menurunkan kadar teriknya, mubadzir udah jarang yang mau menikmati teriknya seperti dulu Rasulullah berhijrah menaiki unta. Sudah jarang yang berbalas dzikir dan takbir dengannya laiknya Bilal bin Rabah mempertahankan iman walau disiksa. Berganti dengan hamba-hamba yang sudah difasilitasi kenyamanan transportasi, masih memilih tidur pulas di kursi dibanding muhasabah diri. Mubadzir.

Ughhh. Di lain hari saya takkan menantang mentari lagi.

**

Jalanan di tanah Saudi sangat lebar dan lapang. Bus yang saya tumpangi jarang sekali menyalip kendaraan, atau mendapati kendaraan yang melintas di arah seberang. Sungguh pemandangan negerinya dinasti keluarga Su’ud yang bertolak 180 derajat dengan yang biasa saya lalui setiap hari. Jalanan negaranya pak Beye yang berlubang dan superpadat dengan kendaraan.

jeddah-madinah

Jarak Jeddah-Madinah kurang lebih 450 km, kalau dibuat perbandingan ya hampir sama lah dengan jarak Jakarta-Yogyakarta. Tapi kalau di tanah Jawa jarak sejauh itu perlu waktu tempuh hingga belasan jam, cukup 5 jam saja dengan infrastruktur jalan raya di tanah Saudi ini. Cuma setengahnya lho waktu tempuhnya… Emang oke banget ya kalau infrastuktur jalan raya memadai dan jumlah kendaraan ga almost unlimited..  Hehe..

Selain dimanjakan dengan jalanan yang lebar, ongkos bahan bakar di sini juga sangat murah! Di saat masyarakat kita megap-megap subsidi BBM Premium dicabut, pemerintah sana bisa santai menjual bensin Premiumnya seharga 0,6 Rial (hanya sekitar Rp 1500 / liter.. wew). Itu pun sebenarnya cuma formalitas sih mengingat Arab Saudi punya cadangan minyak bumi 1/5 cadangan minyak dunia! Beuh.. bisa shodaqoh BBM premium buat Indonesia sampe ratusan tuh :p

Sekalipun tau tanpa harus membayar pun mereka bisa mengonsumsi bahan bakar semau gue tanpa berdampak besar pada negara, tapi orang Saudi tetap ikhlas bayar. Yaeyalah, harganya murah. Hmmm… maybe, itu salah satu faktor. Tapi sebenarnya itu lebih karena mereka percaya setiap kebijakan kepala negaranya. Terbukti Kerajaan Saudi sudah punya sistem yang mampu mensejahterakan semua warganya. Ga seperti di suatu negeri acakadut yang.. ah sudahlah, semoga negeri kita juga bisa sejahtera, berada pada masa di mana warganya tidak tersibukkan oleh perang kepentingan BBM, BBM, dan BBM lagi..🙂

Oke, sebelum bahasan mulai ngalor-ngidul (dasaar.. :D), mari kembali lagi ke safari di tanah Saudi..

DSC_0675

Tuh kawan, yang ada di pinggir atau pembatas jalan cuma pohon kurma. Yap, sebagaimana pernah kita baca waktu awal pelajaran IPA jaman sekolah dulu, pohon yang hidup di daerah gurun nan puanaas itu daunnya kecil-kecil biar ga banyak air yang menguap. Bete kan kalau akarnya udah nyari air sampai jauh, eh sampai daun malah banyak yang menguap. Selain kurma, tentunya ada pohon palem dan kaktus, walau ga sempet saya foto. Aih, pelajaran IPA emang menyenangkan ya.. tau banyak hal tentang alam..

Hmm.. kayaknya ga adil kalau udah bahas IPA, ga ada sisi IPSnya. Oke deh, masi inget pertanyaan “Siapakah nama raja Arab Saudi?” buat generasi 90-an pasti langsung ngeh. “Raja Fahd!”. Iya jaman segitu emang rajanya King Fahd. Tapi sekarang udah ganti masbro mbaksis, rajanya tak lain tak bukan adalah Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Beliau ini adik tirinya King Fahd. Putranya King Abdul Aziz, raja pertama Saudi, sang Ibnu Su’ud, yang namanya diabadikan jadi bandara internasional gerbang negara (Jeddah), King Abdul Aziz Airport. Loh, kok bukan menurun ke anaknya King Fahd? Tak tahulah ane juga kenapa aturannya menyamping, kalau ada yang meninggal digantikan oleh adiknya, bukan putranya. Oya, kok tadi dibilang ‘adik tiri’, emang King Abdul Aziz punya 2 istri? Iya, dua istri.. dua puluh dua istri lebih tepatnya, begitu kata wikipedia. Hoo…

**

Selepas lima jam perjalanan, sampai juga di City of Lights. Loh, Paris? bukan gan, kota yang saya maksud adalah Madinah. Madinatul Munawwaroh. Kota Madinah yang bercahaya. Kota yang begitu indah, baik secara fisik maupun ruhaniah.

Sebelum memasuki gemerlap penuh hikmah sang Kota Cahaya, saya mendapati satu fakta unik. Traffic light-nya! Loh loh, ada apa ini.. bukannya merah-kuning-hijau sebagaimana umum berlaku internasional?

Oh, countdown timer-nya maksud saya. Alih-alih papan kotak besar sebagaimana di Indonesia. Ini angka-angka kecil di dalam bundaran lampu lalu lintasnya.. Dari bus, saya kesulitan memfoto karena dari jauh jadi keliatan sangat keciil. Jadi maaf saya ambilkan dari link ini dulu

countdown timer

Yah begitulah.. Beda dengan negara kita. *untuk yang satu ini, jelas saya lebih setuju dengan di Indonesia tercinta. jauh lebih keliatan timer-nya. Hehe..

Okey sekian dulu ya. Kita sambung di safari di tanah Saudi selanjutnya..🙂

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s