Jejak Umroh: Kisah Syuhada Uhud

Uhud sang bukit yang dicintai dan mencintai Madinah, seperti sudah kita bahas di postingan sebelumnya  selalu diziarahi Rasulullah SAW tiap tahunnya. Tentulah hal tsb bukan tanpa dasar. Tak lain karena di Uhud, dimakamkan para syuhada-syuhada terbaik, syuhada yang sangat dicintai Rasulullah dengan kisah-kisahnya heroik yang demikian menggugah.

Ada yang dalam setiap jangkauannya, musuh pasti tertebas kalah. Ada “anak mama” nan doanya selalu diijabah. Ada yang giginya mendahului si empunya ke jannah. Ada yang dalam hidupnya jadi syuhada yang melangkah (biasanya kan syuhada itu anumerta.. gelar untuk yang telah gugur kan ya).

Siapakah saja mereka? Bagaimana ceritanya?

gunung uhud

Di hadapan Uhud nan megah itu, mari sejenak mengambil kembali semangat luar biasa mereka…

**

Sang Pemimpin Para Syuhada 

Pasir berdesir oleh hembusan angin yang tetiba mengencang. Bulirnya mengusap wajah-wajah dalam ramai manusia yang seketika terdiam. Mulut mereka tertutup rapat. Bulu kuduk mereka berdiri. Keriuhan lenyap dalam hitungan detik saat langkah itu mendekat. Sekiranya mereka bisa meminta, inginlah angin pasir bertambah kencang menjadi badai dan menghilangkan mereka dari tempat pijaknya. Lelaki yang langkahnya kian mendekat itu terlalu menakutkan untuk dihadapi.

“Siapa dari kalian yang berani menghina Muhammad?”

Sekumpulan ramai kaum Quraisy tak punya nyali untuk membuka mulut. Lisan yang baru saja mengucap sumpah serapah dan beragam rupa kata hina pada Muhammad menjadi kelu.

“Siapa yang berani menyakiti Muhammad?”

Seluruh tubuh mereka makin bergetar mendengar kalimat menggelegarnya. Lebih baik bertemu dengan singa padang rumput daripada singa padang pasir ini. Tapi satu orang petinggi mereka yang paling semangat 45 dalam mencaci maki Muhammad (beuh, semangat tinggi kok dalam menghina), Abu Jahal, tak bisa menghindari amarah sang singa. Ia tersungkur tanpa daya saat sang singa memukulkan busur panah ke arahnya.

“Apakah Engkau mencaci maki keponakanku padahal aku seagama dengannya, dan aku berkata seperti yang ia katakan? Silakan balas jika engkau sanggup!”

Abu Jahal nan hina itu tentulah tiada bernyali. Begitu juga kroco-kroconya yang langsung bubar. Tiada yang berani pada sang singa.

Sang singa itu… Hamzah bin Abdul Mutholib

Paman Nabi yang keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama islam lebih mendalam. Hal ini karena Hamzah memiliki gabungan antara jiwa petarung yang sangat disegani dengan garis keturunan Bani Hasyim yang sangat dihormati di seantero Jazirah Arab.

Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da’wah islam. Karena itu tidaklah mengherankan jika Rasulullah menjulukinya dengan sebutan “Asadullah” yang berarti singa Allah.

Hamzah merupakan perwira yang tidak punya catatan kekalahan dalam perang jarak dekat. Jumlah muslim yang jauh lebih sedikit dibanding kafir Quraisy saat Perang Badr pun bisa meraih kemenangan salah satunya karena keberadaan beliau. Lalu tibalah perang Uhud, perang yang diniatkan kaum kafir sebagai ajang balas dendam kekalahan Perang Badr.

Dalam perang Uhud, Hamzah kembali menjadi “bintang”. Semua yang berani mendekati jangkaunnya dikalahkan dengan telak, tak kurang dari 31 orang kafir Quraisy berhasil dibunuh. Saat pasukan pemanah blunder, tentara Khalid bin Walid menyerang dari balik bukit, Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu justru membuat semangat Hamzah bertambah berlipat ganda. Ia kembali dengan tangkas menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy.

Lalu tersebutlah budak Ethopia bernama Wahsyi yang dijanji merdeka jika berhasil membunuh Hamzah, mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah dan menembus tubuhnya. Serangan jarak jauhnya nan akurat membuat sang singa roboh. Ia masih bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi. Tetapi ternyata luka yang tertinggal sudah sedemikian parah dan akhirnya wafat sebagai syahid.

Usai peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dadanya dibelah dan jantungnya diambil oleh Hindun, istri Abu Sofyan pemimpin kafir Quraisy dalam perang Uhud. Naudzubillah.

Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin menshalatkan jenazah Hamzah dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama Sayyidina Hamzah dishalatkan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk dishalatkan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya disitu. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya menshalatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah menshalatkan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung Maka Rasulullah dan para sahabat telah menshalatkan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali. Dan diberi gelar “Sayidus Syuhada”.

makam syuhada uhud

                                             Makam Sayyidina Hamzah RA di Uhud

Oya sebelum mencap Wahsyi dan Hindun sebagai pembunuh paling keji karena peristiwa di atas, ada baiknya kita mengetahui bahwa Wahsyi dan Hindun ini akhirnya juga masuk Islam selepas Fathul Mekkah (pembebasan Mekkah).

Wahsyi sebagai muslim yang taat membalas kesalahan besarnya dengan membunuh Musailamah Al Khazzab, sang pendusta yang terang2an mengaku sebagai nabi, dengan cara yang sama persis dengan saat ia membunuh sang Singa Allah. Maka tercatatlah dalam sejarah Islam, tombak Wahsyi telah membunuh orang terbaik maupun orang terburuk.

Pun Hindun pun berubah menjadi muslimah yang taat. Ia merupakan Ibunda dari salah satu pemimpin besar Islam, khalifah pertama selepas Khulafaur Rasyidin, Muawiyah bin Abu Sofyan.

**

Sang Jiwa Muda yang Doanya selalu Diijabah

Tampan. Kaya. Santun. Berbakti. Cerdas. Jago memanah. Jago berkuda. Doanya selalu dikabulkan pula.

Semua itu terangkum pada sahabat yang satu ini. Woow banget kan?

Terlahir dalam keluarga berada, sahabat ini merupakan “anak mama”. Bukan, maksudnya bukan seperti “anak mama” yang bisa melekat dalam pergaulan sehari-hari kita. Bukan anak yang manja. Melainkan anak yang sangat menyayangi dan disayangi oleh ibundanya.

(to be continued)

Jejak Umroh: Uhud, Dicintai dan Mencintai Madinah

Uhud. Begitulah nama arsitektur alam berwarna kemerahan nan megah itu.  Banyak yang menyebutnya gunung, tak sedikit pula mengucap bukit. Saya sendiri lebih condong menyebutnya sebagai bukit mengingat ketinggian “hanya” 1050 meter (atau ketinggian segitu udah bisa disebut gunung?). Aih, tak perlu berlama dengan perbedaan penyebutan yang sebenarnya ga jauh beda, karena disebut gimanapun, Uhud selalu bersikap sama

Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung/bukit yang mencintai kami dan kami juga mencintainya (HR Bukhori- Muslim)

Inilah bukit penuh cinta. Begitu sabda Rasulullah SAW pada jabal gerbang menuju Madinah ini. Bukit yang dicintai penduduk Madinah karena kemegahannya dapat menghambat musuh menyerang langsung ke kota. Sebaliknya sang bukit mencintai para penduduk Madinah karena alunan dzikir yang tak henti, tak pernah membiarkannya seorang diri menyebut asma Allah. Agaknya sang bukit makin bersemu merah tatkala kata yang mirip namanya,”Ahad”, tersebut dalam jumlah tak terbilang tanda pengakuan keagungan Penciptanya Yang Maha Esa. Pun saat laku para pejuang yang terangkum dalam satu kata yang juga mirip namanya, “Jihad”.

Uhud, Ahad, Jihad.

jabal uhud

Jabal Uhud. Kemegahannya dilihat dari arah Jabal Rumat

Pernah suatu ketika Uhud berguncang ketika 4 orang ahli surga datang. Tak lain saat Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman menaikinya. Sebelum Rasulullah menghentakkan kaki dan menenangkan Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Jabal Rumat, Bukit Para Pemanah

Masih dalam suasana city tour setengah hari di Kota Madinah. Kali ini kami mengunjungi Jabal Rumat, yang berarti bukit/gunung para pemanah. Kenapa pemanah? Nah, ada satu cerita bersejarah yang mengandung hikmah pelajaran yang penting untuk kita.

Jabal Rumat sendiri berada berhadap-hadapan dengan Jabal Uhud, kedua bukit ini menjadi gerbang sekaligus benteng pertama kota Madinah.  Mengingat keberadaan tempat parkir, penjaja makanan, dekat dengan makam syuhada Uhud, serta ketinggian yang cukup tertempuh oleh fisik-fisik yang minim olahraga sekalipun, jadilah bukit ini yang ramai dinaiki. Di atas bukit ini terlihat pemandangan kota Madinah, serta bisa melihat kompleks perbukitan Uhud secara lebih jelas.

Ini nih gambar ramainya orang yang naik menziarahi Jabal Rumat:

jabal rumat

Jabal rumat. Cukup pendek bukan? Jadi sempat naik sampai puncak deh 🙂

Okee, sekarang saatnya saya sedikit bercerita mengenai asal penamaan dan hikmah dari Jabal Rumat ya..

**

Tersebutlah pada tahun ketiga Hijriah, dalam suasana Syawal yang seharusnya damai indah karena baru saja hari besar Idul Fitri dirayakan, kaum muslimin mesti menghadapi pertempuran besar dengan kaum kafir Quraisy. Pertempuran ini terjadi setahun selepas Perang Badr, perang yang dimenangkan secara gilang gemilang oleh kaum Muslim (313 orang bisa mengalahkan 1000 orang.. pas shaum Ramadhan pulak.. weww..). Kaum kafir Quraisy tidak terima dengan kekalahan tsb dan hendak menuntut balas. Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Kebun Kurma Madinah

Masih dalam suasana city tour, Iklim Saudi bolehlah kita sepakati sangat panas, maklum iklim gurun. Hawa gerah senantiasa menyekap, itu wajar. Tapi ada suasana berbeda kala itu. Nuansa hijau dari rimbunnya pepohonan membuat panas terlupakan sejenak. Tak lain, saat kami mengunjungi kebun kurma Madinah.

Kebun kurma ini terletak sangat dekat dengan Masjid Quba. Dengan kata lain, tanah sekitar Masjid Quba (masjid pertama yang dibangun Rasulullah ini emang dulunya kebun kurma, Rasulullah berteduh istirahat sekalian bangun masjid) masih sangat sangat terjaga kesuburannya sampai sekarang. Seperti apa penampakan ijo-ijonya?  Okee,, cek gambar berikut deh 🙂

kebun kurma madinah

kebun kurma Madinah

Banyaak kaan pohonnya? Sekalipun kurma daunnya kecil-kecil, tapi dengan berjajarnya banyak pohon seperti itu tentulah cukup untuk berteduh juga. Kurma ini selain bisa untuk berteduh, juga banyak fungsi lainnya lho. Batang dan daunnya dipakai untuk menyangga masjid (subhanallah ya Masjid Nabawi dan Masjid Quba yang sekarang berdiri sangat megah, dulunya disangga dengan batang kurma. Kejayaan yang dimulai dari kesederhanaan memang memukau), pun buahnya yang manis dan berkhasiat merupakan komoditi utama (selain delima).

Dan mari melihat gambar pohon kurma sejenak, lalu mulai mempelajari makna indah yang terselip dari keberadaan pohon kurma 😉 Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Masjid Quba dan Masjid Qiblatain

Mengunjungi kota seindah Madinah, selain ibadah dan ziarah utama di Masjid Nabawi, tak lengkap rasanya jika tidak melakukan city tour mengunjungi berbagai tempat penting dalam sejarah Islam. Ada masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah SAW (bukan Masjid Nabawi lho yang dibangun pertama..), ada masjid yang kiblatnya ada dua (waduh gimana sholatnya tuh), ada maqam besar tempat dimakamkannya sahabat agung Usman bin Affan RA dan ummul mukminun Aisyah RA (ga ada nisannya lho.. ga kaya Indonesia), perkebunan kurma, maupun gunung yang dicintai dan mencintai Madinah, Jabal Uhud.

Oke deh, kali ini mari kita bahas dua masjid unik yang kami kunjungi selama city tour setengah hari itu..

Masjid Quba

masjid quba

Masjid yang pertama banget didirikan oleh Rasulullah SAW. Terletak sekitar 5 km dari pusat kota Madinah. Rasulullah bersama sang first mate, Abu Bakar Ash-Shidiq, baru tiba di perkampungan Quba selepas menempuh perjalanan panjang hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Dalam waktu tinggal yang sebentar di desa nan hijau karena penuh kebun kurma itu sebelum melanjutkan ke Yasrib (Madinah Kota), Rasulullah memimpin langsung pembangunan masjid mulai dari peletakan batu pertama. Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Kuliner Mix Kebab dan Mutton Biryani

Memasuki negeri orang tanpa berwisata kuliner di dalamnya menurut saya adalah kesalahan. Pun saat sedang di tanah Saudi ini. Saya sudah menyiapkan budget tersendiri untuk berkuliner ria!

Sebenarnya sebelum mulai merantau (kuliah di Bandung), saya bukanlah wisatawan kuliner. Hal itu maklum adanya, karena sehari-hari saya bisa menikmati masakan paling lezat di dunia versi lidah saya : masakan ibu saya (level beyond delicious. pake bumbu cinta sih). Tapi selepas menyandang predikat “anak kos”, makanan apa aja kok jadi menarik ya.. Hehehe…

Setelah petualangan kuliner yang cukup lengkap di Bandung dan Jakarta, saatnya berburu kuliner di Madinah..

Kebetulan sekali saya berangkat umroh ini bareng sahabat saya yang sedari awal kuliah jadi partner wisata kuliner. Ustadz Salim A Fillah, ternyata juga punya CV yang ciamik soal pengalaman berkuliner. Walhasil, kami bertiga pun sepakat untuk mencari menu kuliner bersama.

Ba’da sholat Jumat di Nabawi (yang sekali lagi saya mesti mengucap syukur bisa sholat di samping Ustad Salim yang paham benar bahasa Arab. Bisa tau inti khutbah Jumatnya deh.. hehe), kami bertiga mulai hunting. Luckily, tak perlu mencari jauh-jauh , karena antara hotel dan Masjid Nabawi dekat dengan pujasera makanan.

Dan… inilah menu yang terpampang di salah satu kedai..

menu kuliner madinah

Setelah memilih dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, terpilihlah 2 menu.. jeng jeng jeng :

Mix Kabab dan Mutton Biryani..

Masing-masing berharga 18 SR dan 15 SR. 1 SR itu senilai 2400 IDR (Rupiah). Tapi kalau mau makan di sana, ga perlu dikit-dikit mikir dirupiahin deh ya. Ga jadi makan ntar :p

Menunggu sebentar pesanan diolah… (Hmm… ga sabar nih pengen cepet icip..)

Sekitar 15 menit pesanan udah terbungkus rapi untuk dibawa ke hotel dan disantap bersama.

Well, inilah penampakan sang pesanan… Silakan makaan…

DSC_0769

Mix Kabab dan Mutton Biryani yang terhidang. Menarik kan?

Kita bahas dari Mix Kabab dulu ya.. Jangan bayangin kabab di sini mirip kaya kebabnya  Baba Rafi yang lagi laris manis di Indonesia. Kabab dalam bahasa Arab artinya “daging panggang”. Daging ditusuk dengan batang besi kemudian ditaruh di panggangan beberapa saat baru disajikan. Di gambar terlihat dalam bungkus putih (kiri bawah). Karena yang kami pesan ini mix alias campuran, maka daging yang disajikan pun ada banyak macam. Daging domba, daging sapi, serta daging ikan. Dicocol dengan sambal. Gimana rasanya? Wow… Nyaam banget!!

Berikutnya, Mutton Biryani. Pada gambar, di atasnya Mix Kabab. Biryani itu nasi dari beras basmati yang dimasak dengan rempah-rempah. Tau kan ya beras basmati? Beras berpulir panjang khas India nan harum baunya. Sedap bukan kepalang. Kalau mutton? Mutton itu daging domba yang lebih tua (dari domba yang berumur lebih dari 1 tahun). Apa yang khas? Bau dagingnya itu lho… Seeng.. Lebih menyengat. Walau berbau prengus, tapi saat bertemu dengan lidah, wuih, maknyuuuss…. Perpaduan wanginya nasi biryani dengan aroma menyengat mutton benar-benar menggugah selera, kawan..

Oya, saat bersantap kuliner Arab ini, biasanya kita dapat dengan mudah mendapat roti roll (atau apa itu namanya yang di sebelah kanan atas pada gambar, yang biasa buat membungkus/roll kebab Turki laiknya di tanah air). Hanya 1 SR dapet segepok tebal gitu. Hoho..

Alhamdulillah..

Inilah kuliner utama yang kami nikmati di Madinah. So delicious. Highly recommended buat kawan-kawan selama ntar di Saudi. Salam buncit!! 😀

Jejak Umroh: Pagi Eksotis Payung Nabawi

Pagi hari yang indah. Begitulah yang saya rasakan hari itu..

Berangkat dari hotel jam 3.30 dini hari, Raudhah ternyata tidak saya dapat kala itu. Alhamdulillahnya.. saya dapat ganti merasakan sholat di shof pertama Masjid Nabawi. Mendengarkan, mengikuti, dan mengamini sang imam dari jarak yang sangat dekat. subhanallah..

Selepas Subuh, saya menangguhkan diri untuk tetap di situ. Bertilawah melantunkan ayat ayat suci AlQur’an. Setidaknya sampai waktu dhuha datang. Sholat dhuha, baru deh pulang ke hotel untuk sarapan. Karena batal wudhu, saya keluar sebentar (toilet dan kamar mandi berada di bangunan yang terpisah dari masjid tentunya). Dan beginilah yang saya dapati saat keluar masjid…

nabawi sunrise

Matahari hari pagi yang mulai naik memancarkan aura merahnya nan indah…

payung nabawi

Payung Masjid Nabawi berteknologi tinggi itu mulai bergerak membuka diri… bersamaan dengan terbitnya mentari.. eksotis! Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Mesir, Madagascar dalam Balada Pemburu Raudhah

Bertamasya ke taman surga. Mengunjungi tempat penuh cahaya untuk jiwa. Tanpa perlu membawa tikar sendiri, sudah disediakan karpet hijau nan nyaman. Tanpa harus membawa bekal sendiri, ada yang secara berkala memberikan air zam zam dan kurma. Tanpa harus mengeluarkan tambahan biaya, kita dipersilakan bermunajat menyampaikan semua yang kita pinta.

Bertamasya ke taman surga. Aih, frase yang tanpa harus dideskripsikan juga semua orang akan sangat tertarik. Begitulah kiranya mengapa Raudhah selalu padat 24 jam nonstop. Penuh oleh pemburu yang telah masuk area maupun pemburu yang antri mendapat “tiket” masuk taman surga. Selalu dan akan selalu.

Nah, tersebutlah seorang pemuda yang hobi tamasya. Yang bermimpi mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali taman surga ini tentunya. Mau berapa pun lautan manusia, dengan semangat empat lima, pasti bisa masuk lah yaa…

Percobaan pertama, dengan semangat menggebu-gebu, sang pemuda bergerak dari pintu Raja Fahd yang notabene shof paling belakang menuju shof sedepan mungkin. Belum sampai di arsitektur utama bangunan Utsmaniyyah tempat Raudhah berada, eh ada kain tebal pembatas. Mau nerobos? Ga mungkin bisa. Ada petugas (askar)nya. Mau coba dari samping, eh malah lebih ga bisa lagi (pembatas emang paling sering dibuka kalau lewat belakang, pembatas samping hampir tidak pernah dibuka). Dari sini sang pemburu belajar satu hal, limitation yang lebih besar dari perkiraan. Awalnya kirain hanya area 26 x 15 meter Raudhah saja yang diberi pembatas. Ternyata…  Hmm,, selalu aja ga nyadar kalau tiap besarnya keinginan kita, di depan bakal ada batasan-batasan yang harus diakali.

Well, oke deh.. hal paling dasar dalam mengatasi batasan: “datang lebih awal”

Pelajaran mengenai timing tsb membuat sang pemburu yang sebelumnya datang 30 menit sampai 1 jam sebelum adzan, ini datang 2-3 jam lebih awal. Lebih tepatnya, jeda antar sholat fardhu ga usah pulang ke hotel dulu.  Stay di masjid, ancang-ancang perburuan “tiket tamasya” lebih awal. Berhasilkah? Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Raudhah, Taman Surga

Di dalam luar biasa indahnya Masjid Nabawi, terdapat tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh. Nama lokasi itu, yuph, sesuai yang sudah sering kita dengar: Raudhah.

Di antara rumahku dan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas telagaku (HR Abu Hurairah RA)

Wii.. taman.. telaga…TAMAN SURGA lagi…

berarti di bawahnya ada sungai yang mengalir dari susu dan madu ya? Enggak, itu keadaan di akhirat ntar..

berarti di dalamnya banyak bidadari bidadari cantik? Sstt.. kepikirannya bidadari mulu sih. Jomblo ya? #eh

Kawanku, taman surga di sini bukan berarti sesuai deskripsi surga dalam AlQuran yang dijanjikan Allah sebagai balasan kebaikan di akhirat nanti. Tapi merupakan taman yang mulia, di mana beribadah di dalamnya menghadirkan rasa khusyu mendalam, tiap doa yang dipanjatkan di dalamnya sangat mudah diijabahi. Sebagaimana taman yang selalu memberi rasa tenang dan rasa segar, ketenangan dan kesegaran yang didapat di Raudhah ini pada level yang membuat kita tak banyak menunda untuk berkata, “ya, ini taman surga” 🙂 Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Cahaya Jiwa di Masjid Nabawi

Gerimis hampir tak pernah datang di tanah Saudi. Tapi di siang itu, suasana gerimis terasa sungguh. Bukan dari langit, melainkan apa yang dirasa di hati. Deskripsi indah yang disampaikan Ustad Salim A Fillah, pembimbing umroh ini,  benar-benar menyentuh dan tanpa terasa air mata mengalir di pipi. Karena gambaran itu terkait pusat kota Madinah yang baru saja kami lihat di seberang, ya kami baru saja sampai di pusat kota Madinah kala itu. Jikalau tersebut pusat kota Madinah maka semua orang pasti paham, yang dimaksud tak lain tak bukan masjid di seberang itu, Masjid Nabawi.

Tersebutlah di hari Rasulullah baru tiba selepas hijrah dari Mekkah dengan bijak membiarkan sang unta kesayangan, Al Qashwa, untuk berjalan sekehendaknya. Tempat sang unta berhenti akan dibangunkan masjid. Akhirnya sang unta berhenti dan lokasi itulah tempat berdiri Masjid Nabawi ini. Tak lebih dari 50 x 50 meter masjid itu dibangun. Tapi sekarang, masjid yang indah dan luas telah berdiri sedemikian megah. Area sholat mencapai 135.000 m2, bukankah itu perluasan yang sangat besar?

Tersebutlah bahwa Rasulullah dan para sahabat, sholat di masjid Nabawi yang alasnya pasir, atapnya adalah langit (alias tidak beratap), kalaupun sebagian sempat beratap, itu dari daun kurma. Tiangnya dari batang kurma. Listrik boro-boro ada di zaman itu, sehingga tanpa penerangan di malam hari. Sekarang, jangan tanya soal interior masjid. Kilauan tiang penyangga dan lampu berhiaskan marmer dan emas di dalam masjid serta lampu besar di pelataran masjid yang tak kalah terang membuat masjid ini secara fisik sangat-sangat bercahaya. Bukankah itu peningkatan yang sangat besar?

Tersebutlah bahwa Rasulullah memimpin sholat dengan jamaah umat muslim yang masih dalam bilangan ratusan. Sekarang, jutaan orang dari seantero dunia berbondong-bondong sholat di masjid ini setiap harinya. Bukankah itu peningkatan yang sangat besar?

Bahwa Islam yang besar, yang luas, yang bercahaya, yang merupakan rahmat bagi semesta alam, mendapatkan titik balik menuju kejayaan diawali dari Masjid Nabawi ini. Masjid sederhana yang tiap harinya berkumandang adzan merdu Bilal bin Rabah, lantunan ayat Rasulullah memimpin sholat dan tentunya tilawah para sahabat. Di Masjid ini. Di masjid ini. Subhanallah

*menulis sambil membayangkan saat pertama banget saya melihat Nabawi langsung dengan mata kepala sendiri, air mata menetes kembali*

Kalau udah begini, saatnya mentadaburi AlQuran surat 110. surat apakah itu? Baca Selengkapnya