Jejak Umroh: Kuliner Mix Kebab dan Mutton Biryani

Memasuki negeri orang tanpa berwisata kuliner di dalamnya menurut saya adalah kesalahan. Pun saat sedang di tanah Saudi ini. Saya sudah menyiapkan budget tersendiri untuk berkuliner ria!

Sebenarnya sebelum mulai merantau (kuliah di Bandung), saya bukanlah wisatawan kuliner. Hal itu maklum adanya, karena sehari-hari saya bisa menikmati masakan paling lezat di dunia versi lidah saya : masakan ibu saya (level beyond delicious. pake bumbu cinta sih). Tapi selepas menyandang predikat “anak kos”, makanan apa aja kok jadi menarik ya.. Hehehe…

Setelah petualangan kuliner yang cukup lengkap di Bandung dan Jakarta, saatnya berburu kuliner di Madinah..

Kebetulan sekali saya berangkat umroh ini bareng sahabat saya yang sedari awal kuliah jadi partner wisata kuliner. Ustadz Salim A Fillah, ternyata juga punya CV yang ciamik soal pengalaman berkuliner. Walhasil, kami bertiga pun sepakat untuk mencari menu kuliner bersama.

Ba’da sholat Jumat di Nabawi (yang sekali lagi saya mesti mengucap syukur bisa sholat di samping Ustad Salim yang paham benar bahasa Arab. Bisa tau inti khutbah Jumatnya deh.. hehe), kami bertiga mulai hunting. Luckily, tak perlu mencari jauh-jauh , karena antara hotel dan Masjid Nabawi dekat dengan pujasera makanan.

Dan… inilah menu yang terpampang di salah satu kedai..

menu kuliner madinah

Setelah memilih dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, terpilihlah 2 menu.. jeng jeng jeng :

Mix Kabab dan Mutton Biryani..

Masing-masing berharga 18 SR dan 15 SR. 1 SR itu senilai 2400 IDR (Rupiah). Tapi kalau mau makan di sana, ga perlu dikit-dikit mikir dirupiahin deh ya. Ga jadi makan ntar :p

Menunggu sebentar pesanan diolah… (Hmm… ga sabar nih pengen cepet icip..)

Sekitar 15 menit pesanan udah terbungkus rapi untuk dibawa ke hotel dan disantap bersama.

Well, inilah penampakan sang pesanan… Silakan makaan…

DSC_0769

Mix Kabab dan Mutton Biryani yang terhidang. Menarik kan?

Kita bahas dari Mix Kabab dulu ya.. Jangan bayangin kabab di sini mirip kaya kebabnya  Baba Rafi yang lagi laris manis di Indonesia. Kabab dalam bahasa Arab artinya “daging panggang”. Daging ditusuk dengan batang besi kemudian ditaruh di panggangan beberapa saat baru disajikan. Di gambar terlihat dalam bungkus putih (kiri bawah). Karena yang kami pesan ini mix alias campuran, maka daging yang disajikan pun ada banyak macam. Daging domba, daging sapi, serta daging ikan. Dicocol dengan sambal. Gimana rasanya? Wow… Nyaam banget!!

Berikutnya, Mutton Biryani. Pada gambar, di atasnya Mix Kabab. Biryani itu nasi dari beras basmati yang dimasak dengan rempah-rempah. Tau kan ya beras basmati? Beras berpulir panjang khas India nan harum baunya. Sedap bukan kepalang. Kalau mutton? Mutton itu daging domba yang lebih tua (dari domba yang berumur lebih dari 1 tahun). Apa yang khas? Bau dagingnya itu lho… Seeng.. Lebih menyengat. Walau berbau prengus, tapi saat bertemu dengan lidah, wuih, maknyuuuss…. Perpaduan wanginya nasi biryani dengan aroma menyengat mutton benar-benar menggugah selera, kawan..

Oya, saat bersantap kuliner Arab ini, biasanya kita dapat dengan mudah mendapat roti roll (atau apa itu namanya yang di sebelah kanan atas pada gambar, yang biasa buat membungkus/roll kebab Turki laiknya di tanah air). Hanya 1 SR dapet segepok tebal gitu. Hoho..

Alhamdulillah..

Inilah kuliner utama yang kami nikmati di Madinah. So delicious. Highly recommended buat kawan-kawan selama ntar di Saudi. Salam buncit!! 😀

Jejak Umroh: Pagi Eksotis Payung Nabawi

Pagi hari yang indah. Begitulah yang saya rasakan hari itu..

Berangkat dari hotel jam 3.30 dini hari, Raudhah ternyata tidak saya dapat kala itu. Alhamdulillahnya.. saya dapat ganti merasakan sholat di shof pertama Masjid Nabawi. Mendengarkan, mengikuti, dan mengamini sang imam dari jarak yang sangat dekat. subhanallah..

Selepas Subuh, saya menangguhkan diri untuk tetap di situ. Bertilawah melantunkan ayat ayat suci AlQur’an. Setidaknya sampai waktu dhuha datang. Sholat dhuha, baru deh pulang ke hotel untuk sarapan. Karena batal wudhu, saya keluar sebentar (toilet dan kamar mandi berada di bangunan yang terpisah dari masjid tentunya). Dan beginilah yang saya dapati saat keluar masjid…

nabawi sunrise

Matahari hari pagi yang mulai naik memancarkan aura merahnya nan indah…

payung nabawi

Payung Masjid Nabawi berteknologi tinggi itu mulai bergerak membuka diri… bersamaan dengan terbitnya mentari.. eksotis! Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Mesir, Madagascar dalam Balada Pemburu Raudhah

Bertamasya ke taman surga. Mengunjungi tempat penuh cahaya untuk jiwa. Tanpa perlu membawa tikar sendiri, sudah disediakan karpet hijau nan nyaman. Tanpa harus membawa bekal sendiri, ada yang secara berkala memberikan air zam zam dan kurma. Tanpa harus mengeluarkan tambahan biaya, kita dipersilakan bermunajat menyampaikan semua yang kita pinta.

Bertamasya ke taman surga. Aih, frase yang tanpa harus dideskripsikan juga semua orang akan sangat tertarik. Begitulah kiranya mengapa Raudhah selalu padat 24 jam nonstop. Penuh oleh pemburu yang telah masuk area maupun pemburu yang antri mendapat “tiket” masuk taman surga. Selalu dan akan selalu.

Nah, tersebutlah seorang pemuda yang hobi tamasya. Yang bermimpi mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali taman surga ini tentunya. Mau berapa pun lautan manusia, dengan semangat empat lima, pasti bisa masuk lah yaa…

Percobaan pertama, dengan semangat menggebu-gebu, sang pemuda bergerak dari pintu Raja Fahd yang notabene shof paling belakang menuju shof sedepan mungkin. Belum sampai di arsitektur utama bangunan Utsmaniyyah tempat Raudhah berada, eh ada kain tebal pembatas. Mau nerobos? Ga mungkin bisa. Ada petugas (askar)nya. Mau coba dari samping, eh malah lebih ga bisa lagi (pembatas emang paling sering dibuka kalau lewat belakang, pembatas samping hampir tidak pernah dibuka). Dari sini sang pemburu belajar satu hal, limitation yang lebih besar dari perkiraan. Awalnya kirain hanya area 26 x 15 meter Raudhah saja yang diberi pembatas. Ternyata…  Hmm,, selalu aja ga nyadar kalau tiap besarnya keinginan kita, di depan bakal ada batasan-batasan yang harus diakali.

Well, oke deh.. hal paling dasar dalam mengatasi batasan: “datang lebih awal”

Pelajaran mengenai timing tsb membuat sang pemburu yang sebelumnya datang 30 menit sampai 1 jam sebelum adzan, ini datang 2-3 jam lebih awal. Lebih tepatnya, jeda antar sholat fardhu ga usah pulang ke hotel dulu.  Stay di masjid, ancang-ancang perburuan “tiket tamasya” lebih awal. Berhasilkah? Baca Selengkapnya