Diposkan pada islami, jalan-jalan

Jejak Umroh: Jabal Rumat, Bukit Para Pemanah


Masih dalam suasana city tour setengah hari di Kota Madinah. Kali ini kami mengunjungi Jabal Rumat, yang berarti bukit/gunung para pemanah. Kenapa pemanah? Nah, ada satu cerita bersejarah yang mengandung hikmah pelajaran yang penting untuk kita.

Jabal Rumat sendiri berada berhadap-hadapan dengan Jabal Uhud, kedua bukit ini menjadi gerbang sekaligus benteng pertama kota Madinah.Β  Mengingat keberadaan tempat parkir, penjaja makanan, dekat dengan makam syuhada Uhud, serta ketinggian yang cukup tertempuh oleh fisik-fisik yang minim olahraga sekalipun, jadilah bukit ini yang ramai dinaiki. Di atas bukit ini terlihat pemandangan kota Madinah, serta bisa melihat kompleks perbukitan Uhud secara lebih jelas.

Ini nih gambar ramainya orang yang naik menziarahi Jabal Rumat:

jabal rumat

Jabal rumat. Cukup pendek bukan? Jadi sempat naik sampai puncak deh πŸ™‚

Okee, sekarang saatnya saya sedikit bercerita mengenai asal penamaan dan hikmah dari Jabal Rumat ya..

**

Tersebutlah pada tahun ketiga Hijriah, dalam suasana Syawal yang seharusnya damai indah karena baru saja hari besar Idul Fitri dirayakan, kaum muslimin mesti menghadapi pertempuran besar dengan kaum kafir Quraisy. Pertempuran ini terjadi setahun selepas Perang Badr, perang yang dimenangkan secara gilang gemilang oleh kaum Muslim (313 orang bisa mengalahkan 1000 orang.. pas shaum Ramadhan pulak.. weww..). Kaum kafir Quraisy tidak terima dengan kekalahan tsb dan hendak menuntut balas.

Tidak seperti perang besar sebelumnya yang terjadi di antara Madinah (base kaum muslim) dan Mekkah (base kaum kafir Quraisy), kali ini peperangan pecah di “gerbang” Madinah, komplek perbukitan Uhud, sekitar 6,4 km dari Masjid Nabawi. Oleh karenanya perang ini masyhur disebut Perang Uhud.

Jumlah pasukan kaum muslimin seharusnya bertambah 3x lipat dibanding saat Perang Badr. 1000 menyatakan siap menegakkan panji Islam di perang ini, tetapi karena hasutan kaum Yahudi Madinah, 300 orang mangkir. Tersebab case tsb, orang-orang yang mangkir padahal urgensi perang sangat besar disebut dengan keras sebagai orang munafik (naudzubillahi min dzalik). 700 orang gagah berani berhadapan dengan kaum kafir Quraisy, yang kali ini jumlahnya benar-benar 3x lipat jumlah perang Badr, 3000 orang!

Rasulullah menata sedemikian rupa strategi peperangan. Infanteri utama di sayap kanan menempati Jabal Uhud. Ini bisa melimitasi pergerakan musuh dan mempertahankan sebanyak mungkin pasukan mengingat jumlah yang tidak sebanding. Sedangkan di sayap kiri, 50 orang pemanah pilihan ditempatkan di Jabal Ainan, sebarang Jabal Uhud. Posisi ini sangat krusial karena bisa menghindari counter musuh dari balik bukit dan keakuratan anak panah terhadap kavaleri lawan dapat mengontrol jalannya peperangan. Saking krusialnya, 50 pemanah yang dipimpin Abdullah bin Jubair ini diberi komando sangat tegas :

Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami

Para pemanah ini harus stand by di tempat apapun keadaannya. Sungguh, strategi ini secara default merupakan tactical yang sangat jitu, bisa jadi lebih jitu dari taktik super racikan Pep Guardiola yang bisa memenangi 6 gelar dalam semusim di kancah sepakbola dunia πŸ˜€

Di kubu seberang, kaum kafir Quraisy dipimpin oleh Abu Sofyan (saat itu masih kafir nan jahil, belum jadi muslim yang taat). Pasukan terbagi dalam infanteri utama di tengah dengan dua sayap kavaleri, di kanan dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal (yang sangat bernafsu membalas dendam kematian ayahnya di peperangan Badr), di kiri dipimpin Khalid bin Walid (ahli perang masih kafir juga, belum jadi panglima handal kaum muslim).

Peperangan dimulai. Seiring waktu berjalan, strategi kaum Muslim ternyata terbukti lebih jitu. Kemenangan sudah di depan mata. Musuh sudah banyak yang berlari meninggalkan banyak harta rampasan perang. Nah, di saat peluit panjang pertandingan tinggal sebentar lagi (eh, ngasal.. hehe), blunder besar itu terjadi. Blunder yang secara signifikan memberikan akhir yang tidak mengenakkan bagi kaum Muslim.

Pasukan pemanah yang diharuskan stand by di Jabal Ainan justru ikut berebut harta rampasan perang. Kelengahan ini dibaca dengan baik oleh, yah you-know-who Khalid bin Walid. Pasukan kavalerinya segera memimpin pengitaran bukit dan berbalik melakukan penyerangan kilat dalam kondisi kaum muslim yang tak waspada. Pos krusial di atas bukit ini menjadi milik kaum kafir Quraisy dan pasukan Islam cukup banyak yang gugur sebagai syuhada, termasuk paman Rasulullah nan sangat gagah, Hamzah. Rasulullah pun terluka cukup parah. Bisa dikatakan dalam case ini umat muslim menderita kekalahan. Dan karena kekalahan tsb sedikit banyak disebabkan blunder para pemanah di bukit Ainan, untuk menjadi pelajaran dan peringatan, bukit itupun dinamai Jabal Rumat, bukit para pemanah.

Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Dan sesungguhnya menjaga amanah, kedisiplinan dan kesabaran adalah salah satu bentuk ikhtiar terbaik dalam mengupayakan pertolongan dari-Nya.

Pelajaran dari perang Uhud juga tertulis di Al Quran surat Ali Imran

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (ayat 142)? Bahkan jika Muhammad sendiri mati terbunuh, Muslim harus terus berperang (ayat 144), karena tiada seorang pun yang mati tanpa izin Allah (ayat 145). Lihatlah para nabi yang tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah (ayat 146). Para Muslim tidak boleh taat pada kafir (ayat 149), karena Allah Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut (ayat 151)

Setelah mengambil pelajaran dan berbenah diri, kaum muslimin menjadi lebih tangguh dan dalam peperangan selanjutnya tidak mengalami kejadian serupa. Itu juga berkat turunnya wahyu AlQuran surat Ali Imran: 139-140

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim

Maha Suci Allah. Maha Besar Allah.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari Jabal Rumat yaa… Amiin πŸ™‚

dan jika sempat berkunjung dan menaiki Jabal Rumat, jangan melakukan kegiatan sebagaimana gambar berikut:

corat coret mulu

Kebiasaan sebagian jamaah dari Indonesia. Corat-coret ga penting. Apa manfaatnya sih? Pengen dikenang sebagai pengotor tempat bersejarah? Hey, apa ada manfaatnya ya?

**

Demikian cerita Jabal Rumat, kawanku. Tunggu cerita selanjutnya yaa… πŸ™‚

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Satu tanggapan untuk “Jejak Umroh: Jabal Rumat, Bukit Para Pemanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s