Jalan-jalan Sulawesi Selatan #1 : Makassar

1 September 2013

Waktu subuh masih lama menjelang saat saya sudah tiba di terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta. Adalah hal yang langka, walau cukup mudah dipahami, bahwa perjalanan dari kosan di Mampang Prapatan sampai bandara ini hanya butuh 30 menit saja. Ini hari Minggu, masih dini hari pula. Di jam normal, butuh waktu tak kurang dari 1,5 jam tuh.

Jam 03.30. Hmm.. keputusan saya untuk bangun jam 2 dan memesan taksi jam 3 jadi dipertanyakan nih. Bangun boro-boro di saat orang lain masih demen ama Wake Me Up When September Ends. Ini dini hari awal September aja udah terbangun lalu sekarang mesti menunggu lama karena jadwal take off masih jam 05.40! Emang bener kata orang, hanya ada pilihan di Jakarta: datang kepagian (terlalu awal) atau terlambat. Walau terlalu kepagian, tapi tetap bersyukur dong ya udah sampai di bandara. Sabar dan syukur, kunci pokok menjalani hidup di Jakarta (di semua kota juga sih..hehe). Alhamdulillah dengan itu saya masih begitu menikmati hidup di kerasnya ibukota 🙂

Singkat cerita, setelah masa menunggu masuk pesawat sambil asyik baca Qur’an selesai, bersiaplah saya terbang ke provinsi yang belum pernah saya jamah sama sekali. Ke daerah yang selama seminggu ke depan akan membawa saya kesan nan luar biasa. Bismillah. Dadah Jakarta!!

Bandara Sultan Hasanuddin

Image

Pesawat mendarat dengan mulus di landasan pacu bandara Sultan Hasanuddin. Tak kalah mulusnya saya melengang keluar dari bandara karena emang ga bawa barang di bagasi. Tapi waktu menunggu ternyata datang lagi. Mobil jemputan terlambat datang. Dalihnya.. kena macet! Waduh. Masa sih jauh-jauh meninggalkan Jakarta sang maharaja kemacetan untuk menemui kemacetan yang lain?

Well, ternyata ga lama kok menunggunya. Mobil jemputan datang dan segera membawa keluar dari bandara yang berada di kabupaten Maros ini, masih sekitar 30 km dari Makassar. Mirip dengan bandara CGK di Jakarta lah ya. Kami melintasi patung sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin, yang berdiri dengan megah. Ia berdiri gagah dengan senyum terpahat di wajah, walau saya menerka senyum itu akan hilang seketika jika beliau melihat keadaan negeri yang diperjuangkannya dengan gagah berani ini telah berubah jadi ayam sayur. Maaf sultan, jangan marah ya. Doakan anak-anak muda negeri ini punya semangad kuat sehingga mampu menjadikan tanah air ini jadi ayam jago yang disegani lagi ya! 😀

Masuk kota Makassar, atribut kampanye terlihat di mana-mana. Sepanjang mata memandang dibosankan dengan banyaknya spanduk. Usut punya usut, ternyata ihwal kampanye calon walikota pula yang membuat jalanan tadi pagi macet. Sepuluh calon!! Gila, saya ga habis pikir dengan banyaknya calon di sini. Motifnya apa sih. Selalu loh tiap kampanye dengan calon begitu banyak, ada 2-3 yang punya suara cuma nol koma sekian persen. Terus ngapain ikut? Numpang beken?

Haha. Obrolan tentang politik emang selalu ga mutu. Yuk lanjut aja membahas jalan-jalan nan asyik karena baru sebentar (tanpa mesti lewat tol), saya sudah berada di kawasan ikon kota nan masyhur itu, Pantai Losariii..

Sejenak booking hotel dan..

markijal, mari kita jalan-jalan.. markikul, mari kita kulineran 🙂

Coto Gagak

Kuliner pertama dari serangkaian kuliner-kuliner superlezat yang saya icip di Makassar. Untuk urusan kulineran, saya udah menyiapkan draft, terutama untuk menu yang sudah di-review oleh sahabat saya yang jago masak (dan makan.. :p )Image

Masakan khas dari daging sapi yang lembut (udah melalui perebusan lama) dan kuah yang sedapnya ga ketulungan. Dimakan saat masih panas mengepul bareng buras (ketupat). Nyaaam… Mak nyuss tenan.. Baca Selengkapnya