Posted in jalan-jalan, periodic diary

Jalan-jalan Sulawesi Selatan #3 : Makassar


2 September 2013

Pagi yang cerah. Udara hangat Makassar mulai terasa saat saya turun ke lantai dasar hotel mengajak pak sopir sarapan. Cenderung panas sih, bukan hangat, mengingat Makassar berada di dataran rendah serta dekat dengan laut. Tapi level panasnya ga mendekati Jakarta atau Surabaya kok, masih bisa dinikmati. Justru hal yang tidak saya sukai adalah menu sarapan hotelnya. Kenapa ga nyediain menu masakan khas Makassar sih (pallu basa, sop konro, atau sop saudara kek :D), kan jadi bisa menghemat waktu dan biaya kulineran. Hehehe..

Kerja Dulu Gan

Senin. Banyak yang bilang, kalau ga semangat di hari Senin, rejekinya selama seminggu ga akan lancar. Namanya aja Monday. Money-day. Apapun jenis pekerjaan kita (termasuk pelajar juga) sebisa mungkin pupuk semangat berkarya mulai pagi hari Senin. Bismillah semoga urusan kita selama seminggu dimudahkan. Lancar urusan, lancar rezeki.

Itu pula yang membawa saya melangkah mantap dalam memasuki gedung klien. Tiga perangkat yang terbungkus rapi siap untuk dipasang dan konfigurasi. Loh jadi ini jalan-jalan atau dinas kerja sih?

Ahaha. Bekerja dan bermain itu beda tipis kok kalau dinikmati. Secara formal, memang travelling saya kali ini adalah dalam rangka tugas dinas dari kantor. Tapi secara informal, justru tugas ini selingan menarik di samping jalan-jalan. Bikin budget tercover semua juga kan. Hehe..

Waktu pagi sampai sore saya habiskan untuk ngutek-utek perangkat jaringan. Cukup bikin capek juga sih karena harus “semi nukang” (pasang perangkat di rak, pasang baut, olah kabel) alih-alih cukup dengan pekerjaan konfigurasi saja. Tapi itu emang udah jadi bagian sebagai Network Engineer sih ya. Problem konfigurasi saya dapati, membingungkan, tapi alhamdulillah teratasi.
Image
Taraaa.. perangkat sudah terpasang dan terkonfigurasi dengan rapi. Boleh lah ya dielus-elus bentar (lebay) sebentuk terima kasih karena dengan adanya proyek ini saya bisa travelling ke Sulawesi Selatan (dan insya Allah belahan bumi nusantara lainnya). Grazie🙂

Pallu Basa Serigala

Selesai kerjaan, saatnya untuk explore Makassar lagii.. Saya meminta pak sopir untuk ke Pallu Basa Serigala. Apakah itu? Masakan khas yang bahan dasarnya daging serigala? Wuidih.. Serem jugak kalau beneran gitu. Bukan gan. Serigala merupakan nama jalan di Makassar, yang mana berdiri warung Pallu Basa terpopuler di sana. Dengan rasaa yang… Umm…

Pallu Basa ini mirip-mirip Coto. Tapi dengan daging yang dominan jerohan, kuah keruh dari kelapa parut (bukan kacang), berteman dengan nasi (bukan buras/ketupat) serta ada tambahan telur mentah. Telur bebek mentah yang dimasukkan dalam kuah panas masakan ini menambah citarasa..
Image

Rasanya? Best banget!! Banget. Ini masakan khas Makassar dengan level kelezatan yang paling maksimal menurut saya. Sangat sayang untuk dilewatkan jika teman-teman berkunjung ke kota ini. Jangan terkecoh dengan kondisi warung Pallu Basa Serigala yang terbilang kecil dan sederhana untuk tempat kuliner favorit yang selalu laris pengunjung. Alternatif lain selain Pallu Basa Serigala adalah Pallu Basa Onta. Terletak di jalan Onta, ga jauh dari Serigala, dan denger-denger peraciknya pernah berguru langsung dari pembuat Pallu Basa Serigala, so ga beda-beda amat lah ya.

Harga per porsi : 21.000 (palbas 12k, telor 3k, nasi 6k)

Fort Rotterdam

Selepas energi tercharge lagi dengan asupan supermaknyus Palbas Serigala, saya bergerak menuju objek wisata yang ga buka selepas senja. Mesti cepat-cepat ke sana keburu tutup. Kalau kemarin menghabiskan senja di Pantai Losari, sekarang di objek wisata terkenal lainnya. Benteng yang pernah jadi tempat penahanan Pangeran Diponegoro, benteng yang lokasinya juga berada di seberang pantai, benteng yang bentuknya unyu karena menyerupai unyu. Tak lain tak bukan, Fort Rotterdam.

fort rotterdam 7

Benteng Rotterdam merupakan benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan paling sukses di nusantara bagian timur. Disebut pula benteng Panyyua karena bentuknya yang mirip penyu (googling deh, bentuknya beneran unyu). Bentuk itu sendiri diambil karena penyu bisa hidup di darat maupun laut, sebagaimana harapan kerajaan, berjaya di darat maupun laut. Struktur benteng terbangun dari batu cadas pegunungan Karst di Maros, membuatnya cukup tebal dan sangat kokoh. Coba deh kalau ke sini naek ke Bastion Bone. Di situ bakal terlihat batu-batu besar yang dulunya memang ditata buat menahan gempuran dari lawan.

Di dalam benteng, terdapat bangunan klasik beraroma Belanda. Memang nama Rotterdam juga merupakan nama perubahan selepas benteng jatuh ke tangan Belanda (Rotterdam adalah kampung halaman Cornelis Speelman, petinggi kompeni). Di tempat ini Pangeran Diponegoro diasingkan dalam ruangan sempit, gelap lagi sepi. Beliau tertangkap karena strategi licik bin cemen dari Belanda (pura-pura mengajak runding damai, ternyata khianat). Tapi nyatanya rasa sempit dan gelap bukanlah milik sang pangeran. Fisiknya memang terkungkung. Tapi ditemani tasbih dan AlQuran, cahayanya tetap menyala. Atas izin Allah, turut menjadi pemantik rasa juang dan nasionalisme di penjuru tanah air. Sekarang, nama besarnya diabadikan untuk jalan besar di banyak kota besar (tetoot.. mengulang kata ‘besar’ hehe) di Indonesia.

Sebelum berubah nama jadi Benteng Rotterdam, nama benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang. Kiranya nama ujung pandang terambil dari cakrawala Losari (yang sangat indah di ujung pandangan). ternyata itu berawal dari banyaknya pohon pandan. Yuph, pandan. Logat makassar cenderung mengucap kata berakhiran -n dengan -ng (contoh: Angin Mammiri jadi Anging Mammiri). ‘Pandan’ pun jadi ‘pandang’. Barisan pohon pandan berujung di dekat pantai, di lokasi benteng berdiri sehingga benteng pun dinamai Ujung Pandang. Baru tau kaan ihwal asal mula Ujung Pandang ini? Saya juga baru dengar dari pak sopir yang orang asli sini. Selalu ada cerita pemanis dengan berbagai versi untuk asal mula nama-nama masyhur. Benar atau tidaknya, jangan tanya ke saya😉

Oya, untuk masuk ke kompleks Fort Rotterdam tidak dipungut biaya khusus (hanya sumbangan sukarela saja). Di sana ada belasan bangunan klasik yang berdiri rapi, taman nan terawat asri serta tak ketinggalan Museum La Galigo, museum penyimpanan benda-benda budaya khas suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

Masjid Al Markaz
Senja pun tiba. Selepas mendirikan sholat Maghrib, saya rebahan mengurangi rasa lelah sejenak. Menjelang isya, saya siap untuk explore Makassar lagi. Ke mana tujuan berikutnya?

Yuph, masjid Al Markaz Al Islami. Masjid pusat pengembangan agama Islam untuk Indonesia Timur, serta salah satu pusat pengembangan Islam terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Sebuah deskripsi ‘wow’ yang bakal membuat traveller muslim seperti saya tak akan berpikir panjang untuk menjadikan masjid ini destinasi wisata utama selama di Makassar.

Adzan isya mulai berkumandang merdu saat saya memasuki area parkir masjid ini. Sangat luas lahan parkirnya, mengingat lantai dasar masjid merupakan salah satu tempat paling laris untuk menggelar acara walimahan. Suasana terlihat makin lengang karena tiada PKL yang memenuhi halaman, sebuah kebijakan yang baru-baru ini diambil agar area masjid menjadi lebih bersih tertata.

Memasuki lantai utama untuk sholat isya.. dan mendapati.. wew megahnya..
Image

Allahu Akbar. Allah Maha Besar.

Masjid raya berlapis granit ini berdiri atas prakarsa Jendral M Jusuf, eks panglima ABRI (sekarang TNI) asli Makassar yang bercita-cita mulia mengembangkan peradaban Islam di Indonesia Timur, berpusat di Makassar. Mengingat kapabilitas beliau sebagai eks panglima ABRI dan eks Menteri Pertahanan dan Keamanan RI, masjid kebanggaan warga Makassar ini pun jadi sedemikian megah, mampu menampung puluhan ribu jamaah dalam area sholatnya nan hijau sejuk. Nyaman banget deh dan emang belum lengkap bagi seorang muslim yang berkunjung ke Makassar tanpa menyempatkan sholat berjamaah di Al Markaz.

Sop Konro Bawakaraeng
Selepas sholat Isya di Al Markaz, agenda berikutnya kembali.. kulineeer!! Malam ini saya ingin sekali mencoba sop saudara. Pak sopir merekomendasikan ke Bawakaraeng, di situ ada warung makan sop saudara yang terkenal lezat. Okey, mari ke sana, Pak!

Warung makan di Bawakaraeng itu tidak bisa dibilang besar. Sangat sederhana malah. Tapi banyak mobil telah lebih dulu parkir di depannya. Untungnya saya dan pak sopir masih dapat tempat duduk ini. Walau ga untungnya (waduh.. apa ini..)

Sop saudaranya udah habis! Wooi.. ini baru lepas Isya lho… zzz…

Akhirnya dengan sedikit kekecewaan saya memesan menu andalan lainnya, Sop Konro. Konro itu iga sapi. Daging menempel di iga yang superempuk dan lezat, diguyur kuah panas nan gurih berempah.

Tak menunggu lama, seporsi sop konro itu pun tersaji di depan saya
Image

Glek. Kelezatan apa lagi ini yang akan segera saya rasakan. Buru-buru ambil sendok dan garpu. Sruput kuahnya, ambil dikit dagingnya. Uwoow… Kekecewaaan saya sirna sudah tak bersisa. Justru beruntung banget tadi diajakin ke sini. Mak nyuzz…😀

Harga per porsi : 27.000

Keliling Kota

Makan malam selesai. Lidah sudah termanjakan dengan sangat baik. Kali ini giliran memanjakan mata. Keliling kota Makassar! Melihat dan menikmati suasana Makassar di malam hari. Mulai dari lapangan Karebosi yang ada mall di bawahnya (Makassar Trade Center, unik sih di bawah tanah.. tapi kalau punya riwayat kebanjiran, jadi agak ga lucu deh ya). Setelah lapangan Karebosi, lanjut ke stadion kebanggan warga Makassar, stadion kandang PSM Makassar (salah satu klub bola dengan sejarah mentereng di tanah air), Mattoangin. Stadion yang telah berganti nama jadi Stadion Andi Matalatta ini ukurannya cuma mini sih, seperti stadion Siliwangi di Bandung atau stadion Sriwedari di Solo gitu.

Dari depan stadion Mattoangin, segera bertolak menuju Trans Studio Makassar. Tentu bukan untuk bermain di indoor theme park terbesar Indonesia atau sekedar jalan-jalan di mall milik CT Corp itu. Cukup lewat di depannya saja. Kaki sudah benar-benar letih, simpan tenaga buat kerjaan besok juga. Di dekat kawasan Trans Studio, ada Mall GTC yang supersepii.. hampir ga ada pengunjung. Kasian juga ya padahal akses menuju ke Trans Studio dan GTC ini mesti susah payah menimbun laut dulu lho (sotoy sih, lokasinya deket pantai soalnya.. hehe). Keliling Makassar di malam hari pun ditutup dengan melewati kawasan pantai Losari.

Kiranya sudah cukup lengkap jalan-jalannya. Saatnya istirahat dan fresh lagi untuk jalan-jalan esok harii..

Tunggu lanjutan ceritanya ya🙂

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Jalan-jalan Sulawesi Selatan #3 : Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s