Posted in jalan-jalan

Jambi Trip #1: Perjalanan Jambi – Bangko


Kamis, 17 Oktober 2013

Nuansa hijau nan menyegarkan terlihat dari kaca sesaat sebelum landing. Belum banyak lahan yang dibuka, masih penuh dengan kribo-kribo ijo rimbunnya hutan. Begitulah adanya provinsi yang bernama ibukota sama (hanya ada 3 di Indonesia) ini. Daerah hijau yang sebentar lagi akan saya pijakkan kaki untuk kali pertama di Pulau Sumatera. Lokasi itu adalah.. Jambi.

Bandara Sultan Thaha Syaifuddin

Bumi Swarnadwipa! Semangat saya meletup tiap kali mengunjungi tempat baru. Kali ini di pesisir timur pulau terbesar keenam di dunia yang dahulu dikenal Swarnadwipa (tanah emas), Sumatera. Yang tak terkira sebelumnya, saya memulai “petualangan pendek” di tanah Sumatera justru di provinsi Jambi. Tentu saya akan dimaklumi jika kunjungan pertama saya adalah ke Medan (kota terbesar di Sumatera, ketiga di tanah air), Padang, Palembang, Pekanbaru ataupun Lampung. Tapi ini di Jambi bro.. Provinsi yang sudah puluhan tahun menghuni buku RPUL tapi masih saja potensi alam dan sumber dayanya tak pernah terdengar secara mencolok.

Ada apa aja ya di sini? Apa aja yang menarik ya? Pertanyaan yang hanya akan mendapat jawaban setelah bangunan itu..

bandara DJB 1Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (DJB)

“Selamat datang di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin”, kalimat sambutan yang menjadi tulisan pertama yang saya baca di tanah Sumatera. Bandara akses utama provinsi Jambi itu diambil dari nama terakhir Sultan Jambi. Memang Jambi merupakan daerah kerajaan/kesultanan, walau tak setenar tetangganya, Sriwijaya (Palembang). Mulai dari zaman Kerajaan Dharmasraya (Melayu Budha) sampai Kesultanan Jambi (Melayu Islam), sebelum sang sultan terakhir “menyerahkan” kekuasaan pada kedaulatan tanah air Indonesia, ikut berjuang melawan Belanda dan gugur sebagai pahlawan nasional. Pantes lah ya dikasi penghormatan jadi nama bandara daerah🙂

Hutan, Kelapa Sawit dan Karet

Keluar dari bandara DJB (kode bandara Jambi), saya harus langsung perjalanan panjang yang katanya bisa memakan waktu sampai 7 jam. Beuh. Tak lain karena emang ada pekerjaan dinas di kota Bangko. Hah mana itu? Aha, saya juga baru pertama denger tuh. Shikat miring,, langsung hajar aja lah.. Mari menikmati jalanan provinsi Jambi😀

Menyusuri jalan antar kabupaten, kita bakal berjumpa pada 5 hal utama. Yang pertama, hutan. Pemandangan hijau yang terlihat di pesawat ternyata berlaku untuk seluruh provinsi. Masih banyak sekali hutan, belum banyak lahan yang terbuka. Pantaslah jika plat nomer kendaraan provinsi ini, BH, sering diklaim tersebab Banyak Hutan. Padahal awalnya saya sempat mau protes pada provinsi ini, mau-maunya saat bagi-bagi plat nomer kebagian yang rada saru (if you know what I mean). Hehe. Ngasal. Ternyata karena sesuai kondisi Banyak Hutan toh…

jalan jambi bangkoMotor yang membawa karet dan truk yang mengangkut kelapa sawit

Selanjutnya, sesuai dengan yang terlihat di foto atas, hal umum kedua dan ketiga adalah kelapa sawit dan karet. Kebun kelapa sawit dan hutan karet melimpah ruah menghasilkan sumber daya ekonomi terbesar untuk Jambi. Kendaraan yang lewat mayoritas adalah pembawa karet dan kelapa sawit. Waktu tempuh antar kabupaten pun sedikit banyak ditentukan oleh banyaknya truk yang lewat, mengingat lebar jalan yang hanya 2 ruas (sempit banget yah, tapi bagusnya aspal sudah halus). Dan saya mengalami peruntungan yang berbeda saat Jambi-Bangko PP. Berangkatnya beruntung tidak banyak truk yang lewat, 5 jam. Pulang, sebaliknya, selisih 1,5 jam lebih lama😀

jambi_map_smallPeta provinsi Jambi

Kali ini terkait kuliner. Hal keempat yang acap ditemui sepanjang perjalanan adalah.. apa hayoo? Clue: mudah ditemukan di semua daerah seantero tanah air. ketemu?

Yuph, masakan Padang! Hampir tak dijumpai pilihan lain selain warung makan yang terkenal dengan rendangnya ini. Mau pas di tengah kota atau di pelosok, asli deh opsinya masakan Padang aja. Antara orang Padang yang emang demen rantau dan masakannya ramah untuk semua lidah, orang asli Jambi yang jarang jualan dan ga punya masakan yang benar-benar khas, atau mungkin “invasi Jawa” belum begitu terasa di sini. Saya pit stop buat makan siang di Sarolangun (bisa diliat di peta rute perjalanan saya: Jambi – Muara Bulian – Sarolangun – Bangko), di warung Padang yang katanya paling laris sekota itu, RM Araipinang. Nyaam…

Sungai Batanghari

Pemandangan umum kelima, dan kali ini merupakan hal yang sangat identik, ga bisa lepas dari sejarah keberadaan Jambi. Hal spesial itu adalah Sungai Batanghari. Kenapa unik bin menarik?

Karena sungai ini adalah *siap siap catat ya..hehe* sungai terpanjang di Sumatera. Saking panjangnya, semua kabupaten di provinsi Jambi dapet alirannya.. Semua kabupaten teraliri lah.. Bahkan hulunya dari Sumatera Barat.. Wew..

sungai batanghariSungai Batanghari

Selain panjang, sungai Batanghari juga mempunyai debit yang besar. Bahaya kalau baru hujan deras, kerap banjir sampai menelan korban jiwa. Agak mengkhawatirkan juga sih kalau bener saat perjalanan hujan turun dengan deresnya. Coba liat peta kawan, jalanan Jambi-Bangko beneran mengikuti lenggak-lenggok sungai Batanghari. Bahkan sungai itu terlihat gedhe banget (dibanding sungai-sungai di Jawa yang sempit, penuh sampah dan pendangkalan) pas melintas di pinggirnya dalam keadaan hari terang benderang. Anyway, jadi tau kan sungai terpanjang di Sumatera.. ga melulu taunya cuma Sungai Musi😉

Kota Bangko

Bangko merupakan ibukota kabupaten Merangin. Berjarak sekitar 250 km atau 5-7 jam perjalanan dari kota Jambi. Sebenarnya akses dari Jawa menuju kota ini tidak hanya melulu lewat kota Jambi. Ada penerbangan Muara Bungo – Jakarta PP tiap 2 hari sekali dengan pesawat Aviastar. Muara Bungo sendiri merupakan kota yang berjarak 115 km atau hanya 2 jam perjalanan dari Bangko.

Jujur saya cukup kesulitan menemukan keunikan khusus terkait kota kecil nan tenang ini. Tidak ada masakan khas daerah (kembali masakan Padang yang dominan) menjadi kendala buat berkuliner ria. Tapi saya menikmati dinas pendek di kota ini, terutama terkait ketenangannya. Ga ada kebisingan baik oleh  knalpot kendaraan alay maupun gemerlap kota. Dapat menjauh sejenak lah dari rutinitas yang sumpek di ibukota🙂

Oya, ada lagi hal yang terasa agak janggal di kota ini. Jalan utama kota, Jl Jend Sudirman, terbagi menjadi 3 bagian seperti foto berikut

bangko kota

Jalanan kota Bangko

Kalau normal, tentulah 1,5 bagian kiri untuk kendaraan yang menuju arah utara (kalau dalam gambar, berarti menjauhi mata kita), lalu 1,5 bagian kanan untuk pengendera ke selatan. Tapi fakta lapangannya, masing-masing bagian punya ruas kiri-kanan (utara-selatan). Nah loh jadi bingung sendiri kan kalau mau pindah ruas atau putar balik. Mungkin karena kendaraan masih minim jadi banyak yang merasa sah-sah saja melawan arah.. atau.. ah, janggal lah pokoknya.

Sedikit tambahan sebelum menutup sesi tulisan ini, Bangko merupakan titik simpang dari Jambi maupun Muara Bungo untuk menuju ke Gunung Kerinci. Dan tahukah kamu Gunung Kerinci itu? Wah yang anak pecinta alam pasti tau. Inilah gunung api tertinggi di Indonesia, gunung tertinggi kita di luar tanah Papua, dan tentu selalu menjadi agenda extremely interesting and challenging buat para pendaki gunung. *jadi ngebet pengen daki gunung lagi, lama banget ga hiking, huhu..

Well, terima kasih Bangko!

**

(bersambung ke bagian 2 dari Jambi Trip: kota Jambi dan Masjid Seribu Tiang)

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Jambi Trip #1: Perjalanan Jambi – Bangko

  1. Mantap ulasannya , sedikit kritik ada kbupaten di prov jambi yg gx di aliri sungai batanghari kabuptn tanjab barat. Tuk mkanan khas Jambi ad tempoyak durian n pempek. Dua kuliner ni sering di sebut khas palembang , gx tepat sih menurut ane ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s