Jalanan Jakarta dan Kehidupan

Sudah lebih dari satu tahun saya menjalani kehidupan di Ibukota Ibu pertiwi (ibunya ibu, nenek dong ya). Jakarta. Kota rasa provinsi yang sungguh padat luar biasa. Segala bentuk tumpah ruah aktivitas menumpuk di metropolitan dan metropolutan terbesar di Asia Tenggara ini.

Lebih dari 10 juta orang berjejalan. Dengan beragam kendaraan. Dari yang pilih jalan sampai pilih naik sedan. Dari dedengkot yang masih menjadikan bajaj sebagai andalan sampai antek perkeretaapian. Pun busway yang tak kunjung jadi idaman. Dijamin ga bakal nyaman begitu harus masuk ke jalanan.

Namanya juga perjuangan.

**

Saya ga pernah membayangkan sebelumnya kalau sepeda motor itu bisa terjebak dalam kemacetan. Selama menjalani masa sekolah di Solo, kata “macet” tidak pernah jadi perbincangan, karena jalan lebar dan trafik yang datar-datar saja. Masuk di Bandung, trafik lebih padat dengan jalanan yang relatif sempit, inipun tak begitu masalah bagi biker seperti saya, masih bisa zig zag. Karenanya saya pede membawa sepeda motor Karisma X biru -yang sudah menemani saya sejak masuk SMA- ke Jakarta. Walaupun Jakarta identik dengan macet, sepeda motor ga bakal kena laaah…. tinggal selap selip. Uhuy!

Sebuah asumsi awal yang brilian sekali tingkat kesalahannya..

Baru hari pertama mencoba kepadatan jalanan ibukota.. dan.. beuh!!

ilustrasi-kemacetan-di-jakarta

(foto diambil dari :uniqpost.com)

IKI OPOOO…. Baca Selengkapnya