Arsip Bulanan: April 2015

Menikmati Kereta di Belanda 2 : Stasiun

Stasiun adalah tempat bersemayamnya kenangan. Tempat berucap selamat jalan. Antara menggapai harapan atau bersiap akan kehilangan. Toh apa pula makna perjalanan kalau tanpa kenangan, harapan dan kehilangan.

Sounds mellow?

Bahaha.. itu tadi sebenarnya mensarikan lirik lagu “Stasiun Balapan”nya Didi Kempot dari sudut pandang yang lain. Soalnya pas mau nulis tentang stasiun, pasti ingetnya lagu tentang stasiun di Solo Berseri itu.. 😀

**

Setelah kemarin berkenalan dengan jenis-jenis kereta di Belanda, yuk berikutnya kita lihat daftar station yang menarik di negeri kincir ini. Menurut on the spot, inilah 7 stasiun terbesar (based on passangers) dan cerita saya di sana :

1. Utrecht Centraal

taken from : wikipedia

taken from : wikipedia

Stasiun terbesar di negeri van Oranje dipegang oleh Utrecht Centraal. Hal yang wajar mengingat letak kota Utrecht benar-benar berada di center. Walau hanya berstatus kota terbesar keempat (setelah Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag), tapi karena di antara kota-kota tadi jadi ya yang melintas cenderung lebih banyak.

Di sini juga merupakan markas besar (HQ) dari NS, sang operator utama perkeretaapian Belanda. Udah gitu stasiunnya terintegrasi sama mall pulak, pertama ke sana bingung deh mana pintu keluarnya.. Saya mau jalan-jalan ke pusat kota wooy, bukan mau belanja!! 😀

Belum puas dengan status stasiun terbesar dan tergabung dengan mall, Utrecht Centraal on progress membangun tempat parkir sepeda terbesar di dunia.. Wohoo..

2. Amsterdam Centraal

amsterdam

Stasiun dengan arsitektur klasik yang menawan. Usut punya usut, arsiteknya merupakan orang yang juga mendesain Rijkmuseum Amsterdam (museum national art yang berada di dekat tulisan supermainstream, I Amsterdam). Nuansa klasiknya dapet deh..

Mengingat kunjungan turis yang bejibun di Amsterdam, stasiun ini selalu sangat padat dengan lalu lalang mereka. Saya sendiri kurang suka dengan suasana crowdednya. Bagaimanapun, stasiun ini selalu jadi first option kalau mau kumpul ketemu reunian. Boleh jadi karena dekat dengan objek wisata populer seperti Rijkmuseum, Dam Square, atau untuk yang telat puber, Red Light District 😀

3. Rotterdam Centraal

rotterdam centraal

Nah, salah satu stasiun dengan desain futuristik. Dibandingkan Amsterdam, saya  lebih suka stasiun modern nan caem ini. Beruntunglah Rotterdam yang luluh lantak karena Perang Dunia II (lah?!), berkat itu bangunan di kota ini mayoritas desainnya fresh, enak diliat. Hehe.. Mungkin itu bukti juga ya kalau rasa sakit dan cobaan itu, bisa jadi pijakan untuk step up jadi lebih baik, dan secara ga langsung terlihat makin fresh pula di mata orang lain (auwah sok bijak :v ) Baca Selengkapnya

Menikmati Kereta di Belanda 1 : Sepur

Di negeri Indonesia tercinta, sebagai negara yang sempat terjajah 350 tahun oleh Belanda, cukup wajar jika ada beberapa (atau banyak?) kata yang diserap dari bahasa Belanda. Lucunya, nyadar atau kagak, kata-kata serapan tersebut sering diadaptasi sesuai lidah lokal.. Ambil contoh kata ini deh…

“Atreet.. atreet..”

Kata andalan para kenek yang sering kita dengar di terminal. Dari kata apakah itu? Achteruit! Bahasa Belanda yang berarti “mundur/ke belakang”. Inget terminal jadi inget pantura, inget pantura jadi inget goyang oplosan (dari mana konklusi ini ya? ahaha). Oplosan pun berasal dari kata Belanda oplossen yang artinya “campuran”.

Well, dari kata-kata aseli Belanda itu, ada dua kata yang slenco karena lidah orang Jawa. Keduanya berkaitan dengan moda transportasi. Apa itu? Pertama, pit. Sepeda dalam bahasa Jawa yang diambil dari kata fiets. Cerita tentang sepeda sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya. Kalo yang kedua? Tak lain sesuai judul, sepur. Lidah jawa yang seenaknya mengucap kata belanda Spoor! Padahal.. artinya beda -_-

**

Moving on is easier said that done

Gagal move on. Itulah relationship antara saya dan sepur (cem ga ada relation yang lebih bagus aja, cah bagus). Semua terjadi jauh sebelum negara api menyerang. Di tanah kelahiran saya, di sebuah desa nan permai di pulau Jawa, “sepur” itu adalah kereta api. Itu diamini oleh semua orang Jawa lainnya loh, “sepur” itu ya.. kereta api.

Nah setibanya di sini, Belanda, spoor itu entah kenapa (udah jelas-jelas sih) mengacu pada jalur (track / platformnya), bukannya sang kereta. Misal kita mau pergi dari Leiden ke Den Haag, silakan menuju spoor 8 (jalur nomor delapan). Itu gampang dimengerti, tapi in my mind ga bisa diterima. Ga bisa gitu coy. Tetap saja itu artinya “naik kereta nomor delapan”. Pokoknya, sepur = kereta, titik. *jawa garis keras* 😀

Okey, kayaknya udah kepanjangan bahas relationship saya (enek kaaan..). Yuk, kita lihat satu per satu beragam sepur (kereta api) di Belanda 😉 Baca Selengkapnya