Lack of Blood

Ini kelanjutan dari cerita saya vs kolesterol yang saya tulis bulan lalu. Berhubung saya orangnya kelewat waswas terhadap hal-hal yang berpotensi membahayakan (baca: kolesterol), ga cuma pola hidup dan pola makan yang berusaha diubah, tapi juga beli alat untuk memonitor kesehatan.

Niatnya sih bikin Baymax (robot personal health companion superkeren di film Big Hero 6) tapi apa daya ilmu elektro masih cupu nian, uneducated di bidang medis pula. Yowis, realistis. Beli alat sederhana untuk mengecek gula darah – kolesterol – asam urat, tiga komponen yang mesti diperhatikan dan ditekan agar normal. Kalau sampai berlebih bisa membahayakan kesehatan soalnya, bisa menurun ke anak pula! Ga enak banget kan kalo mewariskan hal buruk pada anak (aduh visioner banget saya ya, istri aja belom punya, udah mikir anak 😀 )

Alat multifungsi tersebut saya beli di Pasar Pramuka, Jakarta. Konon harga alat-alat medis dan obat-obatan di sana lumayan miring, apalagi kalau dibanding harga di kota asal saya. Terbukti sih, masih cukup terjangkau oleh kantong seorang pengangguran seperti saya.

Nah, singkat cerita saya udah balik di Negeri Kincir dan setelah sekitar 3 minggu udah penasaran untuk cek kolesterol lagi (olahraga mulai rutin soalnya, jadi udah lumayan yakin kolesterol level ampas kemarin udah menurun). Yak, saatnya mencoba alat dan kita lihat hasilnya *excited*

Chip untuk cek kolesterol sudah terpasang di sang alat. Prosedur berikutnya adalah ambil daraaah.. Hohoho…

Bagi teman-teman yang pernah donor darah atau sekedar cek golongan darah, pasti udah ga asing dengan puncturer (lancing device). Itu loh, alat pelubang yang ditusukkan ke ujung jari kita biar keluar darah. Darahnya itu yang bakal jadi sampel tes. Dengan skala 1-5, besar lubang bisa diatur. Untuk kulit yang kasar dan minim sentuhan kehalusan cem saya, tentu butuh skala terbesar, 5. Hahaha..

Alcohol swab dioles ke jari biar steril (maklum jari suka kotor biasa buat ngemil #eh). Berikutnyaa.. cetek! Pelubang mulai difungsikan. Tapi. Kok.

Ga keluar darah sama sekali ya. Hmmm…..

Oke mungkin jari telunjuk habis buat tahiyat akhir, masih suci (teori dari mana ini). Kita coba jari berikutnya, jari tengah. Cetek!

Nihil. Tiada darah menetes.

Baiklah, korban berikutnya. Jari manis, semoga semanis namanya. Mau nurut. Cetek! Baca Selengkapnya